
“Yoo Ra... Yoo Ra... Bangunlah!”
Yoo Tae segera membawa adiknya menuju istana untuk mendapatkan pertolongan, sambil membopongnya dengan harap-harap cemas.
Tanpa sadar tetesan air mata Yoo Tae disaksikan para rakyat pusat kota kerajaan Jangmi, para rakyat pun tak meyangka kalau tuan putri mereka ikut melakukan perlawanan kemudian mengorbankan dirinya.
Semua prajurit yang masih hidup berlari melihat kondisi dari tuan putri mereka, mereka cemas apakah si tuan putri itu masih bisa selamat walau mengetahui kondisinya sudah parah.
-
Masih dipinggir tebing, terlihat di bawahnya mengalir sungai yang cukup deras. Mereka berduel pedang tanpa henti, suara dentingan itu menyergap kegelapan malam gerhana.
“Tunjukkan identitasmu, akan ku ampuni nyawamu,” Ha Baek berusaha mengetahui rupa wajah yang di balik topeng itu yang berusaha mengacaukan akusisi kedua kerajaan tersebut.
“Kau sangat ingin melihat wajahku ya?, silahkan coba sendiri melepaskan topeng ini,” ungkap Jung Hyun yang masih belum dikenali oleh Ha Baek.
Mereka masih bertarung, tak lama kemudian datanglah sekelompok pasukan. Ternyata pasukan dari kerajaan Geum yang datang, melakukan formasi melingkar dan mengepung mereka berdua.
“Lindungi Yang Mulia Ahn! Serang pria berambut aneh itu!!!” Seruan perdana menteri sekaligus paman dari Jung Hyun untuk melindungi rajanya.
Pikiran Ha Baek mulai kacau, ia sudah mengenali bahwa orang itu adalah raja dari Geum. Dia bingung harus melompat ke sungai itu atau melawan mereka, sementara dirinya hanya sendirian. Namun, kalaupun harus melawan jumlah mereka terlalu banyak untuk ia lawan. Tak ada yang tak mungkin bagi Ha Baek, ia harus melawan mereka dengan pedangnya.
“Cobalah untuk melawan, kau hanya binatang kecil bagi pasukanku. Hahahaha...”
Dengan sombongnya, Jung Hyun berkata seperti itu sambil naik ke atas kuda yang telah dipersiapkan pamannya sembari menyaksikan Ha Baek melawan pasukannya.
Syushhhh... Tebasan pedang mengenai Ha Baek, lengan, punggung, hingga dadanya berlumur darah karena tebasan pedang yang bertubi-tubi.
“Aku benar kan, kau kalah hari ini. Tak hanya menghabisi calon wanitamu tapi juga menghabisimu kali ini,” kata Jung Hyun dengan mengamati Ha Baek yang mulai kehilangan tenaga dengan bertopang pada pedang yang ia tancapkan.
Sedikit pergerakan dari Ha Baek, dia mengingat lagi bahwa ulah dari pria brengsek ini sudah mengacaukan semua rencananya. Ha Baek mengambil beberapa langkah dan mengumpulkan kekuatan dengan berteriak, "Kalau bukan karenamu pasti calon istriku akan baik-baik saja, karenamu... semuanya kacau dasar brengsek sialan!"
Ha Baek berjalan mengahadapi tebasan pedang mereka, dia tidak boleh menyerah sedikit pun. Namun, mungkin ini sudah menjadi takdirnya. Tenaganya terkuras bersama dengan darah yang keluar dari luka di tubuhnya.
__ADS_1
Jung Hyun memberi perintah kepada pasukannya untuk menjatuhkan Ha Baek ke bawah, perintahnya pun segera dilaksanakan dan tubuh Ha Baek dilempar ke bawah kemudian tenggelam secara perlahan.
“Aku akan mati, menyusul kalian berdua... Ayah... Ibu. Kyung Bo, jagalah dirimu dan Eun Ra,” hanya kalimat itu yang ia pikirkan saat ini, kemudian dia tenggelam dengan semua luka-lukanya.
“Menyingkirkan orang aneh ini sangat mudah, sshh... tapi mengapa dia ditakuti? Dasar tikus kecil!” Jung Hyun segera meninggalkan tempat dan bersiap untuk pulang, namun di atas pohon ada seseorang dengan mengarahkan panah ke dirinya. Jung Hyun tak sadar kalau saat ini ada orang yang sedang mengincarnya.
Arah panah tepat mengarah ke Jung Hyun, panah ditembakkan kemudian... “Arghhh...” Jung Hyun terjatuh dari kudanya dengan panah tertancap di perut kirinya.
“Yang Mulia...” Suara panik dari orang-orang Jung Hyun.
“Kakak, aku akan menghabisinya kak,” gumam Go Kyung Bo dengan mata berkaca-kaca lalu menembakkan panah ke arah Jung Hyun. Kali ini Kyung Bo menjadi penyelamat bagi Ha Baek. Tapi, apakah demikian?
Sebelum itu, dia menyiapkan anak panah yang dilumuri racun tumbuhan gurun yang terkenal sangat ampuh membunuh mahluk bernyawa hanya dengan satu tetes saja.
Kyung Bo segera mencari Ha Baek untuk dibawa kembali ke istana Molan dan harus membuatnya tetap hidup demi pembalasan berikutnya.
Di istana Geum, Jung Hyun dirawat oleh tabib istana. Mereka mengatakan kalau harapan hidup raja itu sudah tidak ada lagi, hanya menunggu ajalnya.
Siapa tahu dan siapa peduli tentang kondisi kedua raja yang bertarung tadi. Entah Ha Baek mati dan menghilang terseret arus sungai, atau Jung Hyun yang mati setelah terkena panah beracun.
Dalwi Yeosin menyaksikan banyak pertumpahan darah dan segera menyiapkan hukuman bagi mereka yang menodai gerhana bulan yang suci. Malam ini memang banyak manusia yang tewas, namun dia akan memilih manusia yang menjadi penyebab banyaknya manusia yang tewas dengan mengeluarkan darah.
“Seharusnya 7 roh saja, namun ini sudah melebihi 7. Huh... manusia yang merepotkan,” gumam Dalwi Yeosin dengan heran sekaligus marah, kini ia harus menyiapkan ruangan pengadilan yang bersekat untuk menempatkan para jiwa-jiwa yang terkutuk agar menerima misi masing-masing sekaligus tidak bisa megenali satu sama lain.
Saat ini gerhana masih berlangsung, dan jiwa yang sudah terkena kutukan ini akan segera menempati ruang pengadilan Dalwi Yeosin setelah gerhana ini.
Dia akan mencari siapa penanggung jawab kejadian ini. Tidakkah mereka menaati waktu yang suci? Sudah diturunkan dari leluhur bahwa gerhana bulan ada saat yang paling suci.
-
-
-
__ADS_1
Para tabib di istana Jangmi sudah berusaha menghentikan pendarahan Yoo Ra namun ia masih tidak sadarkan diri. Permaisuri Hwa Do Sun (Ibu Lee Yoo Tae dan Lee Yoo Ra) berusaha membangunkan puterinya itu, dengan dada sesak menangis di hadapan Yoo Ra untuk membangunkannya.
“Kembalikan puteriku... Kembalikan puteriku... Anda yang menyebabkan ini semua Pyeha!!!” Jerit permaisuri dengan menyalahkan suaminya.
“Hwanghu¹, tenanglah... Aku yang bersalah disini, aku juga mencemaskan dia Hwanghu...” Raja Yoo Jae berusaha menenangkan permaisuri yang sudah lemas.
Putra mahkota Yoo Tae juga berusaha mencarikan tabib hebat untuk adiknya, nampaknya itu semua adalah hal yang sia-sia.
Gerhana sudah hampir berakhir, dan waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba.
Formasi portal hukuman dari Dalwi Yeosin telah dibuka.
“Hei, kalian para manusia pendosa... Kemarilah.”
Dalwi Yeosin memanggil mereka, dan apa yang akan terjadi?
Malam hari ini sangat dingin
Tahu tidak? Ketiga orang akan disatukan dalam takdir yang rumit
Karena ulah mereka sendiri
Kemarahan dari Sang Agung tidak bisa dihentikan lagi
Sebenarnya mereka bukanlah pendosa, mereka manusia yang kehilangan arah
Terkadang berjalan lurus saja sangat merepotkan
Apalagi mereka yang harus berjalan dengan banyak lika-liku
***
¹ Permaisuri
__ADS_1