
Min biseo masih di bawah dan belum pergi, Yoo Ra berniat meminjam mobilnya untuk pergi ke rumah sakit. Min biseo panik saat Yoo Ra berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa, Yoo Ra yang keluar tanpa menggunakan jaket.
(Min biseo)
“Mobil? Itu mobilku, agassi mau kemana?”
(Yoo Ra)
“Ada urusan mendadak, aku pinjam ya.”
(Min biseo)
“Pakai jaketku, keluar dengan seperti ini nanti masuk angin.”
(Yoo Ra)
“Tidak usah, Min biseo pakai saja . Aku pergi dulu.”
Min biseo tambah bingung, kenapa Yoo Ra tergesa-gesa dan memaksakan diri keluar rumah dengan memakai jeans pendek dan kaos saja, padahal tadi dia menggunakan coat panjang, “Tadi bukannya pakai coat? Sekarang malah keluar pakai kaos sama celana pendek. Semoga dia cepat kembali.”
Yoo Ra melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, memakai handsfree dan mendengarkan Jeon Ki yang berada di rumah sakit. Yoo Ra mendengar kondisi Jae Won dari Jeon Ki, sekarang Jae Won menjalani perawatan. Yoo Ra memaksa Jeon Ki untuk mengatakan penyebab Jae Won seperti ini, dan Jeon Ki menolak untuk membicarakan sekarang karena posisi Yoo Ra yang sedang berkendara.
Sesampainya di rumah sakit, Yoo Ra pergi menemui Jeon Ki yang berada di luar ruangan UGD. Yoo Ra melihat ke arah jendela pintu UGD untuk melihat kondisi Jae Won. Jeon Ki melihat penampilan Yoo Ra, “Dia pasti panik, sampai gak peduli harus pakai jaket sama sepatu.”
Jae Won masih dalam perawatan, Yoo Ra bertanya kepada Jeon Ki apa yang sudah terjadi dan kenapa Jae Won bisa seperti ini. Jeon Ki akan menjelaskannya secara detail.
Malam tadi, mereka sedang keluar untuk minum-minum. Jeon Ki dan Jun Moo mengajak Jae Won untuk ikut serta di pesta kecil mereka. Saat di bar, Soo Ah sudah menunggu mereka dan ingin memperjelas perasaannya kepada Jae Won, namun Jae Won tidak bereaksi sama sekali. Jae Won meneguk 2 gelas besar bir yang di campur soju, dan dia langsung mabuk. Soo Ah mendekati Jae Won dan mengungkit kembali kejadian saat mereka SMA, Jae Won emosi dan berkata “Aku sama sekali tidak menyukaimu, kau mau apa lagi? Terima kasih sudah pernah terluka untukku dengan terkena pecahan kaca sampai kau tidak sadarkan diri. Aku akan menebusnya hari ini juga.” Jae Won kesal dan memecahkan botol soju ke kepalanya dan langsung roboh ke lantai.
Jeon Ki menyayangkan kejadian ini, Soo Ah telah menyinggung Jae Won dengan sangat agresif. Jeon Ki memanggil ambulans dan dibawa ke rumah sakit ini, Jun Moo harus segera pulang karena ada urusan di keluarganya. Jeon Ki menghubungi kerabat Jae Won, dan sekitar jam 3 pagi baru ada 1 orang yang menjenguk dan menjadi walinya. Karena orang itu buru-buru, Jae Won dipasrahkan kepada Jeon Ki.
Jeon Ki juga menerima hasil dari dokter, ternyata Jae Won sedang mengalami stress dan mood wings. Dia mengalami tekanan yang hebat dan ditambah lagi mabuk karena mengkonsumsi alkohol, dan kedua penyebab itu menjadi faktor kenapa Jae Won bisa melakukan ini.
(Yoo Ra)
“Kau pulanglah dan istirahat, aku kan menggantikanmu menjaganya.”
(Jeon Ki)
“Baik, oh iya, sebentar lagi walinya akan datang, dia seorang polisi wanita. Dan lagi, kenapa kau keluar dengan kondisi begini? Sandal rumah yang kau pakai dan tidak memakai jaket.”
(Yoo Ra)
“Aku buru-buru, sampai lupa.”
(Jeon Ki)
“Aku juga gak bawa jaket, akan aku carikan.”
__ADS_1
(Yoo Ra)
“Tidak perlu, cepatlah pulang dan tidur, hilangkan pengarmu dulu. Aku baik-baik saja disini.”
Jeon Ki khawatir dengan kondisi Yoo Ra, dan terpaksa meninggalkannya sendiri karena Jeon Ki juga butuh istirahat. Yoo Ra diperbolehkan masuk ke dalam ruang rawat dan melihat Jae Won yang sedang duduk dan menunggu kedatangan Yoo Ra.
Jae Won yang berkaca-kaca lantas memeluk Yoo Ra dengan erat, rasanya sesak dan sedikit melegakan. Jae Won melepas pelukannya dan mengusap wajah Yoo Ra, “Apa aku bermimpi? Kau datang menjengukku? Aku bahagia sekarang .”
Yoo Ra mengambil napas panjang dan memandangi Jae Won dengan kondisi yang memilukan, Jae Won sendiri menggenggam erat tangan Yoo Ra dan tidak mau melepaskannya.
(Jae Won)
“Semalam aku tidak sengaja melukai diri sendiri.”
(Yoo Ra)
“Kenapa? Memangnya menyakiti diri sendiri bisa membalas budi pada orang lain?”
(Jae Won)
“Ayolah... Aku juga melakukan itu supaya semuanya impas .”
(Yoo Ra)
“Hentikan, luka di kepalamu untungnya tidak terlalu parah.”
(Jae Won)
(Yoo Ra)
“Aku pergi ke jjimjilbang.”
(Jae Won)
“Sama siapa?”
(Yoo Ra)
“Yeon Jin seonbaenim yang mengajakku.”
(Jae Won)
“Hah , bisakah kau menghilangkan dia dibenakmu? Masih berani membicarakan pria lain di hadapanku? Apa kau tidak mengerti perasaanku yang sudah menyukaimu? Apakah harus dia?!”
(Yoo Ra)
“Aku mohon jangan emosi, tentang itu kita bisa bicarakan lain kali, saat ini pikirkan kesehatanmu. Yeon Jin seonbaenim juga...”
__ADS_1
(Jae Won)
“Bisakah kau diam?! Jangan berani sebut nama itu di depanku?”
Emosi Jae Won tidak terkontrol, tangan Yoo Ra merasakan kram akibat remasan tangan Jae Won yang sangat kuat.
Jae Won sangat marah dan menekan tangan Yoo Ra sekuat tenaga, tiba-tiba dokter dan seorang wanita yang berpakaian polisi masuk dan memisahkan mereka berdua. “Jae Won, ini sudah kelewatan. Dokter, aku mohon periksa dia lagi.” Ucap wanita itu dan menenangkan Yoo Ra.
“Nona, aku minta maaf, dia adalah adikku. Ayo kita keluar.” Wanita itu mengajak Yoo Ra keluar dan mengajaknya berbicara. Wanita itu adalah kakak perempuan dari Jae Won, Do Seo Hyun. Seo Hyun sangat khawatir dengan adiknya, dan menceritakan kalau Jae Won mudah mengalami stress.
(Yoo Ra)
“Saya minta maaf, sudah membuatnya emosi disaat-saat seperti ini.”
(Seo Hyun)
“Jangan khawatir, dia banyak masalah. Dia selalu seperti ini kalau ada masalah berat yang menimpanya. Kamu pacarnya?”
(Yoo Ra)
“Oh bukan, saya junior di kampus. Kita juga berteman .”
(Seo Hyun)
“Ternyata begitu. Dia selalu bercerita tentangmu, aku pikir dia sudah berpacaran denganmu.”
Yoo Ra bingung, ternyata Jae Won juga orang yang terbuka terhadap kakaknya. Dan Jae Won sudah menceritakan banyak hal tentangnya.
(Seo Hyun)
“Saat ini hanya kamu sebagai orang terdekatnya dan dia selalu memikirkanmu, aku mohon jaga dia ya. Dia memiliki masalah besar saat ini.”
(Yoo Ra)
“Kalau itu...”
Yoo Ra masih ragu-ragu, tapi Seo Hyun tidak ragu untuk percaya pada Yoo Ra. Seo Hyun menceritakan kalau Jae Won mendapat kasus yang besar, mengenai penembakan biarawati beberapa waktu yang lalu. Yoo Ra kaku dan tidak bisa berkata apa-apa, ternyata pelakunya adalah Jae Won. Seo Hyun juga bercerita kalau dulu pernah ada kejadian yang hampir sama seperti saat ini, dulu saat Jae Won masih SMA, ada seorang anak perempuan yang menyukai Jae Won, dan anak itu mengungkapkan perasaannya.
Jae Won menolaknya, tapi anak perempuan itu bersih kukuh mengejar Jae Won. Sampai di lantai 2 sekolah, anak perempuan itu membuntuti Jae Won dan itu membuatnya risih. Pada waktu itu, Jae Won mendapat masalah karena nilai mata pelajarannya turun drastis, dan mengalami depresi minor. Mereka terlibat pertengkaran, dan Jae Won tidak sengaja mendorong anak itu sampai terjatuh dari tangga dan mengalami beberapa luka ringan.
Semenjak itu Jae Won mudah emosi saat banyak masalah yang menimpanya, mood swing juga berubah menjadi ekstrim ketika Jae Won mendapat tekanan secara bersamaan. Yoo Ra menjadi mengerti, kenapa Kim Jae dan Yeon Jin marah saat melihatnya bersama dengan Jae Won. Alasan itu untuk kebaikan Yoo Ra, namun Yoo Ra sendiri tidak bisa melupakan kebaikan Jae Won yang membuatnya merasa berhutang.
Do Seo Hyun selalu menangani masalah Jae Won dengan baik, karena koneksi itu kejahatan yang dibuat oleh Jae Won bisa dibersihkan tanpa jejak berkat kakak perempuannya yang menjadi pelindung.
Kakak Jae Won juga memperingatkan Yoo Ra, “Kalau sudah dekat dengannya, usahakan berhati-hati, kamu tidak akan menyangka seberapa cepat dia berubah, beri dia perhatian. Dulu aku pernah hampir ditikam olehnya, untungnya dia cepat sadar.”
Begitu menakutkannya sifat asli Jae Won, siapa yang menyangka di balik pria yang lembut dan penuh rasa sayang terdapat sisi kejam dan berani menghilangkan nyawa orang.
__ADS_1
***