
Berfoto bersama, keluarga Kim berada dalam satu frame. Siapapun yang melihat ini pasti akan melongo dan akan mengenal betapa kuatnya keluarga elit ini. Selesai berfoto Yoo Ra pergi dan mencari keberadaan Yeon Jin, sampai pada akhirnya ia bertemu denga Joan yang sedang memungut sesuatu dari meja dekat tempat sampah.
(Yoo Ra)
“Joan seonbaenim...”
(Joan)
“Annyeong Yoo Ra-ssi . Sudah lama tidak bertemu.”
(Yoo Ra)
“Ah iya. Seonbae tahu dimana keberadaan Park Yeon Jin sekarang?”
(Joan)
“Entahlah.”
(Yoo Ra)
“Buket bunga untuk siapa? Jangan-jangan untuk pacarmu ya?”
(Joan)
“Sembarangan... Aku memungutnya dari sini . Sepertinya ini milik orang yang menyedihkan.”
Joan tahu kalau Yeon Jin membuang buketnya di tempat sampah, namun buket itu tidak sampai masuk ke dalam tong sampah itu, hanya tergeletak di dekat meja yang berada di samping tong sampah. Joan segera memungutnya dan memeriksa buket itu, dan ada kartu yang bertuliskan “Semangat terus peri mini, Kim Yoo Ra-ssi.” Sudah jelas sekali kalau buket mawar ini untuk Yoo Ra.
Joan ingin memberikannya kepada Yoo Ra, namun Yoo Ra sudah berjalan menjauhi Joan untuk mencari Yeon Jin. Sebelum berjalan terlalu jauh, Joan memanggil Yoo Ra, dan Yoo Ra berbalik menanggapi Joan. Joan menghampiri Yoo Ra dan memberikan bunga itu, “Ini untukmu, dari Yeon Jin. Ada kartu di dalamnya, tenang saja bunganya tidak dibuang ke tong, hanya diletakkan di meja itu.” Yoo Ra tidak bisa berkata-kata dan menerima bunga itu dengan perasaan yang campur aduk. Joan memberikan petunjuk, tempat biasanya Yeon Jin menyendiri “Pergilah ke taman di dekat lapangan basket, mungkin kau akan menemukannya disana.” Yoo Ra berterima kasih dan lari ke taman kampus untuk mencari Yeon Jin.
Di taman sangat sepi, karena semua orang berkumpul di depan gedung. Sekali lagi Yoo Ra mencoba menelpon Yeon Jin, tapi suara dering nada ponsel seseorang terdengar di balik pohon besar. Yoo Ra perlahan menurunkan ponselnya dan berjalan mendekat di pohon besar itu. “Apa yang dia lakukan disini? Jangan-jangan dia tahu kalau Jae Won seonbae memelukku tadi? Astaga... bukankah tingkah lahu seperti ini seperti anak kecil?”
Dari tadi Yeon Jin memejamkan mata dan mengabaikan panggilan di ponselnya, dengan menikmati hembusan angin peralihan musim. Bersandar di bawah pohon yang menggugurkan semua daun-daunnya, menahan tetesan air mata yang keluar. Yoo Ra mendekat dan melihat Yeon Jin yang duduk, tak berusaha untuk memanggilnya namun hanya menatap wajah pria 23 tahun itu dengan memegang buket yang seharusnya diberikan secara langsung kepadanya.
Yoo Ra ikut bersandar di pohon dengan posisi berdiri untuk menunggu Yeon Jin bangkit dari duduknya. “Sudah cukup, saat ini mungkin dia sudah pulang.” Pikir Yeon Jin dan berdiri sambil memungut ponselnya untuk diletakkan di saku.
“Kim Yoo Ra.” Yeon Jin memanggil Yoo Ra dengan nada terkejut, dan mata Yeon Jin tertuju pada buket yang dipegangnya. Seolah tak percaya, Ye n Jin kaku dan memandangi perempuan yang berada di depannya dengan penuh rasa bersalah.
Tanpa berkata sepatah kata, Yoo Ra mendekat dan memeluk tubuh Yeon. “Terima kasih, sudah membuat hari ini menjadi sempurna.” Yeon Jin membalas pelukan itu dengan disahut oleh tetesan air mata bahagia. “Aku kira kamu tidak akan mencariku.” Ucap Yeon Jin tepat di telinga Yoo Ra.
__ADS_1
“Apakah aku orang yang tidak tahu terima kasih? Sedari tadi aku mencarimu, ternyata disini sendirian tanpa menemuiku dulu.” Yeon Jin merasa dirinya terlalu bodoh, senyuman yang terbang dari bibir Yeon Jin menandakan penyesalan juga menertawakan kebodohannya sendiri.
“Kenapa aku tidak bertahan sampai akhir? Aku terlalu bodoh, sampai tidak menyadari kalau wanita yang au sukai ternyata mengharapkan kehadiranku.” Kata Yeon Jin dalam hati, dengan pelukan erat enggan melepas tubuh kecil wanita itu.
Melepas pelukan secara perlahan dan mencoba menjelaskan kejadian ini.
(Yoo Ra)
“Seonbae kenapa disini? Aku sudah mencarimu! Seonbae tidak khawatir tentang kakiku?”
(Yeon Jin)
“Aha , maafkan aku ya... Aku tadi ingin menghirup udara segar.”
(Yoo Ra)
“Ckckck... Lalu aku telepon juga tidak diangkat.”
(Yeon Jin)
“I...Itu...”
(Yoo Ra)
(Yeon Jin)
“Mengenai itu, aku akan menjelaskannya nanti. Loh... buket itu kenapa bisa ada padamu? Siapa yang ngasih?”
(Yoo Ra)
“Joan seonbaenim yang memberikannya padaku.”
(Yeon Jin)
“Itu bunga dariku, terima kasih sudah menerimanya .”
Yoo Ra memiliki rencana, kini Yoo Ra ingin sekali menggoda Yeon Jin yang percaya diri seperti ini. “Ini dari Joan seonbaenim, bukan darimu .” Ucap Yoo Ra dengan pasti, ini memancing Yeon Jin yang sedari tadi bersikap lembut.
(Yeon Jin)
__ADS_1
“Joan??? Hei apakah kau bercanda?”
(Yoo Ra)
“Tidak! Dia yang memberiku secara langsung, uwuwuwu... selaranya sangat tinggi. Lihatlah dia menyiapkannya sesuai warna bajuku. Kita terlihat senada bukan? .”
(Yeon Jin)
“Astaga... Itu bunga milikku... Itu dariku!!!. Jangan mengada-ada.”
(Yoo Ra)
“Kau yang jangan mengada-ada, telepon saja dia dan tanyakan sendiri.”
(Yeon Jin)
“Kau... Percayalah ini dariku... Aku tadi membuangnya karena melihatmu berpelukan dengan pria lain, jadi... aku mebuangnya karena marah melihatmu berpelukan kemudian tertawa dengan dia. Dan lagi, lihat bunga ini betapa mendadaknya aku memesan ini hah? Aku melihat dirimu dari atas sampai bawah, memikirkan bunga yang cocok untuk aku berikan. Sekarang, kau malah menganggap ini dari Joan?”
Yoo Ra menahan tawanya dengan senyum keras yang dipasang di wajahnya. “Hahahaha... lihatlah wajah seonbae yang malu itu, hahahaha...” Tawa keras Yoo Ra membuat Yeon Jin menjadi salah tingkah, dia tidak menyangka kalau akan dipermainkan dengan seperti ini. Yeon Jin merebut buket itu dengan melangkah pergi menjauhi Yoo Ra dan berkata, “Ya sudah ini aku ambil kembali. Kalau lapar ayo makan di rumahku.”
Yeon Jin berjalan cepat dengan tersenyum lebar, Yoo Ra sudah berhasil menggodanya, kini giliran dia yang menggoda. “Seo...Seonbae... Itu bunga milikku, jangan kau ambil!!! Baiklah aku bersalah.” Yoo Ra berteriak dengan tertawa dan berlari ke arah Yeon Jin untuk merebut bunga itu.
Akhir musim gugur yang sangat romantis sekali, namun Yeon Jin tak kunjung mengungkapkan isi hatinya, hanya bisa mendekat seperti ini sudah ada rasa nyaman yang tiada tara.
***
Salju pertama? Bertepatan dengan purnama biru. Kim Jae bersiap-siap menghadapi purnama biru yang akan mengubah hidup miliknya untuk selamanya. Kim Jae menatap keluar jendela apartemen dan melihat indahnya kota pada malam ini.
Yoo Ra yang berada di dalam rumah mendadak rindu pada Kim Jae. Memutuskan untuk berkunjung dan membawakan beberapa potong buah apel, piring terisi penuh oleh potongan buah apel dan diantarkan ke rumah Kim Jae.
Kim Jae mendapat perlakuan hangat dari adik perempuannya merasa sangat terharu. Dia sudah memiliki firasat yang seperti ini.
Purnama biru yang akan merubahnya menjadi goblin ini harus mempertaruhkan hidup dan mati. Ingin sekali Kim Jae mengeluh kepada Yoo Ra, namun dia tak sanggup harus mengeluhkan hal yang mengerikan seperti ini.
Seolah mengerti semuanya, Yoo Ra sangat peka terhadap perasaan Kim Jae. Ia meletakkan piring di meja dan menggandeng Kim Jae untuk duduk bersamanya, mengatakan hal yang akan membuat Kim Jae bangkit. “Oppa, aku yakin kau akan baik-baik saja. Nyawamu sangat berharga disini, jangan khawatir kalau ini gagal. Saat ini yakinlah kalau ini akan berhasil tanpa merenggut nyawamu. Oke?” Kim Jae memberikan senyum tulus dan berterima kasih atas dukungan yang Yoo Ra berikan kepadanya.
Kim Jae yang bermulut pedas dan tipikal jahil tingkat semesta ini sudah berubah menjadi pria manis da hangat, sehari-hari waktunya dihabiskan untuk mengganggu Yoo Ra kini hanya dihabiskan dengan berbagi kenyamanan.
Memeluk sang adik dengan erat menjadi energi tersembunyi untuk kebangkitannya. “Kau takut ya?” Tanya Yoo Ra dengan bumbu ejekan. “Sebenarnya tidak, sejak kau jadi adikku, aku mulai takut dengan ini.” Kim Jae berkata seperti itu karena takut harus meninggalkan Yoo Ra terlebih dahulu sebelum Yoo Ra meninggalkannya.
__ADS_1
Kedatangan Yoo Ra membuatnya lebih bertanggung jawab. Sebelumnya dia adalah orang yang seenaknya, tidak takut terhadap kematian, bahkan dia pernah mengklaim kalau punya nyawa berjumlah 9. Sejak Yoo Ra hadir dan dia merasa kalau punya seseorang yang harus dilindungi, kini dia lebih takut pergi meninggalkan adiknya.
“Waktunya ke Pureun Seong. Bersiaplah... ”