Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 23


__ADS_3

Yoo Ra membalikkan badan dan melihat seseorang yang memanggilnya. Dia adalah Do Jae Won, Jae Won langsung berlari menghampiri Yoo Ra dan Yeon Jin dan meninggalkan Soo Ah.


Yoo Ra hanya terdiam melihat Jae Won yang sedang menghampirinya.


(Jae Won)


“Kau disini?”


(Yoo Ra)


“Iya...”


(Jae Won)


“Tidak sama Kim Jae?”


Jae Won melirik ke tangan Yoo Ra dan Yeon Jin yang masih berpegangan. Yeon Jin pun membalikkan badan, dan Yoo Ra melepas genggaman Yeon Jin.


(Yeon Jin)


“Huh... (Menghela nafas). Dia bersamaku.”


(Yoo Ra)


“Kim Jae sedang sibuk, maka dari itu aku tidak bersamanya. Ehe... (senyum sungkan).”


(Yeon Jin)


“Aku yang mengajaknya, ada masalah?”


(Jae Won)


“Ah... Bukan begitu, aku sudah mengajaknya dulu. Ternyata Kim Jae yang membalas pesannya. Syukurlah kalau kau menemaninya.”


(Yeon Jin)


“Begitu rupanya... Kita mau pulang dulu ya...”


(Jae Won)


“Tunggu, Yoo Ra... bisa bicara sebentar?”


(Yoo Ra)


“Sebenarnya itu cuman salah paham seonbae... Kakakku terlalu sembrono... Maaf (meringis).”


(Jae Won)


“Bukan itu... Ada yang lain mau aku tanyakan.”


(Yeon Jin)


“Bicaralah padanya. Disini...”


(Jae Won)


“Maaf ya Yeon Jin-ssi... Aku hanya ingin bicara berdua dengannya.”


(Yeon Jin)


“Saat ini aku bertanggung jawab untuk menjaganya, dan aku juga yang mengajaknya kesini. Sampai pulang pun di harus bersamaku. Cepat, bicaralah...”


(Yoo Ra)


“Yeon Jin seonbae... Ini gak akan lama kok.”


Tiba-tiba So Ah datang dan menghampiri mereka bertiga. Soo Ah langsung menggandeng lengan Jae Won.


(Soo Ah)


“Seonbae... kau meninggalkanku sendirian disana. Ayo kita pergi kesana.”


(Jae Won)


“Soo Ah-ya (melepaskan tangan Soo Ah). Aku ingin berbicara dulu dengan Yoo Ra.”


(Soo Ah)


“Apa?”


(Jae Won)


“Ayo...”


Yoo Ra langsung mengikuti Jae Won dan berbisik kepada Yeon Jin, “Sebentar ...”. Yeon Jin hanya bisa pasrah dan menunggu di bangku taman, begitu pula dengan Soo Ah.


(Jae Won)


“Kenapa tidak membalas pesanku lagi setelah Kim Jae mengirimkan pesan suara?”


(Yoo Ra)


“Aku ingin mengirimkan pesan padamu. Tapi Soo Ah mengirimiku pesan kalau kalian akan pergi ke karnaval bersama-sama, dia sangat senang. Aku juga berencana pergi dengan Kim Jae, tapi dia mendadak ada urusan. Dan aku juga gak sengaja bertemu dengan Yeon Jin seonbaenim di kantor.”


(Jae Won)


“Maaf... aku pikir dengan pergi dengan Soo Ah aku dapat bertemu denganmu dan Kim Jae. Ternyata kamu keluar dengan Yeon Jin. Tidak apa-apa... (menepuk bahu Yoo Ra)”


(Yoo Ra)


“Syukurlah... maaf karena Kim Jae yang membalaskan pesan untukku.”


(Jae Won)


“Tidak apa-apa... ini juga salahku. Jadi, bagaimana perasaanmu setelah melihat-lihat?”


(Yoo Ra)


“Menyenangkan...”


Jae Won dan Yoo Ra sedang berbincang-bincang, dan Yeon Jin yang sedang duduk memperhatikan mereka berdua.


(Yeon Jin)


“Huft... Lihatlah mereka berdua, kenapa lama sekali? (melihat jam tangan)”


(Soo Ah)


“Ini tentang perasaan mereka.”


(Yeon Jin)


“Memangnya aku bicara padamu?”


(Soo Ah)


“Ah... (senyum). Siapa lagi yang ada disini?”


(Yeon Jin)


“Pergilah, dan jemput mereka. Kau membuatku tidak nyaman dengan kehadiranmu disini.”


(Soo Ah)


“Seonbae... aku sama sekali tidak menganggumu, tolong jangan bersikap seperti itu kepadaku (marah).”


(Yeon Jin)


“Kau tidak sadar dengan posisimu!? Karena kau, sejak SMA sering kali mengangguku dan menciptakan gosip kalau kita berkencan.”


(Soo Ah)


“Itu dulu... (bersalah)”


(Yeon Jin)


“Memang itu dulu, dan terjadi lagi di semester kemarin. Sekarang, pria mana lagi yang ingin kau incar? Jangan pernah mendekati Jae Won dengan cara licikmu itu, sudah beberapa kali kau mendekati banyak pria di kampus hanya demi kepopuleran? Setelah mendekatinya lalu meninggalkannya , dan kau membuat mereka mengemis-ngemis padamu agak kau menerima cinta dari mereka. Sungguh betapa memalukannya dirimu.”


(Soo Ah)


“Tolong jangan bahas itu lagi... (pergi)”


Soo Ah pergi meninggalkan Yeon Jin dan menyusul Jae Won.


(Soo Ah)


“Jae Won seonbae... aku ingin pulang, kepalaku pusing.”


(Jae Won)


“Kau sakit?”


(Soo Ah)


“Sepertinya iya. Yoo Ra, maaf ya... “


(Yoo Ra)


“Pulanglah... Beristirahat dengan cukup. Semoga cepat sembuh. Jae Won seonbae... Aku permisi dulu ya.”


(Jae Won)


“I.. Iya... sampai jumpa di kampus.”


(Yoo Ra)


“Baiklah. Soo Ah, rawat dirimu. Kalau kau membutuhkanku, telepon saja ya.”


(Soo Ah)


"Baiklah. Terima kasih, Yoo Ra."


Yoo Ra kembali dan menghampiri Yeon Jin yang sedang menunggunya.


(Yeon Jin)


“Sudah?”


(Yoo Ra)


“Sudah... Ayo pulang.”


(Yeon Jin)


“Ayo... (tersenyum). Tunggu tunggu...”


(Yoo Ra)


“Apa lagi”


(Yeon Jin)


“Kau bawa ponsel?”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Bawa, ini...”


(Yeon Jin)


“Pinjam sebentar ya, ponselku ketinggalan di rumah. Aku juga harus menghubungi sekretarisku.”


(Yoo Ra)


“Boleh... (menyerahkan).”


(Yeon Jin)


“Sebentar ya...”


Yeon Jin segera mengetik nomor dan menelpon. Namun tidak ada jawaban..


(Yeon Jin)


“Ukh... Tidak di jawab (mematikan).”


(Yoo Ra)


“Cobalah sekali lagi.”


(Yeon Jin)


“Apa? Oh... tidak usah. Ini aku kembalikan, terima kasih ya.”


(Yoo Ra)


“Akan lebih baik kalau di telepon sekali lagi loh.”


(Yeon Jin)


“Sudahlah, ayo pulang.”


(Yoo Ra)


“Kau yang antar aku?”


(Yeon Jin)


“Mau aku tinggalkan sendiri? “


(Yoo Ra)


“Sirheo... ahaha... Ayo.”


Yoo Ra diantar pulang oleh Yeon Jin. Setibanya di rumah Yoo Ra, ia mempersilahkan Yeon Jin untuk mampir sebentar. Yeon Jin menyetujuinya dan masuk kedalam. Ternyata di rumah sudah ada Kim Jae yang baru saja datang dari pemotretan.


(Yoo Ra)


“Aku pulang...”


(Kim Jae)


“Ya ampun... Bayi perempuanku sudah pulang (mengeringkan rambut dengan handuk). Sini aku peluk ya...”


(Yoo Ra)


“Sadrakan dirimu. Baru pulang ya?”


(Kim Jae)


“Iya, darimana saja?”


(Yoo Ra)


“Jalan-jalan. Aku ke atas dulu.”


(Yeon Jin)


“Annyeong, Kim Jae-ya.”


(Kim Jae)


“Daebak... Sudah lama kau gak kesini. Mimpi apa semalam?”


(Yeon Jin)


“Mimpi kalau kau mati.”


(Kim Jae)


“Haish... (melemparkan handuk). Duduklah. Kau pergi dengan adikku?”


(Yeon Jin)


“Iya... Tadi aku bertemu Jae Won dan Soo Ah.”


(Kim Jae)


“Jae Won? Soo Ah? Kok bisa?”


(Yeon Jin)


“Tidak sengaja, saat itu aku juga sama Yoo Ra. Sungguh hari yang buruk bisa bertemu dengan gadis itu.”


(Kim Jae)


“Oh Tuhan...Semoga Jae Won terselamatkan dari ulahnya.”


(Yeon Jin)


(Kim Jae)


"Kita sudah tahu bagaimana sifatnya. Sepertinya Jae Won belum terlalu mengenal Soo Ah. Sejak SMA aja dia kan belum ngetop tuh, dan sekarang di kampus malah ngetop banget. Jae Won yang malang..."


(Yeon Jin)


"Kau punya soda?”


(Kim Jae)


“Akan ku ambilkan (berjalan ke dapur).”


Bel pintu berbunyi dan ternyata ada tamu. Kim Jae mendengarnya, ia segera mengambil soda dan memberikannya kepada Yeon Jin lalu membukakan pintu.


(Kim Jae)


“Ini (melemparkan kaleng soda). Aku buka pintu dulu. TUNGGU SEBENTAR...”


Kim Jae kaget dengan kedatangan Emma, dan ia tak menyangka kalau Emma berkunjung.


(Emma)


“Bangawoyo... Kim Jae-ssi. Hahaha...”


(Kim Jae)


“Nuna... Ngapain kesini?”


(Emma)


“Mana adikmu?”


(Kim Jae)


“Ada di dalam. Masuklah...”


(Emma)


“Terima kasih, Kim Yoo belum pulang?”


(Kim Jae)


“Belum.”


Emma masuk dan melihat ada pria yang duduk di sofa, Emma pun terkejut.


(Emma)


“Kau...”


(Yeon Jin)


“Oh? Ae Ri sajangnim...”


(Emma)


“Aku sudah lama mencarimu, setelah 2 tahun kau tidak pernah berkunjung ke tempatku.”


Saat ini Yeon Jin gugup, dan bingung harus berkata apa.


(Kim Jae)


“Kalian saling kenal?”


(Emma)


“Oh... Tentu saja (gugup)”


(Yeon Jin)


“Kita... Kita ada kerja sama, haha... Iya kan, sajangnim?”


(Emma)


“Oh... tentu saja... hahaha. Aku juga ada bisnis pakaian, jadi aku dengannya juga membahas soal butik milikku.”


(Kim Jae)


“Ada yang tidak beres sama kalian berdua. Ayolah, jangan menyembunyikan sesuatu.”


(Emma)


“Aih... perasaanmu saja. Oh iya, Yoo Ra belum turun?”


Yoo Ra keluar dari kamar dan langsung turun ke bawah.


(Yoo Ra)


“Eonni... Aku sudah lama menunggu, aku berniat akan menelponmu ternyata kau kesini dulu.”


(Emma)


“Em... Ayo kita bicara di kamarmu ya...”


(Yoo Ra)


“Tapi, Yeon Jin seonbae?”

__ADS_1


(Yeon Jin)


“Aku akan pulang saja. Sampai jumpa ya. Kim Jae... Makasih sodanya.”


(Emma)


“Yeon Jin-ssi. Berkunjunglah ke butikku ya, malam ini. Ada hal yang penting.”


Yoo Ra bingung, ternyata Emma dan Yeon Jin sudah saling kenal. Yeon Jin pun segera pulang, sementara Yoo Ra harus berbincang di dalam kamar.


(Yoo Ra)


“Mana bunganya?”


(Emma)


“Ini.”


Emma memberikan kotak kecil yang terbuat dari kayu, dan isinya hanya satu kelopak bunga peony yang berwarna biru tua. Yoo Ra segera memakannya, rasanya pahit dan Yoo Ra ingin memuntahkannya namun dicegah oleh Emma. Yoo Ra segera menelan kelopak itu.


(Emma)


“Sudah kau telan?”


(Yoo Ra)


“Air...”


(Emma)


“Ini ini... minumlah.”


(Yoo Ra)


“(selesai minum) rasanya pahit banget.”


(Emma)


“Tahanlah (meringis ngilu). Kau akan segera membaik, tidak ada efek sampingnya kok.”


(Yoo Ra)


“Iya... Eonni, kenapa lama sekali untuk mengantarkan ini?”


(Emma)


“Aku sibuk, makanya gak sempat. Tadi aku mampir ke tempat Dal Rae yang lama, dia bilang kalau kau siang tadi berkunjung kesana.”


(Yoo Ra)


“ Oh... Yang tadi... Eonni kenal sama Park Yeon Jin?”


(Emma)


“Tentu... Tanpa dia mungkin butikku akan bangkrut, hehehe... (bergumam dalam hati ) maafkan aku Yoo Ra, aku sudah bohong padamu.”


(Yoo Ra)


“Kerja sama ya? Dimana butikmu?”


(Emma)


“Itu... ada di paris, ya ada di paris (gagap).”


(Yoo Ra)


“Jauh banget.”


(Emma)


“Kalau begitu aku akan pulang, setelah ini kau bisa berkunjung dan keluar masuk sesuka hati ke Pureun Seong.”


(Yoo Ra)


“Bahkan saat siang?”


(Emma)


“Iya... ya sudah, aku pulang. Istirahatlah.”


(Yoo Ra)


“Baik, hati-hati di jalan.”


Malam ini Yoo Ra tertidur sangat lelap, seakan-akan kelopak bunga yang telah ia makan adalah obat tidur.


---


Di Pureun Seong, Yeon Jin menemui Emma.


(Yeon Jin)


“Sajangnim...”


(Emma)


“Kau kemana saja selama 2 tahun ini?”


(Yeon Jin)


“Maafkan aku, aku tahu aku salah. Tapi aku ingin menunggu kematianku saja untuk kembali ke asalku.”


(Emma)


“Kau tahu kalau kau sudah menyianyiakan kesempatanmu untuk kembali? Karena kau menghilang begitu saja, tempat ini sudah beberapa kali mengalami bencana. Di hari kau ingin kembali, kau sudah janji padaku aka datang kesini. Dan saat portalnya terbuka, kau malah tidak kunjung datang. Aku sungguh kecewa padamu.”


(Yeon Jin)


“Aku tahu... Tapi urusanku disini belum tuntas. Aku sudah 15 tahun di kehidupan ini, dan aku sudah memutuskan untuk kembali ke asalku saat aku mati.”


(Emma)


“Hei ... Park Yeon Jin!!! Apa kau mau dihanguskan hah?. Menurutlah padaku, karena kau aku kehilangan berlian bulan. Karena kau tidak masuk ke portal, maka aku mengorbankan 1 berlian itu.”


(Yeon Jin)


“Nuna... Maaf maafkan aku (memohon). Akan aku ganti berlian itu ya, aku masih belum ingin kembali kesana...”


(Emma)


“Mampu membayarnya? Kalau mampu maka akan aku izinkan.”


(Yeon Jin)


“Satu berlian warna pink? Gimana?”


(Emma)


“Kau kira aku akan tertipu?”


(Yeon Jin)


“Begini, kau tahu berlian The Perfect Pink?”


(Emma)


“Kau memilikinya?”


(Yeon Jin)


“Tentu dong, aku mendapatkan itu dari seseorang sebagai hadiah.”


(Emma)


“Bodohnya orang itu memberikan berlian yang berharga pada si bodoh ini (mengejek)... bawa kemari, dan kita anggap impas. Bagaimana?”


(Yeon Jin)


“Besok saja... aku akan membawanya kemari.”


(Emma)


“Janji... jangan kabur.”


(Yeon Jin)


“Aku tidak akan kabur. Janji (mengacungkan jari kelingking).”


---


Pagi hari yang cerah, Yoo Ra terbangun dari tidur lelapnya. Ia merasa badannya sangat segar dan suasana hatinya sangat bahagia. Ia tersadar kalau kemarin mrninggalkan bunga mawar putih itu. Semalam Kim Yoo ternyata tidak pulang, dan Kim Yoo juga mengurus bunga itu. Mendadak Yoo Ra mendapat telepon dari Min biseo.


(Min biseo)


“Halo... Agassi, maaf menelponmu pagi-pagi.”


(Yoo Ra)


“Iya, ada apa Min biseo?”


(Min biseo)


“Bunga mawarmu ada padaku, aku letakkan di dalam vas. Sekarang masih sangat segar, dan tidak mekar sama sekali. Padahal kau membawanya dengan keadaan masih kuncup, walau ditaruh dalam air, bunganya tidak mekar. Punya presdir sudah layu, hanya mawar ini yang ku rawat.”


(Yoo Ra)


“Serius? Min biseo, bisa antarkan ke rumah?”


(Min biseo)


“Ini aku sudah hampir sampai ke rumahmu. Tunggu di sana ya.”


Aneh... sungguh aneh, kenapa bunganya tidak mau mekar? Kondisinya juga masih segar. Sungguh bunga yang ada di toko Dal Rae ada sihirnya...


Yoo Ra segera turun dan menunggu Min biseo, dan ia ingin melihat bagaimana bunga itu masih mempertahanan bentuknya.


Ting Tong... Bunyi bel rumah.


(Min biseo)


“Agassi, aku sudah datang.”


Yoo Ra langsung membukakan pintu dan menyambut kedatangan Min biseo.


(Yoo Ra)


“Min biseo...”


(Min biseo)


“Ini... belum mekar dan belum layu kan?”


Astaga... sungguh tidak dapat dipercaya

__ADS_1


***


__ADS_2