Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 21


__ADS_3

Hari ini Yoo Ra tidak kelas,siang ini ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke kantor pamannya.


Yoo Ra keluar dari rumah dan naik bus menuju kantor Kim Yoo. Ia memang sengaja tidak membawa mobil karena ia ingin mengunjungi toko bunga milik Dal Rae untuk meminta satu kelopak bunga peony, ia sudah menantikan Emma yang akan membawakannya namun tidak kunjung datang ke rumah.


Yoo Ra berhenti tepat di dekat distrik kaki lima yang terdapat toko bunga Dal Rae, ternyata toko bunganya sudah buka. Yoo Ra langsung masuk ke dalam.


(Yoo Ra)


“Permisi... Halmeoni.”


Masih tidak ada jawaban, dan Yoo Ra terus memanggil-manggil Dal Rae. Sudah beberapa kali ia memanggil tapi tidak ada jawaban, jadi ia memutuskan untuk melihat-lihat sebentar. Aroma bunga sungguh kuat, bunga segar yang ada di vas juga sangat cantik dan sepertinya baru saja dipetik.


Yoo Ra kembali memandangi lukisan Dal Rae itu, saat ia menyentuhnya tiba-tiba lukisan itu bergerak dan berputar seolah memiliki ruang. Saat lukisan itu berputar, Yoo Ra melihat ada lukisan dibalik lukisan Dal Rae. Ternyata lukisan itu memiliki 2 lukisan yang satu berada di depan dan yang satunya ada dibaliknya.


“Ini hanya satu kanvas, tapi kok ada 2 lukisan.” Gumam Yoo Ra dengan meyentuh lukisan itu.


Karena penasaran, Yoo Ra ingin membalik lukisan itu dan melihat lukisan siapa yang ada di belakang itu. Dan...


(Dal Rae)


“Tolong jangan dilihat.”


Dal Rae mengejutkan Yoo Ra, ia pun menoleh ke arah Dal Rae karena terkejut.


(Yoo Ra)


“Halmeoni... ini... (menunjuk ke arah lukisan)”


Yoo Ra menoleh lagi ke arah lukisan dan lukisan itu langsung berputar dan kembali ke semua yakni figur Dal Rae, Yoo Ra masih sempat melihat lukisan kedua itu walau hanya sekilas.


(Dal Rae)


“Kau mencariku? (gugup)”


(Yoo Ra)


“Oh? Iya (berbalik dan menghampiri Dal Rae)”


(Dal Rae)


“Kau butuh apa Yoo Ra? Mawar disana baru datang, mau aku bungkuskan? (mengalihkan pembicaraan)”


(Yoo Ra)


“Halmeoni, kalaupun kau bungkuskan untuk apa aku membawa mawar (menggoda).”


(Dal Rae)


“Siapa tahu kau butuh. Aku tanya sekali lagi, untuk apa kau kemari?”


(Yoo Ra)


“Aku mau meminta kelopak peony."


(Dal Rae)


“Tunggu (mendekat dan melihat wajah Yoo Ra). Kau belum mati, kenapa mau minta bunga itu.”


(Yoo Ra)


“Halmeoni, aku memang belum mati. Aku membutuhkannya, ayolah... (senyum meggoda).”


(Dal Rae)


“Untuk apa bunganya?”


(Yoo Ra)


“Yang aku butuhkan cuman kelopaknya.”


(Dal Rae)


“Terus?”


(Yoo Ra)


“Entahlah untuk apa lagi aku tidak tahu (menggeleng). Emma sajangnim yang menyuruhku untuk kesini agar mendapat kelopak itu.”


(Dal Rae)


“Astaga si perawan tua itu sungguh merepotkan. Emma kemarin datang kesini, dan membawanya. Temuilah dia.”


(Yoo Ra)


“Loh... dia tidak menghubungiku sama sekali.”


(Dal Rae)


“Carilah dia, sudah pergilah jangan mengangguku.”


Tingkah laku Dal Rae sepertinya sangat mencurigakan. Yoo Ra merasakan kalau Dal Rae menyembunyikan sesuatu.


(Yoo Ra)


“Nanti saja aku telepon sajangnim. Aku mau ke kantornya paman dulu.”


(Dal Rae)


“Tunggu dulu, aku bungkuskan bunga dulu.”


Dal Rae segera membungkuskan buket bunga lily putih, mawar merah dan gossypium, lalu ia menyerahkan kepada Yoo Ra.


(Dal Rae)


“Bawalah ini, berikan ke Kim Yoo. Katakan kalau aku merindukannya.”


(Yoo Ra)


“Cantik...Untuk paman saja? Untukku?”


(Dal Rae)


“Aigo... lama kelamaan kau mirip dengan Kim Jae. Sudah sudah, cepat pergi (mendorong Yoo Ra).”


(Yoo Ra)


“Padahal tadi kau menawarkan mawar itu.”

__ADS_1


(Dal Rae)


“Ahaha... cepatlah, aku mau berkemas.”


(Yoo Ra)


“Berkemas? Halmeoni mau kemana?”


(Dal Rae)


“Tokoku mau pindah.”


(Yoo Ra)


“Pindah kemana? Mendadak banget.”


(Dal Rae)


“Nanti aku jelaskan, ini alamatnya (menyerahkan kertas). Sekarang silahkan pergi ya nak (tersenyum). Jangan ganggu wanita tua ini ya...”


(Yoo Ra)


“Auh... Kejamnya... “


Yoo Ra berjalan menuju pintu, lalu ia teringat lukisan yang tadi ia lihat. Kemudian ia berbalik dan menanyakan itu ke Dal Rae.


(Yoo Ra)


“Halmeoni, lukisan yang tadi kok aku merasa janggal ya?”


(Dal Rae)


“Lukisan? Yang mana? Itu cuman lukisanku, orangnya saat ini ada di depanmu (gugup).”


(Yoo Ra)


“Bukan... Di balik lukisanmu ada lukisan lagi. Aku melihat ada 3 orang yang terlukis disitu, siapa mereka?”


(Dal Rae)


“Kau mengigau ya.”


(Yoo Ra)


“Aku serius, tadi lukisannya berputar. Halmeoni tidak melihatnya?”


(Dal Rae)


“Aku tadi cuman melihatmu yang terkejut, sama sekali tidak memperhatikan lukisanku. Bagaimana bisa lukisan seperti itu berputar, kau pasti pusing karena berjalan di cuaca yang panas dan terik. Maka dari itu kau berhalusinasi.”


(Yoo Ra)


“Benar juga (bergumam). Ya sudah, aku pergi dulu.”


(Dal Rae)


“Cepatlah... Yoo Ra yang cantik kau sangat mengangguku(berteriak).”


(Yoo Ra)


“Iya iya aku akan pergi. Halmeoni... Aku minta satu ya.”


(Dal Rae)


“Untung saja Yoo Ra tidak melihat keseluruhan lukisan itu, entah apa yang terjadi kalau ia melihatnya. Huft... untunglah.”


Sebenarnya, lukisan apa itu?


---


Yoo Ra berada di depan kantor, dan ia berjalan masuk. Di tepi jalan ada Yeon Jin yang memarkirkan mobilnya, ia datang ke kantornya Kim Yoo dengan menggunakan pakaian kasual.


Yeon Jin kesini untuk berbicara soal perusahaan, sebelumnya Nam Group dan Park Group memang sudah bekerja sama, jadi Yeon Jin juga sering berkunjung untuk membahas masa depan kedua perusahaan ini.


Yoo Ra berjalan dari lobi menuju ke ruangan Kim Yoo. Sepanjang ia berjalan di koridor, para karyawan Kim Yoo membungkuk memberi salam kepada Yoo Ra. Tak heran mengapa ia sangat di hormati para karyawan, selain posisinya sebagai keponakan Kim Yoo dan juga beberapa minggu ini Yoo Ra sering berkunjung untuk belajar sekaligus membantu kolega-kolega Kim Yoo. Sehingga mereka merasa terbantu dengan keberadaan Yoo Ra.


(Yoo Ra)


“Min biseo... (menepuk meja)”


(Min biseo)


“Kamjagiya...Agassi... Apa kabar?”


(Yoo Ra)


“Seperti yang kau lihat hehehe... Aku mau bertemu samchon.”


(Min biseo)


“Masuklah, Presdir sedang istirahat.”


(Yoo Ra)


“Khamsahabnida.”


(Min biseo)


“Iya... masuklah.”


Yoo Ra masuk kedalam ruangan Kim Yoo dengan membawa buket bunga pemberian Dal Rae.


Di lobi ada Yeon Jin yang sedang menunggu Kim Yoo, ternyata urusan kali ini akan di tangani oleh Min biseo. Mereka membahas sesuatu di ruangan Min biseo, ruangannya pun bersebelahan dengan ruangan Kim Yoo.


(Yoo Ra)


“Samchon (membuka pintu). Aku datang.”


(Kim Yoo)


“Masuklah, kapan kau datang?”


(Yoo Ra)


“Baru saja."


(Kim Yoo)

__ADS_1


"Aduh... anak perempuanku (memeluk). Maafkan aku karena jarang pulang ke rumah."


(Yoo Ra)


"Sudahlah. Ini (menyerahkan buket), dari Dal Rae halmeoni. Katanya dia merindukanmu.”


(Kim Yoo)


“Omo... baiknya. Nanti aku sempatkan untuk berkunjung ke tokonya.”


(Yoo Ra)


"Tokonya akan pindah (meletakkan mawar putihnya di atas meja)."


(Kim Yoo)


"Benarkah?"


(Yoo Ra)


“Iya... Samchon.”


(Kim Yoo)


"Em... (menoleh)"


(Yoo Ra)


"Aku lapar."


(Kim Yoo)


“Kau belum makan?”


(Yoo Ra)


“Belum, tadi mau sarapan tapi gak jadi. Kim Jae oppa juga pergi pagi banget.”


(Kim Yoo)


“Kim Jae? Dia kemana?”


(Yoo Ra)


“Dia kan dapat tawaran jadi model pakaian. Setelah itu dia akan ikut casting drama.”


(Kim Yoo)


“Oh gitu ya... kok gak ngasih tahu samchon?”


(Yoo Ra)


“Samchon udah ditelepon tapi gak diangkat-angkat.”


(Kim Yoo)


“Maaf ya, aku terlalu sibuk... Ayo ke kantin, disana ada bulgogi.”


Yoo Ra dan Kim Yoo pergi menuju ke kantin. Saat mereka keluar dari ruangan, Yeon Jin yang sedang berdiskusi dengan Min biseo melihat mereka. Yeon Jin melihat sosok wanita yang berjalan di samping Kim Yoo, ia hanya mengira kalau wanita itu adalah klien Kim Yoo. Kemudian Yeon Jin kembali fokus dari pandangannya dan kembali membahas pekerjaan.


Dikantin memang sangat ramai, apalagi saat ini adalah waktu makan siang. Yoo Ra dan Kim Yoo mulai makan dan bercengkrama, mereka juga menerima sapaan hangat dari para karyawan. Setelah selesai makan siang, mereka berdua kembali ke ruangan Kim Yoo. Yoo Ra ingin pergi berjalan-jalan kemudian pulang ke rumah.


(Yoo Ra)


“Samchon, aku pergi dulu.”


(Kim Yoo)


“Apa? Sudah mau pulang? Gak mau disini sebentar?”


(Yoo Ra)


“Enggak deh (menggeleng).”


(Kim Yoo)


“Baiklah, hati-hati di jalan.”


(Yoo Ra)


“Iya... Eh? (melihat mawar putih)”


Ia melihat bunga mawar putih yang ia ambil dari Dal Rae itu masih segar, dan Yoo Ra mengambilnya.


(Yoo Ra)


“Bunganya kok masih segar? Tapi tangkai yang bawah sudah layu.”


(Kim Yoo)


“Kau dapat darimana?”


(Yoo Ra)


“Dari Dal Rae. Em... bunganya cantik, aku ingin membawanya pulang ke rumah, tapi aku mau jalan-jalan dulu.”


(Kim Yoo)


“Letakkan disini dulu, nanti aku minta Min biseo meletakkannya di dalam vas. Saat aku pulang akan aku bawa.”


(Yoo Ra)


“Iya deh. Aku pergi dulu (meletakkan).”


Yoo Ra keluar dari ruangan Kim Yoo bersamaan dengan Yeon Jin yang keluar dari ruangan Min biseo. Mereka berdua saling terkejut karena tidak menyangka akan bertemu disini.


(Yeon Jin)


“Oh? Yoo Ra-ssi?...”


(Yoo Ra)


“Seonbaenim?”


(Yeon Jin & Yoo Ra)


“Kok disini?”

__ADS_1


***


__ADS_2