Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 66


__ADS_3

Yoo Ra melihat hasil rapat, dilihatnya sebuah map yang berisi hasil rapat yang dipimpin oleh Yeon Jin. Di ruang belajarnya Yoo Ra berusaha memfokuskan diri untuk mencerna semua keputusan yang sudah di ambil, kebetulan Yeon Jin sedang berkunjung di apartemennya dan membantu Yoo Ra untuk membereskan taman di balkonnya sehingga ia bisa tenang membaca.


Dalam hasil rapat tertulis, bahwa Kim Yoo Ra menjadi ketua panitia dari pelaksanaan orientasi mahasiswa baru untuk semester besok. Tentunya Yoo Ra terkejut karena merasa kalau dirinya belum pernah tergabung dengan acara yang seperti ini. Terlebih lagi menjadi ketua panitia, sangatlah berat pastinya.


“Yang mimpin rapat kan dia, pasti ini ulahnya.” Gumam Yoo Ra yang mencurigai Yeon Jin.


Yoo Ra menghampiri Yeon Jin yang sedang duduk di sofa ruang tengah, dan menanyakan hal tersebut. “Bukan keputusanku, ada dua kandidat, dan voting dimenangkan olehmu, kita yakin kalau seorang Kim Yoo Ra mampu mengambil alih High Club milik jurusan manajemen bisnis.” Jawab Yeon Jin yang semakin membuat Yoo Ra tegang dan bingung.


Yeon Jin menarik Yoo Ra untuk duduk dan memegang bahunya, seperti meyakinkan Yoo Ra kalau ia bisa melakukannya. Yang dibingungkan Yoo Ra bukanlah bisa atau tidaknya, tapi untuk membagi waktu dalam acara seperti itu sangatlah tidak mudah, disisi lain Yoo Ra juga harus membatasi diri untuk belajar.


Tertera dalam agenda kegiatan kalau orientasi akan berlangsung selama 2 hari 1 malam. Di perkemahan bukit dekat kampus, tanggal yang ditentukan bersamaan dengan munculnya purnama, walau purnama biasa, tapi Yoo Ra takut akan terjadi hal yang buruk ketika dia sebagai roh kutukan.


“Aku ingin sekali menghindari ini, tapi apa boleh buat, keputusan sudah final.” Ucap Yoo Ra bernada dingin kepada Yeon Jin. “Ada aku, aku juga ikut kok.” Yeon Jin berusaha membujuk Yoo Ra, dan Yoo Ra hanya bisa mengiyakan ini, dan Yeon Jin akan memiliki waktu bersama dengan Yoo Ra.


Yeon Jin memberikan beberapa catatan yang diperlukan dalam acara-acara ini, termasuk peralatan-peralatan yang mendukung acara. Semuanya disusun rapi dalam sebuah buku catatan, Yoo Ra harus membaca ini sampai benar-benar paham.


Hari sudah malam, Yeon Jin tak kunjung pulang ke apartemennya, malah ingin menemani Yoo Ra disini. “Pulanglah, aku bisa belajar sendiri kok.” Timpal Yoo Ra yang menginginkan Yeon Jin untuk pergi dari apartemennya. “Sebentar lagi ya, aku nonton film nih.” Yeon Jin sedang menonton film, dan Yoo Ra mulai merasa takut, karena film itu adalah film horor.


Ditambah lagi diluar sedang hujan lebat, “Tonton sendiri di rumahmu, jangan disini.” Yoo Ra merebut remote control yang ada di tangan Yoo Ra. Yeon Jin merebut kembali remote itu dan memperbesar volume suaranya, Yoo Ra mulai berkeringat karena ia sangat takut dengan film horor.

__ADS_1


“Dari perawakan udah kelihatan kalau cewe yang cuek, eh ternyata takut film horor ya.” Yeon Jin menggoda Yoo Ra yang sedang duduk di sampingnya dan membelakangi layar tv. “Matikan ya, aku mohon...” Yoo Ra memohon, dan ini membuat Yeon Jin gemas dan menarik Yoo Ra untuk mendekat dan memaksa Yoo Ra menontonnya.


Yoo Ra duduk di dekat Yeon Jin dan mengalihkan pandangan, kakinya mulai lemas melihat para zombie-zombie yang ada di layar tv. Tiba-tiba suara petir menggelegar bersamaan dengan teriakan dari zombie itu, Yoo Ra terjingkat dan menutup matanya. Ia berusaha pergi dengan merangkak, tapi lagi-lagi Yeon Jin mengerjainya dengan menarik kaki Yoo Ra dan memperbesar volume suara.


Ajang menarik kaki sudah dimulai, Yeon Jin tersenyum girang saat menggoda, dan Yoo Ra sudah merengek ingin pergi ke ruang belajar. Saking lemasnya, Yoo Ra sudah tidak bisa bergerak lagi dan duduk di bawah, Yeon Jin pun ikut duduk di bawah dan dengan sengaja memeluk Yoo Ra dari belakang.


“Ma... Matikan dong.” Ucap Yoo Ra kepada Yeon Jin. “Tunggu sampai semua manusianya jadi zombie, seru loh, tinggal 10 menit lagi terus tamat deh.”.


Kemudian, lampu apartemen bahkan seluruh kota mendadak padam karena badai. Ini membuat Yoo Ra kebingungan dan takut bukan main. Ia berdiri dan berusaha mencari ponselnya, dan akhirnya ketemu. Setelah menyalakan ponsel, Yoo Ra mendapat pesan kalau saat ini aliran listrik akan dimatikan hingga pagi karena badai besar yang menerjang kota.


“Benar padam sampai besok pagi, Park Yeon Jin-ssi...” Panggil Yoo Ra kepada Yeon Jin, “Em...” Ucap Yeon Jin yang mengatakan kalau dia masih disini.


Yeon Jin pergi ke apartemennya untuk mengambil lampu senter, Yeon Jin sangat yakin kalau Yoo Ra tak akan bisa tidur dengan keadaan gelap gulita seperti saat ini. “Pakai ini, dan tidur sana.” Ucap Yeon Jin yang membuka pintu. “Aku pakai untuk baca catatan saja, aku bawa ya.” Ujar Yoo Ra.


Yeon Jin sangat khawatir kalau Yoo Ra akan membaca catatan itu sampai pagi. Dan saat ini dia berinisiatif untuk menjaga Yoo Ra sampai listriknya menyala, dengan itu dia tidak akan khawatir, beberapa menit yang lalu Kim Jae menelpon Yeon Jin untuk menjaga Yoo Ra, karena Kim Jae masih ada urusan di kantor Kim Yoo.


“Aku akan tidur disini, tadi kakakmu juga menelpon dan memintaku menjagamu disini, dia bilang kalau adiknya sangat takut gelap. Tidak boleh menolak, dan aku juga tidak apa-apain kamu kok, tenang aja...” Yeon Jin memperjelas perkataannya, walau sedikit ambigu namun bisa dimengerti oleh Yoo Ra.


Yoo Ra hanya terdiam dan kembali melihat keluar jendela, hujan derasnya membawa hawa dingin. Petirnya mereda, tapi tiupan angin sangat kencang. Saat melihat ke bawah, Yoo Ra mengingat kembali saat-saat ia terjatuh dari kedai teh waktu itu, terhempas ke tanah dengan berlumuran darah.

__ADS_1


Biasanya Yoo Ra akan menangis karena mengingat kejadian itu, tapi untuk saat ini hatinya sekuat baja, dan sudah menerima hal itu.


“Disini dingin, mending tidur aja.” Kata Yeon Jin dengan membawa syal lebar lalu memakaikannya ketubuh Yoo Ra. “Aku lebih suka disini, aku ingin melawan ketakutanku.”, “Gak takut aku disini?” Pertanyaan ambigu lagi, Yoo Ra hanya bisa melirik dan pergi ke ruang belajarnya untuk melanjutkan membaca sekaligus menyalin catatan itu.


“Salah lagi deh.” Ucap Yeon Jin sambil mengusap lehernya dan menepuk-nepuk dadanya, kemudian Yeon Jin masuk ke dalam kamar Yoo Ra untuk mempersiapkan suasana tidur yang nyaman. Batas ruang belajar dengan kamar tidur Yoo Ra hanyalah sekat dari kaca transparan, dan Yoo Ra bisa melihat apa saja yang Yeon Jin lakukan di kamarnya, “Dia ngapain? Sembarangan masuk aja, makin lama perilakunya mirip Kakak (Kim Jae).” Gumam Yoo Ra dengan memperhatikan Yeon Jin.


Yeon Jin yang merasa sedang diawasi cuman bisa menyeringai, dan berbaring di tempat tidur. “Beneran tidur di kamarku? Aku tidur dimana nanti?” Suara hati Yoo Ra. Di dalam sana terdengar suara Yeon Jin, “Aku numpang tidur disini ya, kalau mau tidur ya tidur barengan satu kasur disini. Aku janji gak macam-macam, tidur gak?”, “Astaga... dia pria apaan sih?” Yoo Ra mulai bingung dengan kondisi ini, dan pikirannya mulai kacau, sehingga sulit berkonsentrasi.


Tak ada jawaban dari Yoo Ra, ia hanya fokus membaca.


Sudah jam 1 pagi, mata Yoo Ra sudah lelah, besok harus bangun pagi untuk rapat High Club. Yoo Ra menuju kamarnya dengan menguap, tapi melihat seseorang yang ada di kasurnya sangatlah menganggu, ditambah lagi tidak baik kalau seorang gadis tidur di kasur yang sama dengan seorang pria yang bahkan bukan siapa-siapanya.


Yoo Ra mendekat, dan melihat wajah Yeon Jin yang sudah terlelap, kini ia merasakan kalau pengorbanan Yeon Jin sangat besar baginya. Seharusnya sore ini Yeon Jin harus pergi ke perusahaan untuk kembali bekerja, demi dirinya, Yeon Jin rela untuk tidak pergi. Ketulusan Yeon Jin sudah membuka hati Yoo Ra, bahkan Yoo Ra berpikir kalau hatinya berhak diberikan kepada laki-laki itu. Tapi egonya memaksa untuk menahan jawaban “iya”, karena masih ada seseorang lagi.


“Jawabanku adalah IYA... Tunggu sebentar lagi, setelah aku memberi penjelasan kepada orang itu.” Dalam hati Yoo Ra sudah jelas, kalau Yeon Jin lah pemenangnya.


Yoo Ra mengambil selimut cadangan dan bantal, ia menuju ke ruang tengah dan memutuskan untuk tidur di sofa, ditemani dengan lampu milik Yeon Jin.


Langit malam yang gelap mulai membenamkan Yoo Ra dalam balutan mimpi-mimpinya. “Mengapa tidak disini? Aku hanya ingin melihatmu dan menemanimu saja, semalaman. Kenapa tidak mempercayaiku?” Ucap Yeon Jin.

__ADS_1


__ADS_2