
Jae Won mengeuarkan sapu tangan dari sakunya, mengusap dan membersihkan sisa darah yang menggenang di mulutnya.
“Aku? Gila? Ae Ri-ssi... aku permisi dulu.” Langkah Jae Won menjauhi gang, sementara Emma masih terdiam dengan kepalan tangan menampakkan otot-otot kemarahannya. Emma berdiri dan tak bisa berkutik, dia tak bisa memaksa roh itu untuk kembali, kekuatan magis dari cincin bulan sangat hebat, bahkan setelah menyakiti Jae Won, tubuh Emma mendadak lemas.
Sebelum mengejar Jae Won, tampilan rambut Emma masih di ikat rapi ke atas dengan model cepol, saat ini... rambutnya tergerai dengan riasan wajah kusam, tanpa alas kaki. Emma menarik napas dengan dalamnya, mengangguk untuk menenangkan diri.
Tidak ada yang tahu, mengapa dia semarah ini, kenapa juga dia sangat mengincar seseorang yang bernama Do Jae Won? Rahasia tetap rahasia, sebentar lagi juga akan bertemu titik terangnya.
Langkah berat Jae Won mulai terasa ketika hampir dekat dengan pintu rumahnya, napasnya terengah-engah, dan mengingat kembali apa yang sudah menimpanya itu.
“Aku akan kembali dengan membawa Yoo Ra bersamaku, apa yang terjadi padaku aku juga tidak tahu, kenapa aku menggilai satu gadis?” Menggerutu dan terdengar suara klik... pintu terbuka dan dia merebahkan diri ke sofa empuknya.
-
-
-
Selain ke kampus, Yoo Ra harus disibukkan dengan agenda kantor. Dia belum menerima jabatan resmi, tapi sudah menjadi bagian dari perusahaan, sesekali ia belajar mengatur masalah kantor. Yoo Ra menganggap kalau urusan di perusahaan hampir mirip dengan pemerintahan kerajaannya, sejak ia datang kesini, minatnya mengurus administrasi sangat besar dibanding bertarung atau berlatih bela diri.
Sejak pulang dari kelas siang, ia bergegas pergi menuju meja kerjanya, banyak sekali tumpukan file yang harus ia cross check. “Uh... Badanku pegal semua.” Lagi-lagi ia mengeluh, beban ini sangat berat. Berusaha memahami file yang bukan dari perusahaannya, melainkan dari calon bossnya sendiri.
Menyesap secangkir kopi hitam yang sudah disediakan sekretaris Min, menatap layar laptop yang terang dengan sebuah pena di tangannya. “Nona... Semangat ya, jadi sekretaris itu tidak mudah. Tapi...aku baru lihat kalau ada, nona muda yang berikeras sepertimu.” Sekretaris Min duduk di sebelah Yoo Ra dan menatap Yoo Ra yang sangat serius membaca file, “Tapi... bisakah nona mengatasi CEO muda itu? Kabarnya sih kalo ada karyawan yang membuat kesalah sedikit, seperti salah menuliskan huruf satuuu saja, mulutnya akan keluar kata PECAT!.” Yoo Ra tersentak dan sedkikit memberikan senyuman heran.
“Ah... Begitu ya... Aku penasaran, semenakutkan itu? Tapi... apa skretaris Min tidak pernah melihat gadis yang menakutkan. Umpamakan saja dengan... Jangan bangunkan singa yang tertidur.” Bukan kalimat biasa, sekretaris Min menelan ludahnya, dia juga merasa aura di dalam ruangan ini menjadi mencekam.
Meraba meja dan tangan bergetar, sekretaris Min segera berdiri, “A....A... I...Itu... kalau begitu aku permisi dulu.” Dia membungkukkan badan dengan hormatnya, segera pergi dan menutup pintu ruangan itu. Dibalik pintu, dia bernapas dengan lega, “Satu keluarga punya sifat seperti ini, Ya Tuhan...Keluarga apa yang sedang aku layani ini? Semuanya tegas, tapi menakutkan.” Menggeleng-gelengkan kepala dan menyadarkan diri sendiri.
Ini sudah petang, matahari tenggelam perlahan di barat, cahaya jingganya dipadu dengan awan tipis membuatnya terlihat seperti lukisan. Jendela lantai 20 di gedung pencakar langit itu masih terbuka, terlihat ada seorang gadis yang memandang keluar. Saatnya pulang, sudah tidak tahan dengan pakaian kantor.
“Kak Eun Ji menyiapkan pakaian kuno ini. Huh... rok pendek selutut dengan jas, sudahlah... besok aku tidak ingin memakaimu.” Mengutuk pakaian yang tak bersalah, mungkin ini efek samping dari duduk di depan monitor selama berjam-jam.
Yoo Ra pulang menuju apartemennya, memberikan kunci mobil kepada petugas untuk diparkirkan. Terdiam sejenak di depan pintu utama apartemen, menyapa para resepsionis dan memberikan sebuah bungkusan. “Kakak, aku bawakan makanan.” Yoo Ra menyerahkan satu kantong plastik besar yang berisi 1 paket club sandwich lengkap dengan minumannya, diberikan kepada 5 petugas itu.
__ADS_1
“Terima kasih banyak, padahal kita udah pesan ayam di seberang jalan.” Memang ada sebuah restoran ayam di seberang apartemen, rupanya sudah memesan ayam sebelum Yoo Ra datang. Senyum lebar mereka terlukis, “Oh iya, hari ini udah mulai kerja? Kamu pakai baju beginian jadi pangling deh, hahaha...” Mereka bercanda dan Yoo Ra memberikan senyum lesu.
“Ya... Aku akan bekerja keras...” tegas Yoo Ra meminta semangat. Mereka asik mengobrol, dan Yoo Ra berdiri di depan meja dengan menanggapi mereka. Pintu utama terbuka, ada seorang kurir ayam yang sedang mengantar pesanan mereka.
“Maaf agak terlambat, restoran kami banyak pelanggan,” ucap kurir perempuan yang membawa 2 box ayam. Yoo Ra mengarahkan pandangannya ke kurir itu.
Soo Ah? Tanda tanya besar tergambar di atas kepala Yoo Ra, kurir itu adalah Soo Ah?
Yoo Ra mengedip-kedipkan mata dan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kim...Kim Yoo Ra...” Soo Ah berhenti dan detak jantungnya berdetak dengan cepat, tubuhnya panas dingin. Dia segera memberikan ayam pesanan itu ke meja resepsionis.
Sial... Aku sudah ketahuan. Itulah isi kepala Soo Ah. Dia berdiri di samping Yoo Ra tanpa memperhatikan lebih, menunggu petugas itu memberikan uang. “Apa yang kau lakukan?” Tanya Yoo Ra dengan nada menekan.
“A...Aku bekerja. Jangan penasaran,aku punya alasan melakukan ini.” Jawab Soo Ah secara singkat. Yoo Ra tanpa basa-basi langsung melontarkan kalimat, “Kau tinggal di lantai berapa? Kebetulan sejak musim gugur kemarin aku sudah tinggal disini, tapi tidak pernah melihatmu.”.
Soo Ah terdiam kaku, betapa malunya dia sekarang, reputasinya jatuh ke jurang yang paling dalam. Yoo Ra sudah tahu kalau Soo Ah adalah pembohong, dia tidak tinggal disini. Yoo Ra membalikkan badan dan melepas sepatu hak tingginya dan membuka loker yang ada di dekat pintu, menukarnya dengan sepasang sandal. Ia melirik kembali ke arah Soo Ah, dan pergi tanpa menyapa Soo Ah kembali.
“Kak, aku pulang dulu.” Yoo Ra hanya berpamit kepada petugas resepsionis yang sedang menghitung uang. “Kunci mobilmu?”, “Aku titipkan kepada kalian.” Ucap Yoo Ra yang menekan tombol lift.
---
Tanpa memberi aba-aba, Yeon Jin menghampiri Yoo Ra yang sedang berjalan menuju pintu.
“Capek? Udah makan belum? Hampir seharian gak ketemu, aku telpon juga gak di angkat.” Kata Yeon Jin. Dia memeluk Yoo Ra dengan eratnya, mengusap rambut yang ikatannya sudah jatuh ke bawah.
Yeon Jin sendiri juga merasa lelah, seharian tidak pergi kuliah, sibuk dengan urusan perusahaan, bahkan tidak sempat melihat ponselnya. Menjadi orang kantoran memang banyak yang mengidamkannya, tapi... dibalik itu semua adalah lelah yang tak tertahan.
Yeon Jin membawa Yoo Ra masuk ke dalam apartemen Yoo Ra. Yeon Jin sudah tahu password apartemen Yoo Ra, untung saja dia sudah mandi dan terlihat agak bersemangat untuk menghabiskan waktu luang dengan tetangga spesialnya ini.
Yoo Ra merebahkan tubuhnya ke sofa empuk di ruang tengah, melemparkan tas entah kemana arahnya, menutup mata dan menghirup aroma lavender dari pengharum ruangan yang sudah ia pakai seminggu ini.
“Mandi dulu sana... biar kelihatan segar. Kamu yang lesu kayak gini bikin aku gemes pengen peluk terus.” Memberikan pelukan yang kesekian kalinya, ditambah lagi Yeon Jin menggelitikinya, “Iya iya... Aku mandi dulu...” Ucap Yoo Ra dengan tawa.
Yoo Ra segera bersiap untuk mandi, sementara Yeon Jin berkata kalau dia akan mempersiapkan makanan untuk Yoo Ra.
__ADS_1
Yeon Jin berencana untuk menginap disini, ingin sekali menjaga berliannya ini, dia juga memiliki film baru bergenre romance. Sudah beberapa minggu mereka resmi berpacaran, inilah pertama kali mereka bisa menghabiskan waktu malam berdua saja, setelah masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan juga kuliahnya.
Keluar dari ruangan yang mengeluarkan bau sabun dan shampo, dengan handuk kecil yang menempel di kepala, Yoo Ra segera memakai sandal dan berjalan ke arah dapur, aroma manis yang tercium membuat perutnya penasaran.
“Itu apa?” Tanya seseorang yang berada di belakang Yeon Jin dan sedikit mengintip. Yeon Jin tersenyum dan memperlihatkan sebuah hidangan manis yang berada di piring, roti panggang dengan selai cokelat serta segelas jus jeruk yang menyegarkan.
Yoo Ra menyadari bahwa memanggang roti saja ia tak bisa, dan saat melihat pria dihadapannya bisa memanggang roti dengan sempurna, seketika Yoo Ra merasa gagal menjadi seorang perempuan. “Sebenarnya, aku ingin masak bubur, tapi sudah malam, jadi aku buat yang simple aja.” Kata Yeon Jin dengan membawa hidangan itu ke meja makan.
Yoo Ra duduk dan tak sabar memakannya, perutnya sudah berteriak histeris. “Roti panggang aja udah cukup, baunya enak.” Menggigit dan merasakan betapa luar biasanya rasa dari roti panggang istimewa ini. Yeon Jin sudah pasti yakin kalau Yoo Ra sangat menyukai roti panggang buatannya.
“Aku nginap disini ya. Mau nonton film?” dalam sekejap Yoo Ra berubah ekspresi, ia curiga kalau filmnya adalah film horror. Yeon Jin langsung menggeleng-gelengkan kepala, memberikan pernyataan bahwa ini bukanlah film horror.
Meneguk jus dan mendorong paksa roti panggang ke tempat yang seharusnya,Yoo Ra akhirnya bersuara setelah menelan itu semua. “Menginap boleh, asal nonton filmnya jangan yang horror.” Ucap Yoo Ra sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Iya...” Yeon Jin kembali tersenyum lebar dan memberikan tatapan sayang dari mata sipitnya.
Yoo Ra baru teringat kembali, susunan apartemennya sudah dirubah. Televisinya berada di kamar, jadi...
“Televisinya ada di kamarku, terus...” Yoo Ra mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, ia bingung. “Di kamar? Di dalam kamar ya...” Goda Yeon Jin dengan tersenyum nakal.
“Kamar apaan, otak mesum.” Yoo Ra mencubit pipi Yeon Jin, telinga Yeon Jin memerah, seperti memikirkan sesuatu yang nakal. “Ayo... ke kamar...” Teriak Yeon Jin yang tangannya membopong tubuh ringan si gadi menuju ke dalam kamar.
“Turunin gak?” Ucap Yoo Ra dengan tertawa.
“Gak mau...”
“Yeon Jin!!!”
“Apa? Mau nonton film di kamarmu kan?”
“Jangan macam-macam...”
“Yah... Gimana lagi, TVnya ada disana.”
__ADS_1
“Auh... dasar...”