Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 33


__ADS_3

Percaya tidak percaya, lukisan wajah Ratu itu sangat mirip dengan Yoo Ra. Ibunya, Permaisuri Hwa Do Sun memang memiliki wajah yang mirip dengan Yoo Ra. Lukisan wajah wanita yang sempurna, cantik, berambut panjang berhiaskan permata dan mutiara. Yoo Ra berusaha mengelak akan kenyataan ini, namun jiwanya adalah jiwa lampau yang hidup di zaman kerajaan. Ia juga harus kembali untuk mengatur pemerintahan di zamannya dan di kerajaannya. Ini sungguh misteri yang sangat rumit dan butuh penalaran yang kuat agar dapat mencerna ini semua.


(Biksuni)


“Agassi, apakah agassi merasa kalau dia mirip denganmu?”


(Yoo Ra)


“Entahlah. Siapa nama wanita ini?”


(Biksuni)


“Namanya adalah Tae Yang. Nama Tae yang adalah gelar untuk Raja dan Ratu saat dinasti itu. Nama aslinya terukir di atas tugu, tapi aku belum membacanya dengan jelas. Sebab, Raja yang membuat tugu ini juga di anonimkan, kedua nama asli mereka terukir bersama di tugu, tapi sudah terkikis dan hanya tersisa huruf hanja yang sulit dibaca. Yang pasti, tugu itu sudah berusia lebih dari 500 tahun yang lalu.


(Yoo Ra)


“Biksuni, bisakah anda memberitahuku sesuatu atau buku yang masih bisa dibaca?.”


(Biksuni)


“Mohon maaf agassi, aku ingin memberitahumu namun aku juga perlu menjaga privasi sejarah ini sebelum dipubikasikan.”


(Yoo Ra)


“Baiklah... “


Yoo Ra sudah mulai tidak nyaman dengan keberadaannya disini, sudah cukup mencaritahunya dan ia ingin segera kembali ke penginapan.


(Yoo Ra)


“Saya ingin kembali ke penginapan, sebelum itu, izinkan saya melihat tugu itu lagi.”


(Biksuni)


“Silahkan...”


Yoo Ra berdiri di depan tugu itu, dan berusaha membaca kalimat yang terukir disana. Yoo Ra mulai membaca kalimat yang terlihat jelas. Kalimatnya berbunyi,


“Terima kasih sudah menjadi wanita berharga bagiku, aku harap kita dipertemukan kembali di kehidupan berikutnya. Permaisuriku adalah wanita yang menyatukan beberapa kerajaan besar. Terima kasih sudah mendampingiku dan rakyatku, mensejahterakan mereka, dan memakmurkan dinasti yang aku pimpin. Tunggulah aku, karena namamu sudah kau tulis di tanganku. Benang merah kita tidak akan terputus, sampai kapanpun. Tunggu aku, Permaisuriku.”


(Yoo Ra)


“Bukannya ini lebih tepat untuk disebut surat cinta?. Jadi sang ratu meninggal dulu sebelum raja.”


(Biksuni)


“Seperti itulah kisah mereka. Tugu ini bukan hanya simbol keagungan, yang agassi baca adalah ikrar Raja dan diikat dengan sumpah kehidupan.”


(Yoo Ra)


“Wah... Betapa romantisnya hubungan mereka. Mengucapkan sumpah yang bertaruh nyawa reinkarnasi. Baiklah, terima kasih sudah mengijinkan saya. Saya pamit dulu.”


(Biksuni)


“Terima kasih juga sudah berkunjung (senyum).”


Yoo Ra segera kembali ke penginapan.


“Agassi... Auramu adalah aura murni, seperti jiwa yang belum pernah mengalami reinkarnasi. Apakah kamu adalah ratu itu? Terima kasih sudah datang ke tempat ini, semoga dewa memberkati kuil ini dengan penuh kemakmuran seperti kau memberikan kemakmuran bagi rakyatmu.” Biksuni itu sangat bahagia, dia berasumsi kalau Yoo Ra adalah sang Permaisuri agung.


Sepanjang Yoo Ra berjalan menuju ke penginapan, ia memikirkan lukisan itu. Sangat mirip dan bahkan mengira kalau itu dirinya dan sesekali mengira kalau itu adalah ibunya. Tapi, ibunya sudah berusia lanjut, lukisan waktu mudanya dulu juga tidak terlalu mirip dengan lukisan yang ia lihat tadi. Ia masih yakin kalau figur itu bukan dirinya dan hanya seseorang yang memiliki wajah yang sangat mirip dengannya. Namun, juga ada peluang kalau ratu itu berasal dari zamannya. Apakah dia adalah ibunya? Yoo Ra? Anaknya? Keturunannya yang lain?.


“Bisa gila aku, sudah jangan dipikirkan. Sekarang fokus untuk menyelesaikan tugas dan segera pulang ke rumah. Aku harus banyak belajar dari kehidupan ini, lalu bisa kembali ke tubuh asliku.” Gumam Yoo Ra dengan menyemangati diri sendiri.


---


Sudah sore, saatnya pergi ke pantai untuk melakukan interview dengan warga di sekitar pantai. Semua mahasiswa yang berada di dalam penginapan berjalan menuju pantai. Melihat swastamita (sunset) di pantai adalah waktu yang paling tepat, warna merah dari cahaya matahari yang terbenam .


Saat ini mereka diberi waktu sepuasnya untuk mencari informasi dan bahan presentasi di pantai ini, pemandu juga berkata, “Disini saya bertugas untuk mengawasi kalian saat berangkat, absen pagi, dan pulang. Jadi untuk masalah tidur atau kembali ke penginapan, itu terserah kalian. Yang penting besok pagi harus ada di aula untuk sarapan dan wajib absensi. Besok hari bebas, kalian jalan-jalan dan bebas tugas. Paginya lagi kita akan segera pulang.”


Sebelum memulai wawancara, sebaiknya jangan menyianyiakan pemandangan sunset yang sangat indah ini. Yoo Ra berjalan dengan Moo Ra, namun Jun Moo dengan paksa harus mengajak Moo Ra untuk berkencan lagi. Lagi-lagi Yoo Ra ditinggal sendiri.


Duduk sendirian di pasir pantai yang bersih, menikmati desiran angin dan ombak pantai yang saling bersahutan. Yoo Ra teringat seseorang, ia segera mengambil ponsel dari tote bag miliknya dan menepon seseorang via video call. Ya, dia Kim Yoo... Yang sudah berjanji untuk menelponnya.


(Yoo Ra)


“Samchon...”


(Kim Yoo)


“Ah... Yoo Ra-ya (senyum lebar).”


(Yoo Ra)


“Em... Bagaimana kabarmu? Eun Ji eonni belum pulang?”


(Kim Yoo)


“Aku baik-baik saja, Eun Ji juga 1 minggu lagi akan pulang. Ngomong-ngomong, kau senang bisa jalan-jalan kesana?”


(Yoo Ra)


“Tentu, tempat ini sungguh indah. Suatu hari nanti aku ingin mengunjungi tempat ini lagi.”


(Kim Yoo)


“Baiklah, nanti kita bertiga akan jalan-jalan kesana. Gimana?”


(Yoo Ra)


“Luangkan dulu waktu untuk berlibur, samchon sendiri juga jarang pulang ke rumah sudah menjadwalkan diri untuk berwisata.”


(Kim Yoo)


“Percayalah, hanya aku orang tua yang mengerti waktu untuk anak-anaknya.”


(Yoo Ra)


“Iya iya... Aku percaya (mengejek).”


(Kim Yoo)


“Oh iya, tadi Park Yeon Jin mencarimu.”


(Yoo Ra)


“Park Yeon Jin?”


(Kim Yoo)

__ADS_1


“Tadi dia ke rumah, dia tanya kamu ada di rumah apa enggak. Terus Kim Jae bilang kalau kamu wisata kelas ke pulau Jeju. Terus di pulang.”


(Yoo Ra)


“Ngapain mencariku?”


Yoo Ra yang penasaran dengan kedatangan Yeon Jin ke rumahnya, masih bertanya-tanya dan ingin mengetahui dengan jelas dengan bertanya lagi ke Kim Yoo. Sebelum Kim Yoo mau menjawab, tiba-tiba Kim Jae merebut ponsel Kim Yoo dan memaksa untuk berbicara dengan Yoo Ra.


(Kim Jae)


“Wah... KIM YOO RA... (berteriak)”


(Yoo Ra)


“Kamjagiya (terkejut). Bisakah pelan sedikit?”


(Kim Jae)


“Maaf, kalau pulang aku yang jemput di kampus ya.”


(Kim Yoo)


“Kim Jae Rim!!! Benarinya merebut ponselku. Kemarikan, aku masih berbicara dengan Yoo Ra.”


(Kim Jae)


“Samchon, tunggu sebentar. Aku juga ingin bicara.”


(Kim Yoo)


“Aku kangen Yoo Ra. Kemarikan.”


(Kim Jae)


“Aku juga kangen. Sebentar...”


Mereka berdua sibuk berebut ponsel hanya untuk berbicara dengan Yoo Ra. Yoo Ra hanya bisa terdiam dan melihat layar ponselnya dengan gambar yang bergoyang-goyang. Mereka berdua sudah dewasa, tapi sungguh bertengakr seperti ini Yoo Ra jadi meragukan usia mereka.


(Yoo Ra)


“Sudah cukup bertengkarnya?”


(Kim Jae)


“Sudah...”


Kali ini Kim Jae yang menang dan Kim Yoo terpaksa mengalah.


(Kim Jae)


“Tadi, Yeon Jin datang ke rumah. Dia mencarimu, setelah aku tanya kenapa dia kesini untuk mencarimu, dia menjawab kalau dia ingin mengajakmu keluar. Sebenarnya apa hubunganmu dengannya?”


(Yoo Ra)


“Jangan bohong, mau menipuku dengan lelucon seperti itu?”


(Kim Jae)


“Aku serius.”


(Kim Yoo)


(Yoo Ra)


“Tidak (menggeleng).”


(Kim Jae)


“Wah... sekarang gantian yang bohong siapa.”


(Yoo Ra)


“Serius... Aku gak bohong.”


(Kim Yoo & Kim Jae)


“Jujur!!!”


Saat ini Yoo Ra seperti seseorang yang diinterogasi karena melakukan kejahatan besar, menatap layar ponsel dan melihat Kim Yoo dan Kim Jae berada dalam satu frame yang sama dan memasang wajah serius.”


(Yoo Ra)


“Beneran enggak.”


(Kim Jae)


"Aku kasih kesempatan lagi. Jawab dengan jujur dan lebih jujur."


(Kim Yoo)


"Satu... Dua... Tiga..."


(Yoo Ra)


"TIDAK BERKENCAN!!!"


(Kim Yoo & Kim Jae)


“Haish...”


Kim Yoo dan Kim Jae refleks menyandarkan badan di sofa karena kecewa dengan jawaban Yoo Ra.


(Yoo Ra)


“Kenapa emangnya? Kalian aku berharap untuk pacaran sama dia?”


(Kim Yoo)


“Bukan gitu, tadi kita taruhan sama Eun Ji. Eun Ji tadi telepon, terus dengar suara Yeon Jin. Dia tanya suara siapa itu, aku jawab kalau itu suara pacarmu. Aku sama Kim Jae sudah yakin kalau cowok ngajak keluar cewek berarti mereka berdua itu udah kencan. Aku cerita panjang lebar, eh... Eun Ji minta taruhan.”


(Yoo Ra)


“Kalian ini, memangnya kalau tiap cowok ngajak keluar cewek tandanya itu udah pacaran? Samchon, kau itu cowok kan, seharusnya samchon yang lebih tahu sebab udah lebih berpengalaman. Masak masalah kayak gini aja gak tahu (menahan tawa).”


(Kim Yoo)


“Haih... Hilang sudah 100.000 won ku (sedih).”


(Kim Yoo)

__ADS_1


“Oh tidak... aku harus membantunya untuk bersih-bersih apartemen nuna selama 1 minggu. Auh... Jadi, sekarang kau berkencan sama siapa?”


(Yoo Ra)


“Tidak ada. Jangan bahas seperti itu lagi. Aku matikan dulu, nanti aku telepon lagi.”


Percakapan ini sungguh menggelikan, bisa-bisanya mereka bertaruh hanya untuk memastikan hubungan antara Yoo Ra dengan Yeon Jin. Yoo Ra memikirkannya dengan senyum sendiri, mengingat kalau Kim Yoo dan Kim Jae adalah pria sejati tapi tidak handal dalam urusan percintaan.


Yoo Ra masih bertanya-tanya, kenapa Yeon Jin mencarinya dan mau mengajaknya keluar? Sesaat pipinya memerah karena memikirkan hal ini. “Sudah sudah, jangan dipikirkan lagi. Wahai jantungku, berdetaklah seperti biasa, jangan terlalu cepat.” Yoo Ra berbicara sendiri dan menepuk-nepuk pipinya dengan merasakan alunan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat.


Kalau dipikir-pikir, Yeon Jin adalah orang yang dari luar terlihat sangat dingin. Setelah menghabiskan banyak waktu dengannya, Yoo Ra sudah mulai mengenal sosok Yeon Jin yang diluar dugaannya. Yeon Jin memang kelihatan egois, tapi dia adalah pria yang hangat, ramah, konyol, dan kadang seperti anak kecil. Akhir-akhir ini Yoo Ra sudah mulai menyukai sifat yang dimiliki Park Yeon Jin ini, bukan sebagai CEO tapi sebagai pria biasa.


Yoo Ra tersenyum sambil melihat sunset yang indah ini, terlukis sedikit gambaran wajah Yeon Jin di atas langit. Ia merasa, saat di dekat Yeon Jin ia selalu merasa terhibur dan sangat bahagia. Yoo Ra sering menghabiskan waktu dengan Jae Won, tapi berbeda hal dengan Yeon Jin. Saat bersama Jae Won, Yoo Ra hanya menganggapnya sebagai rekan kuliah. Sementara dengan Yeon Jin, ia merasa bebas dan memiliki perasaan khusus di hatinya. Seperti duduk di bawah pohon dan memandang birunya langit, betapa tenangnya perasaan itu.


---


(Joan)


“Sudah menelponnya?”


(Yeon Jin)


“Belum (meneguk bir). Aku takut nanti akan menganggu kegiatannya disana.”


(Joan)


“Sadarlah bung, katanya dia sedang dekat dengan seseorang.”


(Yeon Jin)


“Tentu saja, aku yang mendekatinya dulu (percaya diri).”


(Joan)


“Bukan kau (mengelap meja). Tapi Do Jae Won. Seminggu terakhir ini, bukankah dia selalu dekat dengannya?”


Yeon Jin terkejut dan menyemburkan bir yang baru masuk ke mulutnya.


(Joan)


“Park Yeon Jin!!!. Aku sudah mengelapnya, ka... kau...!!! (menunjuk ke arah meja).”


(Yeon Jin)


“Memang begitu rumornya, aku berharap mereka berdua tidak sampai pacaran.”


(Joan)


“Haish... Bagaimana kalau mereka udah jadian? (mengelap)”


(Yeon Jin)


“Aku harus gimana (memasang wajah bingung). (berbicara sendiri) Beneran mereka udah pacaran? Apakah Yoo Ra suka sama dia? Ayolah, aku lebih ganteng daripada dia (mengusap dagu). ”


(Joan)


“Heh bodoh, berhenti bicara sendiri. Aku bingung, kenapa kau bisa secepat ini untuk jatuh cinta padanya?”


(Yeon Jin)


“Sebenarnya aku sudah lama melihat Yoo Ra. Sebelum aku kenal dia, aku sudah sering melihatnya. Waktu itu di kantor Nam Group, saat aku menemui presdir Kim aku melihatnya disana. Aku kira dia hanya karyawan biasa, hampir setiap hari aku pergi kesana hanya untuk melihatnya walau tidak ada jadwal, aku selalu beralasan kepada presdir Kim kenapa aku sering ke tempatnya karena untuk berkonsultasi.”


(Joan)


“Lalu?”


(Yeon Jin)


“Aku menyukainya sejak petama kali aku melihatnya. Dan 2 bulan kemudian, aku jarang melihatnya disana, dan saat itu aku tidak sengaja bertemu saat aku mengurus administrasi kuliahku. Aku hanya bisa cuek dan seolah-olah baru melihatnya dan baru bertemu. Kayak orang asing gak sih?. Waktu itu aku sangat bingung harus ngapain, ternyata saat itu dia keluar bareng Jae Won.”


(Joan)


“Jadi, mulai saat itu kau bergerak dan berinisiatif untuk mengejarnya?”


(Yeon Jin)


“Benar sekali... Apalagi sejak aku berkunjung ke rumah presdir Kim, aku bertemu sekilas dengannya disana. Dan dia bilang kalau Yoo Ra adalah keponakannya sekaligus adik Kim Jae. Saat itu perasaanku mulai berbunga-bunga.”


(Joan)


“Wah... First Love... Ahahaha”


(Yeon Jin)


“Jangan mengejekku.”


(Joan)


“Astaga, kita berdua sangat dekat dengan Kim Jae. Kini kau menyukai adiknya, lalu kau mau jadi adik iparnya?”


(Yeon Jin)


“Tidak masalah kalau aku jadi iparnya, sekarang yang harus aku lakukan adalah membuat Jae Won menjauh dari Yoo Ra.”


(Joan)


“Kenapa? Ada yang salah dengan Jae Won?”


(Yeon Jin)


“Aku juga tidak tahu, tapi Kim Jae juga pernah bilang kalau adiknya boleh didekati oleh siapapun asalkan bukan Jae Won. Jadi, aku harus bisa melindunginya.”


(Joan)


“Yo... Park Daepyonim kini bertransformasi menjadi Super Man.”


(Yeon Jin)


“(memegang erat tangan Joan)Jadi... Tuan Joan, dukunglah aku.”


(Joan)


“Dramatis sekali. Pikirkan langkah selanjutnya.”


(Yeon Jin)


"Aku bingung (mengacak-acak rambutnya)."


***

__ADS_1


__ADS_2