Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 22


__ADS_3

Yoo Ra dan Yeon Jin tidak sengaja bertemu di kantor Kim Yoo. Mereka berdua turun ke bawah menggunakan lift, saat ini hanya mereka berdua di dalam lift.


(Yeon Jin)


“Apa kabar? Sudah lama gak ketemu.”


(Yoo Ra)


“Baik, seonbaenim?”


(Yeon Jin)


“Aku juga baik. Tapi ada satu hal yang sedang mengangguku.”


(Yoo Ra)


“Benarkah? Tapi aku lihat seonbae sama sekali gak keganggu. Omo... (menutup mulut).”


(Yeon Jin)


“Kenapa? (terkejut)”


(Yoo Ra)


“I..i..ini di kantor ya (tersadar).”


(Yeon Jin)


“Em... (mengangguk).”


(Yoo Ra)


“Maafkan aku daepyonim (membungkuk). Seharusnya aku berkata lebih sopan.”


(Yeon Jin)


“Ehe (tertawa). Sudahlah, kalau aku berpakaian seperti ini berarti aku bukan seorang CEO.”


(Yoo Ra)


“Itu sama saja, entah kamu berpakaian formal atau kasual tetap saja memiliki jabatan CEO.”


(Yeon Jin)


“Begitu ya?”


Yeon Jin mendekatkan wajahnya ke arah Yoo Ra, karena tubuhnya yang tinggi mengharuskan ia untuk menunduk saat berbicara dengan Yoo Ra yang bertubuh mungil. Yeon Jin berniat menggodanya.


(Yeon Jin)


“ Memangnya kamu mau terus memanggilku seperti itu?”


(Yoo Ra)


“Haruskah?”


(Yeon Jin)


“Menurutmu?”


(Yoo Ra)


“Kalau di kantor saja, setelah keluar dari kantor... ya tidak (senyum menahan tawa).”


Jantung Yeon Jin berdetak lebih cepat, sampai ia mendengar sendiri detak jantungnya. Deg deg... deg deg...


Yeon Jin menarik kembali wajahnya yang tadinya mendekat ke wajah Yoo Ra.


“Aku kenapa? Kok deg degan?” Gumam Yeon Jin dalam hati dan mengelus dadanya.


Ting... Lift sudah sampai dan pintu terbuka.


Masih dalam suasana kaku, Yeon Jin keluar bersama dengan Yoo Ra dengan tangan yang masih menempel di dada.


(Yoo Ra)


“Dadamu sakit?”


(Yeon Jin)


“Ti.. tidak kok. Cuman terkena guncangan yang mendadak (malu).”


(Yoo Ra)


“Heh? (bingung)”


(Yeon Jin)


“Yoo Ra-ya, ayo pergi ke karnaval.”


(Yoo Ra)


“Wah...Aku juga berencana pergi kesana tadi.”


(Yeon Jin)


“Begitu ya (semangat). Ayo (menggandeng tangan Yoo Ra).”


(Yoo Ra)


“Dae.. Daepyonim.”


Yoo Ra merasa aneh, kenapa Yeon Jin langsung menggandeng tangannya? Sungguh hal diluar dugaan. Mereka berdua masuk ke mobil Yeon Jin dan langsung pergi ke karnaval.


Setibanya di karnaval, mereka berkeliling dan menikmati suasana karnaval yang riuh.


Yoo Ra jadi teringat Jae Won, kemarin Yoo Ra ingin mengajaknya ke karnaval ini. Yoo Ra juga mendapat ajakan dari Jae Won, namun pesan itu terbaca oleh Kim Jae dan langsung dibalas dengan pesan suara yang berbunyi “Maaf, sepertinya adikku akan keluar bersamaku.” Sangat terlihat kalau Kim Jae tidak terlalu suka kalau adiknya bersama dengan Jae Won.


Saat ia ingin mengirim pesan untuk kesalahpaham itu, tiba-tiba ia mendapat pesan dari Soo Ah. Isinya adalah screenshoot dari percakapan Soo Ah dan Jae Won, dia meminta Jae Won untuk menemaninya pergi ke karnaval. Jawaban dari Jae Won adalah “Iya, aku akan menemanimu Soo Ah-ya.”. Menurut Yoo Ra memang ini sangat lumrah, sebab kesalahan dari Kim Jae yang asal-asalan membalas pesan dari Jae Won untuknya.


Seharusnya Yoo Ra menikmati waktunya sendirian disini. Beruntungnya ia bertemu Yeon Jin, sehingga ia memiliki teman untuk bersenang-senang.


---


Semua permainan telah dicoba, kini mereka harus mencoba es krim khas musim panas. Mengantri di kedai es krim, jika yang mengantri banyak berarti makanan itu enak (prinsip membeli). Yoo Ra berdiri di belakang Yeon Jin, di belakangnya pun masih banyak orang yang ikut mengantri. Uniknya lagi, yang mengantri adalah para pasangan kekasih, sepertinya kedai es ini diperuntukkan bagi pasangan.


Giliran Yeon Jin yang memesan, Yoo Ra menengok karena penasaran dengan es krim yang membuat orang rela mengantri. Berhubung dia suka cokelat, jadi ia memutuskan untuk memesan yang rasa cokelat.


(Yoo Ra)


“Seonbae (menengok dan menarik lengan baju Yeon Jin).”


(Yeon Jin)


“Apa (menengok). Mau yang ini? (menunjuk ke arah menu)”


(Yoo Ra)


“Aku mau yang rasa cokelat.”


(Yeon Jin)


“Tunggu ya. Ahjussi 2 es yang cokelat.”


(Penjual)


“Tunggu dulu...Kalian pasangan ya? Jangan pesan yang ini, yang sedang trend adalah yang ini.”


Penjual es krim itu menunjuk ke menu yang bergambar es krim dengan porsi besar.

__ADS_1


(Penjual)


“Kau lihat mereka.”


Penjual itu menunjuk ke arah pelanggan yang baru saja memesan es krim yang disebutkan tadi, dan pelanggan itu adalah pasangan kekasih karena terlihat dari posisi mereka yang bergandengan tangan.


(Penjual)


“Harganya juga sama dengan 2 cup es krim cokelat. Bedanya kalau ini hanya satu cup saja dengan ukuran besar, rasa cokelat dan strawberry, ada topping buahnya juga. Ini edisi spesial loh. Gimana? (memainkan alis).”


(Yoo Ra)


“Tapi aku mau yang co...”


(Yeon Jin)


“Baiklah, kita mau yang itu.”


Lagi-lagi perkataan Yoo Ra dipotong oleh seseorang. Apalah daya, ia hanya bisa pasrah. Tiba-tiba, Yeon Jin memegang tangan Yoo Ra.


(Yeon Jin)


“Benarkan, kau mau yang itu?”


(Yoo Ra)


"Eh..."


Yoo Ra hanya bisa mengangguk.


(Penjual)


“Auh... anak muda (tertawa lebar). Sebentar ya, akan aku buatkan.


Tangan mereka masih bergandengan sampai es krim itu selesai dibuat, dan Yeon Jin menunjukkan seolah-olah mereka adalah pasangan kekasih.


(Yoo Ra)


“Masih lama ya?”


(Yeon Jin)


“Sebentar lagi.”


(Yoo Ra)


“ Seonbae...”


(Yeon Jin)


“Iya?”


(Yoo Ra)


“Bisa kau lepaskan tanganmu?”


(Yeon Jin)


“Tidak... (senyum)”


Mata Yoo Ra terbelalak karena perilaku Yeon Jin.


Es krimnya sudah siap, dan Yeon Jin segera membayarnya. Ia melepaskan tangan Yoo Ra dan mengambil dompet, Yoo Ra merasa lega karena Yeon Jin melepas tangannya. Huft syukurlah... pikir Yoo Ra dalam hati.


(Penjual)


“Ini dia, terima kasih sudah beli di sini. Semoga kalian bahagia ya... Hehehe”


(Yeon Jin)


“Terima kasih (mengambil es). Sampai jumpa ahjussi... Ayo (mengenggam tangan Yoo Ra kembali.)”


(Yoo Ra)


(Yeon Jin)


“Kenapa juga malu. Jarang-jarang kamu bisa diperlakukan begini dengan seorang CEO (senyum).”


(Yoo Ra)


“Bukan itu maksudku. Tanganku mulai merah karena panas. Dari tadi seonbae memegangnya terus.”


(Yeon Jin)


“Apa? (menoleh ke tangan Yoo Ra). Beneran merah? Maaf, maaf... (melepaskan tangan).”


(Yoo Ra)


“Kan... (melihat tangannya)”


(Yeon Jin)


“Ayo kesana (menarik lengan Yoo Ra).”


Yeon Jin segera membawa Yoo Ra ke tempat yang teduh, di bawah pohon yang rindang ada satu bangku taman dengan meja. Yoo Ra segera duduk dan meniup tangannya, sementara Yeon Jin duduk bersebrangan dengan Yoo Ra.


(Yeon Jin)


“Masih merah?”


(Yoo Ra)


“Iya (menunjukkan tangan).”


(Yeon Jin)


“Maaf... Seharusnya aku tidak seperti itu tadi. Kemarikan tanganmu (menarik tangan Yoo Ra dan merasa cemas).”


(Yoo Ra)


“Auh... tangan seonbae dingin sekali (menarik tangannya kembali).”


(Yeon Jin)


“Aku tadi kan memegang es krimnya, letakkan tanganmu disini. Tanganku juga kedinginan, kalau tanganmu disini nanti tanganku juga gak dingin lagi.”


Yoo Ra segera meletakkan tangannya di atas telapak tangan kiri Yeon Jin, rasanya nyaman dan dingin. Yoo Ra merasa membaik setelahnya, namun ia masih tidak ingin melepas tangannya. Yeon Jin dengan tenang mengusap tangan Yoo Ra, ia merasa bahagia dengan kesempatan ini sehingga terhanyut dalam suasana yang romantis ini.


(Yoo Ra)


“Aku makan ya (melihat ke arah Yeon Jin).”


(Yeon Jin)


“Iya? (bingung). Oh.. makanlah (gugup).”


(Yoo Ra)


“Seonbae tidak mau ya?”


(Yeon Jin)


“Kata siapa? Aku yang beli kok (mengejek).”


(Yoo Ra)


“Em... (melirik).”


Mereka berdua makan es krim bersama dengan tangan yang masih berpegangan, dari kejauhan terlihat Jae Won dan Soo Ah yang sedang jalan bersama.

__ADS_1


Selesai makan es krim...


(Yoo Ra)


“(menarik tangan) Gak merah lagi.”


(Yeon Jin)


“Beneran?”


(Yoo Ra)


“Iya...”


(Yeon Jin)


“Syukurlah... selanjutnya, masih mau jalan-jalan?”


(Yoo Ra)


“(menggeleng). Aku ingin disini, sebentar saja.”


(Yeon Jin)


“Begitu... (menunduk). Ini menenangkan, angin yang dingin, duduk di bawah pohon saat teriknya matahari. Aku ingin bertanya padamu (menatap dengan serius), jika suatu saat kau harus pindah tempat tinggal, bagaimana perasaanmu?”


(Yoo Ra)


“Berpindah tempat ya? (berpikir ke masalah yang menimpa dirinya). Perasaanku mungkin tidak akan sedih dan juga tidak akan bahagia. Kalaupun aku harus pindah, aku harus mengenang apa yang sudah terjadi di tempat sebelumnya. Ini adalah sebuah kesempatan, aku harus mengingat kenangan ini dan terus bertahan untuk hidup di tempat yang baru.”


(Yeon Jin)


“Haruskah begitu? Bagaimana kalau kamu tidak rela untuk pindah?”


(Yoo Ra)


“Ayolah... setiap orang memiliki perasaannya masing-masing. Rela tidak rela itu tergantung dari alasannya, seharusnya kita mengikuti apa yang Tuhan hendakkan. Biarkan diri kita mengalir di arus yang Tuhan persiapkan. Perasaan seperti itu hanya singgah sebentar, yang terpenting adalah berusaha membahagiakan diri sendiri.”


(Yeon Jin)


“Kau sungguh berpikir demikian? Huh... (menghela nafas). Aku lega mendengarnya.”


(Yoo Ra)


“Seonbae, kau menanyakan hal ini padaku. Memangnya kau mau kemana?”


(Yeon Jin)


“Aku? ehem... bukan begitu. Aku hanya menelaah tentang makna kehidupan.”


(Yoo Ra)


“Aku beritahu padamu (mendekatkan wajah). Kau tahu garis kehidupan?”


(Yeon Jin)


“Garis kehidupan?”


(Yoo Ra)


“Sini aku tunjukkan (menarik tangan Yeon Jin). Ini dia, letaknya dekat dengan ibu jari. Ada yang mengatakan kalau jalan hidup kita ditentukan oleh garis ini (menyentuh), biasanya para peramal yang bisa membaca seperti ini.”


(Yeon Jin)


“Kau percaya dengan hal beginian?”


(Yoo Ra)


“Tidak... aku hanya ingin berpikir logis. Kau lihat kan letaknya sangat dekat dengan ibu jari, ibu jari adalah pemimpin dari lima jari di tangan. Tanggung jawabnya sangat besar, ada empat jari yang berlindung padanya, dan empat jari itu adalah temannya, lebih tepatnya adalah teman sejati. Cobalah kau genggam tanganmu sendiri, empat jari akan menekuk seperti bersembunyi. Ibu jarimu akan menekuk di luar empat jari yang lain seolah melindungi keempat jari yang lain, karena dia memiliki posisi yang istimewa.”


(Yeon Jin)


“Aku paham... kau mau mengatakan kalau setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda, dan mereka berusaha mencari kebahagiaannya sendiri walau kadang bersedia mengorbankan diri untuk orang lain, karena orang lain itulah yang memberi kebahagiaan kepada kita.”


(Yoo Ra)


“Benar... Saat kau putus asa, ingatlah ini.”


Yoo Ra memegang tangan Yeon Jin dan menuliskan huruf dari nama Yeon Jin dengan jarinya.


(Yoo Ra)


“Park... Yeon... Jin... Sudah... ingatlah makna jari jari ini yang mengenggam dan menutupi telapak tanganmu. Disitu aku sudah tulis namamu, jari-jari itu adalah orang disekitarmu yang akan memberikan kehangatan dan perlindungan kalau seonbae sedang berada dalam keadaan yang terpuruk.


Yeon Jin hanya bisa terdiam dengan menatap tangannya sendiri, seakan ini adalah semangatnya untuk menjalani hidup dengan baik.


(Yeon Jin)


“Terima kasih, sudah menuliskan namaku disini (senyum). Dan terima kasih sudah memberiku satu hal yang terpenting.”


(Yoo Ra)


“Tidak masalah. Dan jangan lupakan ini ya. Yoo... Ra... (menulis lagi). Sekarang namaku sudah ada di telapakmu, anggap saja ini imbalan darimu untukku dengan namaku yang tertulis di tanganmu. Aku tidak sembarangan loh, telapak tangan seonbae yang pertama aku tuliskan namaku (nada sombong).”


(Yeon Jin)


“Beruntungnya aku bisa bertemu orang seperti dirimu (menatap).”


Mereka berdua tertawa bersama. Saat ini Yeon Jin merasa kalau ia dipertemukan dengan gadis yang istimewa, yang mampu membuatnya luluh.


---


Tak terasa hari sudah sore, mereka sudah mau beranjak pulang. Berjalan di taman menuju ke tempat parkir. Saat berjalan, Yeon Jin melihat seseorang dari kejauhan. Ternyata dia adalah Jae Won. Yeon Jin segera membalikkan badan dan berdiri di depan Yoo Ra untuk menutupi pandangan Yoo Ra agar tidak melihat keberadaan Jae Won.


(Yeon Jin)


“Ooo... Yoo Ra-ya... Aku rasa kita harus lewat situ ya.”


(Yoo Ra)


“Apa? Bukannya tambah jauh kalau lewat situ?”


(Yeon Jin)


“A.. Aku mau lewat situ (gagap).”


(Yoo Ra)


“Seonbae, ada apa denganmu? (tertawa)”


(Yeon Jin)


“Em... Begini (menggaruk kepala). Lewat situ saja ya, aku mohon (memohon).”


(Yoo Ra)


“Baiklah (menahan tawa).”


(Yeon Jin)


“Oke... Ayo cepat...”


Yeon Jin menarik tangan Yoo Ra dan berlari kecil, Yoo Ra merasa ada yang aneh dengan tingkah laku Yeon Jin. Dan terdengar suara dari kejauhan.


“Yoo Ra... Kim Yoo Ra...”


Yoo Ra dan Yeon Jin berhenti. Yoo Ra menoleh kebelakang dan melihat siapa yang memanggilnya. Yeon Jin masih menghadap ke depan dengan mengerutkan kening dan bergumam.


“Sial... ketahuan deh..”

__ADS_1


***


__ADS_2