
“Permisi nona, ada apa dengan sepatumu?”
Yoo Ra segera mengarahkan pandangannya ke bawah. Astaga... “Oh... ini tidak apa-apa, mungkin aku menginjak sesuatu tadi...”
Perempuan itu mengangguk dan pergi menjauh. Terpaksa berbohong, sebenarnya sudah terasa perih, sekarang darahnya merembes keluar, hanya sedikit, tapi jelas-jelas itu warna merah. “Aku harus mengganti plester dan perbannya saat di kantor.”
Yoo Ra pergi ke toilet untuk membasuh sepatunya, agar noda darahnya sedikit menghilang. Setelah dari Toilet, ia mendapati rapat sudah selesai, dan Yeon Jin berdiri di dekat pintu dan terlihat tas Yoo Ra dipengangnya.
“Sudah selesai?” Suara Yoo Ra yang terdengar dan berada di samping Yeon Jin. Yeon Jin mengangguk dan menyerahkan tas Yoo Ra, “Kita ke kantor.” Kata Yeon Jin. Yoo Ra mengangguk dan pergi ke mobil direktur Lia yang masih diparkir, Yeon Jin merasa kalau Yoo Ra tidak mengikutinya dan masuk ke mobil lainnya.
Yeon Jin menyadari, bahwa mengabaikannya adalah hukuman yang menyakitkan baginya, tidak tahu apakah dia segera kehilangan Yoo Ra begitu saja. Mobil yang dikendarai Yoo Ra sudah berjalan menjauh dari gedung, sementara Yeon Jin masih memegang handle pintu mobil dan belum membukanya.
Yeon Jin masuk dan belum menyalakan mesin mobil, dia masih terdiam dan membenamkan wajah, menyesali apa yang sudah dia perbuat kepada kekasihnya itu. “Apa aku terlalu berlebihan?” Yeon Jin mengingat kembali peristiwa malam tadi, Yoo Ra yang berusaha meminta bertemu dan menunggu di pintu apartemnya. “Yoo Ra, aku minta maaf...” Yeon Jin segera menuju ke kantornya.
Disisi lain, Yoo Ra sudah datang terlebih dahulu, melihat sekeliling, rupanya Yeon Jin belum datang, mungkin ada sedikit urusan. Kesempatan bagi Yoo Ra untuk pergi ke ruang perawatan dulu, mengobati luka lecetnya. Dan kebetulan saat ini jam makan siang.
Sebelum itu, Yoo Ra harus pergi dulu menemui direktur Lia untuk memberikan dokumen dari Mr.Yang. “Nona Kim, ada apa dengan kakimu?” Tanya direktur Lia yang memperhatikan plester di pergelangan kakinya serta warna sepatu yang agak kecoklatan. “Ah ini... tidak apa-apa.” Jawab Yoo Ra.
Yoo Ra kembali ke ruangannya dan mengambil sepatu cadangan yang di bawa tadi pagi. Setelah mengambilnya, ia pergi ke ruang perawatan. Duduk di kursi dan di meja terdapat obat antiseptik, perban dan juga plester luka.
Saat membuka sepatu, Yoo Ra meringis menahan perih. “Sial... kenapa sih harus begini? Tau nggak aku lagi sibuk? Dasar luka jelek, beraninya menyiksa kaki cantikku hah?” Gerutu Yoo Ra yang agak menggelitik.
Yeon Jin sudah sampai, dengan tangan di saku celana, dia berjalan melewati staff yang memberi salam. Ruanganya sepi, dan saat membuka ruangan Yoo Ra... Yoo Ra tidak ada disana. “Kemana dia?”
Nona Han kebetulan mengantarkan salinan data ke kantor Yeon Jin, dan Yeon Jin segera bertanya kepadanya dimana Yoo Ra. “Sekarang jam makan siang... Mungkin nona Kim ada di kafetaria?!...” Nona Han mengingat kembali dan melanjutkan kalimatnya, “Oh CEO Park, tadi aku melihatnya membawa sepatu dan kotak obat, sepertinya dia pergi ke ruang perawatan. Apa dia sakit?”
__ADS_1
Yeon Jin mengangguk dan hanya bisa berterima kasih, dia pergi ke ruang perawatan yang disekat dengan tirai. Hanya ada seseorang disana, bayangannya terpancar ke tirai, Yeon Jin bisa melihat bahwa itu Yoo Ra. “Yoo Ra-ya...” Yeon Jin membuka tirai disana, dan ternyata... bukan Yoo Ra. Dia adalah cleaning service disini. “CEO Park, anda mencari siapa?” tanya petugas itu. “Apakah anda melihat seorang wanita disini?”, “Tadi ada seorang perempuan disini, dia duduk disana dan keluar sebentar, sepertinya akan kembali lagi, barangnya juga masih disini.”
Petugas itu menunjuk ke arah bilik P3K, dan Yeon Jin melihat disana ada sepasang sepatu dan kaus kaki, ada bercak darah disana. Perban dan plester yang berserakan, beberapa buah kapas berbau antiseptik, botol obat merah yang masih terbuka. Yeon Jin kaku, dan mengingat kembali, kemarin memang melihat Yoo Ra berjalan sedikit pincang. “Kenapa aku sama sekali tidak menyadarinya?”
Suara langkah kaki mendekati ruangan itu, “Auh... aku tidak tahu kalau obatnya perih, apa aku salah beli ya?” suara wanita yang menggerutu sangat terdengar jelas di telinga Yeon Jin. “Lihat saja, dalam beberapa hari aku akan membuatmu sembuh. Sudah menyiksaku hari ini, sungguh sial sial sial... bagaimana bisa sepatu jelek itu menyiksamu hah?”
Yoo Ra, berjalan dengan menundukkan kepala untuk melihat kakinya serta menggerutu kesal, sepertinya sudah lumayan nyaman dengan mengganti plester dan sepatu, kini kakinya sudah tidak terlalu sakit seperti tadi. Tiba-tiba pandangannya mengarah ke depan dan melihat ada pria yang memegang perban panjang dengan noda darah, bekas perban yang dia lilitkan pagi tadi. “Yeon Jin-ssi...” mata Yoo Ra terbelalak, terkejut dan tercengang
“Maaf...” Pandangan Yeon Jin turun, dengan sayu dia melihat Yoo Ra yang berdiri di depannya. “Ah ini, sebaiknya segera dibuang. CEO Park... aku akan segera kembai ke kantor.” Yoo Ra bergegas mengambil bekas perbannya dari tangan Yeon Jin dan memasukkannya ke kantong plastik kecil. Yeon Jin masih terdiam kaku dan hanyut dalam rasa bersalahnya.
“Sudah... Ayo kembali ke ruanganmu.” Yoo Ra selesai membereskannya, dan tidak ingin masalah ini semakin panjang. Tiba-tiba pinggangnya tertarik, Yeon Jin memeluknya dengan erat. Yoo Ra merasa sedikit sesak, karena Yeon Jin sudah kembali, membalas pelukannya dan jantungnya ingin meledak.
Yeon Jin mengusap kepala Yoo Ra, “Maaf... sungguh ini semua salahku... .” Yoo Ra tersenyum kecil dan berkata bahwa dia tidak apa-apa, “Luka kecil seperti ini tidak perlu dikhawatirkan.”
Perlahan Yeon Jin melepaskan pelukan itu, dan melihat wajah Yoo Ra yang masih bisa tersenyum kepadanya. Entahlah gadis ini terbuat dari apa, sangat kuat, walau terlihat rapuh. Kedua tangan Yeon Jin menyentuh pipi Yoo Ra, “Terima kasih, masih tersenyum untukku...”
Melanjutkan pekerjaan, Yeon Jin lebih perhatian daripada sebelumnya, takut akan jarak yang bisa saja menjauhkannya.
***
Tahun ini, jumlah pemagang di Nam Group lumayan banyak daripada sebelumnya. Kim Jae sendiri masih fokus ke pekerjaannya, hampir 1 minggu dia jarang bertemu Yoo Ra. Terkadang menelpon, tapi selalu saja sibuk.
Berjalan menuruni tangga dengan dengan dua sekretaris yang mengawalnya, disusul dengan Kim Yoo dengan kolega barunya yang siap menghadiri rapat. “Nona Chae...” kata Kim Yoo kepada koleganya, Chae Soo Ah. Huh... dunia sempit sekali.
“Anda harus presentasi kan, sesuai informasi minggu lalu. Buat yang terbaik, tunjukkan bahwa pemagang disini sangat berkompeten.” Kim Yoo mengatakan itu, Soo Ah mengangguk dengan yakin.
__ADS_1
Soo Ah sangat bersemangat, semoga presentasinya tidak gagal kali ini. Semua sudah hadir di ruang rapat, tetapi masih ada satu kursi kosong di sebelah Kim Jae. Hari ini rapat kerja sama, mengapa ada satu kursi kosong yang belum terisi sementara rapat akan segera dimulai 10 menit lagi?
Di lobi Nam Group, terlihat semua staff memberi salam kepada seseorang, ya siapa lagi kalau bukan nona besar mereka yang hampir saja terlambat. “Nona besar kembali... semangat nona, segera bergabung disini ya.” Sorak para staff yang menyambut, Kim Yoo Ra.
Pintu ruang rapat terbuka, “Maaf, saya terlambat.” Suara Yoo Ra yang terdengar, dan semua orang mengalihkan pandangan kepadanya. Peserta rapat tersenyum melihat semangat Yoo Ra dengan membawa laptop di tangannya.
Duduk di kursi kosong yang tadi, Soo Ah yang penasaran kini mulai kalang kabut, takut bahwa Yoo Ra akan menyaksikannya apabila gagal dalam berpresentasi. “Silahkan dimulai.” Ucap Yoo Ra dengan mempersilahkan Soo Ah.
Tak terasa rapat sudah selesai, semua berjalan dengan lancar, ada sedikit pujian yang keluar dari mulut Yoo Ra. Semua orang sudah keluar, kecuali beberapa presdir perusahaan lain, Kim Yoo, Kim Jae dengan sekretarisnya.
Mereka saling menyapa dan bertanya kabar dengan Yoo Ra, Soo Ah yang berada di belakang Kim Yoo memperhatikan Yoo Ra dengan seksama. Soo Ah sangat kagum dengan karisma Yoo Ra, merasa auranya sangat kuat, bahkan ada presdir yang seumuran dengan Kim Jae memperlakukannya dengan sangat sopan.
“Apa yang dia punya? Sihir? Apa dia pergi ke paranormal?” gumam Soo Ah dengan sedikit iri hati.
“Nona Kim, dengan senang hati kalau saya bisa menjamu anda nanti. Kebetulan ada pesta kantor di rumahku, mau bergabung?” Tanya dari presdir muda dari perusahaan X, Yoo Ra menimpalinya dengan senyum. Soo Ah kembali bergumam, inikah iteraksi sosial kelas atas? Soo Ah sangat ingin seperti itu, “Bagaimana kalau aku merebut posisimu?” suara hati Soo Ah, serasa ingin memiliki segalanya yang ada pada Yoo Ra.
Semuanya keluar, dan sudah jam makan siang, Yoo Ra harus pergi ke kantor Kim Yoo dan menemui sekretaris Min. “Sekretaris Min... apakah gaunku sudah siap?” tanya Yoo Ra, “Tentu, akan dikirimkan hari ini, aku sudah mengatakan untuk mengirimkannya ke kantor presdir Kim Yoo, nanti nona ambil disini ya...”, “Mmm... baiklah.”
Saat Yoo Ra berbalik dan ingin pergi makan siang, tiba-tiba sekretaris Min menahannya dengan beberapa kalimat, “Nona hari ini cuti? Aku dengar... nona dengan presdir Park sedang dalam hubungan...” sekretaris itu menggoda Yoo Ra, pipi Yoo Ra memerah dan terasa panas. “Ahaha... cepat sekali kalau dapat informasi beginian...Oh iya, aku akan disini sampai jam pulang, sekretaris Min... sampai jumpa.” Yoo Ra pergi dengan santainya dan memberikan lambaian tangan.
Yoo Ra pergi ke kafetaria dan makan bersama Kim Yoo dan Kim Jae, “Bagaimana jadi sekretarisnya?” tanya Kim Jae, “Lumayan, bisa belajar banyak.”, “Kalau kau sudah kesini, makin banyak pelajaran yang kau dapat dariku...”, “Ckckck... semoga saja. Ngomong-ngomong, aku tidak lihat Jun Moo, dimana dia?”, “Dia dikirim ke divisi utama, jadi kayaknya sibuk deh.” Jawab Kim Yoo.
“Hubungan kalian baik-baik saja? Auh pria itu, kenapa tergila-gila sama cewek yang sama sekali gak terlihat feminim sih?” tanya Kim Jae yang membuat Yoo Ra tersedak. Kim Yoo menambahkan, “Betul juga, aku juga heran...”
Yoo Ra meneguk isi dari gelas di sampingnya, dengan mengusap bibir dan mengacuhkan ucapan mereka, melanjutkan makanan yang masih tersisa di mangkuknya. Kim Yoo dan Kim Jae saling bertatapan, terkejut bahwa candaan mereka sama sekali tidak mempan.
__ADS_1
“Lihatlah... anakku yang satu ini bahkan memilah pembicaraan. Kim Jae... bukankah kita yang terlalu kekanak-kanakan?” ujar Kim Yoo, dengan spontan Kim Jae menjawab dengan memasukkan sup ke dalam mulutnya, “Tentu tidak, pamanlah yang kekanak-kanakkan.”
Kim Yoo tersentak, “Aigo... Kalian berdua sama saja.”