Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 74


__ADS_3

“Kak Yeon Jin, untuk program magang musim panas, apakah kamu bisa membantuku? Aku ingin magang di perusahaan milikmu.” Ya... Ya... begitulah ulahnya, berusaha mengacaukan suasana.


“Magang di perusahaanku? Tapi untuk tahun ini, perusahaanku tidak menerima tenaga magang.” Jawab Yeon Jin secara singkat karena sudah tidak nyaman dengan kehadiran Soo Ah. “Kenapa? Boleh aku tahu alasannya? Aku sangat ingin magang disana, bisakah senior membantuku... aku mo...”, “Posisi magang tahun ini hanya diisi satu orang pemagang saja, kebetulan pemagangnya sudah ada dan telah mendaftar. “ Potong Yeon Jin.


Yoo Ra melirik Yeon Jin yang tiba-tiba berubah sikap, aura bosnya sangat terpancar, bahkan Soo Ah pun dibuat gemetar olehnya. “Boleh aku tahu siapa dia? Apakah dia mahasiswa yang seangkatan denganku? Aku menawarkan diri sebagai pemagang dari Universitas Deiji, aku juga memiliki portofolio yang memadai. Bahkan aku juga salah satu penerima beasiswa tetap selama ini.” Soo Ah tetap memaksa.


“Ah berisik...” Yeon Jin menghentikan makannya dan melempar sendoknya ke piring, sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras. Yoo Ra merasakan kalau Yeon Jin sangat kesal sekarang. Kemudian Yeon Jin melanjutkan,


“Aku bertanya, sebelumnya apakah kau pernah magang di kantor atau pernah menjadi orang kantoran?”


“Belum, ini yang pertama kalinya.”


“Ooo... Aku jelaskan sekali lagi, pemagangnya jauh lebih baik daripada kau. Bahkan pemagang yang satu ini juga sering bekerja di kantor, dia jauh lebih mengenal kantor. Memang benar dia seangkatan denganmu, tapi dia jauh lebih baik beribu-ribu kali lipat dibanding prestasi kecilmu itu, mengerti?” Tegas Yeon Jin yang menghentikan nafsu makan Yoo Ra.


Soo Ah nampak sangat malu, wajahnya memerah dan menggertakan giginya, bahkan teman-teman yang sedang makan disana mendengar semua yang dikatakan Yeon Jin. Soo Ah mengatur napasnya dan menahan malu, berusaha tersenyum.


“Chae Soo Ah, banyak perusahaan yang membutuhkan pemagang, kau bisa mencari perusahaan yang lain. Jangan pernah menekan seseorang, kau hanya merusak reputasimu sendiri.” Ujar Yoo Ra yang sudah muak dengan pembicaraan ini. Yoo Ra berdiri dengan mengangkat set piringnya, kemudian menuju wastafel, Yeon Jin ikut menyusulnya dan meninggalkan wanita licik itu sendirian disana.


Soo Ah bergumam sendiri, dan tidak menyangka kalau dia ditolak untuk magang di perusahaan ternama itu. “Tujuanku bukan hanya magang, aku akan berusaha agar bisa masuk ke perusahaanmu dan membuatmu tertarik padaku.”


Tujuan Soo Ah sangat ambigu, dia hanya menginginkan perhatian dari banyak lelaki, maka dari itu dia berlaku seperti ini. Justru tingkahnya ini membuat Yeon Jin semakin muak dan jijik, dipikiran Yeon Jin saat ini adalah, entah wanita macam apa dia?.


---


Yeon Jin dan Yoo Ra pergi keluar, setelah mendengar Soo Ah berbicara, rasanya ingin sekali mencari udara segar. Mereka berjalan di sepanjang trotoar menuju ke kedai sandwich, untuk membeli sandwich yang sudah ia janjikan kepada teman-temannya.


“Sifatnya masih belum berubah. Dari dulu bermain-main kayak begini, gak capek apa? Apa dia punya kepribadian ganda atau bermuka dua ya? Huft...” Nada kesal Yoo Ra yang sudah naik, kesekian kalinya ia terjebak .


“Tadi... Kamu gak cemburu apa cowokmu digoda orang?” Tanya Yeon Jin kepada Yoo Ra. Ekspresi Yoo Ra biasa saja, dan malah Yeon Jin yang kesal karena tanggapan Yoo Ra.


“Cemburu? Ngapain cemburu sama cewek kayak gitu. Kalau dipikir-pikir, aku lebih baik dari dia kan. Kayak tadi, yang kamu bilang kalau pemagangmu beribu-ribu kali lipat lebih baik dari dia. Kan kan...” Goda Yoo Ra dengan senyuman licik.


“Ck. Gak pengertian banget sih.”


“Ngambek? Aduh... ketularan Soo Ah deh, jadi dramatis. Hahaha...”


“Aku cowokmu loh, gimana kalau aku beneran direbut dia, pakek cara yang magic pun tiba-tiba aku suka sama dia, terus jadian, gimana coba?”


Seketika wajah ceria Yoo Ra berubah jadi kekesalan. Ia menghentikan langkahnya dan menghadap ke Yeon Jin, menatap ke atas tepat di wajah pacarnya itu.


“Bilang lagi... Coba ulangi lagi...”

__ADS_1


“Hei... Tiba-tiba kok nakutin begini sih?”


“Mau ku hajar?” Ucap Yoo Ra yang menggulung lengan hoodienya.


“Silahkan... ayo sini.” Tantang Yeon Jin.


“Sebelah mana ya enaknya?”


Yoo Ra bersiap memainkan jarinya, dengan jari telunjuk yang siap memukul dahi Yeon Jin. Jari telunjuk kirinya ia tarik dengan jari telunjuk kanan, menempatkan itu tepat di dahi Yeon Jin. Hukuman seperti itu lumayan menyakitkan, jadi Yeon Jin akan mencobanya dengan menawarkan diri.


“Oke... rasakan ini...” dan.... Tuk... Tepat sasaran.


Yeon Jin menutup wajahnya, dan berkata kalau ini menyakitkan. Saat Yeon Jin membuka wajahnya, dia memansang wajah sakit.


“Yoo Ra... ini sakit.”


“Sakit? Maaf... Maaf. Sebagai gantinya, lakukan itu kepadaku.”


“Beneran?”


Yeon Jin bersiap dan Yoo Ra memejamkan mata. Saat jari Yeon Jin hampir mendekati Yoo Ra, pada saat itu juga, “Ya enggaklah...Aku pergi dulu...” Ucap Yoo Ra dengan melarikan diri.


“Wah... aku ditipu. Yoo Ra... Awas kau ya, jangan lari!!!” Yeon Jin masih diam di tempat, kemudian berlari mengejar kekasih yang sudah mepermainkannya itu. “Aaaa...” Teriak Yoo Ra dengan tertawa.


-


-


-


Emma berkunjung ke toko bunga Dal Rae, seperti biasa untuk saling berkonsultasi.


“Aku rindu seseorang, tapi sekarang sudah jarang berkunjung ke Pureun Seong.” Kata Emma sembari melihat-lihat bunga segar yang terpajang di vas.


“Siapa? Bocah itu?” Suara Dal Rae yang tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan ini, dia sibuk membuat tonik herbal dan tidak ingin diganggu, tapi dia tertuju pada Yoo Ra.


“Em.... Tapi... aku memiliki suatu firasat buruk. Seperti bencana, aku mencium bau darah yang sangat kuat. Apa artinya ini?” Tanya Emma yang sering mendapat firasat buruk.


Dal Rae terdiam dan tanpa menjawab, sepertinya dia sudah mengetahui apa yang akan terjadi dalam waktu dekat ini. Dal Rae menatap Emma dengan tajam, mengisyaratkan bahwa firasat yang Emma rasakan adalah nyata adanya.


“Jangan terus dipikirkan, kita tidak bisa menghindari takdir.” Ucap Dal Rae dengan singkat dan menghentikan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Emma yang tidak ditanggapi oleh Dal Rae berpamitan untuk pulang, dia membuka pintu dan berjalan keluar dengan membawa tas jinjingnya. Salah satu tali high heels milinya terlepas, dia berjongkok dan membenarkan tali itu. “Ah... high heels ballerina sialan.” Kutuk Emma yang sedang kesal.


Tiba-tiba, tangan Emma yang sedang memegang tali high heels itu terhenti, Emma mendengar sesuatu, mencium aroma dari arwah kutukan yang sudah melanggar aturan.


Emma memfokuskan diri, dia mendengar langkah kaki yang semakin mendekat dan juga aroma roh yang sangat kuat, sangat kuat sehingga matanya kini tertuju pada seseorang yang berada di seberang jalan sana.


“Do Jae Won..” Emma terkejut dan melihat Do Jae Won yang sedang berjalan di seberang jalan. Emma mendadak berdiri, dia sudah tidak memperdulikan sepatunya. Incaran Emma kini sudah di depan mata, dia melepas dan melemparkan sepatunya ke sembarang arah. Kemudian berlari untuk mengejarnya.


“Kau tidak bisa kabur sekarang.” Jiwa kejam Moon Ae Ri alias Emma itu terbangun, seperti binatang buas yang melihat santapannya.


Emma berlari, menyebrang jalan dengan cepatnya, seperti arwah lainnya, Emma menjadi tidak kasat mata dan memburu Jae Won.


Jae Won berjalan dan menggunakan ponsel, dia hanya tertuju pada layar ponselnya dengan menggunakan earphone di kedua telinganya. Saat mendekati gang buntu, dia merasakan aura dingin yang menusuk. Menghentikan langkah lalu melepas benda yang berada di telinganya.


“Sudah lama tidak bertemu, Do Jae Won...” Suara wanita yang tak terlihat wujudnya.


Jae Won menghela napas panjang, dia sudah merasa kalau status buron yang dia sandang akan segera menghilang. “Jangan sembunyikan dirimu, kemarilah... aku ingin melihatmu.” Kata Jae Won bernada santai.


“Oh... kau menantangku?” Suara wanita itu kembali terdengar menusuk ke rongga telinga. “Kalau kau bermain petak umpet seperti ini, sama saja dengan roh pengecut. Statusmu menjadi setara dengan roh jahat yang bergentayangan itu.” Tantang Jae Won.


“DO JAE WON!!!” Teriakan itu menimbulkan angin kencang dan menghempaskan tubuh Jae Won untuk masuk ke gang buntu. Dia terpental dan menghantam tembok kokoh di belakangnya, “Uhuk...” batuk yang disertai dengan percikan darah keluar dari mulutnya.


Di Depannya, ada asap berwarna ungu kehitaman, perlahan ada cahaya-cahaya kecil yang berubah wujud menjadi sosok wanita. “Berani sekali kau...” Emma yang muncul dengan penampilan menyeramkan, sangat berbeda dibanding menit sebelumnya.


“Sudah lama aku mencarimu, banyak sekali kekacauan yang sudah kau timbulkan. Sekarang kembalilah ke asalmu.” Emma mendekat, mendapatkan leher Jae Won, menambahkan sedikit tekanan pada leher itu.


Jae Won merasa tercekik, hampir kehilangan seluruh napasnya. “Lepas... Lepaskan aku dasar iblis...” Ucap Jae Won dengan nada terbata-bata.


Emma hampir kehilangan kontrolnya, mendengar kalimat itu, segera Emma melepaskan genggamannya. Emma tersadar, jika dia membunuh arwah kutukan, maka dia akan menanggung konsekuensi yang sangat mengerikan.


“Purnama bulan ini, aku ingin kau datang ke kastilku, segeralah kembali ke dimensimu. Apakah kau tahu selama ini aku mencarimu, karena kau... berlian berharga yang bisa mengembalikan nyawa itu berkurang satu persatu. Sudah lama kau tinggal disini, apalagi yang belum kau capai di kehidupan ini? Jae Won-ssi, kembalilah... dan setelah kau mati disana, kau bisa terlahir kembali di dunia ini, di kehidupan sekarang.” Bujuk Emma serta mendinginkan pikirannya yang sudah terbawa emosi.


Jae Won mendecakkan lidah, memberikan tatapan sinis. “Ya ya... aku akan kesana, jika aku sudah mencapai tujuanku.” Ucap Jae Won.


Emma tersentak, sebelumnya Jae Won mau untuk kembali, tapi dia mengingkari janjinya untuk datang ke kastil biru beberapa tahun yang lalu. Saat musim panas kemarin, Billy tak sengaja bertemu dengan Jae Won, dan membujuknya untuk segera kembali. Tapi, jawabannya sama, bahwa dia akan kembali kalau sudah mencapai tujuannya.


Billy yang melaporkan ini kepada Emma, tentu saja membuat Emma membuat pergerakan untuk mencarinya, sungguh disayangkan, usaha Emma sia-sia.


Kini Emma bertemu dengan Jae Won kembali setelah sekian tahun lamanya. “Apa tujuanmu yang tidak ingin segera kembali ke dimensi aslimu hah? Kau itu pengacau disini, banyak nyawa orang yang hampir mati karenamu.”


“Dasar roh tua yang cerewet.” Teriak Jae Won untuk membungkam Emma.

__ADS_1


“Disini aku bertemu seorang gadis yang sama-sama arwah kutukan sepertiku, aku menyukainya, aku berniat membawanya kembali bersamaku. Aku ingin saat aku sadar disana nanti, raganya akan tersadar bersamaku, dan akan berada disampingku.” Jelas Jae Won.


“Kau gila ya?”


__ADS_2