
Menyusuri lorong dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jas, Yoo Ra berjalan dengan menerima salam hangat. Dengan sengaja ada dua orang wanita yang menabrakkan diri ke Yoo Ra membawa bertumpuk-tumpuk buku disana dan satunya lagi membawa buku dan segelas jus jeruk di sebelah tangannya. Brak... buku itu berjatuhan, sepertinya mereka membawa ini untuk dibawa ke perpustakaan.
“Hei, kemana matamu sehingga tidak melihat orang membawa banyak barang hah?” Teriak wanita dengan rambut warna cokelat tergerai, dengan membawa jus jeruk di gelas plastik. Yoo Ra segera membungkukkan badan dan memungut id cardnya yang talinya sudah terputus.
“Ah maaf... biar saya bantu.” Yoo Ra mencondongkan badan meminta maaf kepada mereka, kemudian ia berjongkok memungut buku-buku yang berjatuhan. Teman wanita itu juga berteriak tanpa ikut memungut, “Dasar, cuman anak magang aja berani-beraninya nabrak seniornya.”, Yoo Ra masih berkata maaf dan mengambil buku-buku itu dan mengangkatnya.
“Senior mau ke perpustakaan kan, biar saya yang membawa ini...” kata Yoo Ra dengan buku di tangannya hingga menutupi wajah. Ada satu tangan jahil yang merobohkan susunan buku di tangan Yoo Ra, “Hei anak magang, kerja disini tuh sulit, kau... enak-enakan keluar dari kafetaria sementara jam kerja udah mau mulai. Anggap ini hukuman double, pungut semuanya dan bawa ke perpus. Bo Ra, ayo kita kembali ke meja kerja kita.”
Yoo Ra kesal dengan mereka, dibandingkan dengan Yoo Ra, mereka tidak ada apa-apanya menjabat disini. “Nona nona... setidaknya kalian membantu, bukankah ini penindasan? Apa anak magang selalu diperlakukan seperti ini disini? Kurasa tidak ada peraturan untuk merundung pemagang.”geramnya sudah tidak bisa ditahan lagi.
“Omo omo... berani bicara ya?” bantah mereka, “Berapa lama kalian bekerja disini?” tanya Yoo Ra kembali, “Kenapa? Sudah 5 bulan kami disini, mau membandingkan dengan kau anak magang yang baru sehari kerja?”. Mereka mendekat dan mendorong bahu Yoo Ra, Yoo Ra mundur satu langkah dan masih menahan amaranya.
Kondisi lorong yang sepi, membuat Yoo Ra tersudut tanpa ada pembelaan. Sudah tidak ingin berurusan dengan kedua wanita gila ini, Yoo Ra segera berbalik dan berjongkok untuk memungut buku. Ada perasaan dingin dan basah di kepalanya, air es dengan perisa jeruk membasahi kepala dan juga jasnya. “Ini imbalannya... Hahahaha...” mereka tidak segan menuangkan benda itu.
“Hei anak magang, kita tau kalau kau sangat cantik, lebih cantik kalau beraroma jus jeruk. Jadi... jangan berani sok akrab dengan calon presdir kita, tuan Kim Jae kita terlalu tampan untuk gadis kuliahan dan bergaya tomboy sepertimu... mengerti? “ tak henti-hentinya menyebut anak magang, Yoo Ra berdiri memberikan tatapan tajam, seketika bulu kuduk mereka berdiri, ada sebuah ketakutan yang tak bisa di jelaskan.
Sekretaris Min yang mencari Yoo Ra kesana dan kemari karena gaunnya datang lebih awal, tak kunjung bertemu Yoo Ra. Saat di lorong, dia melihat Yoo Ra yang sedang berbicara dengan dua wanita. Dia tidak melihat Yoo Ra dengan jelas, karena dua orang itu menutupi Yoo Ra.
“Nona besar...” Teriak sekretaris Min dengan kencang dan berlari ke arah Yoo Ra. “Nona besar?” para perundung itu terkejut setengah mati, dan menatap Yoo Ra dengan pandangan takut. Sekretaris Min yang melihat kondisi Yoo Ra langsung berteriak memarahi mereka, dan mengeluarkan sapu tangannya untuk diberikan kepada Yoo Ra.
Yoo Ra menerima sapu tangan itu dan mengelap wajahnya, “Ah... hari yang sial.” Gerutu Yoo Ra dengan membersihkan jus jeruk di jasnya. “Kalian tidak tahu siapa yang kalian perlakukan dengan tidak sopan?” teriak sekretaris Min.
Yoo Ra memungut id cardnya yang sudah rusak dan basah, ia lemparkan kepada mereka berdua. Perundung itu langsung menerima id card tersebut dan membacanya secara bersamaan, “Kim Yoo Ra... Direktur Komersial Nam Group?” tanpa aba-aba mereka berlutut dan meminta maaf, “Aku maafkan, berdirilah.” Ucap Yoo Ra yang meminta mereka berdiri.
Yoo Ra mengambil gelas yang masih berisi jus jeruk, “Sayang kalau gak dihabiskan, oh iya... seharusnya perilaku seperti ini ada hadiahnya. Ini imbalannya...” Yoo Ra menyiramkan jus itu secara kasar ke kedua wanita yang tidak tahu sopan santun itu dengan menggunakan kalimat mereka sebelumnya, INI IMBALANNYA...
__ADS_1
Yoo Ra kembali dari toilet setelah mengganti pakaiannya, dengan yang masih diikat dengan keadaan basah, sudah berapa banyak tissue basah yang ia gunakan untuk membersihkan rambutnya. Yoo Ra yang berjalan menuju ruangan Kim Yoo, banyak sekali staff yang membicarakan kelancangan itu dan menyaksikan ketiga orang di depan ruangan.
Saat berada di depan ruangan, Yoo Ra melihat sekretaris Min sedang memberikan sanksi. “Sanksi? Aku ingin mengajukan kalau mereka dipecat saja, bersyukurlah dan jangan berperilaku seperti ini lagi.” Dengan nada tegas Yoo Ra mengatakan itu dan langsung masuk ke dalam dengan memegang sebungkus tissue basah yang ukuran besar.
Semua orang yang menyaksikannya hanya bisa terbelalak, tidak menyangka bahwa nona besar yang selama ini selalu tersenyum dan ramah menjadi kejam dengan kata-katanya. “I...Itu... nona Kim kan?” ucap salah satu staff yang berdiri menyaksikan ini di kerumunan, “Berkali-kali kita mendapat nasihat, jangan pernah bangunkan singa yang sedang tidur, aku menyaksikannya secara langsung sekarang.”
Yoo Ra sudah tidak ingin membahas masalah yang menimpanya, melihat ada sebuah paper bag besar yang berada di meja. Paper bag berwarna dark brown diambilnya, melihat satu set gaun warna putih dengan pink sakura lengkap dengan sepatunya.
“Sekretaris Min, ini gaunnya?” tanya Yoo Ra, “Tentu, mau dicoba dulu?”
Yoo Ra mengangkat gaunnya, dan pandangannya tertuju pada gaun yang telah banyak robek, guntingan yang tidak beraturan itu menghiasi gaun mahal ini. Mereka terperanga, kenapa bisa?
“Cek CCTV...” Tegas Yoo Ra memerintahkan sekretaris itu.
Sekretaris Min bilang bahwa gaunnya datang saat Yoo Ra sedang dirundung oleh kedua wanita, saat itu juga sekretaris Min mencarinya untuk memberitahu bahwa gaunnya sudah datang. Semua orang mengerumuninya, bahkah hampir seluruh orang kantor di lantai itu berlari untuk melihat kejadian itu.
Pasti ada oknum yang sengaja membuat masalah seperti ini.
Lima orang berada di ruang dapur tanpa menyantap makan malam di hadapan mereka, memasang wajah serius seperti interogasi dan membuat suasana menjadi mencekam.
“Maaf, aku tak ingin membuat kalian khawatir, tapi lihat... aku masih utuh kan?” ucap Yoo Ra yang duduk bersebrangan dengan empat orang yang melotot kepadanya.
Eun Jin cemberut, bagaimana bisa Yoo Ra mengalami kecelakaan dan tidak mengabarinya. “Kau pikir kamu apa? Avengers? Wonder woman? Walau masih utuh tapi lihatlah luka dilehermu... meski plester kecil yang menutupinya tapi jangan tutupi kalau kau kecelakaan. Memang kami orang luar? Wah... aku hampir gila memikirkan ini.” Ucap Eun Ji yang kesal dan terus bicara tanpa henti, bukan terdengar seperti omelan, tapi lebih kepada adik yang memarahi kakanya.
Kim Yoo menghela napas “Ini bahkan lebih buruk daripada insiden di kantor tadi.”, dan Kim Jae mendekat untuk melepas plester di leher Yoo Ra. “Tidak buruk, bahkan lukanya sudah sembuh, masih berbekas sedikit.” Ucap Kim Jae dengan mengoleskan salep.
__ADS_1
“Aku mendengar ini rasanya seperti berhenti bernapas, untung saja sekretaris Min yang bilang tadi. Lain kali jaga diri baik-baik, apa perlu pengawal? Apa perlu paman yang harus selalu di sampingmu?” Kim Yoo sangat khawatir, bahkan berencana untuk mengawasi Yoo Ra.
“Tidak perlu... aku sudah lapar, bisakah kita mulai makan?” Yoo Ra ingin segera keluar dari situasi yang membuat mereka cemas. “Nona Yoo Ra selalu begitu. Oh iya, untuk masalah gaun tadi...”sekretaris Min mulai mengupas masalah itu, Yoo Ra teringat kembali, “Tenang saja, aku punya rencana... ayo makan.”
“Soo Ah... bisa kita bertemu malam ini?... di cafe ***... baik, aku tunggu.” Yoo Ra meutuskan panggilan teleponnya, meminta Soo Ah untuk bertemu dengannya.
Yoo Ra sudah menunggu di meja dan 2 cup dimsum yang masih mengepulkan asap, Soo Ah datang dan meetakkan tas di kursinya. “Terima kasih atas traktirannya, ada apa memintaku bertemu?” tanya Soo Ah.
Yoo Ra membalik-balikkan dimsum tanpa ada selera untuk memakannya, “Tidak ada, sudah lama kita tidak ngobrol ya...” ucap Yoo Ra. Dengan alasan seperti ini pasti banyak maksud yang tersembunyi dibaliknya.
Keheningan diantara mereka terasa kuat, Yoo Ra melahap dimsumnya dan Soo Ah terduduk dengan resah. Yoo Ra tidak mengintimidasinya, mengapa dia merasa kurang nyaman. “Makanlah, tidak ada racun disitu. Tentu aku tidak tega kepada bawahanku sendiri.” Yoo Ra membawa-bawa jabatan, tentu Soo Ah semakin tertindas olehnya, sejak kapan dia menjadi sedikit jahat seperti ini? Inilah dipikiran Soo Ah, saat ini.
“Terima kasih sudah membuat kedua wanita tadi menerima sanksi kantor, tentu mereka iri padaku karena ada yang mengirim pesan singkat kalau aku sedang berusaha mendekati calon presdir Kim kan. Dan untuk gaunku, terima kasih sudah membantuku untuk membeli yang baru, aku pikir modelnya sangat kuno.” Soo Ah mulai berkeringat, dan membuatnya jatuh dan jatuh lebih dalam lagi.
Soo Ah gugup, jari tangannya bergetar walau ada sedikit kekesalan. “A...Aku bahkan tidak mengerti sama sekali apa maksudmu...”. Yoo Ra tersentak, memandangnya dengan tatapan membunuh. “Ah... seharusnya aku berterima kasih pada CCTV yang terpasang di seluruh penjuru kantor. Apa masalahmu sehingga ingin mempermalukanku?”
“Yoo Ra... aku mengakuinya, aku yang melakukan itu, aku hanya ingin merebut apa yang kau miliki. Kau tahu, betapa beruntungnya menjadi nona besar dan dikelilingi oleh pria tampan? Aku ingin merebut posisimu itu.” Ucap Soo Ah, “Aku beritahu ya, Tuhan sudah mengatur jalan hidup semua orang, inilah yang dikatakan sebagai takdir.” Jawaban Yoo Ra.
Soo Ah menggertakan giginya, “Baik, aku menerima ucapan terima kasihmu.”. Yoo Ra melihat Soo Ah kembali dan berkata, “Oh iya, aku ingin berterima kasih lagi. Sudah membongkar identitasku sebagai direktur.”
Soo Ah makin membara, dia kalah lagi, mengapa Tuhan sangat berpihak kepadanya. “Huh... kenapa mereka begitu tergila-gila padamu? Hanya wanita dingin yang tidak berperasaan sepertimu seharusnya tidak hidup.” Ucap Soo Ah dengan menyilangkan tangan dan kaki. Yoo Ra terdiam, “Sudah? Aku pergi. Jaga dirimu...” Yoo Ra pergi menuju pintu keluar, dan terdengar teriakan dari belakangnya yang mengejutkan pengunjung yang lain beserta pegawai cafe.
“Kau pacaran dengan senior Yeon Jin? Wah wah... hebat... banyak sekali lelakimu itu ya. Saat ini aku semakin ingin merebut CEO muda itu darimu.”
Apa-apaan ini? Yoo Ra sama sekali tidak mengerti isi kepala Soo Ah, makin hari makin menggila. Tangannya mengepal, ingin sekali membereskan mulut keriting Soo Ah yang sedari tadi memberikan kalimat yang tidak jelas. “Diamlah!!! Kau mau merebutnya? Dia bukan barang Soo Ah... Kau yakin dia bisa menyukai rubah tengik sepertimu? Berubahlah, jadi probadi yang lebih baik, itu akan menguntungkan dirimu dan juga pria masa depanmu. Aku harap otak kecilmu mengerti apa yang aku katakan.”
__ADS_1
Soo Ah tidak meyangka, Yoo Ra bia merubah diri menjadi gadis bermulut pedas. Yoo Ra berbalik dan pergi, Soo Ah menahan kekesalannya dan membanting tasnya ke lantai. Pikirannya sudah kacau, mengapa ada seseorang yang mengerti semua kepalsuannya.
“Cepat atau lambat, kau harus lenyap di tanganku... Kim Yoo Ra...”