Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 52


__ADS_3

Di apartemen, Yeon Jin segera menyusul Yoo Ra ke rumah sakit. Mantel dan sepatu milik Yoo Ra tertinggal di apartemennya, segera memungut dan memasukkannya kedalam tote bag. Saat Yeon Jin menghubungi Yoo Ra, ada bunyi berdering di saku coat milik Yoo Ra, “Ponsel sendiri pun sampai lupa kau bawa, dasar ceroboh.”


Yeon Jin bertanya pada Min biseo, kemana Yoo Ra pergi. Min biseo juga tidak tahu, tapi mobil Min biseo juga dipinjam. Min biseo mencari tahu keberadaan Yoo Ra melalui navigasi di mobil Min biseo dan sudah menemukan titik GPSnya. “Dia parkir di rumah sakit ***, Yeon Jin-ssi? Dia sakit?”


Yeon Jin segera pergi dan menyusul Yoo Ra, kondisi sedang hujan dan suhu makin dingin.


(Yeon Jin)


“Tidak, aku jemput dia, mobilmu mungkin akan ditinggal disana.”


(Min biseo)


“Iya, nanti akan aku ambil sendiri. Tolong kuncinya diberikan ke petugas keamanan disana.”


Yeon Jin segera berangkat, ditengah hujan seperti ini dan dinginnya sangat terasa. Yeon Jin khawatir dan berharap Yoo Ra masih disana, tingkah bodoh Yoo Ra sudah memasukkan dirinya sendiri ke dalam perangkap.


Di rumah sakit, berlarian mencari Yoo Ra. Terlihat di taman belakang, seorang gadis sedang berdiri di tepi koridor dan mengadahkan tangan dengan menikmati air dari hujan. Yoo Ra terlihat murung, dan memikirkan sesuatu. “Sangat dingin, kenapa hidupku rumit? Orang-orang yang berada disekelilingku memiliki 2 sisi. Dan mengapa aku harus tahu sisi jahat mereka? Apa aku tidak berhak hidup damai?”


Yoo Ra meneteskan air matanya, dia menganggap kalau orang yang berada di dekatnya memiliki niat menyakiti dirinya. Ia menginginkan hidup yang tenang dan jauh dari kepedihan seperti ini, perlahan Yoo Ra mengasihani sifatnya yang terlalu terbuka. Menatap mendung dan air hujan, air matanya tak kuasa dibendung, menahan dingin dengan memeluk dirinya sendiri.


Mengharapkan seseorang yang akan datang dan menenangkannya. “Siapapun disana, aku kedingingan, beri aku pelukan, aku mohon.” Dalam hati Yoo Ra menjerit meminta bantuan, perasaan ini sudah terlalu berat dan bingung harus kemana?


Yeon Jin mendekati Yoo Ra, menepuk bahu Yoo Ra, dan Yoo Ra masih tidak merespon karena terlarut dalam tangisnya. “Berbaliklah, aku disini.” Ucap Yeon Jin dan membalikkan tubuh Yoo Ra untuk menghadapnya. Yoo Ra tertunduk tanpa ekspresi, air mata tak henti-hentinya mengalir. Yeon Jin merasa tertusuk, tubuh gadis muda itu sangat dingin. Dingin ini ditambah lagi dengan kebenaran yang sulit sekali untuk diterima.


Yeon Jin mendekap Yoo Ra di pelukannya, tubuh mungil itu terbungkus oleh coat panjang sang pria. Kehangatan ini yang dibutuhkan oleh Yoo Ra saat ini, tubuh yang saling melekat membuat hujan hari ini menjadi hujan romansa. Yeon Jin berusaha menenangkan Yoo Ra semampunya, mendekap dan memeluk erat memberikan kenyamanan di suasana ini.


Tubuh Yoo Ra merespon, menyandarkan kepala tepat di dada Yeon Jin, sedih ini tidak tertahan, hanya Yeon Jin yang bisa diandalkan. Yoo Ra memeluk tubuh Yeon Jin, Yeon Jin tersenyum bahagia karena bisa dijadikan sandaran di waktu yang tepat. “Hentikan tangisanmu, aku tidak suka melihatmu seperti ini. Tapi kalau butuh tempat untuk menangis, aku pinjamkan diriku untukmu.” Suara halus seorang pria, membuat gadis yang berada di dalam dekapannya itu merasa nyaman dan tenang.


Tak lama berselang, Yoo Ra melepas pelukannya dan tersenyum ke arah Yeon Jin. Yeon Jin membalas senyuman itu dengan mata sayu. Melihat kebawah, lutut yang terluka karenanya sudah membengkak. Yeon Jin sangat bersalah dan sangat menyesal sudah memperlakukan Yoo Ra seperti ini.


“Ayo pulang.” Ajakan Yeon Jin menggerakkan tubuh Yoo Ra, berjalan meninggalkan Yeon Jin sendiri. Yeon Jin menahannya, memakaikan mantel dan juga sepatu milik Yoo Ra yang dibawanya. “Sudah berhenti menangis? Kalau begini malah mirip bocah loh.” Ejekan Yeon Jin membuat Yoo Ra merasa lebih baik. Yeon Jin mengusap perlahan air mata itu, sesekali memberikan tatapan penuh kasih sayang.


(Yoo Ra)


“Sudah selesai, dan terima kasih.”


(Yeon Jin)


“Aku minta maaf . Tidak seharusnya aku mendorongmu tadi.”


(Yoo Ra)


“Tidak apa-apa.”

__ADS_1


Yeon Jin memegang wajah Yoo Ra dengan kedua tangannya, tangan Yeon Jin sangat lebar dan wajah Yoo Ra pun bisa tertutup. Mengusap lembut pipi gadis itu dan memberikan beberapa pengertian. “Jangan sedih berlarut-larut, aku selalu disini dan tidak kemana-mana. Aku juga ada selangkah di belakangmu, berbaliklah kebelakang dan aku bersedia menjadi pemeluk untukmu seorang.” Bisikan itu kembali membuat Yoo Ra tenang. Kesedihan tadi sudah mereda, Yoo Ra tak menyangka kalau ada seseorang yang begitu peduli padanya.


(Yeon Jin)


“Baiklah...Ayo, ke rumahku dulu. Rumahmu masih belum siap.”


Yoo Ra diajak keluar oleh Yeon Jin, sebelumnya mereka menyempatkan diri untuk melihat Jae Won. Yeon Jin sangat kasihan melihat kondisi Jae Won yang sekarang, dan Yeon Jin juga tahu kejahatan yang sudah Jae Won lakukan.


Kembali ke apartemen Yeon Jin, di depan apartemennya masih terlihat kesibukan para pelayan untuk merapikan pindahan Yoo Ra. Yoo Ra bergumam dalam hati “Pemandangan seperti ini tidak jauh berbeda dengan kehidupan asliku, sama-sama menjadi tuan putri, huft...”.


Yeon Jin mengajak Yoo Ra masuk ke dalam, dan mengobati luka di kedua lutut Yoo Ra karena ulahnya. Yoo Ra kaget karena lututnya terluka, namun dari tadi ia tidak merasakan apapun. Mungkin ini karena kepanikan, jadi saat terluka pun juga tidak terasa.


(Yeon Jin)


“Maaf... Lututmu jadi bengkak. Aku akan mengobatinya, sebelum itu akan aku buatkan teh dulu.”


(Yoo Ra)


“Seonbae tidak usah repot-repot. Sebentar lagi rumahku beres kok, bentar lagi aku akan pulang.”


(Yeon Jin)


“Hei... Min biseo bilang nanti sore baru beres, sekarang masih siang. Menurutlah.”


Yeon Jin mengambilkan selimut miliknya dan memakaikannya ke tubuh Yoo Ra, ekspresi Yoo Ra sangat menggemaskan, bahkan Yeon Jin tersenyum ketika ekspresi bingung sekaligus sungkan tergambar di wajah Yoo Ra. Yeon Jin pergi membuatkan teh panas untuk Yoo Ra, ponselnya berbunyi dan terpaksa harus mengangkatnya. Yeon Jin keluar sebentar dan menjawab panggilannya.


(Joan)


“Aku sudah tahu, saat ini pasti kamu di sampingnya, jangan lengah terhadapnya. Berjuang ya!”


(Yeon Jin)


“Kau teman yang paling aku percaya.”


(Joan)


“Kim Jae ada di rumahku, malam ini dia akan menginap disini.”


(Yeon Jin)


“Ah si brengsek itu, dia jadi tetanggaku sekarang. Beri dia makan, dia seperti babi yang kelaparan setiap waktu.”


(Kim Jae)

__ADS_1


“Oi... Aku bisa mendengarmu. Jaga adikku baik-baik, kalau tidak akan kubunuh kau.”


(Yeon Jin)


“Pulanglah kesini, tidak mau tahu kondisi adikmu hah?”


(Kim Jae)


“Yoo Ra? Dia kenapa? Tidak terjadi hal buruk kan? Kau menyakitinya?”


Yeon Jin sudah mendapat ancaman dari Kim Jae, seharusnya dia tidak mengatakan ini kepada Kim Jae. Kalau tidak, pasti tidak ada waktu untuk bersama dengan Yoo Ra.


(Yeon Jin)


“Aku bercanda, aku rindu padamu Kim Jae Rim Oppa... .”


(Kim Jae)


“Dasar bedebah! Kubunuh kau nanti!”


(Joan)


“Sudahlah... kalian malah seperti anak kecil. Aku tutup telponnya, aku harus ke restoran.”


Pertemanan mereka tergolong unik, saling bertengkar satu sama lain tetapi masih saja berkumpul bersama. Yeon Jin masuk ke dalam dan pergi ke dapur, beberapa menit kemudian Yeon Jin pergi ke ruang tamu untuk menyuguhkan teh buatanya. Disana dia melihat Yoo Ra yang tertidur sangat pulas dibalut selimut miliknya, melihat ini Yeon Jin semakin terpesona.


Yeon Jin mendekat ke arah Yoo Ra dan memberikan sebuah kecupan di kening Yoo Ra. Sesaat kamudian, air mata jatuh kembali. Saat tertidur pun Yoo Ra masih bisa menangis,dan memanggil “Ayah... Ibu... Aku ingin pulang...”. Yeon Jin terkejut, dan memaklumi hal ini.


Mengingat kembali Yoo Ra baru pulang dari luar negeri dan tinggal bersama pamannya, tentu rindu kepada orang tua juga tidak terbendung. Tidur di sofa membuat tidur menjadi tidak nyaman, Yeon Jin membopong Yoo Ra ke tempat tidurnya dan membiarkan Yoo Ra tidur disana.


Yeon Jin memandangi wajah mungil Yoo Ra, membelai kepala dan juga memberikan tatapan penuh cinta. “Aku ingin berada disisimu, aku mohon mengertilah. Aku mencintaimu, Kim Yoo Ra.” Bisik Yeon Jin di telinga Yoo Ra dengan memberikan kecupan manis di kening gadis iti.


Ting tong... Suara bel berbunyi, Yeon Jin membukakan pintu. Min biseo datang ke rumah Yeon Jin untuk menitipkan barang.


(Min biseo)


“Maaf menganggu, Yoo Ra disini?”


(Yeon Jin)


“Iya...”


(Min biseo)

__ADS_1


“Ini barang miliknya, nanti berikan padanya.”


---


__ADS_2