
“Mana ada sekretaris pribadi pacaran sama bosnya.” Protes Yoo Ra dihadapan Yeon Jin.
“Ada, segera ada.” Jawab Yeon Jin dengan memasang wajah nakal.
Setelah rapat mereka beristirahat, berbeda dengan pasangan baru ini, mereka berkencan di sebuah taman. Menghindari prahara kantor dan menikmati waktu berdua saja. Yoo Ra yang baru saja protes tentang hal ini, membuat Yeon Jin semakin ingin menggoda kekasihnya itu.
“Aku ingin menciptakan berita besar, tentang CEO yang pacaran sama skretarisnya. Em... menarik kan?” Goda Yeon Jin. Yoo Ra memasang raut wajah yang lelah, dan terlihat tidak ceria, seperti penuh tekanan. “Ya ya... biar gosip-gosip itu tercipta.” Yoo Ra sangat kesal dengan candaan Yeon Jin.
Yeon Jin yang sudah sangat gemas, menarik Yoo Ra kedalam pelukannya. “Aku minta maaf, ahahaha... jangan ngambek dong. Pengen jajan gak?”, “Traktir minuman cokelat?” Seketika mood Yoo Ra bangkit dan kembali menebar senyum.
“Ah... Aku kalah... Ayo, pacarku...” Tarik Yeon Jin dengan senyuman lebar tergambar di wajahnya.
---
“Dia sangat pengertian, tidakkah aku terlalu serakah? Dia telah mengalami banyak masalah, dan aku menambah masalahnya. Aku terlalu bodoh melibatkannya.” Seru Kim Jae yang merasa bersalah.
Kim Jae menangis, Kim Yoo dan Eun Ji yang menyaksikan tetesan air mata Kim Jae juga ikut bersalah dalam hal ini. Tapi, bagaimanapun Yoo Ra juga menginginkan untuk terlibat dalam perusahaan. “Setidaknya aku bisa melakukan sesuatu yang penting, dan ketika aku kembali nanti, aku tidak memiliki hutang dan beban.” Ucap Yoo Ra saat rapat selesai kepada mereka bertiga.
Kim Jae sudah menyerah, dan menunggu rencana selanjutnya. Nasi sudah menjadi bubur, Kim Jae hanya bisa melangkah ke depan. Dia juga akan terus maju, sebab Yoo Ra sendiri akan menjadi pendorongnya.
“Semua sudah terjadi, Yoo Ra sudah berbuat banyak, aku harus menghargaiya dan membalasnya dengan menjadi presdir.” Kim Jae mengusap air matanya dan mulai bangkit, dia yakin bahwa Yoo Ra yang selama ini berada di pihaknya bukanlah hal yang sia-sia.
-
__ADS_1
-
-
Hari yang dijanjikan, Yoo Ra akan menemui Jae Won, dan meluruskan semuanya. Yoo Ra akan memberikan penjelasan yang lebih, demi menghentikan Jae Won untuk mengejar dirinya.
Pukul 5 petang, langit sore yang kemerahan, berada di bawah pohon rindang yang konon pohon itu bisa mengabulkan harapan. “Sudah lama menunggu?” Tanya Yoo Ra yang baru saja datang.
“Tidak terlalu, apa kabar?” Sahut Jae Won dengan nada lirih. Yoo Ra duduk di dekatnya, kemudian mengingat kembali masa lalu, ketika mereka pertama kali berkenalan. Kemudian menjadi teman, berkat Jae Won lah, Yoo Ra bisa mengelilingi tempat-tempat indah.
Mereka bertukar cerita masa lalu, dan tersenyum mengingat hal itu. “Semua yang ada di muka bumi itu misterius, makanya kita dituntut untuk mencari tahu.” Yoo Ra mulai membuka obrolan, dan membuka permasalahan awal mengapa ia sudah tak ingin dekat dengan Jae Won.
“Perubahanmu terlalu mendadak, bahkan lambat laun kita semakin jauh. Aku selalu bertanya, bagaimana kondisimu sekarang, apakah sedang tidur nyenyak, aku selalu memikirkan itu.” Jae Won yang mengucapkan kalimat yang cukup menusuk.
“Kak Jae Won, kau sudah membuatku kecewa. Sifatmu yang begitu lembut dan perhatian lebih yang ditujukan untukku, rupanya banyak wanita yang menderita dibalik itu. Tipikalmu yang seperti ini aku tidak suka, bahkan... apakah kau tidak merasa bahwa dirimu adalah kriminal?” Sambungnya.
Jae Won sudah tidak bisa berkata apa-apa. Jae Won sudah tertangkap basah, dirinya yang seperti ini sudah kalah telak, bahkan bungkam. Dia sangat terluka, melihat gadis yang disukainya mengetahui sisi buruknya. “Aku melakukan itu karena aku hanya ingin Yoo Ra seorang yang layak denganku, aku melakukan itu demi kamu. Aku ingin menyingkirkan wanita-wanita yang ingin merebut posisimu, hanya untukmu...karena aku suka dan mencintaimu.” Tampik Jae Won.
“Itu bukan mencintai, itu hanya obsesi. Kakak tahu kalau wanita tidak harus membuang-buang waktu untuk mendapatkan seorang pria? Sebab ada jutaan pria di dunia ini yang suatu saat pasti ada satu yang menjadi milikmu. Itupun juga berlaku bagi pria. Jangan terpaku padaku, itu juga bisa menyakitimu.” Tegas Yoo Ra yang mulai dimengerti Jae Won.
“Aku sudah tahu banyak hal, mulai dari penyakit mentalmu, wanita yang kau sayat lengannya, dan yang lainnya, banyak sekali wanita yang mengincarmu tapi kau malah menolaknya dengan kekerasan. Yang lebih parah lagi, kau sudah menusukku secara tidak langsung. Sakitnya terasa dari hari ke hari.”
“Yoo Ra, apa maksudmu? Menusukmu? Aku melakukan itu demi dirimu, tidakkah kau mengerti?” Jae Won bersih kukuh ingin membenarkan semua yang dia lakukan hanya untuk Yoo Ra.
__ADS_1
“Jadi... Apa yang kau tahu tentang liontinku? Kenapa berusaha merusaknya?” Tanya Yoo Ra dengan nada kejam, seketika Jae Won menelan ludah.
Jae Won sudah kalah, sudah berakhir, dengan ini bukti kalau Jae Won bukanlah orang biasa akan terkuak.
“A...Aku merasa, benda itu penting untukmu karena benda itu pemberian dari Yeon Jin.”
“Jadi kau ingin merusaknya? Tidak ada alasan lain?”
“Yoo Ra... aku mohon, jangan buat aku sebagai musuhmu.”
Pengalihan topik yang bagus, Yoo Ra akan menahan diri, dan akan ikut bermain.
“Sudahlah, lagipula sudah terjadi. Aku hanya ingin hubungan pertemanan kita masih berlanjut, dan aku ingin kakak jangan mengejarku lagi. Banyak yang lebih baik dariku.” Ucap Yoo Ra yang sudah tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.
“Kita masih berteman, tapi perasaanku masih sama. Dan aku akan mencoba, melupakan perasaan ini jika aku mampu.” Kata Jae Won dengan mendekat ke arah Yoo Ra.
Jae Won mendekat dan memberikan pelukan kepada Yoo Ra, dengan berbisik “Terima kasih, aku akan bersikap seperti teman. Tapi jangan pernah merubah perasaanku padamu. Sadarlah, aku menyukaimu. Sekeras apapun aku akan mencoba, dan mengukur supaya tidak melewati batas.” Perlahan dia melepas pelukannya.
Yoo Ra mengangguk dan memberikan senyuman, kemudian menawarkan jabat tangan, “Teman?” Tanyanya, “Teman...” Lirih Jae Won.
Setelahnya, Yoo Ra beranjak pergi menjauh dari Jae Won. Untuk kesekian kalinya mereka berbicara kemudian Yoo Ra yang pergi meninggalkan pria malang itu.
***
__ADS_1