Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 18


__ADS_3

(Moo Ra)


“Oh, Chae Soo Ah?”


(Soo Ah)


“Boleh bergabung tidak?”


(Yoo Ra)


“Kemarilah (senyum).”


Moo Ra terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Soo Ah, karena ia sudah tahu sifat dari Soo Ah.


(Soo Ah)


“Sudah lama disini?”


(Yoo Ra)


“Enggak kok, barusan dateng.”


(Moo Ra)


“Yoo Ra, aku pesan minum sama camilan lagi ya.”


(Yoo Ra)


“Moo Ra, bentar. Soo Ah, mau minum apa?”


(Moo Ra)


“Eh... Yoo Ra...”


(Yoo Ra)


“Hari ini aku yang traktir (memegang tangan Moo Ra). Soo Ah, pesanlah (ramah).”


(Soo Ah)


“Gomawo Yoo Ra-ya. Moo Ra, macchiato satu ya.”


(Moo Ra)


“Em... aku kesana dulu.”


Moo Ra segera pergi, dan Soo Ah mulai mendekati Yoo Ra untuk mendapatkan informasi. Soo Ah merasa diuntungkan dengan situasi ini, hanya mereka berdua yang ada disana. Ini merupakan kesempatan baginya.


(Soo Ah)


“Yoo Ra... gimana perasaanmu kuliah disini?”


(Yoo Ra)


“Lumayan, dan aku masih berusaha adaptasi.”


(Soo Ah)


“Aku harap, nantinya kita bisa akrab ya.”


(Yoo Ra)


“Tentu saja (mengangguk).”


Soo Ah masih mencari celah untuk menanyakan SNS yang diposting kemarin.


(Soo Ah)


“Yoo Ra... aku ingin menanyakan sesuatu.”


(Yoo Ra)


“Em? Silahkan.”


(Soo Ah)


“Tentang SNS itu...”


(Yoo Ra)


“Oh... SNS itu ya. Itu sama sekali gak bener kok. Itu cuman gosip belaka.”


(Soo Ah)


“Jadi, 2 postingan itu bohong ya.”


Moo Ra datang...


(Moo Ra)


“Ayolah... mana mungkin bisa mereka berkencan. Ayo diminum, bentar lagi udah masuk kelas.”


(Yoo Ra)


“Lebih baik gak usah dibicarakan deh, setidaknya SNS itu bisa jadi batu lompatanku untuk tenar di kampus (tertawa).”


(Soo Ah)


“ Kau tenang sekali ya, aku kagum padamu.”


(Yoo Ra)


“Jalani aja sesantai mungkin, jangan dipikir terlalu berat, kasihan tubuh kita kalau harus menderita karena gosip.”


(Moo Ra)


“Aku juga kagum padamu (menoleh ke Soo Ah).”


(Soo Ah)


“Aku?”


(Moo Ra)


“Iya... kau lupa saat masa ospek bahwa kau di daulat sebagai dewinya kampus.”


(Soo Ah)


“Eh... itukan sudah berlalu. Mereka hanya suka melihat orang cantik doang.”


(Moo Ra)


“Tentu saja, dimana-mana wajah cantik itu aset berharga. Tapi kita tidak tahu berapa harga diri seseorang yang berwajah cantik, makanya jangan pernah menilai dari luar saja.”


Sejenak suasana menjadi canggung karena perkataan Moo Ra yang agak sembrono. Mereka bertiga saling menatap.


(Moo Ra)


“Auh... aku banyak bicara ya. Mianhae...”


(Yoo Ra)


“Oh?... keripiknya belum dimakan nih, Soo Ah... cicipi dulu.”


(Soo Ah)


“I..Iya... (canggung)”


Mereka kembali ke kelas. Yoo Ra merasa aneh dengan sikap Moo Ra tadi, dan sepertinya kata-kata Moo Ra menyakiti si Soo Ah.


Yoo Ra mengobrol kembali dengan Moo Ra karena rasa penasarannya.


(Yoo Ra)


“Hei... bukankah perkataanmu tadi agak menyinggung ya?”


(Moo Ra)


“Aku berkata demikian untuk menyadarkannya, betapa tidak tahu diri si Soo Ah itu. Dan untukmu, jangan pernah dekat-dekatnya dengannya hah!!! Aku gak mau kamu sampai akrab.”


(Yoo Ra)


“Aigo (menyenggol)... Kau sensitif banget (meyeringai). Memang kenapa?”


(Moo Ra)


“Kan... langsung berubah ekspresi (kesal). Dia sudah beberapa kali mendekati para senior demi popularitasnya. Kau tahu senior kita yang kadang bersama Jae Won seonbae, ituloh yang selalu memakai kemeja. Aku lupa siapa namanya (menepuk dahi).”


(Yoo Ra)


“Kim Seo Mun seonbaenim?”


(Moo Ra)


“Nah itu (mejentikkan jari). Kau tahu darimana?”


(Yoo Ra)


“Jae Won seonbae yang memperkenalkannya padaku.”


(Moo Ra)


“Eonje?”


(Yoo Ra)


“Kemarin. Sudahlah, lanjutkan.”


(Moo Ra)


“Seo Mun seonbaenim itu berpacaran dengan Woo Ri seonbaenim sejak masih SMA. Yang lebih parah lagi, 2 minggu setelah orientasi angkatan kita mereka hampir putus.”


(Yoo Ra)


“Terus terus...”


(Moo Ra)


“Penyebabnya adalah Soo Ah.”


(Yoo Ra)


“Jinjja? Soo Ah? (terkejut).”


(Moo Ra)


“Pelankan suaramu (menutup mulut YooRa).”


(Yoo Ra)


“Terus?”

__ADS_1


(Moo Ra)


“Ia berusaha mendekati kak Seo Mun. Untungnya mereka gak putus, jadi dikalangan senior semester 5 Soo Ah dicap sebagai orang yang bersifat buruk. Apalagi Soo Ah itu cantik, gak heran kalau banyak lelaki yang mengincarnya.”


(Yoo Ra)


“Yang bener... tapi dari keramahannya, kayaknya dia ada sisi baik deh.”


(Moo Ra)


“Pokoknya kamu harus berhati-hati, jangan sampe ketipu.”


(Yoo Ra)


“Aku masih gak percaya sih. Berhubung kamu bilang gitu, akan akan hati-hati deh.”


***


Sudah waktunya pulang, Yoo Ra meminta Kim Jae pulang terlebih dahulu dan Yoo Ra akan pulang naik bus. Dia harus pergi ke taman sesuai pesan di post iy yang tertempel di setir mobil.


Yoo Ra berjalan menuju ke taman, lalu ada seseorang yang mengejutkannya.


“Hei...”


Yoo Ra terkejut dengan kemunculan orang itu di depannya.


(Yoo Ra)


“Ya ampun... aku terkejut. Lain kali jangan begitu seonbae...”


Ternyata orang itu adalah Jae Won.


(Jae Won)


“Maaf maaf (menyeringai). Mau kemana?”


(Yoo Ra)


“Mau bertemu seseorang.”


(Jae Won)


“Apa?”


(Yoo Ra)


“Apanya?”


(Jae Won)


“Oh (kebingungan). Gak apa-apa sih, kirain mau baca buku disini.”


(Yoo Ra)


“Enggak kok (melihat sekitar).”


(Jae Won)


“Orangnya belum dateng ya?”


(Yoo Ra)


“Kayaknya begitu.”


(Jae Won)


“Mau aku temenin? Biar gak sendirian.”


(Yoo Ra)


“Oh? Enggak perlu seonbae (menggeleng dan menyilangkan tangan).”


(Jae Won)


“Gak apa-apa, aku juga lagi banyak waktu.”


(Yoo Ra)


“Tapi... Bukan begitu.”


(Jae Won)


“Kaja...(mendorong bahu Yoo Ra untuk duduk di bangku taman).”


Disisi lain, Yeon Jin segera berlari ke taman kampus. Ia mengira kalau Yoo Ra sudah menuggu sendirian disana, tadi dia masih ada urusan di kantor administrasi.


Yeon Jin sudah tiba, dan melihat Yoo Ra bersama seseorang yang duduk disampingnya. Melihat itu, Yeon Jin segera menghampiri mereka.


(Yeon Jin)


“Maaf, membuatmu menunggu lama.”


(Yoo Ra)


“Yeon Jin seonbae, kau berlari?”


(Yeon Jin)


“Iya (terengah-engah).”


(Jae Won)


(Yeon Jin)


“Aku tahu. Dan terima kasih sudah menemaninya (nada kesal).”


(Yoo Ra)


“Aku juga baru 5 menit disini (senyum).”


(Jae Won)


“Dia sudah datang, aku pergi dulu ya.”


(Yoo Ra)


“Gomabseubnida sonbaenim.”


Jae Won langsung pergi, dan Yeon Jin pun langsung merebahkan tubuh di bangku itu. Napasnya masih terengah-engah karena ia berlari dari kantor menuju taman yang jaraknya cukup jauh.


(Yeon Jin)


“Ya ampun capeknya.”


(Yoo Ra)


“Lihatlah, kamu gak berkeringat tapi kecapekan (menyeringai).”


(Yeon Jin)


“Punya air?”


YooRa menyodorkan air dan yeonjin meminumnya.


(Yeon Jin)


“Emangnya kalau gak keringetan gak capek?”


(Yoo Ra)


“Gak gitu juga sih (tertawa)”


Yeon Jin tertawa mendengar ucapannya yang membuat YooRa bingung, Jae Won menoleh kebelakang dan melihat keakraban mereka berdua. Perasaan aneh Jae Won mulai muncul, seperti tidak terima akan hal itu.


(Yoo Ra)


“Seonbae, ada apa menyuruhku datang kesini?”


(Yeon Jin)


“Gak ada.”


(Yoo Ra)


“Hah?”


(Yeon Jin)


“Gak ada.”


(Yoo Ra)


“Jangan bercanda dong.”


(Yeon Jin)


“Iya-iya (tertawa). Gimana kuliahnya?”


(Yoo Ra)


“Lancar kok. Bagaimana dengan seonbae?”


(Yeon Jin)


“Baru di semester ini aku kuliah berasa nyaman banget.”


(Yoo Ra)


“Baru sekarang? Berarti dulu kamu ngerasa tertekan gitu?”


(Yeon Jin)


“He.em... molla, ini sungguh keajaiban aku bisa semangat kuliah.”


(Yoo Ra)


“Aigooo... secara tidak langsung kamu memberitahu sisi burukmu kepadaku (menggoda).”


(Yeon Jin)


“Kau berpikir begitu?”


(Yoo Ra)


“(mengangguk)”


(Yeon Jin)


“Sungguh gak berperasaan (ngambek).”


(Yoo Ra)

__ADS_1


“Hei... Ayolah... aku hanya bercanda.”


Yeon Jin dan Yoo Ra menghabiskan waktu di taman itu dengan saling berbagi ilmu tentang perusahaan.


Yeon Jin yang berprofesi sebagai CEO Park Group tentu sudah ahli dibidang bisnis, Yoo Ra ingin belajar banyak darinya.


---


Tak terasa hari sudah sangat sore. Yoo Ra akan pulang naik bus, begitu juga dengan Yeon Jin yang kebetulan rumah mereka satu arah.


Mereka berdua masuk kedalam bus dan duduk sebangku. Yeon Jin mendapatkan pesan dan sibuk dengan ponselnya, sementara itu Yoo Ra membuka tasnya dan mengeluarkan buku lalu membaca buku itu.


Perjalanan menuju ke rumah dengan naik bus cukup memakan waktu yang lama, sekitar 30 menit baru bisa sampai di halte dekat rumah Yoo Ra.


(Yeon Jin)


“Sial...(nada kesal)


(Yoo Ra)


“Ada apa?”


(Yeon Jin)


“Gak apa-apa, cuman masalah di club kampus.”


(Yoo Ra)


“Club kampus?”


(Yeon Jin)


“Ituloh, yang ada dijurusan kita. High club manajemen bisnis.”


(Yoo Ra)


“Aku pernah mendengar tentang high club jurusan manajemen bisnis. Aku dengar disitu hanya mahasiswa populer yang bisa bergabung.”


(Yeon Jin)


“Daebak!!! Kau sudah tahu semuanya...”


(Yoo Ra)


“Oppaku yang memberitahu tentang ini, dia juga pernah bergabung. Tapi dia sudah lama keluar karena sudah muak dengan tugas-tugas disana, dia pun juga merasa kalau kepopulerannya dikalangan mahasiswi yang menjadi modal untuk bergabung.”


(Yeon Jin)


“Populer dikalangan mahasiswi? Tunggu, oppamu semester berapa?”


(Yoo Ra)


“Seharusnya seperti seonbae, dia sekarang masih semester 3.”


(Yeon Jin)


“Jangan-jangan... Kim Jae Rim? (terkejut)”


(Yoo Ra)


“Seonbae kenal?”


(Yeon Jin)


“Asal kau tahu, oppamu itu mudah dikenali banyak orang. Tak kusangka si perusuh itu punya adik seperti dirimu (tawa kecil).”


(Yoo Ra)


“Banyak yang berkata begitu, aku sangat berbeda dengannya (senyum).”


(Yeon Jin)


“Sangat dan sangat berbeda. Bagaikan bumi dengan galaksi (tertawa).”


Mereka berdua tertawa bersama dan beralih topik pembicaraan.


(Yoo Ra)


“Seonbae, memangnya ada masalah apa dengan clubnya?”


(Yeon Jin)


“Untuk semester depan, kita ada perombakan baru. Dan para anggota juga mungkin bisa bertambah, maka dari itu kita butuh sistem baru untuk pemilihan anggota.”


(Yoo Ra)


“Jadi, kualifikasi yang dulu hanya dilihat dari kepopuleran. Untuk sekarang mau ditambahkan lagi atau dirubah?”


(Yeon Jin)


“Entahlah, besok ada rapat. Kamu punya ide?”


(Yoo Ra)


“Eh? Aku bukan anggota disana, jadi kalau aku menyampaikannya agak sungkan (bingung).”


(Yeon Jin)


“Ayolah, aku mohon.”


Yoo Ra menyampaikan semua pendapatnya ke Yeon Jin tentang kualifikasi menjadi anggota club.


Tak terasa hampir tiba halte bus dekat rumah YooRa.


(Yoo Ra)


“Ini halte kedua, sebentar lagi aku turun di halte selanjutnya (berbicara sendiri).”


(Yeon Jin)


“Kau akan turun sebentar lagi?”


(Yoo Ra)


“Oh?Iya… ini sudah dekat.”


(Yeon Jin)


“Tunggu sebentar (mengambil ponsel). Ketik nomormu (menyerahkan ponsel).”


(Yoo Ra)


“Nomor?”


(Yeon Jin)


“He.em... Ppalli (senyum).”


Yoo Ra segera mengetik nomor ponselnya, karena sebentar lagi ia akan turun di halte berikutnya. Yoo Ra melihat halte pemberhentiannya dan langsung menyerahkan ponsel ke Yeon Jin.


(Yoo Ra)


“Seonbae, aku duluan ya.”


(Yeon Jin)


“Iya... sampai jumpa.”


---


Berada di dalam rumah sungguh bisa melepaskan penat, namun perasaan nyaman itu tak berlangsung lama.


Sekarang sudah malam, dan Yoo Ra harus bergegas menuju ke gerbang tua itu untuk menemukan Pureun Seong. Tak lupa ia membawa tas yang berisikan kalung dan buku itu.


(Yoo Ra)


“Oppa, aku pergi dulu.”


(Kim Jae)


“Ini (melemparkan kunci mobil).”


(Yoo Ra)


“Sampai Jumpa.”


Yoo Ra masuk ke mobil lalu menghidupkan mesin mobil, Kim Yoo mengetuk jendela mobil.


Tok tok tok... Yoo Ra segera membuka jendela.


(Kim Yoo)


“Mau kemana?”


(Yoo Ra)


“Ada urusan sebentar.”


(Kim Yoo)


“Jangan pulang larut malam.”


(Yoo Ra)


“Oke.”


Yoo Ra menginjak pedal gas dan segera pergi ke lokasi itu.


Tak lama kemudian, ia sudah tiba di tempat itu. Suasana di tempat ini sangat aneh, terasa sangat dingin.


Yoo Ra mendekati gerbang itu dan melihat-lihat apakah ada lubang kunci di sana. Lalu ia mendengar sesuatu yang berasal dari dalam sana.


“Ada yang bisa aku bantu?”


***


Gomawo (고마워) : Terima kasih (informal)


Mianhae ( 미안해) : Maaf (informal)


Eonje (언제) : Kapan


Jinjja (진짜) : Sungguh


Gomabseubnida (고맙습니다) : Terima kasih (formal)


Molla (몰라) : Entah


Daebak (대박) : Luar biasa


Ppalli (빨리) : Cepat

__ADS_1


__ADS_2