Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 9


__ADS_3

Cukup lama mereka saling berbincang, sementara Kim Jae berusaha menceritakan semuanya tentang keluarga Kim Yoo.


Yoo Ra semakin penasaran dengan kakaknya di kehidupan ini, daripada penasaran, langsung saja keintinya. “Jadi, sebelumnya kau bukan termasuk anggota keluarga ya?, kok sekarang bisa jadi anggota keluarga?”


Seketika Kim Jae menghela napas panjang dan menjawab Yoo Ra, “Yah... Saat itu aku hanya punya ayah, ibuku meninggalkan kami saat aku berumur 2 tahun karena krisis ekonomi. Saat berusia 6 tahun, aku dan ayahku mengalami kecelakaan mobil. Ayahku meninggal di tempat, sementara aku masih selamat. Tempat itu didekat jurang dan gelap, aku ingin mencari pertolongan dengan merangkak keluar mobil. Saat itulah aku dan samchon bertemu, dia membawaku kerumahnya dan langsung menjadikanku keponakannya.”


“Em... Maaf membuatmu bersedih. Tunggu, kenapa tiba-tiba samchon langsung mengenalimu?”


“Kakekku seorang Presdir, samchon mengalami hal sama denganku. Saat itu kakekku memutuskan hubungan dengan ayahku, sehingga kakek tidak memiliki ahli waris lagi. Pada akhirnya, kakekku menjadikan samchon sebagai pewaris tunggalnya. Terlebih lagi kakek sudah tahu kalau samchon bukanlah orang biasa, dia dapat hidup abadi karena keistimewaan yang dimilikinya sejak lahir. Maka dari itu dia mencariku untuk membalas budi, dan juga aset miliknya hingga perusahaan Nam Group sebelumnya adalah milik kakekku. Jadi... tak heran kalau kami sangat dengan dan terkadang bertingkah layaknya kucing dengan tikus (senyum kecil).”


“Jadi selama itu kau dicari-cari oleh samchon ya?. Oke, aku paham. Oppa, aku merasakan aura magis di rumah. Apakah kalian bukan manusia?”


Kim Jae terkejut dengan memasang wajah konyol karena YooRa sangat peka terhadap aura magis. “Kkkaauu... bagaimana kamu bisa merasakannya? Aigooo... aku lupa kalau kau juga separuh mahkluk halus.”


“Hei... ayolah, aku tetap manusia biasa sekarang (tersenyum dengan nada menggoda)”


“Baiklah, samchon adalah satu diantara banyaknya dokkaebi (goblin) dari Dalwi Yeosin, bisa dibilang dia tangan kanan Dalwi Yeosin. Dan aku sebentar lagi juga jadi dokkaebi, jadi aku bisa pergi kemanapun sesuka hatiku.”


“Haisshh...Aku belum pernah bertemu dengan orang sebodoh dirimu (langsung berdiri lalu menaiki sepedah dan segera pulang ke rumah).”


“Hei... aku bukannya bodoh! Tapi terlalu genius! Yoo Ra... Yoo Ra... Tunggu aku! (berteriak sambil menyeringai)”


***


YooRa jadi tahu kalau Eun Ji adalah wanita yang disukai oleh Kim Yoo, singkatnya Eun Ji adalah mahasiswa yatim piatu dan tinggal bersama bibinya dan sepupunya yang jahat.


Saat itu Eun Ji memilih untuk tinggal sendiri, namun ia mengalami krisis finansial untuk membagi uang ke bibinya. Ia ingin bunuh diri dengan mencoba terjun kedalam sungai Han, setelah terjun ia berpikir kalau ia sudah mati. Tiba-tiba ia melihat seseorang yang menariknya ke atas permukaan sungai, Kim Yoo yang telah meyelamatkan nyawa Eun Ji. Sejak saat itu Kim Yoo mulai menyukai wanita itu, dan begitupun dengan Eun Ji.


Apartemen, uang kuliah, uang makan semuanya dari Kim Yoo. Eun Ji sangat beruntung bertemu dengan pria itu, dia cukup membayar dengan rasa cintanya kepada Kim Yoo.


---


Musim panas yang menyengat dengan aroma kering dari tanah sungguh menyuguhkan pemandangan langit biru yang indah. Yoo Ra dan Kim Jae, hanya mereka yang berada di dalam rumah dengan membaca buku bersama. Mereka juga berbagi kisah hidup, menceritakan hobi yang disukai, dan lain-lain. Kim Jae agak terkejut dengan kisah asal-usul Yoo Ra, dia mengira kalau Yoo Ra hanyalah tuan putri biasa. Kim Jae sangat peduli dengan sejarah, Kim Jae juga sudah tahu semua tokoh politik zaman itu dan perkembangan sejarahnya. Kim Jae hanya kagum dan tidak menyangka kalau ia saat ini sedang bersama BUNGA SEJARAH, bahkan ia juga dapat menghabiskan waktu dengan sosok gadis gigih yang melegenda. “Yoo Ra... aku tak menyangka bisa bertemu dirimu, aku harap kau bisa kembali dan meneruskan hidup yang sangat baik disana.” ucap Kim Jae.


“Apa maksudmu? Mungkin tidak akan seperti itu dalam waktu lama, kau tahu kalau hidup disana seperti budak yang menjelma sebagai bangsawan. Dimanfaatkan belaka tanpa dibalas dengan imbalan yang setimpal.”


“Ayolah, bukan begitu maksudku. Kau akan dikenang dengan nama yang agung (langsung berdiri dan menadahkan tangan).”


“Hst...(senyum kecil). Hentikan leluconmu, aku hanya ingin menikmati hidup. Aku belum tertarik dengan sejarah.”


“Beneran? Wah... sungguh kau tidak suka sejarah?


“Emmm... (menganggukkan kepala). Karena itu terlalu memusingkan bagiku.”


“Terserahlah apa maumu. Haish... cuacanya panas, aku sulit berkonsentrasi untuk membaca buku.”

__ADS_1


“Ayo keluar, beli ice cream atau yang semacamnya.”


“Ayooo... ” Kim Jae dengan senang hati serta bersemangat langsung menarik tangan Yoo Ra dan mengajaknya keluar.


Mereka berdua pergi keluar untuk membeli minuman dingin khas musim panas. Mereka menuju ke mall menggunakan mobil Kim Yoo, bukan hanya membeli ice cream tapi juga untuk berbelanja kebutuhan kuliah nanti.


***


“Oppa... ini bagus tidak? (menunjukkan ransel yang dipajang). Kalau menurutmu bagus akan aku beli.” ujar Yoo Ra.


“Seleramu agak tomboy yah. Em... bagaimana kalau yang ini? (menunjuk ke tas tangan warna pink mencolok)”


“Seleramu agak vulgar ya.” Sambil meninggalkan Kim Jae yang masih memegang tas tangan.


“Hei... kalau tidak suka bilang saja, gak perlu mengolokku seperti itu. (memandang tas yang ia pegang) Tapi tas ini imut, kenapa dia gak suka? Ah bodoh amat (meletakkan kembali). Yoo Ra tunggu...”


Ada seorang pegawai menghampiri mereka dengan mengatakan sesuatu, "Permisi, saya ingin memberi saran. Tas ini sebenarnya sangat cocok dengan nona yang tadi." Kim Jae langsung menjawab, "Aku juga berpikir demikian."


Pegawai itu sempat-sempatnya memperhatikan mereka berdua, bahkan bertanya apakah nona di samping Kim Jae adalah kekasihnya.


"Bukan... Dia adalah adikku, sebenarnya kalau jadi pacar juga gak apa-apa (bergumam)." ucap Kim Jae menjelaskan hubungan ini, "Oh... kalau begitu, boleh minta nomor ponsel?" kata pegawai itu sedikit kurang sopan.


"Maafkan aku ya, sayangnya aku gak punya ponsel. Dan aku sering mengirim pesan lewat kantor pos."


"Apa maksudnya?(bingung)"


Pegawai itu nampak kesal dengan perkataan Kim Jae tadi. Yah... Bagaimana lagi, Kim Jae memang sangat tampan namun dia juga memiliki selera kelas atas. Hehehe...


---


Sudah puas berbelanja, kini mereka bersiap-siap untuk pulang. Mereka sedang menuju area parkir.


Yoo Ra segera mengemasi barang-barang untuk dibawa pulang, “Cepat letakkan di bagasi.” Dengan mengadahkan tangan, Kim Jae meminta barang belanjaan dari Yoo Ra “Kemarikan barang-barangnya.”


Terdengar suara di seberang “Kim Jae-ssi”


Ada sosok pria berusia hampir 30-an menyapa Kim Jae dan berusaha menghampiri mereka berdua. “Oh... Min biseo? Sedang apa disini?”


“Aku sedang belanja juga, aku melihatmu dan ingin menyapamu. Oh... ini nona baru kita?.”


Yoo Ra yang melihat Min biseo segera menyapa, “Iya, Annyeonghaseyo (membungkukkan badan untuk memberi salam).”


“Annyeonghaseyo, tidak perlu sungkan padaku (dengan seyum ramah). Kim Jae-ssi, Presdir Kim tadi menelponmu tapi kenapa tidak kau angkat? Yoo Ra agassi juga tidak menjawab telepon.”


“Ponsel kami berada di rumah, tadi lupa dibawa hehe...”

__ADS_1


“Ada apa ahjussi ?” Sahut Kim Jae penasaran.


“Presdir ingin bertemu dengan nona Yoo Ra dikantornya, tapi karena kalian berdua tidak menjawab telepon maka tidak jadi. Nanti presdir akan pulang lebih awal.”


“Oh, baiklah. Bagaimana degan kuliahnya Yoo Ra? Kau sudah mendaftarkannya di kampus kan?”


“Itu sudah diurus. Agassi, berhubung kamu masuk di semester 2 jadi untuk pelajaran semester pertama kau harus pelajari dalam waktu 3 minggu saja. Setelahnya kamu bisa masuk kelas. Samchon kalian lupa, waktu itu dia bilang kau masuk semester 3 padahal sudah mau masuk semester 4.”


“Waktu itu aku tidak menyimak kata-katanya. Ya... aku masuk semester 4 sekarang.”


“Wah... tanpa orientasi? Dan 3 minggu lagi masuk kelas?”


“Iya (mengangguk). Kau tidak perlu khawatir, ini salah satu kehebatan Nam Group dan presdir Kim. Hahaha... selamat ya. Dan kau Kim Jae (menepuk dahi Kim Jae), belajarlah dengan giat jangan membolos kuliah. Kau sudah masuk semester 4, jangan merepotkanku untuk mengurus dosen-dosenmu itu!”


“Haizzzz... Jangan begitu, aku bukan anak kecil lagi!.”


“Terserah, cepat kalian pulang. Udaranya panas sekali, tidak baik berada di luar ruangan terlalu lama.”


“Iya. Min biseo, sampai jumpa.” ucap Yoo Ra kepada sekretaris pribadi pamannya itu.


“Sampai jumpa (melambaikan tangan). (Dalam hati) Sungguh nona baru yang sangat manis sekali, sangat baik dan beraura tenang dan juga memiliki sopan santun khas orang timur walau ia tumbuh di Eropa.”


Min biseo hanya tahu kalau Yoo Ra adalah keponakan Kim Yoo yang dibesarkan di Eropa.


---


Kim Jae dan Yoo Ra masuk ke dalam mobil dan melanjutkan pembicaraan.


“Samchon terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa keponakannya kuliah sampai semester berapa, heh... Samchon belum terlalu tua namun sudah pikun. Astaga...” Kim Jae menggerutu dan sedikit mengutuk Kim Yoo. Yoo Ra yang berada disampingnya juga tertawa kecil mendengarnya.


“Aku juga berpikir demikian. Ya aku bersyukur sudah bisa masuk semester 2, jadi untuk semester 1 aku hanya perlu belajar di rumah selama 3 minggu ini.


"Em... seharusnya harus semester pertama, dan mengikuti orientasi. Sekarang kau tahukan bagaimana kuatnya posisi keluarga kita?"


"Ya... aku paham. Ternyata aku berada di keluarga terhormat. Aigo ... sekolah sekolah (bernada)."


“Semangat ya adikku yang manis (mengacak-acak rambut YooRa).”


Yoo Ra menepis tangan jahil Kim Jae dan meminta Kim Jae untuk fokus menyetir. Tawa mereka tak terhindar, sangat hangat dan menyenangkan.


***


Ahjussi (앟주씨): Paman


Annyeonghaseyo (안녕하세요) : Halo (sapaan)

__ADS_1


Biseo (비서) : Sekretaris


__ADS_2