Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 34


__ADS_3

Yeon Jin ingin menelpon Yoo Ra, tapi ia harus berpikir 2 kali. Takutnya, ia menganggu Yoo Ra. Mengeluarkan ponsel dan menatap layar ponselnya, jarinya sudah sampai di tombol panggilan. “Ayolah Yeon Jin... Beranikan dirimu, kali ini kau merindukannya, beranilah...” Yeon Jin menggerutu, kini ia bingung harus menelpon atau mengirim pesan. “Baiklah, sudah aku putuskan,” Yeon Jin memutuskan untuk mengirim pesan singkat, dan berpikir kembali semisalnya menelpon akan menganggu Yoo Ra.


“Bagaimana kabarmu? Sungguh menyenangkan disana? Kalau ada waktu, balas pesanku ini ya.”


Hanya itu yang bisa Yeon Jin kirimkan, ia bingung karena harus mengetik apa lagi.


Sekitar jam 9 malam, Yeon Jin berharap-harap cemas dengan menatap layar ponselnya selama berjam-jam hanya untuk mendapat balasan dari Yoo Ra.


---


-Kondisi di pulau Jeju-


Yoo Ra masih berkeliling disekitar area pantai. Sendirian saja, begitu pula dengan teman-temannya. Di tugas awal saat di desa, Yoo Ra selalu selesai terlebih dahulu daripada teman-temannya, dan saat ini juga ia sudah selesai dengan tugasnya. Yoo Ra ingin mencari Moo Ra, tapi Moo Ra sibuk dengan wawancaranya di salah satu nelayan. Jadi ia memutuskan untuk menunggunya di dermaga dengan menyaksikan lautan lepas dan langit yang penuh dengan bintang.


Disisi lain, dari sore hari sampai saat ini Jae Won masih sibuk dengan pemandu wisata yang sedang membahas kontribusi kerja sama lebih lanjut antara pihak kampus dan penyedia layanan tour and travel. Jae Won ingin menghabiskan waktunya lagi dengan Yoo Ra di pantai ini, sayang seribu sayang keinginannya hanyalah sebuah khayalan semata. Dan ini sudah malam, Jae Won mengira kalau Yoo Ra sudah kembali ke penginapan. Jadi ia memutuskan untuk kembali ke penginapan dan menunggunya di sana.


Yoo Ra masih menikmati dinginnya malam, melihat pedagang cindera mata ia jadi ingin membelinya. Yoo Ra menghampiri salah satu penjual cindera mata disana, seorang pria berusia 40 tahunan yang sedang menunggu pembeli untuk datang membeli cindera mata di tokonya.


(Yoo Ra)


“Permisi, ini harganya berapa?”


(Penjual)


“Itu 10.000 won (ramah).”


(Yoo Ra)


“Ini sangat cantik, ahjussi sendiri yang membuatnya?”


(Penjual)


“Hehehe... Yang agassi pegang, itu dari cangkang kerang. Agassi lihat, warna cangkangnya pink, jarang sekali menemukan cangkang kerang yang seperti ini. Sekitar 2 minggu lalu aku membuat ini, lonceng anginnya memang berukuran kecil, aku sesuaikan dengan harganya.”


(Yoo Ra)


“Sangat cantik ahjussi (memegang lonceng). Kenapa hanya ada 2 lonceng yang punya 2 cangkang kerang pink ini?”


(Penjual)


“Sesuai yang aku katakan tadi, aku menemukan satu kerang ini dan hanya ada 2 sisi cangkang. Dalam satu lonceng angin spesial ini ada 1 cangkang pink dan 5 cangkang putih, dan ada 7 pipa lonceng.”


(Yoo Ra)


“Bukankah ini seharusnya bernilai mahal? Ahjussi terlalu memberikan harga yang murah kepada para pembeli disini.”


(Penjual)


“Kau benar agassi, tapi aku tidak terlalu memikirkan harga. Lonceng ini aku buat sendiri, dan aku juga ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama, apa salahnya aku memberi harga rendah kan?”


(Yoo Ra)


“Astaga... semoga ahjussi selalu diberikan keberuntungan. Aku ambil 2 yang cangkang pink ini ya.”


(Penjual)


“Baiklah, terima kasih ya. Aku dengar kerang bercangkang pink itu ada mitosnya, tapi aku tidak tahu apa mitosnya itu.”


(Yoo Ra)


“Begitu ya.”


Datanglah seorang wanita, ternyata dia adalah istri dari penjual itu. Dan betapa kagetnya dia melihat kehadiran Yoo Ra disana yang sedang membeli lonceng angin di toko suaminya.


“Sayang, siapa dia?” Bisik wanita itu.


“Oh... dia pembeli.” Jawab sang penjual.


“Bukankah dia mirip dengan lukisan yang ada di kuil?”

__ADS_1


“Benarkah? Mana ponselmu, dulu kita pernah berfoto disana kan?”


Penjual dan istrinya melihat foto mereka saat berfoto bersama dengan lukisan itu di kuil. Mereka terbelalak dan terkejut kalau lukisan itu mirip dengan gadis dihadapan mereka. Dan membandingkan keduanya.


“Woah (kaget)...Di... Dia... Jangan-jangan, apakah dia kloningannya?” Pertanyaan konyol muncul dari mulut penjual itu.


“Jangan bicara sembarangan, mungkin ini reinkarnasinya.”


(Penjual)


“Agassi, si...si...siapa namamu?”


(Yoo Ra)


“Ada apa ahjussi?”


(Istri Penjual)


“Agassi, agassi keturunan dari permaisuri Tae Yang?”


(Yoo Ra)


“Kenapa? (penasaran)”


(Istri Penjual)


“Kenapa anda sangat mirip? (kaget dan gugup)”


(Yoo Ra)


“Mirip siapa? (pura-pura tidak tahu)”


(Penjual)


“Kamu keturunan dari yang Mulia Tae Yang yang ke berapa?”


(Yoo Ra)


(Penjual)


“Itu legenda sejarah disini, di daerah ini kisahnya selalu dibacakan saat ada upacara tertentu.”


(Yoo Ra)


“Saya belum mendengar itu sebelumnya, bolehkah kalian ceritakan kisahnya?”


Wah... Waktu yang sangat tepat sekali, tak disangka Yoo Ra mendapat hal menarik disini. Istri penjual itu langusung menceritakannya.


|||


Permaisuri Tae Yang adalah sosok wanita yang sangat tangguh dan disegani dikalangan pejabat negara saat itu, dia menikah dengan Raja Tae Yang karena hal mendesak dan penuh ancaman. Dia terpaksa ikut pulang ke kerajaan Raja Tae Yang, sang Raja memiliki perasaan suka kepadanya dan begitu pula sebaliknya.


Sebelum Raja Tae Yang menikah dengannya, Raja sudah memiliki beberapa selir, dan saat itu posisi permaisuri belum dia sandang dan masih kosong untuk mencari orang yang tepat untuk dijadikan permaisuri. Bahkan selir-selirnya tidak mengakui keberadaannya, sehingga tiap hari selalu mencari masalah supaya permaisuri Tae Yang diusir keluar dari istana. Mereka semua iri, karena wanita itu sangat kompeten bahkan dipuja-puja, temasuk sang Raja.


Setelah menyandang status tertinggi kedua di kerajaan, yakni menjadi Permaisuri dan satu-satunya istri yang disayang Raja, dia terus mendapat cobaan besar hingga nyawanya hampir direnggut oleh mereka. Biasanya perebutan kuasa hanya terjadi pada raja, kali ini berbeda, perebutan kuasa terjadi pada posisi Permaisuri.


Pada akhirnya dia sanggup bertahan dan mengusir semua selir-selir Raja yang pernah menghakiminya itu, dan sampai di puncak kejayaannya. Dan itu karena kekuatan cinta mereka. Sayangnya sang permaisuri Tae Yang meninggal dulu sebelum memberi keturunan, penyebabnya adalah kecurigaan Raja kepada permaisurinya yang dianggap berselingkuh di belakngnya, Raja memberikan hukuman yang sangat berat dan pada akhirnya sang Permaisuri tewas karenanya.


Sampai detik-detik kematiannya, dia mempertahankan harga dirinya sebagai wanita suci dan setia kepada suami. Setelah kematian Permaisuri Tae Yang, 2 hari berikutnya penyelidikan kasus itu membuahkan hasil, dan ternyata permaisuri tidak bersalah dan hanya menjadi korban.


Karena frustasi akan hal itu, Raja mengeksekusi semua orang yang terlibat konspirasi ini dan membantai mereka satu persatu supaya memberikan ketenangan pada permaisurinya, lalu membangun tugu keagungan. Karena rasa bersalah yang sangat mendalam dan menyia-nyiakan perasaannya, Raja itu bunuh diri di hadapan makam sang permaisuri dan berjanji untuk mencarinya kembali saat bereinkarnasi kelak, supaya cinta sejatinya tidak bisa diusik ataupun direbut jiwa yang lain.


Sampai saat ini kisah itu masih belum menyebar luas, dan kematian raja dan ratu itu masih di sembunyikan. Kisah ini adalah kisah tragis sekaligus misteri.


|||


(Istri Penjual)


“Begitulah kisahnya, sampai saat ini kami terus bertanya-tanya apakah mereka sudah bereinkarnasi atau belum. Setelah melihat agassi, kami kira kisah itu benar-benar ada.”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Tapi kisah itu adalah kisah yang menyedihkan, bagaimana bisa jiwa yang seperti itu bisa bereinkarnasi kembali, dia hanyalah pendosa.”


(Istri Penjual)


“Itu adalah kisah di buku pertama, kami belum mendengar kisah dari buku kedua. Ada dua buku suci di kuil Tae Yang yang mengisahkan Raja dan Ratu Tae Yang, katanya yang kedua adalah isi dari takdir mereka setelah reinkarnasi.”


(Yoo Ra)


“Kalau di buku kedua tercatat demikian, berarti reinkarnasi itu sudah pernah terjadi. Yang mencatat hal seperti itu hanyalah sejarawan, dan tidak bisa dibuat-buat.”


(Penjual)


“Bukan begitu agassi, Biksu bilang kalau buku kedua adalah ramalan. Aku dan istriku memang belum pernah mendengar Biksuni membaca buku kedua, karena itu belum boleh dibaca sebelum menemukan reinkarnasi permaisuri Tae Yang.”


(Yoo Ra)


“Begitu rupanya, baiklah terima kasih atas ceritanya. Ini uangnya.”


(Penjual)


“Terima kasih, ini kembaliannya.”


(Yoo Ra)


“Tidak perlu ahjussi. Anggap saja sebagai imbalan karena sudah menceritakan kisah bersejarah dari tempat ini.”


(Istri Penjual)


“Terima kasih. Semoga Tuhan melindungi agassi.”


(Yoo Ra)


“Saya pamit dulu.”


(Istri Penjual)


“Tunggu dulu agassi. Agassi membeli lonceng angin kerang merah muda ini kan, mitosnya adalah kerang ini adalah simbol dari pasangan kekasih. Suamiku hanya mendapat kerang ini 1 tahun sekali dan hanya ada 1 kerang, jadi kami membuat 2 lonceng dari 1 kerang.”


(Yoo Ra)


“Oh seperti itu, walau begitu ini adalah mitos kan.”


(Istri Penjual)


“Iya sih, tapi semoga agassi bertemu pasangan yang cocok dengan agassi.”


(Yoo Ra)


“Semoga doa yang anda berikan bisa terwujud, saya permisi dulu. Sampai jumpa (melambai).”


Pasangan suami istri itu masih tercengang dengan wajah Yoo Ra yang sama persis dengan lukisan Ratu Tae Yang. Mereka masih tidak percaya akan hal ini.


Tidak hanya mereka, para pedangang disana juga keheranan dengan kehadiran Yoo Ra. Dan menjadi topik pembicaraan.


“Dia keturunan ratu itu?”


“Entahlah, bukannya wajahnya sama?”


“Sudah sudah, di dunia ini setiap orang memiliki 7 kembaran. Mungkin gadis itu salah satunya.”


“Bukankah dia cantik sekali?”


“Aku yakin kalau gadis itu salah satu keturunannya.”


“Bagaimana mungkin, ratu itu sudah tiada ratusan tahun yang lalu dan tidak memiliki keturunan sama sekali.”


“Ada benarnya kalau dia adalah reinkarnasinya?”

__ADS_1


“Kalian percaya hal seperti itu? Ini sudah zaman modern. Jernihkan pikiran kalian.”


---


__ADS_2