
Kondisi di Jangmi sangat damai, bahkan kemakmuran rakyat bisa dibilang sudah meningkat. Namun duka di dalam istana masih menyisakan angan-angan, berharap salah satu wanita kebanggaannya bisa menampakkan tanda-tanda kehidupan. Tuan putri yang terbaring di atas tempat tidur, bagaimana bisa terbangun? Segaris cahaya bola mata saja juga tidak terpancar.
“Nak... Bangunlah, Ayah ingin melihatmu tersenyum lagi.” Ucap Yang Mulia Lee Yoo Jae.
Yoo Ra yang terluka parah pada malam itu, kini sudah berangsur membaik, tapi belum bisa membuka mata. Yoo Ra terbaring seperti putri tidur. Rakyat bertanya-tanya dimana keberadaan tuan putri mereka, sudah lama tidak menemui mereka. Untuk menutupi kondisi Yoo Ra, pihak istana memberikan pengumuman kalau Yoo Ra sedang pergi ke negeri asal Ratu Hwa Do Sun. Dikatakan kalau ia sedang mengunjungi kakek dan neneknya.
Hampir 2 bulan Yoo Ra tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran, dan semenjak Yoo Ra koma banyak hal yang sudah terjadi. Salah satunya adalah pernikahan kakaknya dengan keponakan perdana menteri Jung Young Il (ayah dari panglima perang Jung Jo Hyuk).
Dia bernama Lim Yang Ji, menjadi putri makhota dan istri dari putra mahkota. Rumor yang beredar, Yang Ji adalah seorang dokter kerajaan Jangmi yang sangat terkenal. Dia bertekad menjadi dokter kerajaan karena sejak usia 5 tahun dia menjadi seorang yatim piatu, orang tuanya meninggal karena wabah penyakit, kemudian dia dibawa oleh pamannya (Jang Young Il) dan diasuh oleh dokter-dokter kerajaan. Sejak saat itu dia tumbuh menjadi gadis mandiri dan berhasil menjadi dokter.
2 minggu setelah peristiwa berdarah, pernikahan dilangsungkan. Dan setiap harinya Yang Ji dan Bi Yeon yang merawat Yoo Ra, lukanya 90% sudah pulih. Yang Ji memastikan kalau harapan hidupnya sangat besar, dan dia juga merasa ada hawa magis yang terjadi pada Yoo Ra. “Dia tidak akan bangun secepat yang kita prediksi, ini membutuhkan waktu yang lama. Walau lukanya sudah sembuh, tapi untuk terbangun semuanya bergantung kepada Dewa.” Ucapan Yang Ji membuat Yang Mulia Ratu memanggil para tetua untuk bisa menjelaskan apa yang terjadi kepada putrinya.
Tetua yang juga pendeta juga berkata sama seperti Yang Ji, para anggota keluarga hanya bisa bersabar dan juga berdoa agar Lee Yoo Ra bisa kembali bersama mereka. “Ajaklah dia berkomunikasi, itu akan membantu dia mengingat keluarganya. Dan mintalah dia untuk bangun, jangan lalai menjaganya.” Ucap pendeta.
Yang Ji hanya fokus kepada Yoo Ra, dia juga berjanji akan menjadi kakak ipar yang akan menyayangi dan melindunginya. Yang Ji sendiri tidak terlalu dekat dengan Yoo Ra, tapi kini dia sudah menikah dengan kakak laki-laki Yoo Ra, tentu dia harus membantu Yoo Ra untuk bangun.
“Salam Tuan Putri... Aku kakak iparmu, aku bisa menjadi kakak perempuanmu, atau juga menjadi temanmu. Bangunlah... Aku ingin menceritakan banyak hal, aku ingin mendengar suaramu lagi” Kalimat pertama yang diucapkan oleh Yang Ji.
***
Yoo Ra yang tidur di sofa membuat Yeon Jin merasa tidak enak, dan merasa kalau dia sudah keterlaluan. Jadi dia memutuskan untuk menemani Yoo Ra untuk tidur di ruang tengah. Yeon Jin duduk di bawah dan bersandar di sofa, tepat di dekat kepala Yoo Ra. “Selamat malam...” Bisik Yeon Jin.
---
Sudah pagi, Yoo Ra terbangun dan melihat sosok pria yang tidur di dekatnya. Dia masih memejamkan mata, “Tidur dengan posisi duduk seperti ini apa gak pegal?” Tanya Yoo Ra dalam hati. Yoo Ra sudah dikalahkan oleh Yeon Jin, makin hari makin manis.
Yoo Ra membalikkan tubuh (tengkurap), kemudian memandangi Yeon Jin yang tertidur, kemudian Yoo Ra tersenyum sendiri. “Seperti anak kecil, siapa sangka saat tidur dia lebih lucu. Ehe...” Ucap Yoo Ra dengan nada pelan.
__ADS_1
Yeon Jin terbangun dengan membuka mata secara perlahan, dilihatnya tatapan gadis yang sangat dekat. Yeon Jin tersenyum lalu berkata, “Selamat pagi...”.
“Ehemmm...” Senyum Yoo Ra melebar, pertanda terima kasih sudah menemaninya disini.
***
“Untuk seluruh pengurus High Club jurusan manajemen bisnis. Segera masuk ruang rapat, kita sambut ketua panitia orientasi mahasiswa semester ini.” Suara yang berasal dari ruang siar kampus.
Berkumpul di ruang rapat dan melangsungkan rapat, kali ini adalah performa dari Kim Yoo Ra yang ditunggu-tunggu. Ia mulai memulai rapatnya, semua orang yang ikut rapat merasa sangat antusias dan takjub dengan pembawaan Yoo Ra.
Terdengar beberapa komentar disana
“Dia adalah anak dari pebisnis, masa depannya juga dijamin cerah. Aku tidak menyangka skill yang dia punya gak main-main.”
“Emangnya jadi anak bos itu cuman modal instant? Disini kita bisa saksikan seorang perfect girl.”
“Gak salah dia gabung sama club ini. Aku menantikan dia jadi ketua club.”
---
“Huft... Kan aku jadi lapar. Untungnya aku bisa memimpin rapat.” Gumam Yoo Ra dan pergi menuju kedai sandwich.
Saat rapat berlangsung, Jae Won terus memperhatikan gerak-gerik Yoo Ra, dan dia memasang wajah serius. Setelahnya, Jae Won hanya menyapa Yoo Ra seperti biasa, tanpa membuat kehebohan seperti sebelumnya. Itu sangat melegakan, Yoo Ra tidak lagi menghadapi situasi yang canggung.
Disisi lain, Yeon Jin berusaha membantu Yoo Ra agar setiap kalimat yang diucapkan tidak berantakan. Tapi, Yeon Jin sama sekali tidak membantu Yoo Ra, karena gadis itu sangat lihai bahkan terlihat professional.
Cukup memikirkan itu, ia hanya fokus kepada perutnya yang tengah lapar. Di kedai sandwich, ia tak sengaja bertemu dengan kakaknya yang sedang memasang raut wajah murung.
__ADS_1
“Lihat penampilanmu. Masih pakai pakaian kantor, rambut acak-acakan, kantung mata yang mirip kantung sampah. Hitam Legam... Ckckck.” Ucap Yoo Ra sambil menggigit sandwich yang ada di genggamannya.
Kim Jae yang berada di depannya nampak seperti monster. Ketahuan kalau dia begadang semalaman, memang tak bisa dipungkiri lagi, semenjak perusahaan dialihkan sementara ke Kim Jae, perusahaan lebih sibuk daripada biasanya.
Calon presiden baru dari Nam Group adalah model ternama, jadi banyak klien yang tertarik untuk berinvestasi bersama dengan perusahaan ini. Awalnya karir Kim Jae sudah terjamin di dunia entertaiment, namun setelah dia masuk ke perusahaan, karirnya sudah terbalik menjadi pebisnis.
“Kamu gak tahu rasanya kerja seharian di kantor, apalagi ngurus bawahan yang banyak begitu.” Jawab Kim Jae yang sudah tak tahan dengan kantuknya.
“Gimana di kantor? Sebentar lagi ada pencalonan Presdir, kakak harus maju di pemilihan. Aku dengar cuman 2 kandidat, itupun salah satunya kamu. Para direktur gimana? Banyak yang pro sama kakak nggak?” Yoo Ra sangat mendukung jika kakaknya bisa menjadi presdir di perusahaan mereka, ini merupakan aset yang tak terhingga nilainya.
“Para direktur sialan itu, udah di hitung voting sementara. Total direktur kan ada 7, aku cuman dapat 3 suara, sama halnya dengan lawan. Sebab, satu direktur itu golput, ikut yang menang aja.” Jawab Kim Jae.
Banyak sekali permainan tidak seimbang diantara pimpinan perusahaan, beginilah hidup orang kantoran.
***
Rumah utama keluarga Kim sudah sepenuhnya selesai di renovasi, Kim Yoo meminta Kim Jae dan Yoo Ra untuk kembali tinggal disana.
Yoo Ra berpikir kembali, jarak dari rumah ke kampus sedikit jauh dibandingkan dari apartemen ke kampus. Jadi ia memutuskan untuk tinggal dan menetap di apartemen.
Kim Yoo sempat melarang, tapi dia membiarkannya sebab merasa kalau Yoo Ra sangat dewasa. Kim Jae ingin pulang ke rumah, dengan begitu dia bisa berkonsultasi dengan Kim Yoo tentang masalah perusahaan.
Kim Jae mengemas barang-barang dan bersiap untuk pindah ke rumah, dia juga berpamitan kepada Yoo Ra, tak lupa untuk meminta Yeon Jin menjaga adiknya itu. “Selama dia denganmu, kamu lebih aman. Jangan lupa sering-sering pulang ke rumah ya.” Ucap Kim Jae kepada Yoo Ra.
---
“Direktur di perusahaan totalnya ada 8, tapi direktur Eun terpaksa dikeluarkan karena reputasinya yang buruk. Jadi saat ini cuman 7 direktur. Karena kursinya kosong, jadi aku berencana untuk merekrut Yoo Ra menjadi pengganti mantan direktur Eun.” Ucap Kim Yoo kepada Kim Jae.
__ADS_1
Kim Yoo berencana menyerahkan seluruh perusahaan ke tangan Kim Jae, mengingat sebelumnya perusahaan itu milik mendiang kakek Kim Jae. Jadi saat ini adalah waktunya menyerahkan semua apa yang Kim Jae miliki.
Kim Jae sendiri berpotensi menjadi orang besar, walau terlihat pemalas, pada dasarnya Kim Jae adalah orang yang sangat antusisas kepada lawan mainnya.