
Yeon Jin bertanya apakah hadiah box itu sangat istimewa, kemudian Yoo Ra menjawab kalau box itu dipersiapkan untuk pasangan kekasih, isinya ada yang sangat wah dan juga biasa saja. “Walau biasa saja tetapi memiliki makna besar, dan hanya bisa diartikan oleh sepasang kekasih saja. Jujur aku gak terlalu tertarik, tapi aku ingin tahu apa isi boxnya, benda apa yang ada di dalamnya.” Jawab Yoo Ra atas pertanyaan Yeon Jin dengan nada santai yang terdengar seperti gurauan.
“Ayo kita cari, biar gak penasaran.” Yeon Jin mengucapkan itu dan meraih tangan Yoo Ra, mengisyaratkan bahwa Yeon Jin juga ingin mencari box itu dan mengetahui apa isinya. “Ayolah, aku cuman bercanda, lagipula malam-malam mau cari begituan juga mustahil.” Ucap Yoo Ra.
Mereka berdua berjalan menyusul yang lainnya, melewati rute pertama. Langit yang cerah dan bertabur bintang-bintang seraya memberikan sambutan. Berjalan hanya berdua dan berada diurutan terakhir pula, suara yang tertinggal hanya suara menggema dari jangkrik-jangkrik penghuni bukit.
Berbekal lampu senter dan juga keberanian, mereka melakukan perjalanan malam yang indah dengan menjaga satu sama lain. Yeon Jin yang bertubuh tinggi dapat dengan mudah mencuri pandang ke arah gadis di sampingnya. Sementara Yoo Ra hanya memandang lurus ke depan dan menikmati dinginnya angin malam.
Ada suara memecah keheningan “Jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer, berhubung berkelok-kelok, waktunya juga lama.” Suara Yoo Ra yang terdengar. Yeon Jin hanya mendengar dan tidak memberikan respon. Fokusnya saat ini hanya untuk menemukan box yang spesial itu, dia berharap bisa menemukan salah satunya.
Suara burung hantu yang bertengger di dahan pohon membuat suasana agak mencekam, angin juga mulai bertiup senada menuju dedaunan. “Kenapa jadi horor sih? Ya... walau aku sendiri bisa lihat hantu gentayangan, tapi saat ini beda banget.” Gumam Yoo Ra dalam hati, dengan menahan ketakutan.
“Gadis konyol, jalan di bukit malah pakai kaos oversize, gak kedinginan apa?” Yeon Jin heran dengan Yoo Ra, kemudian dia berinisiatif memberikan jaketnya untuk Yoo Ra pakai.
Seperti pria lainnya, tidak akan tahan melihat seseorang yang dicintainya merasa tidak nyaman. Jaket yang cukup hangat itu diepas dari tubuh Yeon Jin dan secara pengertian dipakaikan ke tubuh mungil Yoo Ra.
“Udaranya dingin, cewe itu rentan sakit.” Ucap Yeon Jin setelah memakaikan jaketnya ke Yoo Ra. Yoo Ra melihat jaket yang ia kenakan, dengan mengucapkan terima kasih sekaligus memberikan alasan kenapa tidak memakai jaket.
“Tadi aku gerah, jadi aku copot. Lebih enak begini.” Tanggap Yoo Ra dengan memandangi pakaiannya.
Yeon Jin tersenyum dan menarik tangan Yoo Ra dan mendekatkan diri agar tidak menjauh. Yeon Jin berpikir keras, Yoo Ra saja belum menerimanya sebagai kekasih, melakukan ini juga akan sia-sia jika gadis yang disukainya memang tidak tertarik sama sekali, “Apalagi cuman dianggap teman biasa, atau... super hero? Kacau pikiranku...” Ucap Yeon Jin dalam hati.
Genggaman kuat itu meluluhkan pip si gadis, pipi Yoo Ra memerah, dan mulai mencari-cari waktu yang tepat untuk menjawab IYA.
__ADS_1
Sudah setengah perjalanan, box itu belum ketemu juga. Terlihat di depan sana ada sebuah pos untuk beristirahat. Tempat itu sangat indah, bergaya tradisional dan disinari oleh 2 lampu dengan tiang tinggi menjulang.
Mereka beristirahat sejenak, kemudian Yoo Ra mengecek ponsel miliknya. Banyak sekali pesan yang masuk, tapi ada sebuah pesan yang sangat ditunggu oleh Yoo Ra. Isi pesannya adalah, “Nona, itu benar, dia yang berusaha mengambilnya.”.
“Pesan dari siapa? Penting ya?” Tanya Yeon Jin yang melihat Yoo Ra sangat serius membaca pesan itu. “Ah... sangat penting.” Jawab Yoo Ra. Yoo Ra mengangkat kepala dan melihat bintang-bintang, bergumam sendiri dengan suara samar, “Terima kasih sudah mengirimkan bintang istimewa untukku disini.”. “Apa?” Yeon Jin meresponnya, dan ingin bertanya apa yang barusan Yoo Ra katakan.
Yoo Ra menggeleng, “Hanya umpatan belaka. Hehehe...”.
Yeon Jin melihat ke arah atas bangunan, ada benda berkelip disana. “Itu dia...” Ucap Yeon Jin dalam hati. Dia mendekati benda itu, dan berusaha mengambilnya. Lumayan tinggi, bahkan Yeon Jin yang tinggi saja tidak bisa menjangkau benda itu. “Yeon Jin-ssi? Ada apa?”, “Barang yang membuatmu penasaran ada disini.” Yeon Jin tersenyum bahagia, karena bisa menemukan benda itu.
Yoo Ra yang duduk juga bisa melihatnya, box kecil berwarna merah dan berkelap-kelip, ia membalas senyuman itu dan menyaksikan Yeon Jin yang berusaha mengambilnya dengan cara melompat-lompat. Yoo Ra menatap pria tinggi di depannya dan perlahan mengusap jaket yang sedang ia kenakan, Yoo Ra bisa merasakan aroma tubuh Yeon Jin. “Aromanya sama, sama seperti dia memelukku.”.
“Dapat...” Kata Yeon Jin yang berhasil mengambil box itu dengan satu kali lompatan tinggi.
Yeon Jin duduk di depan gadis yang penasaran akan isi box itu, lalu membukanya untuk mengetahui isinya. “Apa ini? Gantungan kunci?” Kata Yeon Jin sedikit terkejut dengan hadiah yang dia dapat.
Yoo Ra mengambil satu kemudian menyimpannya di dalam saku dan mengucapkan, “Terima kasih.”. namun Yeon Jin merasa tidak terima dengan hadiah seperti ini, tapi dia menganggap kalau keberuntungan belum berpihak.
Yeon Jin membaca memo box itu, “Bunga mawar merah muda, artinya... hanya kau yang mengerti perasaanku.” Yeon Jin diam dan memandangi seorang yang istimewa di depannya dan berkata, “Barang yang seperti ini, rupanya ada sisi manisnya. Sudah larut malam, ayo pulang.” Ajak Yeon Jin untuk segera meninggalkan tempat ini dan kembali ke camp.
Dia beranjak terlebih dahulu, Yoo Ra masih memikirkan isi memo tersebut. “Kok masih diem, ayo jalan.” Kata Yeon Jin yang membangunkan lamunan Yoo Ra. Yeon Jin berbalik dan melanjutkan perjalanan dengan perlahan, menunggu Yoo Ra menyusul langkahnya.
Yoo Ra bangkit, ia berjalan menyusul Yeon Jin disana. “Hampir dekat.” Gumam Yoo Ra. Yoo Ra berlari dan mendekat ke lengan kiri Yeon Jin, ia dapatkan lengan Yeon Jin disana. Menatap halus dengan mengangkat kepala, menghentikan langkah kaki keduanya dan saling berpandangan.
__ADS_1
“Kenapa? Gak enak badan? Tau gitu kita diem di camp aja, coba ku periksa.” Tanya pria itu dengan membungkukkan badan, memeriksa apakah Yoo Ra sedang sakit.
Perlahan Yoo Ra meraih leher Yeon Jin dengan penuh perasaan, memberikan sebuah pelukan yang memiliki sebuah pernyataan. Yeon Jin merasakan hangatnya pelukan dan juga hembusan napas dari gadis yang memeluknya, terdengar sebuah bisikan yang sangat melegakan.
“IYA...” Kata yang terucap dari seorang gadis dingin yang bernama Yoo Ra. Bisikan itu sangat jelas, membuat Yeon Jin membenamkan kepalanya di bahu Yoo Ra, membalas pelukan itu dengan eratnya.
“Aku mohon pilihan yang kau tawarkan sebelumnya, masih berlaku.” Ucap Yoo Ra didekat telinga Yeon Jin. *** (Cek episode 39)
Yeon Jin menjawab dengan pelukan yang lebih erat lagi, dia bersyukur bahwa penantiannya tidaklah sia-sia. “Ini dia, pangeran tanpa berkudamu. Akhirnya aku mendapatkan tuan puteriku.” Kata Yeon Jin.
Perlahan Yoo Ra melepaskan pelukannya, kemudian meminta maaf. “Sebelumnya akulah yang harus menunggu, tapi... malah berbalik, kau yang harus menungguku. Maaf...” Yoo Ra mengucapkan kalimat itu dengan menundukkan kepala, sangat bersalah dan cukup rumit. Pada akhirnya ia mendapatkan suatu jawaban pasti, bahwa yang seharusnya ia pilih adalah seseorang yang selalu bersamanya.
Yeon Jin sangat paham, tidak mudah menjadi gadis yang seperti gadisnya. Tangan besar Yeon Jin mengarah ke wajah mungil Yoo Ra, mengusap perlahan dan memberikan ketenangan. Yeon Jin mendekatkan pandangannya, “Terima kasih banyak, jawaban itu aku tunggu-tunggu. Kekasihku...” Kata Yeon Jin yang tersenyum bahagia. Yoo Ra tidak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya, tersenyum penuh makna dibalik adegan ini.
---
Yeon Jin menawarkan diri untuk menggendong Yoo Ra di punggung lebarnya, seperti merayakan bahwa malam hari ini adalah waktu yang sangat berarti. Yeon Jin ingin memulainya dengan aksi seperti ini, membuktikan bahwa Yeon Jin tidak main-main.
“Langitnya cerah, sangat cerah. Aku juga mendapat hadiah yang besar. Ah... bukan bukan bukan (menggeleng). Yang benar adalah, jackpot yang premium.” Yeon Jin mengatakan ini, dan Yoo Ra tertawa mendengarnya.
“Kau kira ini lotre? Lihat bintangnya, aku bersyukur kalau salah satu bintang di atas sana sedang bersamaku, dan meminjamkan punggungnya sekarang.” Umpan balik dari Yoo Ra.
Yeon Jin tersenyum lebar, moment ini tidak akan terlupakan.
__ADS_1
Sudah terlihat gerbang area camp, Yoo Ra segera turun dan berjalan ditemani dengan pacar barunya. Tampak di gerbang ada seseorang yang sedang menunggu, bersandar di gerbang itu dengan penuh kecemasan.
“Aku mencarimu, Yoo Ra-ssi.”