
Bagaimana ini? Akankah aku hancur dalam waktu singkat? Yeon Jin sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
“Oh iya, sebenarnya ada 2 lagi yang selamat dengan luka ringan, sama-sama dari Univ. Deiji. Laki-laki dan perempuan, mereka sedang menunggu temannya yang tidak sadarkan diri.”
Ditunjukkan sebuah bilik dengan tirai yang menutupi, terlihat seorang wanita dengan rambut tergerai sebahu, duduk menemani seseorang dengan sedikit isakan tangis.
Yeon Jin menghampirinya dengan penuh harap, “Kim Yoo Ra...” Lirihnya yang memanggil.
“Yeon Jin?” wanita itu segera membalikkan tubuh dan berdiri. “Untunglah...” Yeon Jin sudah menemukannya, sudah lega semua kekhawatirannya saat ini.
Pelukan yang hangat, yang sangat diinginkan gadis itu, Yoo Ra menempatkan tangannya untuk memeluk tubuh pria itu, dengan sedikit isakan tangis.
“Kamu... tidak terluka parah kan? Tidak ada yang sakit?” Tanya Yeon Jin dan hanya dibalas dengan gelengan kepala dari Yoo Ra. Tapi, seseorang yang berada di ranjang masih belum membuka mata, tangan berlumuran darah, kepalanya juga tidak terlihat ada cedera yang serius.
Do Jae Won? Gumam Yeon Jin.
Yeon Jin berbalik melihat ke arah yang lain, memeriksa apakah tubuh kekasihnya itu terluka. Terlihat goresan kecil di leher, “Ini... berdarah, ayo kita obati dulu.” Yoo Ra menggelengkan kepala lagi, dia tidak mau sebelum Jae Won tersadar.
Perawat menyarankan Yeon Jin untuk merawat luka Yoo Ra di salah satu ruangan, apabila ada kabar mengenai Jae Won, perawat itu akan segera memberitahu mereka.
“Sudah, jangan menangis.” Yeon Jin mengusap air mata yang sudah jatuh ke pipi halus itu, dengan memberikan sedikit obat dan plester ke luka itu. Yoo Ra yang terduduk di ranjang sudah mampu mengendalikan air matanya, kini ia hanya memandang bungkus plester yang dipegang Yeon Jin.
Yoo Ra teringat kembali kejadian singkat dan membahayakan itu, Yoo Ra melihat sangat jelas bagaimana ada sebuah truk besar yang menabrak bus yang ia dan Jae Won tumpangi. Menabrak dari depan dan bus akhirnya terguling, dan ada api kecil yang menyambar dengan ganasnya.
“Kak Jae Won berusaha melindungiku dari benturan saat kita terlempar keluar, tangannya terkena banyak sekali pecahan kaca. Dia meraihku dan mendekapnya, saat aku tersadar, dia tidak membuka matanya sama sekali... Hanya saja dia berbicara dengan nada samar, kalau kepalanya sakit.” Yoo Ra tidak bisa menahan air matanya.
Yeon Jin menarik Yoo Ra kedalam pelukannya, denga mengucap syukur. “Sudahlah, dia akan sadar sebentar lagi.” Memberikan beberapa kecupan di kening gadis malang itu. Terdengar ketukan pintu, dan ada seorang perawat memberitahu bahwa Jae Won sudah sadar.
Yoo Ra mengabaikan Yeon Jin dan langsung berlari keluar untuk melihat Jae Won. Yeon Jin menundukkan kepala dan mengusap wajah dengan kedua tangannya, hatinya sangat sakit, dia takut Yoo Ra akan beralih kepada Jae Won.
---
“Senior... Bagaimana perasaanmu?”, Jae Won terbangun dan sedikit merasa pusing, ada seorang dokter disampingnya dan mengatakan bahwa Jae Won tidak apa-apa.
“Hanya gegar otak ringan, banyak istirahat dan teratur minum obat akan membantu pemulihanmu. Jangan paksakan diri untuk berpikir keras, cari udara segar juga boleh.”
__ADS_1
“Terima kasih dokter.” Ucap Yoo Ra.
Jae Won memberikan penjelasan bahwa dia baik-baik saja, tidak ada yang perlu Yoo Ra khawatirkan. Lengan kanan Jae Won terbungkus perban dengan sangat rapi, lukanya sangat panjang, untung saja tidak mengenai daerah yang vital. Jae Won seperti ini juga karena dirinya, berkat Jae Won... Yo Ra tidak terluka parah.
“Aku sudah mengirim pesan ke kak Seo Hyun (kakak Jae Won), sebentar lagi dia akan kesini setelah siftnya berakhir.” Kata Yoo Ra dengan sedikit penyesalan, perlahan sebuah tangan menggenggamya, “Terima kasih, jangan menyalahkan diri, aku hanya ingin terluka seperti ini juga untukmu. Aku senang bisa menyelamatkan seseorang.” Ucap Jae Won.
Terdengar suara berat dari pria di balik tirai, “Aku juga berterima kasih, sudah melindunginya. Yoo Ra, ayo kita pulang. Sudah malam, besok harus ke kantor.” Yeon Jin berdiri di samping Yoo Ra yang sedang duduk.
Yoo Ra mengangguk dan berpamitan kepada Jae Won, “Yoo Ra, kamu pergi dulu, sebentar lagi aku menyusul.” Yeon Jin ingin berbicara secara pribadi dengan Jae Won, saat Yoo Ra keluar, dia berbicara dengan terus terang.
“Sudah mendapat perhatiannya? Sudah puas?” ujar Yeon Jin.
“Ku kira kau akan berterima kasih padaku, heh...akan kupastikan dia menyukaiku, Yeon Jin-ssi.”
“Akan kupastikan juga kau tidak bisa berhasil.” Yeon Jin berbalik dan ingin meniggalkan ruangan itu.
“Aku yang lebih suka padanya. Memang kau berhak dengan posisi itu? Bahkan aku yang pertama kali mengenalnya?”
“Aku menyukainya, aku ingin dia aman, aku selalu dan selalu ingin berada di dekatnya. Kau tahu, aku sangat ingin dia menjauh dari kriminal sepertimu. Kau sendiri berani menyakiti orang lain, apalagi gadis rapuh seperti dia.”
“Huh... Kau terlalu banyak bicara.”
Jae Won kesal dengan perkataan Yeon Jin itu, dan akan segera membuktikan kalau Jae Won benar-benar mencintai gadis itu.
---
Setelah membersihkan badan setelah kecelakaan tadi, Yoo Ra melihat ke arah cermin, melihat luka di lehernya. Ia teringat ramalan dari biarawati yang dulu pernah ia terima, sedikit heran, mengapa aku tidak mati? Pertanyaan yang membuatnya berpikir keras. “Cepat tidur...” Ucap pria di belakangnya.
Yeon Jin menempatkan kedua tangannya di bahu Yoo Ra, “Kau sudah melewati hari yang sulit, segera tidur.”, “Tapi, aku belum mempersiapkan barang-barang untuk besok, tasku masih kosong. Sebentar lagi ya...”
Yeon Jin mengerutkan dahi, dan menuntut Yoo Ra untuk menurutinya. “Aku yang beresin, cepet tidur. Dan satu lagi... Jangan temui dia untuk sementara waktu sebelum aku mengijinkanmu. Mengerti?” Yeon Jin mendorong bahu Yoo Ra dari belakang menuju kamar Yoo Ra dan Yoo Ra mengangguk saja sebagai respon karena lelahnya, Yeon Jin kembali ke meja belajar untuk memasukkan seluruh barang yang diperlukan untuk besok. Bahkan Yeon Jin sudah mempersiapkan beberapa set pakaian formal untuknya.
Dia kembali ke kamar Yoo Ra, melihat ada seorang gadis malaikat tertidur pulas, tanpa menggunakan selimut pun bisa tidur nyenyak. Menarik ujung selimut dengan berbaring di dekatnya, Yeon Jin menatap wajah manis itu, sesekali mengusap pipin Yoo Ra dengan jari-jarinya. Sedikit meneteskan air mata, bagaimana kalau hari ini dia benar-benar kehilangan?
Yeon Jin meraih Yoo Ra, dan memeluknya dengan sebisanya untuk terlarut dalam tidur. Malam hari yang dibumbui sedikit tragedi. Untungnya Kim Yoo dan keluarganya yang lain tidak mengetahui ini, sehingga Yoo Ra pun bisa bernapas lega dan tidak membuat semua orang khawatir.
__ADS_1
-
-
-
“Selamat pagi, saya sekretaris pribadi CEO Park Yeon Jin.”, “Nona Kim? Silahkan, CEO sudah berada di ruangannya.”, “Terima Kasih.”
Point pertama, bersikap sopan dan ramah, perkenalan diri yang tepat, dan jangan lupa berterima kasih. Sudah selesai, point pertama yang harus aku lakukan. Beranjak ke point kedua, melayani bos dengan senang hati.
Suara langkah kaki menuju ruangan CEO yang berukuran super besar dengan taman mini di dalamnya. “Tuan Park, saya sekretaris baru anda, pemagang tahun ini.” Salam Yoo Ra kepada Tuan CEO, alias bosnya, alias lagi... pacarnya.
“Bajunya bagus... Seleraku benar-benar baik.” Yeon Jin mengeluarkan sebuah senyuman dari bibir tipisnya, duduk di meja dengan sedikit menggoda. Yoo Ra tidaak habis pikir apa yang Yeon Jin lakukan, bersikap seperti ini justru membuatnya terlihat buruk di hadapan staffnya nanti.
Yoo Ra memukulkan map ke Yeon Jin untuk segera turun dari meja dan berperilaku formal, “Turun...”, “Iya iya... Ngomong-ngomong... Nanti pulang kantor sekitar jam 5 sore, kadang sampai jam 8 malam. Bersedia?”
“Mm... Tentu, yang terpenting aku bisa naik jabatan nanti, hehemmm...” Senyumnya tidak tertahan dan membuat Yeon Jin tidak bisa menahan diri. Yeon Jin mulai mengarahkan Yoo Ra mengenai penyusunan jadwal, Yoo Ra harus tahu jadwal-jadwal milik Yeon Jin, entah itu pertemuan, rapat atau ada pesta.
Yoo Ra melihat sebuah post it berwarna kuning di mejanya, sepertinya dari sekretarisnya dulu. Rupanya sekretaris Yeon Jin sedang izin karena menikah, jadi Yoo Ra menggantikannya selama 2 minggu saja. Kalau dipikir-pikir... Yoo Ra hanya 2 minggu berada di Park Group, dan setelahnya dia bisa menduduki kursi direktur komersial nantinya.
Oke... Waktu yang sangat cukup, semangat Yoo Ra...
Hampir setengah hari ia duduk di kursinya dan menatap layar monitor kemudian beralih ke buku catatan miliknya, sudah jenuh dan pada akhirnya memutuskan untuk pergi membuat kopi. Secangkir minuman kopi sudah penuh di cangkirnya, menyesapnya perlahan dengan melepas kacamata yang sudah menggantung lama.
Beberapa orang masuk, mereka juga sekretaris para direktur disini, kedua orang itu menyapa Yoo Ra dengan hangat. Nona Han dan nona Kang, keduanya mulai berinteraksi dengan Yoo Ra. Bahkah nona Han sangat ramah kepadanya, “Nona Kim... Selamat bergabung ya, kamu sama sekali tidak kelihatan seperti pegawai magang.”, kemudian nona Kang menyahut “Nona Han, nona Kim ini sangat berkompeten. Aku mendengar cerita ini dan sekretaris Min, kebetulan dia juga kerabatku.”
“Terima kasih atas pujiannya, aku tidak akan lama disini, setelahnya akan segera pindah ke perusahaan pamanku.” Tutur Yoo Ra. “Nona Kim, mau bergabung saat makan siang? Sekalian untuk perkenalan. Bagaimana?”
Tawaran dari nona Kang tidak bisa ditolak, terlebih lagi hari ini adalah hari pertamanya bekerja. “Tentu saja...”
---
Makan siang tadi sungguh menyenangkan, banyak sekali yang mendukung Yoo Ra disini. Dalam sehari, Park Group lebih terasa seperti Nam Group. Bisa beradaptasi dengan singkat seperti ini ternyata menyenangkan juga.
Waktunya pulang, sudah jam 5 sore dan tidak ada jadwal tambahan. Yoo Ra segera mengemasi barangnya dan ingin segera pulang, Yeon Jin sendiri sepertinya ada urusan di gedung lain, dia juga sudah memberitahu jam 5 akan kembali. “Jam 17.12, terambat 12 menit... sesuai peraturan aku sudah diperbolehkan pulang. “ Gumamnya.
__ADS_1
Yoo Ra juga harus pergi ke rumah sakit untuk melihat Jae Won, ia juga sudah berjanji kepada Seo Hyun untuk datang menjenguk adiknya. Mobil sedang diservice, terpaksa naik bus lagi, walau tadi malam sudah mengalami hal buruh, mau tidak mau dia harus naik.
Mengembuskan napas dalam ketika bus sudah di hadapannya, perlahan naik dan menenangkan diri, “Jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa. Lupakan bus yang kemarin... oke...” Ucap dalam hatinya.