
Tenaga mereka terkuras, kini sudah tahu identitas masing-masing dan duduk di . Yoo Ra sudah tahu kalau Yeon Jin juga bukanlah manusia di kehidupan sekarang, melainkan roh kutukan yang bernasib sama seperti dirinya.
“Ternyata kita sama, bukan berasal dari kehidupan ini.” Kata Yoo Ra di depan Yeon Jin. Yeon Jin yang duduk di samping Yoo Ra spontan berdiri dan membungkuk di depan Yoo Ra. Menggenggam tangan Yoo Ra yang gemetar, perlahan mengusap memberikan ketenangan.
Dal Rae menjelaskan kembali apa yang sudah terjadi dan mengapa mereka saling terikat.
“Kalian jangan mengungkapkan identitas masing-masing, cukup tahu kalau kau Kim Yoo Ra dan Park Yeon Jin. Kalau saling membongkar identitas lama, itu akan berbahaya. Kalian ingin tinggal di ruang dan waktu yang berbeda dan bukan milik kalian, maka kalian tidak akan memiliki peluang untuk bereinkarnasi. Kalian tidak bisa tinggal untuk siapapun, akan lebih baik kalau cepat kembali ke asal dan memperbaiki sejarah serta keturunan kalian nanti.” Perkataan Dal Rae sangat masuk akal, bahkan membuat Yoo Ra tertunduk dan menyadari kalau keluarganya sedang menanti. Tak hanya keluarga, rakyatnya juga sedang membutuhkan dirinya.
(Yoo Ra)
“Identitas? Bahkan aku ingin cepat kembali.”
(Yeon Jin)
“Bagaimana dengan aku? Kau mau pergi tanpa jawaban?”
(Dal Rae)
“Aku tahu perasaan kalian, saling suka satu sama lain. Aku juga membawa kabar baik.”
(Yoo Ra)
“Bukankah ini terlalu dramatis ya? Bergentayangan, melihat hantu, terkena kutukan, berpisah dari tubuh, menyebrangi dimensi...”
(Dal Rae)
“Yoo Ra-ssi, aku mohon mengertilah... Kalian juga berasal dari kehidupan yang sama, satu dunia, di tahun yang sama. Apakah kalian tidak sadar kalau ketiga orang yang dilukisan itu adalah orang yang terkena kutukan di satu waktu?”
Yoo Ra mencoba berpikir, dan menyadari sesuatu hal yang ganjil. Ia berpikir kalau ketiga orang itu adalah penyebab kemarahan dari Dalwi Yeosin, dan mereka terkena kutukan dari amarah Dalwi Yeosin. Yoo Ra mengingat kembali waktu bertemu dengan Dalwi Yeosin, dan pada waktu di alam penentuan ada 3 sekat, yang terkena kutukan juga 3 orang. “Pasti aku, Park Yeon Jin dan juga seseorang yang samar itu. Ya benar... kita bertiga dipertemukan di alam Dalwi Yeosin saat menerima misi, jumlahnya hanya tiga orang... aku sangat yakin.” Ucap Yoo Ra dengan yakin dihadapan Yeon Jin dan Dal Rae.
(Dal Rae)
“Sudah menyadarinya?”
(Yeon Jin)
“Wah... Benar benar... aku juga berada di satu ruangan dan ada 3 sekat.”
(Yoo Ra)
“Intinya... aku dan Yeon Jin berasal dari kehidupan yang sama dan terkena kutukan bersama. Ditambah lagi seseorang yang kini kami belum tahu siapa dia?”
(Dal Rae)
“Hm... Aku tahu persis siapa dia, tapi aku tidak boleh memberitahu kalian, karena ini semua sudah direncanakan dengan atasanku. Semuanya akan mengalir dan terbongkar satu persatu seiring berjalannya waktu.”
__ADS_1
(Yoo Ra)
“Syukurlah, yang terpenting... kami sudah tahu siapa yang berada dibalik lukisan misterius milikmu.”
(Dal Rae)
“Kalian memaksa, tapi jangan tenang dulu. Di lukisan itu ada 3 orang, dan kau di tengah mereka. Rencana yang Maha Kuasa sangat menarik, kalian akan terjebak cinta segitiga.”
(Yoo Ra)
“Ckckck... Apakah kehidupan juga termasuk komik roman?”
(Yeon Jin)
“Aku merasa ini tidak masuk akal, tapi... kalau dipikir-pikir aku memiliki saingan.”
(Dal Rae)
“Ini bukan fiksi, bahkan sampai kau kembali... cerita cinta segitiga ini akan berlanjut. Kalau kalian bertemu sih...”
(Yeon Jin)
“Pasti, pasti aku akan menemukan Yoo Ra bahkan saat kembali pun.”
Dal Rae sudah menyerah untuk menjelaskan ini kepada mereka berdua, dan meminta mereka untuk pulang ke rumah. Menariknya, saat ini kisah sudah dimulai, perjalanan penuh drama sudah memasuki fase-fase konflik. Antara Yoo Ra dan Yeon Jin memiliki pembatas, disisi lain ada Do Jae Won, dan pembatas itu bertambah lagi, yakni identitas.
Sangat sadis memang, tapi bagaimana lagi, ini sudah menjadi hukum alam yang sudah diterapkan Dalwi Yeosin.
***
Di kastil biru, Pureun Seong. Terjadi keanehan yang membuat geger seisi kastil, lonceng angin yang berada di beranda tiba-tiba berbunyi mengalunkan melodi. Melodi menenangkan dan menyenangkan, pertanda ada rahasia yang sudah terungkap.
Emma, alias Moon Ae Ri mendapat pesan dari sang angin. Pesan tersebut adalah gambaran peristiwa yang terjadi di toko bunga Dal Rae (kejadian tentang lukisan). Mengetahui ini, Emma dan para josunim (asisten) terkejut bukan main, kalau ketiga orang itu akan segera dipertemukan dan akan membawa keberuntungan besar bagi kastil ini.
Keberuntungan yang dimaksud adalah invetasi, sebagian besar harta dari kastil ini adalah kristal-kristal yang menjadi buah dari pohon ceri di taman Pureun Seong, ukurannya sebesar buah ceri, berwarna merah. Pohon ceri yang berbuah kristal? Aneh sekali, tapi ini kenyataan.
Panen akan berlimpah jika ketiga orang ini bisa bertemu, sebuah keberuntungan bagi Pureun Seong dan akan menjadi keburukan bagi tiga orang itu. Ketiga orang itu memiliki berkah dari dewa, karena terkena kutukan diwaktu yang bersama.
“Kita hanya menunggu, cepat atau lambat... ketiga orang ini akan berkumpul, dan pertandanya adalah pohon ceri Pureun Seong akan berbuah dan berjatuhan bagaikan hujan deras. Ini sangat menguntungkan bagi kita, tapi... mungkin tidak dengan mereka bertiga.” Ucap Emma kepada para asistennya dan berjalan menuju taman.
Emma menyadari, takdir mereka sangat rumit. Bukan di dimensi ini saja, di kehidupan asal mereka juga akan terjadi pertikaian antara kedua belah pihak, hanya demi satu wanita.
---
Kondisi Kim Jae yang menjalani proses menjadi goblin sudah hampir selesai. Tidak ada kendala sama sekali, tidak kesakitan dan tidak tersiksa.
__ADS_1
Terbangun dari tidur, Kim Jae mebangkitkan diri dan ingin segera pulang. Emma yang mengetahui tingkah Kim Jae yang terburu-buru langsung menahannya.
“Apa kau sudah gila?! Kau baru saja bangun, mau pulan dengan kondisi seperti ini sangat berbahaya. Kim Jae... Kenapa kau terlihat khawatir?” Kata Emma dengan memapah Kim Jae menuju sofa untuk mengistirahatkannya.
Kim Jae yang banjir keringat di musim dingin, membuat Emma khawatir. Walaupun menjadi roh abadi, tapi Kim Jae juga masih bisa terluka kalau memaksa pergi dengan kondisi pasca proses itu.
Kim Jae terengah-engah, mengusap dada dibagian jantung, “Aku harus menemui Yoo Ra...” Ucap Kim Jae penuh khawatir.
Emma berteriak, “Yoo Ra baik-baik saja. Istirahat dulu dan besok pagi baru boleh pulang.”. Kim Jae menangis, entah apa sebabnya, Emma melihat Kim Jae penuh rasa ingin tahu. Dan Kim Jae berkata kalau dia melihat masa depan, sebuah film yang samar-samar dan berkaitan dengan Yoo Ra.
“Aku tidak akan membiarkannya mati dengan cara itu, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Kim Jae berkata dengan pasti, kemudian menceritakan mimpi yang sudah dia terima kepada Emma.
Dilihatnya Yoo Ra tertabrak mobil, dan kematian itu akan memisahkannya. Emma curiga, kalau Kim Jae jatuh cinta. Namun pikirannya segera dihapus, karena tidak mungkin bisa seorang kakak akan jatuh hati kepada adiknya sendiri.
---
Di tengah malam, kedinginan mulai menyapa. Apartemen yang hangat pun masih terasa kedinginannya. Yoo Ra yang duduk di dekat jendela dengan meminum secangkir cokelat panas yang tadi ia beli dengan Yeon Jin.
Di apartemennya sedang kedatangan tamu, Yeon Jin tidak ingin pulang dan ingin berada di apartemen Yoo Ra untuk mengusir kesepian. “Boleh aku menginap disini?” Tanya Yeon Jin.
Yoo Ra memasang wajah penuh khawatir, dan memikirkan hal-hal negatif. Seperti melayang, kalau pria dan wanita berada di satu rumah, berarti...
Yoo Ra mengehentikan pikiran konyolnya dan berdalih kalau ia ingin sendiri.
(Yoo Ra)
“Aku ingin mencegah hal buruk, dan aku ingin sendiri. Bisakah seonbae pulang?”
(Yeon Jin)
“Tidak mau... aku tak akan menganggu kok, kalau di rumah terlalu dingin, enak disini.”
(Yoo Ra)
“Di apartemenmu juga ada pemanas, tinggal dihidupin langsung hangat.”
(Yeon Jin)
“Tidak mau!!! Boleh ya...”
Yeon Jin memohon kepada Yoo Ra, kali ini Yeon Jin seperti tidak bisa lepas dan berpisah dari gadis muda itu. Yeon Jin sangat ingin di dekatnya, bahkan rasa posesifnya sudah mulai meningkat. Rencana untuk membuat Yoo Ra berlari ke arahnya sudah semakin liar. Yeon Jin mendekatkan diri ke arah Yoo Ra dan terdapat dua wajah yang hampir berhimpitan.
Yoo Ra yang duduk di jendela dengan punggung bersandar di kaca, merapatkan kaki mencegah kedinginan. Segelas cokelat panas berada di sampingnya, beserta seorang pria yang kini berada di hadapannya.
Yeon Jin semakin dekat, berada di depan Yoo Ra dengan lengan mengunci Yoo Ra. Tangan menyentuh kayu jendela yang tengah di duduki Yoo Ra, seolah mendekap tubuh kecil itu. Membungkuk untuk mendekatkan tatapan. Yeon Jin berusaha memenangkan Yoo Ra, dan Yoo Ra terdiam dan merasakan kalau jantungnya berdetak dengan hebat.
__ADS_1
“Aku ingin waktu terhenti, dan kamu yang berada di depanku selalu memperhatikan orang yang di depanmu ini.” Yeon Jin melontarkan kata-kata itu, dan Yoo Ra mendapati dirinya yang sedang butuh dukungan. Pria yang tulus dihadapannya, tidak mampu ia tolak, namun hatinya masih belum siap menerima pria baik itu.
“Aku belum siap, dan aku harus memilih diantara kedua orang.” Jawab Yoo Ra menyambung kalimat Yeon Jin.