Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 44


__ADS_3

Menyodorkan sekaleng minuman dan duduk berdekatan, seperti PDKT yang penuh kecanggungan. Pemuda itu tersenyum ramah dan Yoo Ra menyambutnya dengan senyum ramah juga.


(Yoo Ra)


“Ada apa ya?”


(Pemuda)


“Boleh aku minta nomor ponselmu?”


(Yoo Ra)


“Nomor ponsel? Untuk apa?”


(Pemuda)


“Kurasa... Ehemmm... Aku tertarik denganmu .”


(Yoo Ra)


“Tertarik denganku?”


(Pemuda)


“Aku tadi melihat nona duduk sendirian, dan nona sangat cantik. Aku mungkin lebih muda, tapi itu...”


Yeon Jin datang dengan memasang wajah garang, seperti ada seseorang yang mau merebut pacarnya. “Permisi, bisakah kau menyingkir darinya?!” Ucap Yeon Jin dengan nada halus namun menggertak.


(Pemuda)


“ Anda siapa?”


(Yeon Jin)


“Aku katakan sekali lagi padamu, bocah. Menyingkir darinya.”


Yoo Ra tertawa geli melihat Yeon Jin yang begitu marah pada pemuda itu. Pemuda itu masih menggunakan seragam sekolah (SMA).


(Yoo Ra)


“Hentikan .”


(Yeon Jin)


“Apa dia menganggumu? Katakan! Dasar bocah, masih SMA udah berani goda cewek.”


(Pemuda)


“ Sebentar lagi aku akan lulus. Dan nona ini juga tidak punya pacar, apa masalahmu?”


(Yeon Jin)


“Tentu ini masalahku. Kau menggoda pacarku.”


(Pemuda)


“Pa... pacar? Jadi kalian ini pacaran?”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Yup... Dia adalah pacarku .”


(Yeon Jin)


“Sudah dengar kan? Pergilah.”


(Pemuda)


“Maaf, maaf, maaf... Kalau begitu, saya permisi dulu.”


(Yeon Jin)


“Bawa minuman kalengmu itu, menggoda cewek dengan cara receh seperti itu sudah tidak jaman.”


Pemuda itu segera pergi meninggalkan Yoo Ra dan Yeon Jin. Entah kenapa Yeon Jin mulai nampak emosional saat tahu Yoo Ra digoda oleh pemuda yang lebih muda. “Apa dia sudah tergoda ya?” gumam Yeon Jin dalam hati dengan melirik Yoo Ra.


(Yoo Ra)


“Ahahahahaha...”


(Yeon Jin)


“Ke...Kenapa tertawa?”


(Yoo Ra)


“Seonbae bertengkar dengan bocah SMA sungguh sangat lucu. Perutku jadi sakit, hahaha...”


Yoo Ra tertawa terbahak-bahak di depan Yeon Jin. Yeon Jin mulai membalas tertawaan Yoo Ra dengan perkataan Yoo Ra yang mengakuinya sebagai pacar.


(Yeon Jin)


(Yoo Ra)


“Apaan? Tadi aku cuman antisipasi doang, kalau ada senjata ya harus dimanfaatkan dong. Seonbae juga yang berkata dulu kalau aku pacarmu. Jadi anggap saja kita impas .”


(Yeon Jin)


“Benar begitu? Kau beneran ingin jadi pacarku ya?”


(Yoo Ra)


“Imajinasimu tinggi sekali ya . Lain kali jangan berkata sembarangan.”


(Yeon Jin)


“Ehem... bagaimana kalau kita ubah itu jadi kenyataan?”


(Yoo Ra)


“Haduh... tambah hari tambah parah. Sudahlah, ini juga sudah malam. Ayo kita pulang.”


Yoo Ra segera berdiri dan minum sambil berjalan menjauhi Yeon Jin. Yeon Jin yang masih duduk mulai tersenyum gemas melihat tingkah Yoo Ra yang begitu dingin dan lucu.


---

__ADS_1


Sudah sampai di depan rumah Yoo Ra, Yoo Ra mengambil uang yang untuk mengembalikan biaya belanja tadi kepada Yeon Jin. Yeon Jin yang menunggu di mobil melihat sesuatu yang berkilau di jendela kamar Yoo Ra. Yoo Ra turun dan segera memberikan uang itu dan mengucapkan terima kasih.


(Yeon Jin)


“Lain kali kalau butuh bantuan, telepon aku ya.”


(Yoo Ra)


“Iya, terima kasih seonbaenim.”


(Yeon Jin)


“Ngomong-ngomong, kamarmu ada di lantai 2? Dan jendela itu jendela kamarmu?”


(Yoo Ra)


“Benar. Ada apa?”


(Yeon Jin)


“Tidak ada apa-apa, cuman tadi ada sesuatu yang berkilau.”


(Yoo Ra)


“Pasti saat aku menyalakan lampu.”


Yeon Jin pulang setelah mengantar Yoo Ra, tak jauh dari rumah Yoo Ra, laci mobil Yeon Jin berbunyi. “Tak...Tak...Tak...” seperti kelereng yang dikocok di dalam botol. Yeon Jin segera memeriksanya, ternyata cincin miliknya bergerak-gerak dan mengeluarkan cahaya dan berkilau terang. “Kok berkilau?” tanya Yeon Jin yang mendapati cincin miliknya yang mulai aneh.


“Sekarang bukan purnama, kenapa Dal Banji ini bereaksi? Di jendela kamar Yoo Ra juga ada kilauan yang sama persis.” Keanehan mulai muncul, Yeon Jin memakai dal banji miliknya supaya tidak berperilaku aneh. Segera pulang dan melupakan kejadian aneh ini.


---


Yoo Ra berlari dan mengecek apakah liontinya bercahaya, dan Yeon Jin sudah mengetahuinya. Yoo Ra menempatkan liontin itu di dekat jendela, dan mengeluarkan cahaya yang mulai meredup. Dal banji miliknya tidak bergerak kemanapun, dan masih di tempat. Ia keheranan melihat liontinnya bereaksi seperti ini. “Apa yang membuat liontin ini berkilau? Dulu cincinku yang ditarik, sekarang apa lagi?” Tanya Yoo Ra yang kebingungan.


Liontin ini hanya bercahaya, dan untungnya tidak menarik benda asing. Yoo Ra mencari buku kuno yang diberikan oleh Kim Yoo dulu, siapa tahu ada informasi tersembunyi lainnya yang berkaitan dengan liontin mawar putihnya.


Sudah dicari-cari dan dibaca hampir seluruh halaman buku, tapi tetap saja tidak ketemu dan hanya membahas Pureun Seong saja. Jadi... sia-sia dia membaca hampir seluruh halaman buku. Ditutup buku itu dan mulai berpikir keras, dengan menatap lonceng angin yang dibelinya saat wisata ke pulau Jeju kemarin.


Terbesit memikirkan Jae Won, sepertinya hubungan mereka berdua sudah terasa jauh, bahkan sejak kejadian itu Jae Won sama sekali tidak menghubungi Yoo Ra. Melihat ponsel yang hanya ada gambar wallpaper tanpa notifikasi. Sendirian di rumah, Yoo Ra kembali mengingat kehidupan lampaunya. Berpikir jernih, tapi terlalu keruh dengan masalah saat ini. Disini bukan tempat asalnya, bahkan ia adalah manusia yang berabad-abad jauhnya.


“Aku sudah menemukan sedikit kebahagiaan disini, bolehkah aku egois? Aku masih belum ingin kembali.” Inilah pikiran Yoo Ra, mengambil selembar kertas dan menuliskan “Ayah, Ibu, Kakak... bolehkah aku egois sedikit?”


Masih tak ingin kembali, karena keberadaan Yeon Jin membuatnya nyaman. Sejak Yeon Jin mengungkapkan keinginan untuk mengejarnya, Yoo Ra malah berharap kalau Yeon Jin bisa mendapatkannya. Kini ia ingin membuka hati, dan ingin mencari kekasih disini. Tapi kalau ingin tinggal di kehidupan sekarang, sepertinya mustahil. Rohnya tidak akan bisa bereinkarnasi lagi, dan akan menerima hukuman yang pedih di keabadian nanti. Bisa dikatakan kalau ini adalah kutukan dari sang pencipta.


***


Aroma khas musim gugur, menggunakan parfum beraroma botani yang segar. Aroma dari campuran bunga oranye dan tuberoses, mawar bulgaria dan bunga iris, penambahan aroma kayu cendana serta campuran bubuk vanila dan cedar, aroma kuat untuk musim gugur.


“Musim ini sangat indah, tapi ini sangat singkat, kemudian musim dingin. Tak terasa purnama biru hampir terjadi, apapun itu yang terpenting aku harus membuat keputusan yang tepat.” Semangat membara saat pagi hari, keluar dan mencari udara sejuk. Berjalan menyusuri trotoar yang penuh dengan daun-daun kering berjatuhan.


Berpapasan dengan manusia, dan juga... ya, yang seperti Yoo Ra mampu... “Hantu”, lebih tepatnya “Roh” yang jalan-jalan. Membiasakan diri dan menyadari kalau hidup antara manusia dan hantu itu berdampingan, terima saja walau ada ketakutan.


Duduk di bangku panjang dan menikmati banana milk (binggrae 빙그레), hembusan angin yang cukup dingin mulai terasa. Ada seorang wanita yang mengendarai sepeda dan berhenti tepat di depannya, wanita itu adalah Yi Jo josunim.


Yi Jo tidak sengaja lewat dan melihat Yoo Ra yang duduk sendirian, dan dia menghampiri Yoo Ra untuk mengobrol. Akhir-akhir ini Yoo Ra jarang mengunjungi Pureun Seong, bahkan Yi Jo sudah merindukannya. Para pengurus Pureun Seong lainnya juga ingin Yoo Ra berkunjung lagi,


“Saat kamu datang, suasana di kastil sangat hangat. Jarang-jarang ada orang asing yang bisa sedekat ini dengan kami. Yoo Ra-ssi, selama ini kau kemana saja dan jarang mengunjungi kami.” Kalimat yang keluar dari wanita itu sangat hangat, dan seolah menyambut perasaan Yoo Ra yang sedang berkabut.

__ADS_1


“Sebentar lagi kita akan menyambut purnama biru, dan cukup sibuk. Aku harap, kamu bisa membuat keputusan yang tepat. Karena kami masih ingin bersamamu, lebih lama lagi.” - Kwak Yi Jo


__ADS_2