Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 19


__ADS_3

Ini sudah malam, suasana cukup membuat orang merinding. Desiran angin yang dingin dan gelapnya malam, Yoo Ra nekat datang ke tempat itu demi ingin melihat Pureun Seong yang akan menjadi transportasi menuju ke kehidupan aslinya.


Ada suara yang mengejutkan Yoo Ra saat ini.


“Ada yang bisa aku bantu? Agassi?” Suara itu berasal di dekatnya.


Yoo Ra bingung dan langsung menengok ke berbagai arah. Posisinya yang saat ini masih belum bisa masuk ke dalam, Yoo Ra menengok-nengok dari luar gerbang dan mencari orang yang berkata demikian.


“Agassi...” Suara wanita itu terdengar jelas dan langsung muncul dihadapan Yoo Ra.


“Auh...Kamjagiya.” Ucap Yoo Ra karena terkejut.


“Agassi sedang apa?” Wanita itu bertanya dengan suara lirih.


Saat ini Yoo Ra makin gugup dan keluarlah keringat dinginnya, wanita itu sedang memegang bunga peony merah dan wajahnya sudah rusak. Peristiwa ini sungguh membuat Yoo Ra hampir merasa lemas.


“Ahjumma mau masuk?” tanya Yoo Ra dengan rasa takut.


“Iya, agassi tidak masuk?Kenapa?” Wanita itu seperti penasaran dengan keberadaan Yoo Ra.


“Sa...Saya mau masuk, tapi silahkan ahjumma yang masuk dulu.” Yoo Ra mempersilahkan wanita itu untuk masuk terlebih dahulu.


Gerbang itu terbuka dan wanita itu langsung masuk kedalam area itu, Yoo Ra yang berniat untuk masuk langsung mengikuti wanita itu dan ikut masuk kedalamnya. Hanya beberapa langkah ia memasuki area itu, tiba-tiba tubuhnya melayang dan bergerak mundur menuju keluar gerbang. Gerbang itu tertutup kembali.


Saat ini Yoo Ra duduk di rerumputan dan masih terkejut karena hal ini. Yoo Ra pun berpikir kalau ia masih tidak diizinkan untuk masuk, dan saatnya Yoo Ra menggunakan giok biru miliknya.


Ia mencari-cari lubang yang berbentuk bulan sabit untuk memasukkan giok miliknya. Sudah dicari-cari namun tak kunjung ketemu, tiba-tiba Yoo Ra teringat sesuatu. Saat itu Kim Yoo memberikan buku kuno itu untuk mencari koordinat dari kastil, dan Yoo Ra membuka buku itu untuk menemukan petunjuk.


Petunjuk itu sudah ditemukan, lubangnya ada di tengah-tengah gerbang.


Yoo Ra semakin bingung karena tidak ada lubang di tengah-tengah gerbang, ia mencari-cari lagi. Saat ini Yoo Ra hanya memakai instingnya, ia mundur sejauh 10 meter dari gerbang yang ada piringan logamnya. Sebelumnya ia melihat ada piringan logam yang tertanam di depan gerbang, dan ia langsung berdiri di piringan logam itu. Yoo Ra mengarakan gioknya ke arah lubang itu, namun masih tidak terjadi apa-apa. Ia memejamkan mata, lalu mendapatkan gambaran formasi membentuk hexagonal. Yoo Ra langsung mencobanya dengan menggerakkan giok yang ia pegang dan melukis bentuk hexagon tersebut di udara.


Benar saja, cara itu berhasil menunjukkan lubang giok birunya. Ada sebuah kotak yang tiba-tiba muncul di tengah gerbang, kotak itu sangat bercahya dan terbuka. Di dalam kotak itu ada sebuah lubang yang berbentuk bulan sabit, itulah lubang kuncinya.


Yoo Ra segera menuju ke gerbang itu, dan meletakkan gioknya tepat di lubang. Gerbangnya mulai terbuka, Yoo Ra terkejut karena hal itu. Pada akhirnya, Pureun Seong bisa ia lihat. Betapa megahnya tempat ini, istana yang berkilau dan beratapkan kristal bening yang memantulkan cahaya malam.


Yoo Ra masuk ke dalam gerbang dan masih tidak percaya akan hal yang dilihatnya saat ini, ini seperti di dunia dongeng. Yoo Ra pun masuk kedalam kastil itu, dan pintu kastil otomatis terbuka dengan sendirinya. Di dekat pintu ada lantai terbuat dari kaca, dan saat Yoo Ra menginjaknya lonceng angin yang menggantung di atap tiba-tiba bergerak dan berbunyi. Disini sepertinya tidak ada penyambutan bagi orang yang masuk kedalam kastil, ia melihat-lihat ruangan yang sangat luas dan bernuansa khas Eropa dengan dekorasi vintage.


Ada suara ribut di lantai 2, seperti suara orang berlari menuju ke bawah.


Wanita 1 : “Kenapa kau tidak berjaga di pintu utama. Bodoh!”


Pria 1 :“Hei sajangnim, bisakah kau pelan sedikit kalau memukul? Disana sepi, sementara di pintu arwah sangat ramai, banyak yang mengantri.”


Wanita 2 : “Tadi aku juga berjaga di pintu arwah, di pintu utama jarang ada tamu.”


Pria 2 : “Sebentar aku akan merapikan jubahku dulu.”


Pria 3 : “Hyeong, apa perlu malaikat maut butuh jubah?”


Pria 2 : “Kalau begini aku akan tampan.”


Wanita 2 : “Kalau kau memakainya, orang yang datang akan lebih takut.”


Pria 4 : “Cepat ayo kita turun, loncengnya sudah tidak berbunyi.”


Yoo Ra mendengar percakapan mereka, dan mendengar kalimat “malaikat maut”.


“Auh... tempat apa ini, ada malaikat maut segala (ketakutan). Yoo Ra, kau harus berani.” Gumam Yoo Ra.


Yoo Ra hendak berbalik menuju pintu untuk pulang karena tempat ini sangat menakutkan baginya. Ia menginjak lantai kaca itu dan loncengnya berbunyi lagi. Sebelum Yoo Ra menggapai gagang pintu tiba-tiba...


“Jangan...” Suara 6 orang dari tangga dan menjulurkan tangan untuk mencegah Yoo Ra pergi.


“Hah...” Yoo Ra terkejut dan berpose kaku dengan menoleh ke arah 6 orang itu sambil memegang gagang pintu.


Brak...brak...brak... mereka berenam langsung turun dan membungkuk memberi salam ke Yoo Ra.


“Selamat datang, maaf sudah menunggu lama. Kami mohon anda jangan pergi.” Suara wanita itu menghentikan Yoo Ra.


Yoo Ra segera membalikkan badan dan meringis, Yoo Ra berjalan perlahan menghampiri mereka.


(Yoo Ra)


“Maaf, aku sebenarnya juga terburu-buru.”


“Maafkan kami, kami tidak menyambut anda. Anda memasuki pintu yang khusus, dan di pintu ini juga jarang yang masuk lewat sana. Hehehe... maafkan kami ya (memegang tangan Yoo Ra). Perkenalkan aku pemilik tempat ini, panggil saja aku Emma.”


(Yoo Ra)


“Emma sajangnim?”


(Emma)


“Aha... iya (mengangguk ramah).”


(Yoo Ra)


“Sajangnim, aku disini untuk mencari portalnya. Kau tahu?”

__ADS_1


(Emma)


“Omo... jangan-jangan kau... Ah, Dal Rae sudah menceritakan semuanya. Ayo ke ruanganku, akan aku beritahu semuanya.”


Emma mengajak Yoo Ra ke ruangannya dan memberitahu tentang kastil ini, sekaligus kapan terbukanya portal bulan yang akan mengirimnya kembali ke asalnya. Sama dengan Kim Yoo, Emma juga berkata kalau portalnya akan terbuka 7 bulan lagi.


Yoo Ra juga sudah mengerti tentang misteri ini. Ini sudah hampir tengah malam, waktunya Yoo Ra untuk segera pulang.


(Yoo Ra)


“Sajangnim, aku harus pulang. Paman dan kakakku sudah menunggu di rumah.”


(Emma)


“Siapa mereka?”


(Yoo Ra)


“Pamanku bernama Kim Yoo, dan kakakku bernama Kim Jae Rim.”


(Emma)


“Kim Jae Rim? Wah... kenapa kau harus di tempatkan dengannya. Auh... dasar bocah brengsek.”


(Yoo Ra)


“Ahaha... Sepertinya banyak yang kesal dengan kakakku itu.”


(Emma)


“Terakhir kali dia kesini, dia tidur-tiduran di ruanganku. Aku mengenalnya sejak ia masih kecil, dan aku sangat tahu bagaimana konyolnya dia (tertawa).”


(Yoo Ra)


“Begitu ya, kenangan manis (senyum). Aku pulang dulu ya.”


(Emma)


“Iya, aku tidak bisa mengantarmu ke bawah. Aku harus mengecek peti mati.”


(Yoo Ra)


“Baiklah, sampai jumpa.”


Yoo Ra turun ke bawah, berjalan menuruni anak tangga yang berkilau satu per satu. Tak disangka, para asisten Emma menunggu Yoo Ra untuk menyapanya.


“Salam nona Yoo Ra...” Suara 3 orang asisten yang berpakaian serba rapi menyambut Yoo Ra.


“Nona, namaku Kwak Yi Jo. Anda bisa memangilku dengan panggilan Yi Jo josunim. Dan ini kembaranku, namanya Kwak Yan Jo (JK: Laki-laki).”


(Seo Hun)-Asisten Emma, JK: Laki-laki, Pria paruh baya.


“Kau bisa memanggilku Seo Hun josunim. Aku lebih tua dari mereka, kalau kau mau kau bisa memanggilku dengan panggilan harabeoji (bercanda).”


(Yoo Ra)


“Hai semua, terima kasih sambutanya. Aku harap kita akan lebih dekat nantinya, aku juga akan sering-sering kesini. Untuk Yi Jo dan Yan Jo josunim, sepertinya kalian seumuran denganku ya. Lain kali jangan terlalu formal ya. Dan untuk Seo Hun josunim, kau belum setua itu untuk dipanggil dengan panggilan harabeoji (tertawa).”


(Yan Jo)


“Aigo... Seo Hun josunim, bersyukurlah karena kau masih dipuji karena belum tua. Hahaha...”


(Seo Hun)


“Diamlah, kau selalu mengejekku.”


(Yi Jo)


“Nona, mau pulang sekarang?”


(Yoo Ra)


“Iya, ini sudah malam. Sampai jumpa.”


(Yi Jo)


“Sampai jumpa, hati-hati di jalan (melambai).”


Yoo Ra segera pergi meninggalkan Pureun Seong.


(Seo Hun)


“Sungguh wanita yang cantik.”


(Yi Jo)


“Iya, kau benar. Sungguh aku iri padanya.”


(Yan Jo)

__ADS_1


“Dia sekarang menjadi adiknya Kim Jae. Mereka tinggal satu rumah dengan Kim Yoo ahjussi.”


(Yi Jo)


“Benarkah? Wah... Kim Yoo sangat terkenal, dan Kim Jae juga gak kalah populer. Coba lihat (mengeluarkan ponsel, dan mereka bertiga bergerombol), ini majalah yang minggu kemarin, covernya aja terpampang wajah Kim Jae yang tampan.”


(Yan Jo)


“Ditambah lagi dia punya adik yang cantik, bagaimana lagi nasib keluarga mereka, pasti menjadi perbincangan hangat.”


(Seo Hun)


“Apakah mereka bakal terkenal?”


Yi Jo dan Yan Jo menoleh secara bersamaan ke arah Seo Hun.


(Yi Jo & Yan Jo)


“Pastinya!”


(Seo Hun)


“Nah nah... aku tahu kalau aku tidak terlalu mengenal masalah beginian, kondisikan ekspresi kalian. Astaga... anak muda zaman sekarang (pergi meninggalkan mereka berdua).”


(Yan Jo)


“Seo Hun josunim selalu begitu, ah... lanjutkan noona (melihat ponsel).”


(Yi Jo)


“Jadi, Yoo Ra itu dapat kesempatan besar dong.”


(Yan Jo)


“Dan juga, keluarga mereka jadi keluarga tajir nih. Selebriti aja juga bisa kalah sama mereka, aku dengar gaya hidup mereka juga sangat glamour.”


(Yi Jo)


“Tahu darimana?”


(Yan Jo)


“Kim Jae kan bagian dari kita, aku juga akrab banget sama dia. Aku pernah ke rumahnya kok, beneran orang kaya dan ngetop banget.”


(Yi Jo)


“Daebak... “


(Emma)


“Hei kembar, gak usah gosip melulu.”


(Yi Jo & Yan Jo)


“Sajangnim...”


(Yi Jo)


“Aku segera ke gudang, sajangnim.”


(Emma)


"Yan Jo, pergi ke gudang peti mati."


(Yan Jo)


"Baik!!!"


---


Yoo Ra sudah sampai di rumah, dan segera masuk ke dalam. Tapi, ada suara laki-laki yang mengejutkannya.


“Yoo Ra agassi, tunggu sebentar.” Suara laki-laki itu.


(Yoo Ra)


“Kalian siapa? Ada perlu apa ya?”


Yoo Ra agak heran, ternyata di depan rumahnya ada 2 orang laki-laki berpakaian serba hitam dengan memakai cape.


(Yoo Ra)


“Kalian vampir ya?” Ucap Yoo Ra tanpa ragu dan sangat tenang.


“Nona ini suka bercanda, kita berdua adalah malaikat maut. Jeoseung-saja.”


(Yoo Ra)


“Jeoseung-saja?”

__ADS_1


***


Sajangnim (사장님) : Bos


__ADS_2