
Yoo Ra terdiam tanpa menjawab, bisa jadi dia mengincar benda yang ada bersamanya. Terdengar bisikan, maukah Yoo Ra memberikan barang itu padanya.
Sampai kapanpun Yoo Ra tak akan memberikan benda itu. Sebab Yoo Ra sendiri belum tahu apa fungsi benda itu.
Tak puas dengan reaksi Yoo Ra, pria itu harus menggunakan cara lain.
Pria itu mendekati wajah Yoo Ra dan menanyakan apakah dia boleh berteriak sesuatu? Alis Yoo Ra mengernyit dan menodongkan belatinya.
Pria itu mundur dan menuju jendela, lalu berteriak,
“Hei kalian, waha... ada seorang gadis yang saat ini dalam genggamanku, kalian mengenalinya? Hoho... Sayang sekali dia menggunakan cadar, sstt... saatnya pertunjukan yang menarik, (sambil berbisik) benarkan GONGJU-MAMA kesatria bunga kerajaan Jangmi?!”
Yoo Ra dengan cepat mengayunkan belatinya, namun kesempatannya kali ini telah hilang dan dirinya sudah dilumpuhkan.
Adu senjata seketika berhenti, menatap ke atap kedai teh itu. Rupanya Yoo Ra telah dibawa ke atap dengan belati diarahkan ke lehernya, seakan pemimpin serikat mafia itu akan memutus nadi di lehernya. Berdarah sedikit karena sayatan kecil di leher, namun tak sakit karena dikalahkan oleh pemandangan puluhan mayat rakyat Jangmi yang bergeletak di tanah penuh darah.
Yoo Ra hanya terdiam bungkam, berdiri di atap sambil melihat bulan purnama yang bersiap menghilang karena gerhana. Sebentar lagi gerhana, moment yang pas untuk pengorbanannya demi rakyat Jangmi. Dewa bulan yang Agung hanya tersipu memandang tetesan air mata seorang gadis malang dengan takdir yang gadis itu miliki.
Ya... sosok tuan putri gigih akan menjadi sejarah sebentar lagi, tuan putri lajang yang akan mati dengan penyamaran.
“Yoo Ra!!!!!” teriak Yang Mulia Raja Lee Yoo Jae dengan lemas, melihat putrinya telah berada ditangan penjahat.
Ha Baek bergumam, “Yoo Ra? Jadi dia, huh... calon istriku dan juga kunci semua asetku berada di tangannya, takkan kubiarkan dia mati dulu, dia harus menjadi permaisuriku dulu baru dia harus mati,” itulah yang berada di benak Ha Baek, sosok raja muda nan agung haus kekuasaan demi rakyat Molan.
Bulan mulai menghitam perlahan, memancarkan aura dewa dengan energi yang kuat. Dia bukan dewa, tetapi sosok dewi. Perawakan wanita paruh baya dengan kilauan cahaya emas nampak jelas di tengah-tengah bulan yang di lihat Yoo Ra, dia adalah Dalwi Yeosin¹.
Sementara itu,
__ADS_1
“Lihat dia, calon suamimu berada di bawah. Sepertinya cukup tampan, dan proporsi tubuhnya sangat bagus. Ternyata benar, rambutnya bergradasi putih. Ah sayang sekali sebentar lagi dia akan gagal menikah kan?” ucap pria itu.
Yoo Ra berusaha melihat ke bawah untuk melihat wajah Ha Baek yang akan menjadi suaminya kelak, namun ia tak sanggup melihat ke bawah. Apabila ia melihat ke bawah, ia harus tersiksa melihat mayat dari rakyatnya. Yoo Ra hanya bisa memejamkan mata sembari bersiap menuju ajalnya.
“Terserah apa katamu, aku hanya tawanan. Kau mau membunuhku sekarang? Silahkan saja, aku bersedia! Semua dendammu akan terbalas kan? Coba saja, dan setelahnya aku akan menghantuimu,” ucapnya penuh amarah dan keputusasaan, namun dia juga bahagia karena tidak perlu menikahi orang yang tak pernah ia kenal sebelumnya dan hanya demi tujuan politik.
"Astaga... benar-benar gadis yang keras kepala," pria itu masih saja mengejek Yoo Ra.
Di seberang sana terlihat ada sosok berpakaian serba hitam dengan busur panah yang akan diarahkan ke Yoo Ra. Akankah kali ini dia mati dengan mengenaskan?
“Bersiaplah, akan kuberitahu namaku agar kau mampu balas dendam jika kau masih hidup. Ya... kupastikan diriku masih hidup untuk menyambutmu lagi. Ingat nama ini... Ahn Jung Hyun... “
Perkenalan itu sungguh mengejutkan.
“Jung Hyun??? Huh... Ternyata raja dari Geum, akan kuingat ini!!!”
Crash... Panah itu mengarah tepat di dada kiri Yoo Ra, dan ditambah lagi belati itu memutus nadi di lehernya.
“YOO RA...!!!” teriakan yang terdengar dari mereka yang melihat pemandangan sadis itu.
Clap... Terlihat bulan menghitam sempurna, Dalwi Yeosin yang sedang menampakkan diri juga menyaksikannya. Tubuh gadis sekaligus kesatria itu terhempas ketanah dari atap lantai 2 kedai teh tersebut, dengan masih menggunakan cadar dia tidak mampu menyembunyikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Ini kehendak dewa. Aku harus menerimanya, apa aku terkena kutukan? Kau sungguh kejam dewa! Kau masih bergerhana selagi aku menjemput kematianku.
Setelah menghabisi perempuan itu, penjahat itu segera melarikan diri sejauh mungkin.
“Jangan lari kau, ishhh...” Ha Baek berusaha mengejar pembunuh tanpa memperdulikan kondisi calon istrinya. Ia hanya ingin mengejar pria itu untuk mengetahui siapa orang dibalik penyerangan ini yang akan mengakibatkan kerugian bagi negaranya.
__ADS_1
-
Bersimbah darah, sayatan panjang di leher, dada kiri tertancap anak panah, terjatuh menghantam tanah, berselimut debu kering, tangan bergemetar, badan tak sanggup bangun, mata ingin terpejam seketika nafas mulai dangkal, kondisi ini lebih buruk daripada hukuman istana bagi para pelayan yang membangkang.
Seketika dia tak sadarkan diri.
"Sudahlah wahai Lee Yoo Ra, ini takdirmu..." ujarnya...dia, Dalwi Yeosin.
Alam bawah sadar Yoo Ra masih hidup, seketika Yeosin itu menguasainya.
“Berada diantara hidup dan mati, saat ini kau berada dalam anugerahku. Ragamu akan terbagi, namun jiwamu akan berkenala sebentar. Saat gerhana usai, aku akan membawa jiwamu ketempatku untuk menerima misi."
Ucapan Yeosin sungguh benar dipercaya, bagaimana tidak? Dia juga bagian elemen alam semesta.
Di waktu yang bersamaan, Ha Baek menemukan Jung Hyun di tepi tebing. Duel pedang terjadi di tengah kegelapan, hanya mereka berdua dan tak ada seorangpun yang menyaksikan duel mereka.
Saat ini Dalwi Yeosin sudah merencanakan sesuatu, waktunya dia beraksi. Dia harus mengirimkan 7 roh hari ini, menuju ke 700 tahun kemudian untuk penebusan dosa mereka. 7 roh yang dikirimkan hari ini adalah jiwa orang-orang yang berada diambang kematian saat terjadinya gerhana bulan dengan misi tertentu. Hukum ini telah ditentukan beribu-ribu tahun lalu sebagai kutukan.
“Akan ada roh yang harus berkelana ke tahun yang jauh dari kehidupan mereka dengan sebuah misi tertentu, dengan selesainya misi itu dia akan bisa kembali ke tubuh aslinya.Temukan misinya, carilah kastil biru, tunggulah purnama tiba, portal bulan purnama akan terbuka, masuklah dan kau akan kembali. Mereka yang akan dikirim adalah manusia yang terluka dan tak sadarkan diri, maka jiwanya akan berkelana untuk menebus dosa. Dosa mereka tidak lain adalah membuat ritual suci gerhana bulan menjadi kotor dengan tumpahan darah mereka.”
Suara lirih Dalwi Yeosin dalam memberikan arahan.
“Bersiaplah sayang... sudah saatnya datang ke kutukanku..."
***
¹ Dewi Bulan
__ADS_1