
Jae Won merasa tidak nyaman karena harus bertemu dengan Yeon Jin, sementara itu, Yoo Ra sendiri masih mengkhawatirkan kondisi Jae Won tentang gangguan mental yang dia alami. Bahkan Yoo Ra pernah menganggap kalau Jae Won adalah seorang psikopat, tapi jika dilihat-lihat lagi, dia tidak demikian. Jae Won hanya akan bertindak jauh jika sesuatu sudah mengusiknya terlalu dalam.
Yoo Ra juga tahu kalau penyakit seperti ini bisa disembuhkan dengan memberi perhatian lebih sampai pulih. Yoo Ra hanya bisa menjaga suasana hati dari Jae Won supaya tidak terjadi hal-hal yang di luar dugaan.
Apalagi Jae Won dan Yeon Jin pernah mengungkapkan perasaan mereka masing-masing kalau menyukai Yoo Ra, bahkan memintanya untuk berkencan. Tapi, Yoo Ra masih belum memberi jawaban karena hatinya sendiri belum yakin dan masih tidak ingin menjalin hubungan seperti itu.
Menjadi arwah separuh manusia yang terkutuk memang tidak mudah, walau merasakan hidup nyaman, tapi harus menghindari pantangan.
Selain mengunjungi Kim Jae, Jae Won juga berniat untuk mengajak Yoo Ra keluar menghirup udara segar. Jae Won ingin mengajaknya kembali ke pohon janji untuk memperbaiki sikapnya, sekaligus mengingat momen-momen pertama kali mereka berkenalan.
Sedari tadi tidak ada percakapan sama sekali, hanya saling melirik. Antara Yeon Jin dan Jae Won sudah terlihat kilat dari tatapan persaingan mereka. Yoo Ra memecah keheningan ini dengan mengajak Jae Won berbicara.
“Jae Won seonbae, bagaimana kondisimu? Apakah sudah membaik?.” Tanya Yoo Ra kepada Jae Won, tak lama berselang, Yeon Jin menyambar pertanyaan itu, “Dia sangat baik, bahkan bisa sampai kesini. Dan aku! Dari tadi aku disini kau bahkan tidak menanyakan bagaimana kabarku?” Ucapan Yeon Jin terdengar sangat posesif sekali. Mengejutkan semua orang yang ada di dalam ruangan.
Jae Won tidak menggubris dan malah memalingkan wajah. Berbicara kepada Yoo Ra, “Ayo keluar, aku dengar ada cafeyang baru dibuka di jalan ***.” Ajakan Jae Won sangat menggoda, apalagi Yoo Ra yang sangat suka dengan yang namanya kulineran.
Tidak ambil pusing dengan keadaan sekarang, lagipula Yoo Ra berinisiatif untuk membantu Jae Won langsung mengiyakan ajakan itu. “A...Ayo... Kebetulan aku juga ingin makan sesuatu di luar.” Jawab Yoo Ra yang membuat Yeon Jin semakin patah hati.
Yeon Jin diam terpaku seperti sudah kalah jauh. “Tunggu, aku ikut.” Jawab Yeon Jin yang ingin ikut untuk mengawasi mereka berdua, Yoo Ra menggeleng-gelengkan kepala, tingkah Yeon Jin sangat kekanak-kanakan.
Jae Won memberikan alasan untuk menolak Yeon Jin bergabung dengan mereka, dan langsung menarik Yoo Ra untuk keluar. “Aku hanya ingin berdua dengannya, ayo...” Ketus Jae Won di hadapan Yeon Jin.
Selain Yeon Jin, Kim Jae juga khawatir kalau Yoo Ra bersama dengan Jae Won. Tapi Yoo Ra memberikan kode dengan mulut kalau dia akan baik-baik saja dan akan menjaga diri. Pada akhirnya, Yoo Ra dan Jae Won pergi dari apartemen Kim Jae.
Masuk ke dalam mobil dan berencana pergi ke sebuah cafe baru, ternyata cafe baru itu adalah milik kakak perempuan Jae Won yang pernah ditemui Yoo Ra sebelumnya. Membuka pintu dan terdengar suara sambutan, “Oh, Do Jae Won. Kau sudah datang? Kau mengajaknya?” suara perempuan yang tidak asing di telinga, dan lebih mengejutkannya kalau perempuan itu mengharapkan kedatangan Yoo Ra.
Do Seo Hyun, Yoo Ra bertemu lagi dengannya. Seo Hyun menyambut Yoo Ra dengan ceria, dan mengakrabkan diri. Ornamen cafenya sangat hangat, terlebih lagi ada pot bunga kiriman teman-teman yang memberikan ucapan selamat untuk cafe baru ini.
Yoo Ra merasa tidak enak karena tidak membawa hadiah. “Selamat atas cafe barunya. Maaf kak, aku datang dengan tangan kosong.” Ucap Yoo Ra dengan nada bersalah. Dalam hati, ia mengutuk Jae Won karena mendadak membawanya kemari tanpa memberitahu kalau cafe baru yang akan mereka kunjungi adalah milik Seo Hyun.
Seo Hyun menatap ramah Yoo Ra, Seo Hyun juga tidak mempermasalahkan hal kecil ini, sebelumnya dia hanya ingin Yoo Ra datang kemari untuk mengunjunginya. Saat mereka bertemu di rumah sakit, sejak itu juga Seo Hyun menyukai sifat Yoo Ra.
Seo Hyun sangat senang dan ingin berteman lebih dengan Yoo Ra, dan di dalam luuk hati Seo Hyun, dia ingin gadis yang disukai adiknya itu bisa membahagiakannya. Jae Won yang memiliki perubahan sifat yang ekstrem, akhir-akhir ini mulai kambuh sejak beberapa tahun terakhir. Seo Hyun juga berharap kalau Yoo Ra mampu menjadi penstabil emosi Jae Won.
__ADS_1
Seo Hyun mempersilahkan Yoo Ra duduk dan menggoda mereka, dipikirnya Yoo Ra dan Jae Won sudah berkencan. “O... Adikku sangat menyukaimu loh, kalian berkencan?” Tanya Seo Hyun yang penasaran dengan hubungan mereka sekarang.
Yoo Ra menyangkal dan mengatakan kalau mereka hanya berteman saja, dan hanya hubungan senior dengan junior di kampus. Seo Hyun menyayangkan hubungan mereka yang tidak lebih dari itu, karena dia sudah melihat kalau adiknya sangat serasi dengan gadis yang sering diceritakan kepadanya.
Menu di cafe sangat pas dengan selera Yoo Ra, makanan manis-manis yang sangat digemarinya. Seo Hyun menghidangkan menu andalanya, double cheese sandwich dan black sugar milk tea. Sudah di depan mata dan sangat menggoda Yoo Ra, Yoo Ra tersenyum dan berterima kasih kepada Seo Hyun.
Hari ini semua makanan Seo Hyun yang traktir, tentu dengan harapan kalau Yoo Ra akan terus menjadi teman baru dan teman baiknya, tidak lupa cepat atau lambat Yoo Ra bisa menyembuhkan Jae Won.
Suara lonceng pintu cafe berbunyi, ada seseorang yang masuk. “Ah benar, ini cafe barunya kakak dari senior Do.” Suara seseorang yang membuka pintu dan masuk kedalam. Suara yang menggema dan membuat ketiga orang yang sedang duduk disatu meja itu menoleh ke arah pintu dengan bersamaan.
Siapa lagi kalau bukan Chae Soo Ah, Yoo Ra yang melihat perempuan itu langsung mebuatnya kehilangan selera makan. Bahkan black sugar milk tea yang hanya diminum 2 tegukan sudah tak ingin diminumnya.
“Kenapa dia mencari tempat ini.” Suara hati Jae Won sudah risau karena kedatangan Soo Ah. Seo Hyun yang belum tahu siapa Soo Ah langsung mengucapkan selamat datang dan menawarkan pesanan.
Saat itu juga Soo Ah memperkenalkan diri sebagai teman dekat Jae Won. Sontak Seo Hyun merasa tidak percaya kalau Jae Won adalah tipikal playboy. Sejak kapan dia punya banyak gadis? Seo Hyun sendiri hanya tahu kalau kalau Jae Won hanya menceritakan satu gadis saja, yakni Yoo Ra, selain itu Jae Won juga menceritakan senior perempuan yang akan segera menikah.
Seo Hyun bingung dengan kata “teman dekat” yang keluar dari mulut Soo Ah. Dan mengajak Soo Ah duduk disatu meja denganYoo Ra dan Jae Won.
Jae Won tidak memberikan penyambutan sama sekali, dia hanya berbincang dengan Yoo Ra, sementara kakaknya sibuk menyiapkan kudapan untuk Soo Ah. Soo Ah menatap mereka dengan rasa sungkan, dan dia merasa kalau diabaikan, kedatangannya kesini juga hanya mempermalukan diri.
Soo Ah memiliki rencana lain, dia harus menjadi naif. Soo Ah memutuskan untuk minta maaf secara pribadi kepada Yoo Ra, dia harus terlihat sangat tulus dan menjalin hubungan baru dengan Yoo Ra.
Mereka berempat mengobrol, ada jarak diantara pembicaraan dengan Soo Ah. Selama satu jam di dalam cafe, obrolan mereka selesai. Yoo Ra harus pulang sendirian karena Jae Won harus membantu kakaknya disini, Soo Ah berinisiatif untuk pulang bersama Yoo Ra, dan dia bilang kalau jalan menuju rumahnya adalah searah.
Saat diperjalanan, dengan polosnya Soo Ah meminta maaf kepada Yoo Ra. Yoo Ra sangat kaget, belang dari gadis licik itu sudah nampak jelas yang membuatnya lebih berhati-hati lagi dan tidak akan ditipu untuk kesekian kalinya.
“Aku minta maaf, atas kejadian yang lalu maupun yang kemarin. Aku sangat menyesal, tidak seharusnya aku bersaing secara tidak sehat denganmu.” Kata-kata penyesalan itu sukses meyakinkan Yoo Ra. Yoo Ra hanya bisa menghela napas dan menerima permintaan maaf Soo Ah.
“Sudahlah, itu sudah berlalu. Aku mau pulang dulu.” Ucap Yoo Ra yang akan melangkah meninggalkan Soo Ah, tiba-tiba ada tangan yang menghadang langkah itu.
(Soo Ah)
“Mau memaafkanku?”
__ADS_1
(Yoo Ra)
“Aku tidak suka bertele-tele atau mendramatisir keadaan. Aku memaafkanmu, lain kali jaga sikap dan perbaiki atitude yang kau miliki.”
(Soo Ah)
“Terima kasih Yoo Ra-ya.”
(Yoo Ra)
“Iya, sudah... aku mau pulang.”
Yoo Ra bergegas menghindari rubah itu, namun Soo Ah malah menggandeng tangannya dan mengajaknya pulang bersama dengan jalan kaki. Soo Ah tahu kalau rumahnya dengan Yoo Ra satu arah. Soo Ah juga bercerita kalau dia tinggal di apartemen yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah Yoo Ra.
“Yeom Mi bilang, kau tinggal di apartemen studio? Memangnya nyaman tinggal di apartemen yang sekecil itu?” Tanya Yoo Ra kepada Soo Ah yang penasaran dimana tempat tinggalnya.
“Oh itu... aku sudah pindah, kebetulan ayahku sudah diangkat jadi direktur, jadi aku pindah ke apartemen mewah.” Ucap Soo Ah dengan menyombongkan diri.
Menjadi direktur? Yoo Ra bertanya-tanya, bagaimana bisa dia mendapat beasiswa yang dikhususkan kepada siswa yang kurang mampu dengan ayah yang memiliki jabatan tinggi? Yoo Ra tidak habis pikir dengan ucapan Soo Ah.
Yoo Ra ingin sekali bertanya mengapa Soo Ah mengambil beasiswa itu. Kebohongan apalagi yang Soo Ah ciptakan.
Berjalan bersama, Yoo Ra masih seperti biasanya, dingin dan penuh aura boss yang tinggi, dari tadi Soo Ah mencoba mencari topik pembicaraan. Yoo Ra sangat tidak nyaman dengan Soo Ah yang berada di sampingnya.
Hampir sampai di gang menuju Rumah Kim Yoo, setahu Soo Ah, Yoo Ra tinggal di rumah mewah milik Kim Yoo yang berada di seberang gang yang dilewatinya. Yoo Ra tidak berbelok ke gang itu dan hanya berjalan lurus.
Soo Ah menghentikan langkah dan menarik tangan Yoo Ra, “Tunggu, rumahmu kan daerah sini, kok mau terus?” Ucap Soo Ah yang membuat Yoo Ra tertegun.
“Bocah ini usil banget.” Gumam Yoo Ra yang sebal dengan kata-kata Soo Ah seolah-olah tahu segalanya tentang Yoo Ra. Ia hanya bisa mengikuti jalan cerita yang Soo Ah ciptakan.
“Oh iya ya... Apartemenmu dimana? Bukannya kalau ke arah sana mau ke Diamond Apartement?” Pertanyaan yang memancing jawaban bohong, Yoo Ra sangat cerdas karena sudah membuat jebakan itu.
“Itu...”
__ADS_1