
(Yeon Jin)
“Kau? Nanti saja kita berbicara. Ayo, aku akan membawamu ke klinik kampus.”
Yeon Jin segera membawa Yoo Ra ke klinik kampus. Dan Yoo Ra mulai diperiksa, ternyata tidak terjadi hal yang serius. Dokter mengharuskan untuk mengkompres kepala Yoo Ra yang terkena botol dengan air es agar tidak membengkak.
Yoo Ra yang terbaring di ranjang pasien kemudian duduk, ternyata ia masih ditemani oleh Yeon Jin. Yeon Jin mengompres kepala Yoo Ra, lalu ia memegangi kompresan itu sambil menatap ke arah Yoo Ra.
(Yeon Jin)
“Kenapa tidak berhati-hati dengan mereka? Akibatnya kau malah jadi begini.”
(Yoo Ra)
“Siapa juga yang mau. Aku orang baru disini, kalau berani macam-macam itu akan lebih membahayakan. Apa kata orang nantinya? Mahasiswa baru cuman satu hari di kampus sudah bikin ulah.”
(Yeon Jin)
“Keras kepala banget. Namamu Kim Yoo Ra dari manajemen bisnis dan sekarang masuk semester 2 kan?.”
(Yoo Ra)
“Hem... iya, itu aku. Tambahan orang yang paling sial hari ini. Heh... (menghela nafas)”
(Yeon Jin)
“Aigo...dasar bodoh. Aku juga berada di jurusan yang sama, saat ini semester 5. Jangan lupa bahwa aku adalah seonbaenim mu, jaga perilakumu terhadap senior.”
(Yoo Ra)
“Eh... (tersadar kalau dia itu seniornya), seonbae tidak perlu repot-repot untuk mengurusku (mengambil kompresan dari tangan Yeon Jin). Aku bisa melakukannya sendiri (senyum kaku dan sungkan).”
(Yeon Jin)
“Hei sudahlah (senyum geli), aku cuman bercanda kok. Bukankah aku pernah berjanji untuk membalas kebaikanmu waktu itu?”
Yoo Ra terdiam, ternyata pria seperti dia masih mengingat akan balas budi. Jarang-jarang ada orang yang seperti ini.
(Yoo Ra)
“Seonbae, aku sudah baikan. Aku mau pergi dari ke kelas.”
(Yeon Jin)
“Beneran? Nanti kalau tambah bengkak gimana?”
(Yoo Ra)
“Aku lanjutin di rumah aja.”
(Yeon Jin)
"Kalau begitu...Aku antar ke kelas deh."
(Yoo Ra)
"Tidak usah, nanti malah merepotkan. Aku sendirian aja."
(Yeon Jin)
"Em... sampai jumpa (menepuk bahu Yoo Ra)."
Yoo Ra keluar dari ruangan, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata itu telepon dari Kim Jae. Dan Yoo Ra pun mengangkat telepon sambil berjalan menuju kelas.
(Yoo Ra)
“Halo?”
(Kim Jae)
“Yoo Ra, aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku ada acara dengan teman-temanku, nanti aku pulangnya agak malam.”
(Yoo Ra)
“Kau mau ke bar?”
(Kim Jae)
“Nice, sangat cerdas... nanti pulang pakai mobil. Kuncinya sudah aku letakkan di tasmu, Moo Ra tadi juga melihatnya. Ya sudah, aku tutup teleponnya.”
(Yoo Ra)
“Hati-hati, jaga dirimu. Jangan minum terlalu banyak, aku gak mau kamu pulang dengan kondisi mabuk. Nanti meracau terus.”
Saat tadi, Yeon Jin berniat untuk mengantarnya namun ditolak, karena Yoo Ra takut ini akan menimbulkan kesalahpahaman lagi. Yoo Ra juga mengucapkan terima kasih kepada Yeon Jin karena sudah membantunya.
---
Saatnya pulang. Yoo Ra menuju ke arah parkir, saat berada di lorong ada seseorang yang bersandar di dekat pintu keluar yang menuju ke area parkir. Yoo Ra melewati orang itu, karena ia ingin langsung pulang ke rumah.
Saat Yoo Ra lewat, orang itu berkata ... “Hei, sudah lupa ya?”. Yoo Ra menoleh, ternyata dia adalah Yeon Jin.
(Yoo Ra)
“Seonbaenim? Kenapa kamu disana?”
(Yeon Jin)
“Sedang menunggu.”
(Yoo Ra)
“Menunggu?(kebingungan)”
(Yeon Jin)
“Iya... menunggu seseorang untuk memberi tumpangan.”
(Yoo Ra)
“Seonbae tidak bawa mobil? Kok gak naik bus aja?”
(Yeon Jin)
“astaga dia tidak peka (bergumam)... Ehem... Begini, aku kehabisan saldo. Jarak rumah juga cukup jauh.”
__ADS_1
(Yoo Ra)
“Kan bisa ngisi di minimarket?”
(Yeon Jin)
“Oh iya, aku kehabisan uang. Dan aku gak bawa kartu kredit. Gimana dong?”
(Yoo Ra)
“Kalau begitu, aku antar. Naiklah (hendak masuk mobil untuk menyetir).”
Yeon Jin menghadang pintu mobil.
(Yeon Jin)
“Eits...Biarkan aku yang meyetir ya? (senyum)”
(Yoo Ra)
“Kau tidak akan macam-macam kan? (curiga)”
(Yeon Jin)
“Apakah tampangku mirip seperti pencuri?”
(Yoo Ra)
“Ckck... (tertawa). Baiklah, kau yang lebih tahu arah rumahmu.”
Yoo Ra mengizinkan Yeon Jin untuk mengemudi, tapi Yeon Jin mengarahkan mobil ke satu restoran daging. Yoo Ra heran dan berpikir kalau rumah Yeon Jin di dekat restoran ini.
(Yoo Ra)
“Seonbae, sudah sampai? Kok rumahmu di sekitar sini, gak masuk akal banget.”
(Yeon Jin)
“Tentu bukan disini. Ayo turun, makan bareng.”
Yoo Ra dan Yeon Jin masuk ke restoran itu, tak disangka restoran daging itu dikelola oleh mahasiswa Universtias Deiji, yakni teman-teman seangkatan Yeon Jin. Disana juga ada pegawai, tapi juga ada beberapa mahasiswa yang ikut melayani pembeli.
(Yoo Ra)
“Itukan para senior?”
(Yeon Jin)
“Mereka teman-temanku. Usaha ini termasuk sampingan, untungnya pun besar. Kadang aku juga ikut bantu-bantu, pegawai paruh waktu juga ada yang masih SMA loh.”
(Yoo Ra)
“Jadi, ini salah satu bisnis rintisan angkatan seonbae? Memang berapa mahasiswa yang jadi pemilik ini?”
(Yeon Jin)
“Ada 2, pria yang di meja kasir itu dan pria yang di depanmu ini.”
(Yoo Ra)
“Lah? Terus para senior yang melayani ini?”
(Yeon Jin)
(Yoo Ra)
“Jadi, restoran ini hanya milik kalian berdua?”
(Yeon Jin)
“(mengangguk)"
(Yoo Ra)
“Wah... keren!!! Bukan hanya di kantor tapi juga punya restoran. Seonbae... aku kagum nih.”
(Yeon Jin)
“Jangan cuma kagum, sering-seringlah kesini untuk mempertebal dompetku ya.”
(Yoo Ra)
“Hah?, aku kira seterusnya bakalan gratis.”
(Yeon Jin)
“Kali ini yang gratis, aku yang traktir kok. Joan...(melambai), 2 paket ya."
(Joan)-Teman Yeon Jin yang juga pemilik resto
“Oke...”
Setelah beberapa saat, hidangan sudah di meja dan diantarkan oleh Joan.
(Joan)
“Ini dia (menghidangkan makanan). Kau gak sendirian rupanya, aku kira cuman cek tempat ternyata kau juga makan. Siapa dia?”
(Yoo Ra)
“Annyeonghaseyo, saya Yoo Ra. Junior kalian di kampus, masih semester 2.”
(Joan)
“Annyeong (tersenyum), lain kali gak usah terlalu formal ya. Sering-sering datang ke sini.”
(Yoo Ra)
“Baiklah, kalau sempat aku akan sering mampir seonbae (senyum).”
(Joan)
“Beneran ya, kalau sering-sering nanti kamu dapat bonus 1 botol soju loh. Baiklah, aku kembali bekerja ya. Yeon Jin, nanti kita bicara dulu ya. Ada yang mau aku tanyakan (menepuk bahu dan menggoda).”
Mereka berdua mulai makan, menu daging adalah favorit Yoo Ra. Yoo Ra juga menerima maksud dari Yeon Jin, sepertinya Yeon Jin menepati janjinya.
__ADS_1
(Yeon Jin)
“Kepalamu masih bengkak?”
(Yoo Ra)
“Udah enggak kok. Nih... (menunjukkan)”
(Yeon Jin)
“Syukurlah, tadi aku agak cemas.”
(Yoo Ra)
“Terima kasih sudah mencemaskanku (tersenyum).”
Yeon Jin tersenyum dan bahagia melihat ekspresi Yoo Ra saat berterima kasih padanya.
(Yeon Jin)
“Setelah ini langsung pulang ke rumah?”
(Yoo Ra)
“He.em (mengangguk). Langsung istirahat plus rebahan, dan merenungkan hari ini. Sekalian buang sial dengan cara menetap di kamar.”
(Yeon Jin)
“Pft... (menahan tawa). Mana ada cara begituan?”
(Yoo Ra)
“Ada kok!”
(Yeon Jin)
“Seriusan?”
(Yoo Ra)
“Serius, gak percaya?”
(Yeon Jin)
“Gimana coba?(tertawa)”
(Yoo Ra)
“Entah?”
(Yeon Jin)
“Heh??? Katanya ada, kok gak tau caranya?”
(Yoo Ra)
“Seonbae, bukan gak bisa. Tapi nanti kucoba (senyum).”
(Yeon Jin)
“(meletakkan sumpit dan tertawa) Ahahaha... oke oke, aku kalah nih. Siapa yang ngajarin ngelawak begini hah?”
(Yoo Ra)
“Otodidak dong (melahap daging).”
Yeon Jin terhibur dengan candaan Yoo Ra, dia juga perlahan-lahan merasa nyaman di dekat Yoo Ra. Di meja kasir, Joan terus mengamati Yeon Jin.
Joan juga heran, tak biasanya Yeon Jin bisa tertawa karena gadis. Yeon Jin jarang tertawa lepas seperti ini karena beban pekerjaan sekaligus kuliah, walaupun sesekali ada gadis yang mendekatinya dan berkencan dengannya.
Kali ini berbeda, dalam pikiran Joan saat ini Yeon Jin seperti bebas dan bebas. Dia bisa terhibur walau dengan candaan kecil dari gadis yang makan bersamanya.
Mereka berdua selesai makan lalu lanjut pulang ke rumah. Saat ini sudah sampai di depan rumah Yeon Jin. Rumah Yeon Jin juga memiliki struktur yang sama dengan rumah Kim Yoo, bisa dikatakan kalau khas rumah orang kaya memang hampir mirip, yaitu luas dan berhias pagar glamour.
(Yeon Jin)
“Makasih atas tumpangannya, lain kali kita keluar lagi yuk.”
(Yoo Ra)
“Sama-sama. Nanti akan kupikirkan dulu, sampai jumpa.”
Yoo Ra berbalik menuju mobil.
(Yeon Jin)
“Yoo Ra... hati-hati di jalan. Maaf merepotkanmu.”
(Yoo Ra)
“Oke, sama sekali gak merepotkan kok. Aku pergi dulu seonbae.”
(Yeon Jin)
“Baiklah...”
Yeon Jin langsung masuk ke dalam, dan Yoo Ra masuk ke dalam mobil. Di setir mobil ada pos it berwarna merah muda yang tertempel, dan ada tulisannya.
“Terima kasih, besok temui aku di taman kampus saat jam pulang. Oke?
-Yeon Jin”
Yoo Ra tersenyum dan bertanya -tanya kapan orang itu menuliskan pesan ini. Cukup mengejutkan tapi cara dia sangat unik.
---
Hari sudah petang. Kim Jae sudah pulang ke rumah, untungnya dia tidak mabuk. Kim Yoo juga pulang ke rumah dan harus menyempatkan diri untuk berkumpul bersama keluarga.
Yoo Ra masih berada di dalam kamar, ia membaca buku kuno yang diberikan oleh Kim Yoo. Judul buku itu adalah “DAL” yang berarti bulan, buku itu sulit dipahami dan memiliki perhitungan yang rumit.
Sebelumnya Kim Yoo sudah memberikan beberapa petunjuk tentang kastil itu berada. Pertama, kastil itu terletak di suatu tempat yang memiliki gerbang kuno yang lusuh. Kedua, saat siang kastil itu tidak terlihat sama sekali. Ketiga, saat siang pun hanya terlihat gerbang kuno yang di dalamnya tidak ada bangunan. Keempat, saat malam kastil itu akan muncul dengan memancarkan cahaya biru keemasan. Kelima, tempat itu adalah tempat penyucian arwah. Keenam, Yoo Ra tidak tahu dimana letak tempat itu.
“Ah... sungguh meyebalkan. Ngapain juga nyari-nyari beginian?” Gumam Yoo Ra karena kesal.
Yoo Ra memiliki ide, tiba-tiba nama Dal Rae terlintas dipikirannya.
__ADS_1
“Kim Jae Rim, Kim Yoo Ra... Turunlah, samchon bawakan pizza. Ayo makan.” Suara Kim Yoo dari bawah.
***