
“Lebih baik mereka tahu, keluargamu itu gokil ya. Tadi heboh banget.” Kata Yeon Jin.
Yeon Jin yang datang ke rumah Kim Yoo untuk melepas kerinduan kepada kekasihnya, langsung mendapat pertanyaan bertubi-tubi. Untungnya Yeon Jin sudah akrab sejak lama dengan Kim Yoo, Eun Ji dan juga Kim Jae. Jadi tidak perlu canggung untuk menjelaskan.
“Ya... mereka memang begitu selalu mendukung. Ngomong-ngomong, ini udah malem banget, ngapain ngajak keluar?” Tanya Yoo Ra dengan tangan yang masih bergandengan.
Yeon Jin mengeluarkan sesuatu dari saku coat sebelah kiri. Terdapat sebuah kotak persegi panjang dengan tutup transparan. “Ini... Aku pikir, cewek itu suka sama yang manis-manis.”
Macaroon? Bentuk bulat berwarna biru pastel, ukurannya yang mini dengan box yang imut. Ia tersenyum melihat sesuatu yang Yeon Jin bawakan untuknya. Yeon Jin mengusap rambut Yoo Ra, memperhatikannya dengan tatapan mendalam, mencondongkan badan dan menatap langsung wajah berseri karena hadiah darinya.
“Jangan lirik yang lainnya, aku akan jadi yang sempurna untukmu.” Ucap Yeon Jin.
“Aku sangat ingin kita bertemu lagi, dengan mengingat kenangan ini.” Jawab Yoo Ra dengan mengadahkan semua senyum yang dimilikinya.
“Pasti, aku akan mencarimu disana.”
Susah senang yang didapat menjadi arwah kutukan, bahkan Yoo Ra berharap tidak akan terjadi sesuatu dengan mawar putihnya, jika benda itu rusak dan kelopaknya hancur, hilanglah sudah harapannya mengingat semua tentang kehidupannya disini.
“Yeon Jin-ssi, bantu aku menjaga liontin itu ya.”, “Mm... Akan kulakukan apapun yang kau mau.”
-
-
-
“Sudah sarapan? Sebentar lagi kita berangkat, besok sudah mulai liburan musim panas. Yoo Ra, ingat besok sudah mulai masuk kantor.” Seru Kim Yoo kepada putra dan putrinya, mengingatkan mereka sekaligus menunggu bersiap dengan sepotong roti di tangannya. Eun Ji juga bersiap-siap, dia duduk di meja makan dengan mengecek ponselnya.
Kakak beradik ini naik ke lantai 2 dan sedikit mendiskusikan sesuatu, Yoo Ra mengambil beberapa buku catatannya di kamar, sementara Kim Jae merebahkan diri di atas kasur dengan menggerutu, “Ke kampus? Kenapa aku lebih enak di kampus daripada di kantor? Astaga... sungguh melelahkan. Yoo Ra, nanti pulang kesini lagi? Selalu saja pulang kesini buat tidur doang.”
Memang, akhir-akhir ini Yoo Ra sering pulang ke rumah untuk tidur saja, saat siang dia berada di apartemen. “Nanti aku pulang ke apartemen, mulai nanti aku sudah jarang kesini.”, “Mmm... Makan yang teratur, sering telepon aku.”. Mengerjakan urusan kantor memang enak di rumah, tapi... ia sedikit merindukan Yeon Jin. Yeon Jin sendiri sudah berkali-kali cemberut, yah.. . inilah tuntutan.
__ADS_1
“Aku punya kewajiban disini, untukmu,” kata Yoo Ra, “Hidupku disini terbatas, aku juga tak ingin menyianyiakan tubuh segarku ini. Walau tubuh yang aku huni 100 persen mirip dengan yang asli, tapi tetap saja akan kosong dan menjadi abu kremasi saat aku kembali nanti.” Kim Jae terjingkat dari kasur empuk dan mendalami semua ucapan Yoo Ra.
Yoo Ra berbalik dan berdiri di samping Kim Jae, “Ayo, sudah waktunya berangkat.” Kim Jae memberi tatapan bersalah, saat Yoo Ra mengajukan langkah, tiba-tiba ada sesuatu menahan tangannya. “Kak...”
Kim Jae bangkit dan menarik pergelangan tangan gadis yang berada di hadapannya, dengan membenamkan pandangan, berusaha tersenyum. “Terima kasih, terima kasih sudah hadir disini...” sejenak mengembuskan napas panjang, “Untukku...” sambung Kim Jae kembali.
Yoo Ra mengatakan kalau ini bukan apa-apa, dihitung sudah satu tahun ia disini, banyak yang sudah terjadi, dan Kim Jae selalu berada di sampingnya. “Sudah, nanti aja. Kita berangkat yuk. Benerin rambutmu tuh, aku turun duluan. Oh iya, mobilku ada di bengkel, seminggu lagi dianter, aku numpang ya.”
Melihat punggung dari gadis itu yang semakin menjauh, Kim Jae menyerukan diri.
“Yoo Ra... Bagaimana aku bisa menganggapmu sebagai adik?”
“Aku takut, kalau saat ini aku menyukaimu...Apa yang harus kulakukan?”
---
Besok semua mahasiswa seangkatan dengan Yoo Ra akan menjalani program magang, ini juga salah satu program musim panas. Yoo Ra berjalan menuju ke perpustakaan, karena Yeon Jin yang meminta Yoo Ra untuk kesana, menemaninya mencatat sesuatu.
Yeon Jin menatapnya, dan wajahnya membeku, mengapa Yoo Ra menatapnya dengan sangat serius?. “Kenapa menatapku seperti itu?”, sulit untuk dijawab, Yoo Ra tak sengaja melihat sesuatu yang tak seharusnya untuk diceritakan.
“Kalau aku didekati pria lain, bagaimana reaksimu?” pertanyaan konyol keluar begitu saja dari mulut Yoo Ra, tapi... matanya dangat sayu, dan seperti mendapat kabar buruk. “Cemburu? Yang pasti aku akan cemburu. Mana mungkin aku membiarkanmu didekati pria lain hah...” Jawaban yang tentu akan diucapkan pria manapun. Mengusap pipi merah cherry itu dengan usapan lembut, Yeon Jin sekali lagi tersihir dengan raut wajah yang Yoo Ra berikan.
Mereka melanjutkan membaca, untuk persiapan besok. Yeon Jin sendiri mengajari beberapa tugas yang harus dilakukan sekretaris, bukan sekretaris biasa, kini ia sudah menjadi sekretaris pribadi. Yoo Ra berpikir ini terlalu berlebihan, tugasnya harus mengikuti semua perintah bosnya, bahkan menemaninya kemanapun bosnya pergi, entah itu di rumah, pesta, bahkan mempersiapkan pakaian. “Bukankah ini terlalu sensitif? Banyak banget? Kamu butuh sekretaris apa seorang istri sih?”, “Memangnya gak nyadar? Dua-duanya aku butuh.”
Yoo Ra menahan kesalnya dengan membalas senyuman kusam. “Berkhayal yang banyak... Fokus...”, “Ahaha... iya... istriku...” Yeon Jin terus menerus menggoda kekasihnya, dan tak lama kesenangan itu harus berakhir. “Kim Yoo Ra ada disini? Kamu ada tugas di aula sekarang juga, mendampingin asisten dosen Do untuk presentasinya.”, ucap salah satu dosen yang mencarinya. Apa? Kok begini? Yoo Ra mengerjapkan mata, terbangun dari menopang dagu.
“Sekarang?”
“Ya... sekarang juga, oh iya... sekarang masih persiapan, 1 jam lagi dimulai, segeralah kesana, pelajari beberapa bahan.”
Yeon Jin mengerutkan dahi, mencekal pergelangan tanga Yoo Ra, seolah tidak mengizinkannya untuk pergi. “Pak, bolehkah partnernya diganti?” sela Yeon Jin.
__ADS_1
“Mengapa? Aku pikir Yoo Ra sekarang menjadi duta kampus. Ayo, jangan membuang waktu.”
“Tapi...”, “Baiklah, aku segera kesana. “ Yoo Ra segera menghentikan protes Yeon Jin. Dosen sudah pergi, Yeon Jin sudah mulai geram, tidak ingin Yoo Ra dekat dengan psikopat itu. Tapi, Yoo Ra berhasil meyakinkannya, bahwa ini cuman tugas, dan mereka sudah menjadi teman, tidak perlu mencemaskannya.
“Nanti aku mencarimu lagi.” Ucap Yoo Ra, “Apa? Tidak... aku harus ikut.” Yeon Jin sudah mulai kekanak-kanakan, sebesar apa cemburunya, hanya tugas saja dia sudah seperti ini.
“Yeon Jin-ssi... Ssttt... ini tidak akan merubah status kita.”, “Oke oke, jangan tersenyum berlebihan kepadanya, mengerti?!!!”
Yoo Ra pergi dan menuju aula, ia harus bersikap sewajarnya. Membungkuk dan meberi salam, setelahnya Jae Won memberikan materi yang harus Yoo Ra pahami untuk presentasi sekarang. “Ini, tolong ya, maaf sudah merepotkan.” Kata Yeon Jin dengan menyerahkan lembaran kertas penuh kalimat.
“Tidak apa-apa, ini juga demi promosinya senior. Aku tidak sangka, senior sangat jenius. Bahkan sudah hampir dekat dengan jabatan dosen.” Yoo Ra memberikan pujian, dengan senyuman lebar berusaha mengakrabkan diri.
---
“Sudah jam 7 malam, kok belum pulang, bilangnya mau pulang jam 6.” Yeon Jin melihat keluar jendela apartemennya, dia sangat khawatir mengapa Yoo Ra belum pulang. Tiba-tiba ponselnya berdering, Moo Ra?
“Halo?... Apa?... Sekarang dimana?... Oke, terima kasih.” Yeon Jin menutup panggilan teleponnya dan bergegas mengambil jaket, turun ke lantai bawah dengan terburu-buru, berlari menuju mobilnya dan segera pergi dengan kecepatan tinggi.
Yeon Jin sudah tiba di rumah sakit ***, apa yang terjadi, yang jelas dia mendapat telepon kalau Yoo Ra mengalami kecelakaan. Menerobos masuk dan melihat sekeliling tanpa bertanya, dia melihat satu monitor dengan layar besar, ada seorang reporter membacakan berita.
“Hari ini tepat jam 5.45 sore terjadi kecelakaan yang mengakibatkan 1 bus bernomor 053 terbakar. Korban tewas dan luka belum dipastikan berapa jumlahnya.” Yeon Jin mendadak lemas, sebelumnya Yoo Ra mengirimkan pesan bahwa dia akan naik bus nomor 053.
Yeon Jin terhuyung, dan memegang kepalanya. Dia berlari menuju pusat informasi, bertanya korban yang bernama Yoo Ra, tapi perawat belum mendapatkan semua identitas korban yang dilarikan kesini. Terdengar suara dokter yang keluar dari ruang UGD dan pergi ke pusat informasi, “Nona Kang, ada 4 mahasiswa dari Deiji, 3 diantaranya sudah meninggal dunia, dan yang satu dipastikan belum tersadar.”
Dokter itu mengatakan mahasiswa dari Deiji? Yeon Jin mengerjapkan mata dan segera bertanya kepada dokter itu. “Dokter, saya mahasiswa Deiji, dari keempat korban itu, siapa yang selamat?” Tanya Yeon Jin, “Ah... hanya satu laki-laki yang belum sadar, tapi kondisinya aman. Saya mohon maaf, saya juga berbela sungkawa untuk universitas Deiji. Kehilangan 3 mahasiswa sekaligus. Mungkin anda bisa menghubungi keluarga laki-laki itu, sekarang korban selamat dan beberapa jenazah masih ada di ruang UGD, masih belum dipindahkan. Saya permisi.”
Yeon Jin membeku, air matanya mengalir, pikirannya sudah kacau. Tanpa menunggu lebih lama, dia berlari menuju ruang UGD, “Yoo Ra, aku harap bukan kamu...”.
Membuka paksa pintu ruangan tersebut, mencari-cari dimana keberadaan kekasihnya. Semoga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Ada 3 mayat yang ditutupi kain terbaring di ranjang rumah sakit, terlihat tetesan darahnya masih mengalir. “Anda keluarga pasien?” Tanya seorang perawat, Yeon Jin mengarahkan pandangannya dan meraih kain itu untuk melihat, semoga bukan dia.
Tiba-tiba, dia menarik tangannya kembali, seperti tak percaya bahwa salah satu dari mereka bukanlah Yoo Ra. Suster itu meyakinkan kembali, bahwa ketiga jenazah ini adalah wanita, dan mereka memliki kartu tanda mahasiswa dari Universitas Deiji.
__ADS_1