
“Aku tinggal disana, di Diamond.” Jawaban Soo Ah.
Yoo Ra mendapatkan jawaban itu, Yoo Ra tidak pernah tahu kalau Soo Ah juga tinggal disana. Mungkin berada di lantai yang berbeda, dan juga Yoo Ra masih belum kenal semua tetangga disana. Sekali lagi Yoo Ra mengajukan pertanyaan.
“Wah... Anak direktur memang seharusnya begitu, apartemen itu sangat mewah loh. Boleh aku berkunjung kesana?”. “Apa? Sekarang?” Soo Ah mulai terlihat panik, dan menolak keinginan Yoo Ra yang ingin berkunjung ke rumahnya.
“Maaf ya, mungkin lain kali. Aku hanya pulang sebentar dan langsung ke rumah Yeom Mi. Jadi kalau kau bertamu akan sia-sia.” Sudah diduga, kalau Soo Ah akan menolak itu.
Yoo Ra akan ikut bermain dalam drama milik Soo Ah, dengan begitu Yoo Ra dapat tahu seperti apa wajah Soo Ah yang berikutnya. Yoo Ra berbelok dan pergi ke arah rumahnya, berjalan ke tempat yang seharusnya tak ia tuju, sambil menggerutu sendiri kalau perbuatannya ini memang tidak baik. “Sudah terlihat di depan gerbang rumah banyak sekali truk kontruksi, apa dia gak lihat kalau rumah ini sedang dibenahi?”.
Berjalan tidak jauh dari belokan tadi, Yoo Ra berhenti sejenak dan melihat apakah Soo Ah sudah pergi. Kelihatannya Soo Ah sudah pergi dari sana, dan Yoo Ra berbalik arah untuk pulang ke apartemen.
Hanya berjarak 50 meter saja, Yoo Ra bisa membuntuti Soo Ah yang berjalan menuju Diamond apartemen. Saat membuntuti, Soo Ah memang berbelok ke arah apartemen, namun dia tak masuk ke dalam. Soo Ah berbelok ke arah gang di samping apartemen itu. Hanya berjarak 3 gedung dari apartemen Diamond, sudah terlihat ada apartemen studio yang berlantai 3.
Yoo Ra melihat kalau Soo Ah masuk ke apartemen studio yang hanya berlantai 3 dan berisikan 6 rumah saja, dilihat dari luar... kelihatannya apartemen itu mirip dengan tempat kost, agak sempit.
Yoo Ra bersembunyi di balik pohon dekat pintu utama apartemen studio yaitu dan mengintip lagi bagaimana kondisi apartemen itu. Yoo Ra hanya bisa berprasangka baik, pikirnya Soo Ah hanya mampir ke rumah teman atau salah satu orang yang dikenalnya.
Saat melihat-lihat, ada seseorang ibu-ibu yang menyapa Yoo Ra. “Nak, apa kamu mau menyewa apartemen disini?” Tanya ibu-ibu itu, dengan memandangi Yoo Ra dari atas sampai bawah. Yoo Ra menjawab kalau ia tidak sedang menyewa apartemen, dan berdalih kalau hanya lewat saja. Kemudian wanita itu berkata, “Sudah kelihatan kau tidak mungkin menyewa apartemen disini, disini hanya untuk orang kelas bawah saja. Gadis sepertimu sudah terlihat kalau dari kalangan atas.”
Perkataan orang itu benar, entah mengapa setiap kali Yoo Ra berpenampilan biasa, selalu saja ketahuan kalau dia adalah anak orang kaya. Yoo Ra pergi dan segera pulang, sekaligus memeriksa apakah Soo Ah tinggal di apartemen yang sama dengannya.
Apartemen mewah bagaikan hotel, apartemen yang mempunyai pusat informasi yang sangat akurat tentang data siapa saja yang tinggal disini beserta profesinya, pusat informasi yang berada di lobi. Meja resepsionis sudah siap menerima segala sesuatu layanan yang berkaitan tentang tempat ini.
Yoo Ra mendekati meja resepsionis dan bertanya kepada salah satu petugas, apakah orang yang tinggal disini ada yang bernama Chae Soo Ah? Jawaban dari resepsionis adalah TIDAK ADA. Bahkan Yoo Ra juga bertanya lagi, berapa jumlah mahasiswa yang menjadi penghuni apartemen disini.
__ADS_1
“Nona, dari data kami hanya 3 orang yang berprofesi sebagai mahasiswa yang menyewa apartemen disini. Termasuk anda dan kakak anda, dan satu lagi adalah CEO dari Park Group. Untuk nama Chae Soo Ah atau mahasiswa yang bernama Chae Soo Ah tidak ada dalam daftar nona.” Jawaban yang sangat padat dan sangat dimengerti oleh Yoo Ra.
Oke, kini penipuan yang kesekian kalinya. Yoo Ra tidak perlu mengungkit ini lagi, karena Soo Ah tidak lagi menganggu dirinya, dan kini ia bisa santai dan melanjutkan hidup disini dengan tenang tanpa mengusik orang lain.
“Biarlah, ini urusan Soo Ah sendiri.”
***
Tidak terasa hari-hari sudah berlalu, bahkan bulan demi bulan sudah berganti. Salju sudah lama menghilang dan bergantikan bunga-bunga yang mekar. Wangi alami dari serbuk yang berterbangan menyambut mentari dan menyapa para arwah kutukan. Cincin bulan memancarkan sinarnya di malam pertengahan musim semi, tidak seperti biasanya.
Dal Rae yang berada disana sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Para arwah sudah menerima sinyal kalau waktu mereka disini akan singkat dari biasanya, dan juga mereka akan segera kembali. Yoo Ra menyadari ini, bahkan saat kuliah pun ia juga sering memiliki firasat kalau ia akan segera meninggalkan kehidupan di dimensi ini dan kembali ke tempat asalnya.
Setiap hari berangkat ke kampus dan menjalani kehidupan penuh keceriaan yang bisa menjadi kenangan bagi para teman baiknya. Moo Ra, Jun Moo, Jeon Ki, Yeom Mi, dan senior-senior yang sudah dekat dengannya.
“Aku akan membuat kenangan disini, aku harap kalian tidak akan melupakanku begitu saja. Aku harap, kalian semua baik-baik saja disini.” Ucap Yoo Ra dalam hati.
---
Duduk sendiri di perpustakaan dengan melihat pemandangan keluar jendela, bergumam sendiri tanpa ada seseorang yang mendengarkannya. “Mungkin saat aku pergi nanti dan tak akan pernah kembali, pasti kalian menganggapku sudah tiada dan meninggalkan dunia ini. Baguslah kalau kalian menganggapku sudah mati.”
Mempersiapkan hati dan mencoba menghilangkan identitas diri itu tidaklah semudah yang dipikirkan, harus ada persiapan yang lebih lagi agar jiwa mampu menerima kenyataan dan menarik diri sejauh mungkin dari orang-orang terdekat.
“Yoo Ra...” Teriak Moo Ra yang sedang bersama Jeon Ki menghampiri Yoo Ra yang duduk sendiri. Yoo Ra mengisyaratkan kalau tidak boleh berteriak, karena ini di perpustakaan. Moo Ra dan Jeon Ki duduk menemani Yoo Ra disana. Yoo Ra menanyakan dimana Jun Moo, biasanya Moo Ra selalu bersama dengan kekasihnya itu. Lalu Moo Ra menjawab kalau Jun Moo sedang rapat untuk program orientasi bulan berikutnya.
Saat itu juga Yoo Ra tersadar kalau ia juga harus menghadiri rapat itu, mengingat dirinya juga anggota organisasi. “Aku juga harus hadir disana, ya ampun... aku lupa.” Ucap Yoo Ra yang menyadari itu.
__ADS_1
“Tenanglah, rapatnya tidak semua anggota kok. Tadi diralat lagi saat senior Jae Won ke kelas, dia ingin mengajakmu tapi kau gak di kelas, jadi dia meminta Jun Moo yang ikut rapat.” Ucap Jeon Ki menenangkan Yoo Ra yang sudah hendak pergi.
Jeon Ki juga menyahut kalau saat ini dia prihatin dengan senior sekaligus asisten dosen itu, “Cinta yang belum terbalas itu menyakitkan, sama seperti aku dan senior Jae Won.”. “Memangnya semudah itu membuat keputusan? Pikirkan dulu, emangnya kau sudah diterima? Perempuan itu berbeda dengan laki-laki.” Jawab Yoo Ra kepada Jeon Ki, Jeon Ki terdiam dan hanya menyesali perasaannya sendiri.
“Aku tahu, aku sangat bodoh bisa menyukai ratu oplas itu.” Imbuh Jeon Ki yang membuat Moo Ra dan Yoo Ra terkejut bukan main.
Mereka berdua bingung dan menebak-nebak, “Beneran Move On?”. Jeon Ki mengangguk dan berkata kalau dia akan merencanakan masa depan yang lebih baik dibandingkan urusan percintaan yang sudah membuatnya gila.
Tepuk tangan kedua wanita di hadapan Jeon Ki sangat riuh, “Hebat hebat... Jadilah orang kaya dan kuasai dunia yan.” Ucap Yoo Ra yang menyemangati Jeon Ki. Kegaduhan mereka tidak terlalu menganggu karena kondisi perpustakaan sedang sepi dan tidak ada penjaga.
Ada satu benda kecil yang menganggu pandangan Moo Ra. Kantung kecil transparan warna biru dan terlihat benda di dalamnya seperti sebuah kelereng yang ukurannya 2 kali lipat. Kantung kecil itu menjadi gantungan tas Yoo Ra, “Apa itu, aku kok gak pernah lihat kamu bawa itu.” Tanya Moo Ra.
“Bukan apa-apa, cuman bola kecil yang berkilau.” Jawab Yoo Ra yang tak ingin membahasn barang penting itu. Moo Ra juga tidak terlalu memikirkannya, namun dia bercanda sedikit kalau benda itu akan cocok jika dibuat kalung lalu dipakai oleh Moo Ra. Mereka tertawa kecil dan bola mengkilap itu tidak mungkin menjadi barang seperti itu.
---
Mereka bertiga pergi dari perpustakaan dan berjalan dari lorong ke lorong lainnya menuju kelas mereka, saat itu juga mereka berpapasan dengan Jae Won yang keluar dari ruang rapat. Nampaknya rapat sudah selesai, dan terlihat para anggota keluar dari ruangan itu setelah Jae Won keluar.
“Ah, Yoo Ra... Hai.” Sapa Jae Won yang sangat senang bertemu dengan Yoo Ra. Yoo Ra membalas sapaan itu dengan senyuman. “Rapatnya sudah selesai?” Tanya Yoo Ra kepada Jae Won.
“Sudah selesai, kamu kemana tadi?” Tanya Jae Won dengan nada serius seolah kecewa dengan Yoo Ra.
“Aku tadi ke perpustakaan.” Jawab Yoo Ra. Saat itu seketika suasana menjadi tegang, nampaknya Jae Won marah dengan Yoo Ra. Menyadari hal itu, Moo Ra dan Jeon Ki pergi meninggalkan mereka berdua disana. “Ki...Kita pergi dulu ya, sampai jumpa.”
“Beneran ke perpus?” Ujar Jae Won yang agak kesal, Yoo Ra hanya terkejut melihat perlaku aneh Jae Won yang saat ini.
__ADS_1
“Apakah sesulit ini untuk bertemu denganmu? Apa sesulit ini untuk bisa berkomunikasi denganmu? Apa kau tidak tahu betapa aku merindukanmu?” Ucapan Jae Won yang membuat Yoo Ra membatu untuk kesekian kalinya.