
(Yoo Ra)
“Aku juga ingin tinggal disini lebih lama lagi, usiaku juga masih 20 tahun. Tenang saja, apakah 30 tahun kedepan masih kurang?”
(Yi Jo)
“Jangan bercanda. Aku tidak suka disinggung soal usia, usiaku sudah ratusan tahun. Kamu disini usianya 20 tahun, tak kusangka di sana usiamu 25 tahun.”
(Yoo Ra)
“Aku juga heran . Bagaimana kabar dari Yan Jo dan Seo Hun harabeoji?”
(Yi Jo)
“Mereka berdua baik-baik saja, hanya saja Andy dan Billy yang kesusahan.”
(Yoo Ra)
“Kenapa? Apa yang terjadi?”
(Yi Jo)
“Mereka sedang berburu arwah yang hilang. Arwah dari seorang biarawati sekaligus peramal. Tujuannya menghilang adalah berkeliaran dan memberikan bocoran hidup ataupun meramal manusia. Niatnya memang baik, tapi ini menentang peraturan yang diatas.”
(Yoo Ra)
“Pria atau wanita?”
(Yi Jo)
“Wanita tua, meninggal karena dibunuh kliennya sendiri.”
(Yoo Ra)
“Minta bantuan ke Dal Rae, disana dia kan juru kunci arwah gentayangan. Siapa tahu arwah itu meminta peony untuk pergi ke Pureun Seong.”
(Yi Jo)
“Benar juga, baiklah aku akan pergi kesana. Terima kasih ”
(Yoo Ra)
“Hati-hati di jalan.”
Masalah kali ini sangat unik, ada pendeta yang merangkap diri menjadi peramal. Memikirkan itu saja membuat Yoo Ra tersenyum dan penasaran, ia ingin tahu apakah ramalan itu adalah sesuatu yang akan terjadi dengan nyata dan pasti.
“Jangan dipikirkan, terkadang ramalan juga palsu.” Gumam Yoo Ra sendiri. Saat berjalan, ada daun kering yang seukuran dengan telapak tangan jatuh mengenai wajahnya. Agak kesal, tapi memungut dari wajah mamang agak memalukan. Yoo Ra mengambil daun itu dan segera membuangnya, lanjut berjalan dan segera kembali ke rumah. Yoo Ra menghentikan langkah kakinya dan berbalik.
Merasa ada sesuatu yang aneh, Yoo Ra memungut kembali daun itu. Dan di daun kering itu ada tulisan, dan ada nama Yoo Ra disana “Kepada : Kim Yoo Ra”. Aneh... sangat aneh, apakah ini kebetulan?
__ADS_1
“Sebentar lagi purnama biru, kau tidak perlu kembali. Karena jalanmu kembali bukan dengan sesukamu, melainkan dengan kematianmu. Mobil, pria, liontin, dan peti kristal. Mereka berempat yang akan mengantarmu ke portal purnama.”
“Apa-apaan ini, baru saja membahas ramalan, sudah muncul beginian.” Yoo Ra tak mempermasalahkan tulisan di daun itu, lanjut berjalan dengan menggenggam daun itu untuk di buang ke dalam tempat sampah.
“Maafkan aku, kalau hanya daun seperti ini aku juga bisa membuat khayalan dan menulis kata-kata seperti itu.” Yoo Ra berkata seperti itu dan mengarahkan tangan untuk membuang daun itu di tempat sampah, pada akhirnya ada tangan yang menghentikan aksinya.
“Jangan dibuang!!!, itu akan terjadi loh.” Wanita tua yang berbicara.
Jangan-jangan... wanita tua ini yang dimaksud Yi Jo tadi. Apakah benar? Yoo Ra berusaha memahami ini, dan mulai mengerti.
Yoo Ra menyimpan tangannya dan memasukkan daun itu ke dalam saku coat miliknya, dan mengajak wanita tua itu untuk duduk. Sangat tepat, kondisi tempat ini sangat sepi dan jarang ada orang yang berlalu lalang.
Yoo Ra melihat wanita tua itu menggunakan pakaian khas biarawati, wajah pucat orang mati, dan luka tembak di dada kiri. “Kondisinya membuatku ingin mual. Benar... Orang ini yang mereka cari.” Yoo Ra agak lega menemukan wanita ini walau agak risih, lalu Yoo Ra mengajaknya mengobrol sebentar.
(Yoo Ra)
“Bu, anda peramal?”
(Biarawati)
“Ya... Ramalanku biasanya tepat, tidak tahu kenapa ramalanku semakin lama tidak ada yang percaya. Padahal aku menerima ramalan itu dari Yang Maha Kuasa, dia selalu datang di mimpiku dan memberikan informasi yang akan datang.”
(Yoo Ra)
“Jadi... ini juga berkat Tuhan.”
(Biarawati)
(Yoo Ra)
“Maaf aku berkata begini, tapi... tidak semua ramalan itu bisa jadi nyata. Apakah kesedihan Ibu ini sudah berlebihan?”
(Biarawati)
“Aku tahu, ramalanku yang tidak terjadi seharusnya disyukuri. Tapi tidak dengan orang yang menembakku. Aku mengatakan dia akan tidak akan bisa mendapatkan orang yang dicintainya, sampai kapanpun dan kehidupan manapun. Dia tak percaya dan menodongkan pistol padaku, kemudian aku tertembak.”
(Yoo Ra)
“Jadi, tidakkah anda ingin segera pergi ke alam baka? Untuk ketenangan anda juga.”
(Biarawati)
“Aku masih mencari orang yang mau percaya pada ramalanku, walau itu akan terjadi atau tidak. Dan agassi, kau adalah orang ke 117 yang membuang ramalnku.”
Yoo Ra tambah bingung, mungkin biarawati ini juga ingin ada orang yang menyimpan tulisannya dengan baik, sehingga dia bisa tenang nantinya. Memberikan ramalan yang diperoleh dari Yang Maha Kuasa sangatlah tidak diragukan kepalsuannya. Mungkin cara ini bisa membujuknya untuk segera pergi ke akhirat.
(Yoo Ra)
“Karena aku orang yang kesekian kalinya yang menerima ramalanmu, maka dengan tulus aku menerima ini. Daun ini akan aku simpan sebaik mungkin dan akan percaya, tapi Ibu harus mendengarkan saya.”
__ADS_1
(Biarawati)
“Terima kasih . Terima kasih sudah mau menerima ini.”
(Yoo Ra)
“Iya... Untuk saat ini dan seterusnya, di dunia ini tidak terlalu baik untuk anda. Seharusnya anda kembali ke tempat yang seharusnya untuk menerima kehidupan baru. Saya berharap anda mau ikut saya , saya akan membawa anda menuju ketenangan.”
(Biarawati)
“Terima kasih agassi . Mungkin aku terlalu semangat dengan ramalanku sampai aku lupa kalau aku sudah mati. Terima kasih sudah memperingatkan aku. Antsrkan saya segera ke tempat itu.”
Yoo Ra segera mengatarkan wanita tua itu ke tempat Dal Rae untuk meminta peony, sebagai tiket masuk ke Pureun Seong. Sampai di depan toko bunga Dal Rae, Yoo Ra sudah melihat dengan jelas keberadaan Pureun Seong.
Yoo Ra memberitahu biarawati kalau Pureun Seong tempat yang akan membawanya ke akhirat nanti ada disana, tapi biarawati itu tidak bisa melihatnya. Masuk ke dalam toko Dal Rae, dan dia menyambut biarawati itu dengan senang hati. Biarawati itu menerima setangkai peony merah, dan berjalan menuju Pureun Seong.
Dal Rae melihat Yoo Ra yang penuh rasa iba memandang biarawati itu. Dal Rae bisa mendengar suara hati Yoo Ra yang keheranan sekaligus bersedih, siapa yang tega mebunuh seorang biarawati yang suci ini?
(Dal Rae)
“Kenapa? Ingin pergi bersamanya?”
(Yoo Ra)
“Halmeoni ada-ada saja. Baiklah... aku akan pulang.”
(Dal Rae)
“Pulang? Tidak mau minum teh dulu?”
(Yoo Ra)
“Tidak, terima kasih.”
(Dal Rae)
“Jangan kembali kesana dulu, purnama biru ini akan menyesatkanmu kalau kau menyusurinya.”
(Yoo Ra)
“Aku tahu, aku sudah merasakannya.”
(Dal Rae)
“Syukurlah kalau kau mudah peka. Bawalah ini, malam ini ruangan rumahmu akan terasa wangi.”
(Yoo Ra)
“Terima kasih . Aku pulang dulu.”
__ADS_1
Dal Rae memberikan seikat bunga sedap malam untuk Yoo Ra, Dal Rae memberikan itu dengan maksud tertentu. Yoo Ra menerima sesuatu dari arwah yang meninggal secara tak wajar, Dal Rae menetralkan aura buruk dari benda itu. Dan ini memang takdir dari dewa, Dal Rae juga tahu kalau Yoo Ra menerima ramalan. Tergantung keadaan, nantinya akan terjadi atau tidak.
“Kau gadis baik, dan kehidupan lamamu juga kau dikenal dengan gadis baik. Semua yang kau percaya atau tidak itu urusanmu, tapi kemuliaan hatimu mampu menerima barang apapun walau itu barang yang tidak baik. Kau sudah menyenangkan perasaannya, semoga kerendahan hatimu tetap terjaga. Jangan terlena menjadi lilin yang mengorbankan diri untuk menerangi orang lain, tangguhkan hatimu.” – Dal Rae