Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 58


__ADS_3

“Untuk saat ini...” Yoo Ra bingung, perasaan yang tidak enak hati mulai menyerang. Tapi ia tidak ingin ada tarik ulur dalam hubungan ini, ia harus jujur dan berusaha memberitahu yang sebenarnya.


“Untuk saat ini jawabannya adalah belum.” Yoo Ra mengatakan 1 kalimat itu dengan sesak dan juga yakin. Yeon Jin melonggarkan pelukannya saat Yoo Ra mengatakan itu. Anehnya, Park Yeon Jin tidak patah hati saat mendengar jawaban Yoo Ra.


“Aku akan menunggu. Sebenarnya aku sangat bersyukur dapat jawaban BELUM, aku tidak ingin kau menjawab TIDAK.” Masih di belakang Yoo Ra, Yeon Jin memegang kepala Yoo Ra dan menyandarkannya tepat di dada Yeon Jin.


Yoo Ra ingin pergi dari situasi ini, ingin sekali membungkus diri menggunakan kantong sampah dan sembunyi di dalam lemari kosong. Ia malu, tapi jujur. Salju semakin lebat, dan suhu suhu mulai turun. Temperaturnya sangat dingin, Yoo Ra juga ingin kembali ke apartemennya.


Memecah keheningan, mereka berdua pergi ke apartemen masing-masing.


***


Yoo Ra masih tidak mau terjebak dengan menyukai seseorang di kehidupan ini. Dimensi ini sangat berbeda dengan dirinya, ia hanya pergi ke dimensi lain. Jika seseorang menyeberangi dimensi lain dan menetap disana, maka saat mati jiwanya tidak akan bisa direinkarnasi lagi.


Ketakutan terbesarnya adalah itu, tidak bisa terlahir kembali dan akan dibuang sekaligus mendapat hukuman. Yoo Ra menahan ini, dan ada 2 orang lelaki yang sedang mengejarnya. Yoo Ra hanya menyukai satu pria saja, namun satu pria yang lain juga membutuhkannya.


Antara Yeon Jin dengan Jae Won, Yoo Ra lebih menyukai Yeon Jin. Setelah mengetahui sifat asli Jae Won, Yoo Ra mulai menjaga diri agar terhindar dari bahaya. Menyangkut nyawa yang berharga, dan ia punya tugas untuk memulihkan kondisi Jae Won.


---


Emma menelpon Yoo Ra, dan memintanya datang ke toko bunga Dal Rae. Dal Rae meminta bantuan Yoo Ra untuk membungkus beberapa herbal hangat khusus musim dingin. Yoo Ra pergi sendirian di badai salju hari ini, apa boleh buat, ia harus setuju dengan perintah Emma, mengingat Dal Rae hanya nenek tua walau sebenarnya dia adalah dewa. Namun Yoo Ra berpikir kalau nenek tua itu adalah “PENYIHIR”.


Sejak Yeon Jin mengungkapkan perasaannya, dia jarang menemui Yoo Ra. Sesekali terdengar suara dari sekretaris pribadi Yeon Jin yang berkunjung dengan membawa tas kerja.


Saat Yoo Ra keluar dari apartemennya, Yeon Jin juga ikut keluar dengan membawa mantel wol yang tebal. “Seonbae mau keluar?” Tanya Yoo Ra untuk menghilangkan kecanggungan, dan akan bersikap seperti biasa.


“Iya, kau mau kemana? Mau keluar saat badai seperti ini apa nggak bahaya?” Yeon Jin juga menanggapi Yoo Ra. Seolah tidak terjadi apa-apa sejak beberapa hari yang lalu. Ada kejanggalan dia antara mereka berdua. Turun ke bawah dan satu lift, mereka berbicara tentang kuliah.


Saat sudah sampai di pintu utama, Yeon Jin bertanya kembali Yoo Ra mau kemana. Dan Yoo Ra menjawab kalau ia ingin pergi ke toko bunga dekat sungai Han, tepatnya “Toko Bunga Dal Rae”. Kebetulan Yeon Jin juga pergi kesana karena mendapat telepon dari Emma. Yeon Jin memutuskan untuk mengajak Yoo Ra pergi dengan mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Yoo Ra cemas dan mengkhawatirkan kondisi Kim Jae. Tak hanya itu, ia juga merasa kalau Emma sengaja memanggilnya dan juga Yeon Jin. Yoo Ra bingung apa rencana mereka sehingga harus melibatkan Yeon Jin.


(Yoo Ra)


“Dal Rae halmeoni meminta bantuanku untuk membungkus herbal.”


(Yeon Jin)


“Aku juga sama. Mungkin bungkusannya akan banyak. Sebentar lagi kan natal.”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Ah... benar juga.”


(Yeon Jin)


“Aku punya tonik herbal di dapurku. Rasanya enak sekali.”


(Yoo Ra)


“Aku lebih suka cokelat panas dibandingan tonik herbal.”


(Yeon Jin)


“Oh begitu...”


Yeon Jin berusaha semampunya untuk bisa berkunjung ke apartemen Yoo Ra dengan berdalih tonik herbal. Rencana awalnya dia ingin menawarkan tonik herbal kemudian meminumnya di apartemen Yoo Ra, namun zonk yang di dapat.


(Yeon Jin)


“Aku dengar bubuk cokelat di jalan x sangat terkenal, bahkan rasanya enak.”


(Yoo Ra)


(Yeon Jin)


“Belum, nanti kita kesana. Karena aku gak tau cara bikin cokelat panas, nanti aku ke rumahmu boleh?”


(Yoo Ra)


“Apa? Jangan bercanda, anak kecil aja juga bisa. Seonbae juga bisa bikin tonik, kok bikin cokelat panas aja gak bisa?”


(Yeon Jin)


“Karena aku laki-laki? Biasanya kan cewek yang handal bikin yang manis-manis.”


Yeon Jin berhasil memulihkan hubungan mereka, candaan ini sama seperti dulu. Siasat Yeon Jin berhasil, kini dia akan mencoba lebih dekat dan membuat Yoo Ra luluh sekaligus bisa menerimanya dengan tulus.


---

__ADS_1


Toko Dal Rae sudah ditutupi dengan salju tebal, dari luar masih terlihat lampu-lampu dari toko yang masih menyala. Segera masuk untuk menghindari dinginnya suhu di dalam. Yeon Jin dan Yoo Ra menghampiri Dal Rae yang sedang memindahkan keranjang herbal dari dapur ke ruang utama.


“Ini dia, tolong bungkus ini ke dalam kantong kertas disana ya. Ini teh kualitas super, dan ada tambahan jasmine eropa.” 3 keranjang besar yang ada di ruang utama, harum dari daun teh kering dengan bunga melati kering semerbak dan tercium ke seluruh sudut ruangan.


Mereka berdua tercengang, 3 keranjang besar teh ini harus mereka masukkan ke dalam kantong kertas berukuran amplop surat yang sedang. Ini akan memakan waktu yang lama, tapi ada niat baik dibalik 3 keranjang teh ini.


Dal Rae menjelaskan kenapa dia melakukan ini, setiap musim dingin adalah musim penuh kehangatan, semua orang akan berkumpul dengan keluarga masing-masing. Dia melakukan ini setiap tahun, membagikan herbal ke setiap rumah saat badai reda.


Yoo Ra tidak terpaku pada niat Dal Rae, karena ia bingung kenapa Yeon Jin mengenal Dal Rae, dan nampak kalau hubungan mereka sangat dekat sekali. Yoo Ra terus memperhatikan keakraban mereka berdua, dengan senyum yang mengarah kepada Yeon Jin yang sedari tadi tertawa lepas dengan Dal Rae.


“Kalian berdua sudah kenal lama? Kelihatannya akrab banget.” Tanya Yoo Ra yang penasaran dengan hubungan mereka. Setahu Yoo Ra, Dal Rae adalah seorang dewa dan jarang berinteraksi dengan manusia biasa, kecuali manusia separuh roh atau arwah orang yang berkeliaran, bisa dibilang hanya berinteraksi dengan arwah saja.


Yeon Jin menjawab petanyaan Yoo Ra dengan spontan, “Tentu saja kita kenal dekat, aku adalah jiwa yang...” Sejenak Yeon Jin menghentikan kalimatnya, dan tersadar kalau hal mengenai dia tidak boleh diungkap secara terang-terangan. Apalagi kenyataan ini sangat sensitif.


(Dal Rae)


“Haish tentu saja kita kenal dekat, beberapa tahun lalu Moon Ae Ri yang memperkenalkannya padaku. Dia teman bisnisnya kan, Yeon Jin juga sering berkunjung kesini.”


(Yoo Ra)


“Oh... Pantas saja Emma menyuruh seonbae kesini, ternyata seonbae dengan Dal Rae halmeoni juga dekat karena Emma sajangnim ya...”


Yeon Jin hanya mengangguk dan menyimpan kata-katanya, dia berharap Yoo Ra tidak tahu kalau dia adalah manusia yang dikutuk. Mereka bertiga kembali ke pekerjaan, mengisi kantong-kantong kertas dengan jasmine tea buatan Dal Rae.


Di luar, badai sudah mereda. Hanya saja angin masih bertiup sangat kencang. Hawa dinginnya tidak tertahankan, Dal Rae pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Tersisa Yeon Jin, Yoo Ra dengan bungkusan teh yang sudah selesai dibungkus. Duduk di karpet dengan pemandangan salju tebal di luar dari jendela besar toko bunga itu.


Suasana hening tidak terkontrol lagi, kecanggungan mereka semakin dalam. Mereka teringat kejadian itu, Yeon Jin masih enggan untuk berbicara dengan Yoo Ra dari jawaban atas permintaannya itu. Yoo Ra sendiri mengatakan belum, tapi jawaban belum itu menimbulkan tanda tanya yang besar.


“Seonbae, aku benci tidak ada obrolan diantara kita. Aku tidak ingin berakhir begini.” Ucap Yoo Ra memecah keheningan membuat inisiatif Yeon Jin untuk mengejar Yoo Ra semakin meningkat.


“Aku juga benci, tapi aku juga gak mau jadi bucin.” Satu kalimat terlontar begitu saja, Yoo Ra serasa berat untuk mendengarnya.


“Ayo kita akhiri kecanggungan ini, mungkin kita perlu waktu, maksudku...kamu yang perlu waktu. Anggap aku jadi sahabatmu, mungkin kalau kita lebih dekat lagi, kamu bakalan nyaman, dan tahu apa sebenarnya perasaan yang udah aku katakan.” Yeon Jin berkata apa adanya, dan Yoo Ra terdiam untuk memikirkan saran ini.


Sebenarnya Yoo Ra sudah memiliki perasaan sama seperti Yeon Jin. Mereka saling tertarik, saling suka satu sama lain, tapi jawabannya hanya ada di Yoo Ra. Yoo Ra berhenti melangkah ke depan menuju ke Yeon Jin karena di belakang masih ada Jae Won.


Menjadi posisi di tengah-tengah itu sangat susah, bergeser sedikit bisa menjatuhkan pihak kanan atau mengangkat pihak kiri. Ingin menyerah tapi bisa mematahkan dan menhancurkan masing-masing sisi.


“Yoo Ra, pikirkan dulu. Kalau kau butuh aku, aku akan siap dan berusaha lebih peka. Ayo kita mulai lagi, kita ulang menjadi teman, kemudian menjadi sahabat. Aku bisa membuatmu jatuh hati kepadaku, asalkan beri aku kesempatan dan buka pintu hatimu. Saat kita bersahabat, kau akan sadar kalau pria dan wanita itu tidak bisa bersahabat. Mereka akan meminta lebih, karena rasa nyaman yang sudah timbul akan membuat kecanduan.” Yeon Jin semakin terbuka untuk menyatakan perasaannya.

__ADS_1


“Masih ada seseorang yang sama sepertimu, aku diapit oleh dua orang. Pria seperti dua orang ini sama-sama perhatian dan juga tulus denganku. Aku akan berusaha mencari siapa pemiliki rusuk ini, aku berusaha sekuat tenaga untuk mebersihkan debu di batu hati milikku dan membaca nama yang berhak memiliki diriku. Seonbae benar, kita bisa mulai dari awal, dan akan menemukan titik terangnya. Karena aku sudah memilih pilihan untuk mengijinkan seonbae mencari cinta pertama pada diriku.” – Kim Yoo Ra/Lee Yoo Ra.


__ADS_2