
(Kim Jae)
“Samchon, aku sudah bilang jangan panggil nama lengkapku!!!”
(Yoo Ra)
“Ayolah, nama panjangmu itu bagus kok (duduk dan memakan pizza).”
(Kim Jae)
“Nama yang terlalu kekanakkan, kenapa juga kakek memilihkan nama seperti itu.”
(Yoo Ra)
“Oppa... jadi selama ini kau dipanggil dengan Kim Jae dan bukannya Jae Rim ya?”
(Kim Jae)
“Sudah tahu masih nanya pula.”
(Kim Yoo)
“Dasar anak muda (melempar struk pizza yang di kepal ke Kim Jae). Nama itu adalah berkah, beruntunglah ada orang yang memberimu nama.”
(Yoo Ra)
“Walau agak norak tetep aja namamu bagus kok. Samchon, kok bisa Kim Jae oppa gak mau dipanggil Jae Rim?”
(Kim Yoo)
“Dulu saat dia berusia 11 tahun dia bertemu badut, dandanannya juga nyeleneh. Asal kau tahu kalau oppamu ini pobhia sama badut.”
(Kim Jae)
“Sudahlah, jangan dibahas lagi (ngomong dengan mulut penuh). Bikin malu aja.”
(Kim Yoo)
“Terus, karena oppamu itu orangnya gemesan, jadi perut badut yang bulat itu dipegang-pegang sampe badutnya marah. Lalu lari karena takut di kejar. Saat lari pun celananya kedodoran, akhirnya melorot (tertawa). Bukannya malah dibantuin sama si badut eh malah diketawain.”
(Yoo Ra)
“Bhahaha (tertawa). Ya ampun, kedodoran? Hahaha (tertawa sampai sakit perut).”
(Kim Jae)
“Itu salah samchon, ngapain juga aku dipakein celana yang kedodoran.”
(Kim Yoo)
“Itu kan barang mahal, baru aku beli. Ngapain juga kamu mau makek saat itu.”
(Yoo Ra)
“Terus, apa hubungannya sama nama Jae rim?”
(Kim Yoo)
“Itu nama asli badutnya, Rok Jae Rim. Sama kayak nama belakang Kim Jae, saat itu dia ngambek dan nyuruh manggil Kim Jae bukannya Jae Rim.”
(Yoo Ra)
“Ya ampun... segitu dendamnya (tertawa dengan mengelus kepala Kim Jae).”
(Kim Jae)
“Intinya sekarang, jangan pernah bahas pobhiaku. Badut sialan...”
Saat ini mereka makan bersama, bercengkrama dan menghangatkan suasana. Di luar sedang turun hujan, cukup mendinginkan hawa musim panas saat ini.
(Kim Yoo)
“Bagaimana dengan kuliahnya?”
(Kim Jae)
“Fine.”
(Yoo Ra)
“Lumayan untuk hari pertama. Walau banyak yang resek.”
(Kim Jae)
“Kayaknya kamu pembuat onar ya. Oh iya, tadi di kelasku banyak yang bicarain soal kamu, mereka bilang sih kamu itu tipe cewe yang lagi diincer sama temen-temenku deh.”
(Yoo Ra)
“Heih... (memasang muka kesal) “
(Kim Yoo)
“Udah-udah. Sekarang aku tidur dulu, selamat malam.”
(Kim Jae & Yoo Ra)
“Selamat malam...”
---
Hujan masih deras, Yoo Ra membaca buku “Dal” itu didekat jendela kamarnya sambil menikmati hujan. Dia masih bingung dengan petunjuk dari buku itu. Kemudian, terdengar suara dan ketukan pintu.
Tok Tok... “YooRa, ini aku”. Ternyata suara Kim Jae.
__ADS_1
(Yoo Ra)
“Masuklah, pintunya gak dikunci. (Kim Jae masuk). Ada apa?”
(Kim Jae)
“Belum tidur?”
(Yoo Ra)
“(menggeleng). Bisa kasih tau tentang ini? (menunjukkan buku)”
(Kim Jae)
“Sini biar aku kasih tahu.”
Kim Jae memberitahu semua yang ia ketahui tentang kastil itu. Lokasi yang Kim Jae beritahukan adalah sebuah taman tua di dekat sungai han, yang dimana tempat itu dekat dengan rumahnya.
Kim Jae juga memberitahu rahasia lain untuk bisa melihat kastil biru, yakni dengan batu giok berbentuk bulan sabit.
(Yoo Ra)
“Dimana aku bisa menemukan giok itu?”
(Kim Jae)
“Ketika kau datang pertama kali kesini, aku lihat aku memakai kalung giok berbentuk bulan sabit.”
(Yoo Ra)
“Perasaanku, aku gak punya giok bentuknya bulan sabit.”
(Kim Jae)
“Berarti kau lagi beruntung, bisa membawa kunci menuju kastil biru kesini.”
(Yoo Ra)
“Kalau begitu, sekarang dimana giok itu?”
(Kim Jae)
“Aku taruh di laci meja riasmu. Warnanya biru tua menyala.”
(Yoo Ra)
“Eh? Warna biru? Bukannya warna hijau?”
(Kim Jae)
“Giok gak cuman warna hijau, coba cek masih ada apa enggak.”
YooRa mengecek laci itu, dan dicarinya kalung giok bulan sabit miliknya.
(Yoo Ra)
(Kim Jae)
“ Nah, ini juga salah satu kemungkinan kunci gerbang tua itu agar kau bisa melihat kastil birunya.”
(Yoo Ra)
“Akan aku coba besok, anterin aku ya.”
(Kim Jae)
“Sebelum terjadinya purnama bulan biru, aku tidak boleh kesana. Kalau aku kesana, nanti aku malah gagal jadi goblin. Jadi aku baru menginjakkan kaki di sana saat purnama bulan biru.”
(Yoo Ra)
“Kayaknya, purnama itu terjadi 7 bulan lagi. Samchon bilang kalau itu waktu yang diperbolehkan saat aku memakai cincin dan juga portalnya terbuka. Jadi purnama itu adalah purnama bulan biru?”
(Kim Jae)
“Purnama bulan biru tidak setiap bulan terjadi, terkadang juga satu tahun sekali. Makanya kau harus bisa melihat kastil itu, besok pagi kalau kita berangkat ke kampus kita nyoba lewat di depan gerbang tua itu ya. Siapa tahu nanti bisa merasakan sesuatu.”
(Yoo Ra)
“Gimana kalau aku nyari pertolongan sama Dal Rae?”
(Kim Jae)
“Jangan ngawur, kalau dikasih setangkai peony merah gimana? Siap-siap menuju akhirat loh, bunga itu khusus untuk arwah yang mati gak wajar.”
(Yoo Ra)
“Ya kan bukan begitu, kalau aku gak bisa masuk dari gerbang itu kan aku juga minta solusi dari dia.”
(Kim Jae)
“Anggap aja itu rencana kedua, sekarang fokus ke giok ini.”
(Yoo Ra)
“Baiklah, nanti aku berusaha sebisa mungkin.”
Sudah larut malam, tapi Yoo Ra masih membaca buku itu. Sementara Kim Jae tidak kembali ke kamarnya, ia tidur di sofa kamar Yoo Ra.
Yoo Ra menulis beberapa petunjuk yang ia simpulkan sendiri, dan juga beberapa rencana untuk bisa melihat kastil biru itu.
Yang ia dapat saat ini adalah.
Gerbangnya ada di taman tua dekat sungai Han.
__ADS_1
Kastilnya akan terlihat saat malam hari.
Kunci menuju ke sana adalah saat Yoo Ra meninggal dunia, mendapat undangan daun maple bulan sabit, dan yang terakhir adalah giok biru bulan sabit yang ia punya.
Yoo Ra sudah memastikan kalau giok ini adalah kunci dari gerbang tua itu, dan sekarang giok itu adalah harapan terbesarnya.
***
Hari sudah pagi, dan saatnya mereka berangkat ke kampus. Tapi mereka berangkat lebih awal dari biasanya, karena mereka harus ke sungai Han terlebih dahulu untuk memastikan gerbang tua itu masih berada disana.
(Yoo Ra)
“Ayo berangkat.”
(Kim Yoo)
“Tumben berangkat pagi?”
(Yoo Ra)
“Iya... berangkat dulu samchon.”
(Kim Yoo)
“Hati-hati.”
Saat di dalam mobil, Kim Jae menceritakan betapa indahnya dan fungsi dari kastil biru itu. YoovRa juga menjawab kalau tempat itu adalah tempat penyucian arwah sebelum menuju ke alam baka.
Ternyata tidak sebagai tempat penyucian arwah, arwah yang disucikan juga bukan arwah sembarangan.
Berdasarkan cerita dari Kim Jae, fungsi tempat itu sama dengan penjelasan dari buku “Dal" dan pengalaman Yoo Ra pribadi.
Di tempat itu, arwah yang disucikan adalah arwah yang mati secara tidak wajar. Terkadang arwah yang mati secara tidak wajar akan menjadi arwah jahat yang menganggu manusia-manusia, dan tidak bisa direinkarnasi kembali.
Saat ke kastil biru, mereka harus membawa setangkai peony merah yang didapat dari toko bunga Dal Rae, konon bunga itu adalah kunci bagi arwah untuk masuk ke kastil biru.
Itu aneh tapi sesungguhnya adalah nyata dan sangat nyata.
Mereka sudah sampai di tempat itu. Disana memang ada gerbang tua dan kuno, kondisnya masih terawat. Tempat ini juga jarang dikunjungi para wisatawan, walau sungai Han adalah salah satu destinasi wisata yang sangat indah.
Tempat ini sangat sepi, berbeda dengan taman yang berada di sebelahnya sekitar 500 meter dari gerbang ini. Disebelah sana sangat ramai, yang didapat dari tempat ini hanyalah gerbang yang sudah tua dan area taman kosong yang luas.
(Yoo Ra)
“Ayo kita lihat, ada apa di gerbang itu.”
Yoo Ra menghampiri gerbang itu. Benar saja, ada simbol bulan sabit di gerbang itu. Gerbang itu juga memiliki tulisan 푸른 성 (PUREUN SEONG), YooRa masih kebingungan dengan arti kalimat itu.
Kim Jae berjalan-jalan sebentar, sementara YooRa bergumam sendiri untuk memecahkan petunjuk ini.
“PUREUN SEONG? Seong berarti Kastil, lalu Pureun? Pureun...(kebingungan). Pureun sama dengan cheongsaeg (청색) yang berarti biru. Oh... ini benar tempatnya.”
(Yoo Ra)
“Oppa, benar ini tempatnya.”
(Kim Jae)
“Fiuh... syukurlah. Nanti kita lanjutkan, sekarang berangkat ke kampus.”
(Yoo Ra)
“Oke...”
Mereka masuk ke mobil dan mulai berangkat ke kampus.
(Yoo Ra)
“Ternyata tempat itu gak jauh dari rumah, tapi suasana disana kayak mencekam banget.”
(Kim Jae)
“Em... tempat itu kelihatannya terawat, tapi gak ada satu oranun yang bersih-bersih. Bahkan petugas kebersihan sudah gak membersihkan area itu, sebab saat mau dibersihkan kondisinya sudah bersih.”
(Yoo Ra)
“Ya pastilah. Saat malam kan dipakai, pasti pemilik kastil juga harus jaga kebersihan.”
(Kim Jae)
“Sampai sekarang tempat itu dicap sebagai tempat misterius, jarang ada orang yang mau kesana.”
(Yoo Ra)
“Nanti malam akan aku coba kesana.”
(Kim Jae)
“Maaf gak bisa nemenin.”
(Yoo Ra )
“Aku paham.”
***
Yoo Ra dan Moo Ra sudah akrab satu sama lain, namun diantara mereka masih ada jarak. Mengenai hal ini tentu sangat wajar, karena baru 2 hari menjadi teman juga harus ada proses untuk jadi sahabat.
Mereka berdua makan bersama di kantin kampus. Sepertinya kejadian kemarin belum mereda, buktinya masih beberapa mahasiswi yang membicarakan Yoo Ra.
Moo Ra terlihat agak terganggu, namun ia melihat Yoo Ra yang santai dengan melahap makan siangnya.
Selesai makan mereka menuju ke cafe untuk minum soda, dan ada seseorang yang datang dan ikut bergabung.
__ADS_1
“Boleh aku bergabung?” Tanya gadis itu kepada mereka berdua.
***