Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 87


__ADS_3

Suasana di kastil biru milik Emma atau Moon Ae Ri sangat mencekam. Malam ini, di tempatnya kedatangan dua orang tamu. Emma menyambut mereka dengan sedikit kekecewaan.


"Paman Park! Oh bukan, kakek Park Yeon Jin! Anda belum sadar bahwa cucu yang selama ini bersama anda bukanlah cucu asli anda?"


Kakek Yeon Jin mengerutkan dahi, sejatinya dia sama sekali tidak menyadari bahwa Park Yeon Jin yang asli sudah tiada, dan hanya tersisa tubuh kosong yang yang dijadikan naungan bagi arwah lain.


Dulu dan sampai saat ini, kakek Yeon Jin adalah seorang goblin. Namun saat kelahiran Park Yeon Jin yang asli, dia memutuskan untuk menjadi manusia biasa dan menyegel semua aura goblinnya. Sayang sekali, dia tidak menyadari kematian Park Yeon Jin cucu aslinya, lalu digantikan oleh arwah lainnya.


Kakek itu mengambil napas panjang, memejamkan mata untuk menerima kenyataan ini. Emma menjelaskan secara rinci apa yang terjadi selama ini. Termasuk memberitahu siapa Yeon Jin yang sebenarnya.


"Baiklah, aku sendiri yang memutuskan untuk menjadi arwah abadi di sini, dengan menjadi sosok goblin. Aku lalai dengan tugasku untuk menjaga seorang arwah yang menjalankan misi. Yeon Jin-ssi... Tubuh itu milikku, milik cucu asliku. Aku sudah mengerti sekarang, kau bisa kembali kapanpun kau mau. Terima kasih sudah menjagaku selama ini." Ucap kakek Yeon Jin.


Yeon Jin juga meminta maaf, selama ini tidak jujur dan malah menikmati pertumbuhannya dari remaja sampai dewasa di tubuh cucu lelakinya ini.


Kakek Park memang sedikit egois, hanya mementingkan kondisi perusahaannya. Kini dia sadar, sangat sadar bahwa dia memiliki tugas sampai dewa memintanya kembali. Mengurus arwah yang menjalankan misi.


"Aku akan membatalkan pertunangan mu dengan Selly. Aku juga ingin tahu, siapa wanita yang sudah membuatmu luluh." Kakek Park langsung saja kepada intinya, sangat mudah untuk berubah pikiran. Mengingat kembali bahwa arwah Yeon Jin yang baru hadir di sini saat kecil. Kakeknya juga tahu bahwa cucunya ini bukanlah lelaki yang mudah menyukai wanita.


"Besok kita menemuinya. Oke?" Kata Yeon Jin.


Emma sangat bersyukur, bahwa kakek Park sangat mudah dimengerti. "Kakek, Yeon Jin akan membawamu menemui gadisnya. Ingatlah bahwa kakek dulu berada di masa lalu kan? Jangan terkejut jika dia adalah seseorang yang pernah kau kenali." Ucap Emma dengan senyuman tersungging di bibirnya.


Kakek Park mengangguk, di atas kepala Yeon Jin sangat terlihat ada gambar tanda tanya. Dia berpikir bahwa dunia ini banyak sekali rahasia, dan Yeon Jin hanya perlu mengikuti arus saja.


"Emma-ssi, kami pulang dulu." Kata Yeon Jin. Namun Emma menahannya.


"Tunggu! Yeon Jin, tentang liontin mawar itu..."


"Sudah kau temukan?"


"Iya, aku menemukan siapa yang mengambilnya. Tapi aku tidak bisa merebutnya, arwah seperti kita tidak boleh berurusan dengan manusia biasa."


"Siapa dia? Katakan saja, aku tidak akan melukainya."


"Tidak! Itu akan membahayakan lagi jika kau mengetahui namanya."


"Apa!? Lalu, Yoo Ra gimana? Kau tahu sendiri kalau jika terjadi sesuatu dengan benda itu maka Yoo Ra akan..."


"Iya aku tahu! Yang perlu kau lakukan adalah menjaganya saja. Jangan libatkan dia dengan suatu pertengkaran atau bergaul dengan orang jahat. Benda itu hilang berarti emosinya sudah terpengaruh, Yoo Ra akan mudah berganti suasana hati. Paham?"


Yeon Jin mengangguk, sementara di pojok ruangan ada Andy dan Billy, para malaikat maut yang menyaksikan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Andy mendekat ke Emma, "Sajangnim... Aku merasa bahwa waktu bagi Yoo Ra tidak lama lagi." Ucap Andy.


Emma yang duduk dan memegang kepalanya sontak terkejut. "Kau, menerima sebuah surat?"


Andy menggelengkan kepalanya, dan berkata bahwa saat ini dia tidak menerima surat kematian atas nama Yoo Ra. Tapi dia memiliki firasat, bahwa Yoo Ra akan segera pergi dari dunia ini.


"Bukan hanya arwahnya yang akan kembali, sepertinya tubuh itu memang ditakdirkan untuk musnah bersama kembalinya Yoo Ra ke asalnya." Sambung Andy yang sangat yakin dengan firasat buruknya.


Terdengar suara langkah kaki menyambar seluruh ruangan. Kim Jae yang berjalan cepat menghampiri Andy, melemparkan sebuah tamparan keras di pipi Andy hingga terjatuh ke lantai. Billy berteriak, menyebut Kim Jae sudah gila.


"Kim Jae Rim! Ada apa denganmu hah?" Teriak Billy dihadapan Kim Jae.


"Siapa yang kau bilang akan kembali ke asalnya? Siapa!!!"


"Itu hanya firasat kak Andy, mengerti?"


Emma menghampiri Kim Jae dan menepuk bahu pria itu, berusaha menyadarkan Kim Jae yang sudah tertelan oleh emosi.


"Kim Jae, dengarkan aku. Kita tidak bisa melawan takdir."


"Sajangnim. Aku mau Yoo Ra selamanya tinggi di sini."


"Kau gila?! Mana bisa?"


Memang benar, ada kemungkinan bagi arwah yang menjalankan misi bisa berubah menjadi goblin. Sayangnya itu hanya berhasil 1 orang dari 1000 orang yang mencobanya.


"Itu kemustahilan. Yoo Ra sendiri tidak memiliki aura yang kuat melampaui dirimu. Itu mustahil Kim Jae!"


"Aku akan membantunya."


"Kim Jae berhenti, jangan lakukan apapun. Berhenti!!!"


Kim Jae menjauh dari Emma dan berdiri tepat di pintu utama kastil biru. Terdengar suara petir disambut dengan kilat, langkah Kim Jae terhenti. Emma sudah geram, dan bertanya-tanya mengapa Kim Jae seperti ini.


"Dengan begini kau bisa berhenti, jangan keluar dari sini sebelum menjawab pertanyaan ku." Ucap Emma.


Kim Jae berbalik dan mengiyakan ucapan Emma.


"Kenapa... Kenapa kau sangat ingin Yoo Ra tinggal di sini? Kenapa kau ingin Yoo Ra menjadi goblin? Kenapa kau ingin Yoo Ra tidak kembali ke asalnya?"


Kim Jae tidak bergeming, pandangannya tetap lurus menatap ke arah Emma. Tiba-tiba suaranya terdengar jelas.

__ADS_1


"Karen aku... Aku menyukainya, aku mencintainya, aku ingin menghabiskan banyak waktu dengannya! Sudah, jelas sekali bukan?"


***


Tepat jam 9 malam, sesuai undangan itu Yoo Ra datang menemui Selly.


Mereka baru saja berkenalan, tapi sudah menjadi musuh. Satu meja yang sudah dipesan sebelumnya berhiaskan lilin. Hanya ada 2 kursi dengan meja yang di atasnya terdapat sebuah map berisikan dokumen-dokumen.


"Sudah datang? Aku sudah lama menunggumu... Kim Yoo Ra-ssi. Aku mentolerir sikapmu yang terlambat ini, karena kau juga dibesarkan di keluarga kaya kan?"


"Lihat jam di ponselmu, jam 9 tepat! Sayang sekali CEO Selly dibesarkan di keluarga kaya juga."


"Permainan kata-katamu ini, sangat bagus. Mau pesan apa? Aku sudah menyiapkan wine dan sampanye yang..."


"Langsung pada intinya saja."


"Wah wah... Baiklah..."


Selly langsung menyodorkan map itu. Setelah membukanya, Yoo Ra terkejut bukan main. Ini adalah saham yang bisa mendukung Kim Jae maju sebagai Presdir tanpa halangan.


"10.000 saham?" Gumam Yoo Ra, apa dia sudah gila? Dengan saham berjumlah ini, Yoo Ra sudah bisa bernapas lega.


"Bukan hanya itu, aku juga bisa menaikkan posisimu sebagai wakil Presdir secara langsung. Itu sudah tertulis kok. Syaratnya... Nona Kim harus meninggalkan tunangan ku. Bagaimana?"


Heh, sudah diduga bahwa ini trik lama yang murahan. Yoo Ra sudah paham, bahkan senyuman meledek tergambar di bibirnya.


"Sayang sekali, aku menginginkan posisi direktur, dan aku sudah dapat. Untuk wakil Presdir... Aku tidak perlu. Simpan saja ini."


"Mmm... Bagaimana dengan kekasihmu itu? Apa kau tidak mencintainya lagi?"


"Ya memang benar, aku masih mencintainya. Kenapa? Aku yakin kalau dia akan memilihku. Bahkan tanpa seperti ini juga sangat mudah ditebak kan?"


Selly tersenyum, dan tertawa dengan kerasnya. Sepertinya Selly bukanlah orang yang mudah. Yoo Ra sudah merasakan hal yang buruk akan terjadi padanya


Selly menjelaskan kembali, bahwa dia memiliki satu kekuasaan di Park Group dan juga Nam Group. Dimana dia bisa dengan mudahnya melengserkan CEO Park dan juga calon Presdir Kim.


Di dokumen itu juga tertera secara jelas, ada kontrak yang sengaja Selly buat untuk menjatuhkan Yoo Ra. Yoo Ra tak mau posisi kedua orang itu harus lenyap karena dirinya.


"Begini... Ada sebuah tender proyek perhiasan yang sangat menguntungkan bagi Sherin dan juga Nam Group. Mari kita berlomba, siapa yang bisa menyelesaikan tender itu dengan baik, maka dia adalah pemenangnya."


"Apa maksudmu? Tender hanya bisa dikerjakan oleh satu tim yang mau mengambilnya. Kita? Dua perusahaan?"

__ADS_1


"Jangan terburu-buru...Kalau kau menang, aku akan beri 10.000 saham ku untuk kakakmu itu, dan juga aku akan membakar kontrak pertunangan ku dengan kekasihmu itu. Bagaimana?"


__ADS_2