Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 32


__ADS_3

Dengan didampingi Jae Won, Yoo Ra mendapat banyak informasi di desa kecil ini. Waktu masih banyak, dan sore hari masih lama. Teman-teman yang lain masih berusaha mencari informasi dan wawancara untuk bahan presentasi, Yoo Ra juga sudah cukup dengan informasi yang ia dapat. Saatnya mencari tahu tentang batu marmer itu, mereka berdua berkeliling dan mencari tempat yang dianggap sakral di daerah ini.


Sudah berkeliling, tapi tidak membuahkan hasil. Jadi Yoo Ra harus bertanya ke salah satu warga disini. Ada seorang ibu-ibu yang sedang menanam sesuatu di kebun belakang rumahnya, Yoo Ra mengahampiri wanita itu kemudian disusul dengan Jae Won.


(Yoo Ra)


“Annyeong Hashimnikka... “


(Ahjumma)


“Iya, ada apa ya nak? (ramah)”


(Yoo Ra)


“Apakah di desa ini ada suatu tempat yang disakralkan?”


(Ahjumma)


“Tentu saja, disana ada kuil. Dan itu satu-satunya kuil di desa ini. Agassi mencari sesuatu di kuil itu?”


(Yoo Ra)


“Saya pernah mendengar, kalau di pulau Jeju ada batu nisan yang terbuat dari marmer. Dan batu itu adalah tanda kehormatan dari Raja kepada Permaisurinya.”


(Ahjumma)


“Aku juga tidak terlalu jelas mengenai batu itu, aku juga baru pindah kesini beberapa bulan yang lalu. Tapi aku pernah mendengar, kalau di kuil ada tempat suci yang menyimpan batuan marmer dan peninggalan kerajaan agung. Coba agassi pergi kesana. Jalanlah ke depan dari sini, sekitar 100 meter kalian sudah menemukan kuil itu.”


(Yoo Ra)


“Terima kasih banyak. Kami permisi dulu.”


Sudah ketemu kuil itu. Kuil buddha yang sudah berusia ratusan tahun dan masih berdiri kokoh. Tanpa berlama-lama dan membuang waktu, mereka segera masuk kedalam kuil itu. Sangat sepi dan hanya terlihat 2 orang yang sedang berdoa. Dari dalam ruangan, ada seseorang yang keluar. Sepertinya dia adalah Biksuni di kuil ini. Yoo Ra hendak menghampiri Biksuni itu, tapi ponsel Jae Won berbunyi.


(Jae Won)


“Yoo Ra-ya. Aku dipanggil oleh pemandu wisatanya. Ayo kita kembali saja.”


(Yoo Ra)


“Seonbae saja yang pergi. Aku lanjut disini.”


(Jae Won)


“Mana mungkin aku pergi dan meninggalkanmu sendirian, kalau tersesat bagaimana?”


(Yoo Ra)


“Di depan tadi aku lihat ada teman-teman yang masih interview. Jangan khawatir, aku hanya sebentar kok.”


(Jae Won)


“Baiklah, aku pergi dulu.”


Jae Won segera pergi untuk menemui pemandu wisata. Yoo Ra melanjutkan pencarian, dan menghampiri Biksuni yang sedang duduk di depan patung Buddha.


(Yoo Ra)


“Permisi... (bergumam) astaga, aku bahkan tidak pernah berdoa di kuil.”


(Biksuni)


“Oh... silahkan masuk.”


Biksuni yang sudah berusia 50 tahunan itu mempersilahkan Yoo Ra untuk masuk ke dalam kuil. Saat Yoo Ra masuk ke dalam dan ingin menanyakan sesuatu, Biksuni itu terkejut dan menjatuhkan mala (tasbih buddha) yang dipegangnya.


(Yoo Ra)


“Maaf mengejutkan Biksuni (memungut mala).”


(Biksuni)


“Anda adalah...”


(Yoo Ra)

__ADS_1


“Oh... Perkenalkan nama saya Yoo Ra, saya mahasiswa yang sedang berkunjung kesini.”


(Biksuni)


“Agassi... Mendekatlah kemari.”


(Yoo Ra)


“Iya? (canggung)”


(Biksuni)


“Wajahmu sangat mirip dengannya.”


(Yoo Ra)


“Apa maksud anda?”


(Biksuni)


“Siapa nama aslimu?”


(Yoo Ra)


“Kim Yoo Ra.”


(Biksuni)


“Nak, nama aslimu (gugup).”


Yoo Ra mulai panik, sepertinya Biksuni ini mengetahui sesuatu tentangnya. Ini tidak boleh dibiarkan, identitasnya akan terbongkar. Siapa tahu kalau Biksuni ini adalah salah satu orang dari para dewa yang bertugas untuk mengawasinya. Memang konyol, tapi bisa jadi seperti itu.


(Yoo Ra)


“Begini, saya kesini untuk mencari batu marmer yang disakralkan.”


(Biksuni)


“(bergumam) dia sangat mirip, apakah dia reinkarnasinya? lebih baik aku menunjukkan tempat itu. Batu itu ada di pagoda belakang, kalau agassi ingin tahu, silahkan ikut saya.”


Masuk ke dalam pagoda. Karena tempat itu adalah tempat suci, maka Yoo Ra harus melepas alas kakinya lalu masuk ke dalam. Biksuni itu membimbing Yoo Ra untuk melihat batu marmer itu. Di tengah ruangan ada sebuah plakat kecil, Yoo Ra mengira kalau yang dimaksud Jae Won adalah benda ini.


(Yoo Ra)


“Biksuni, plakat ini adalah batu kehormatan itu?”


(Biksuni)


“Oh, itu hanya pajangan saja. Yang asli ada di belakang. Ikut aku ke taman belakang pagoda.”


Yoo Ra mengikuti Biksuni itu, berjalan dari pagoda menuju taman belakang. Ternyata pagoda ini adalah pintu masuknya, terus berjalan sampai menemukan pintu yang berukuran besar. Pintu itu sangat besar, Biksuni itu membukanya dengan sekuat tenaga. Wah... sangat indah, dan ada tugu berukuran 2 meter yang terbuat dari marmer. Disana ada tulisan menggunakan huruf hanja, isinya seperti kalimat yang meng-agungkan seseorang. Yoo Ra mendekati tugu itu, dan menyentuhnya. Dibagian atas ada sebuah ukiran wajah seseorang, sayang seribu sayang ia tidak bisa melihat ukiran itu dengan jelas.


(Biksuni)


“Agassi, boleh aku menjelaskan sesuatu.”


(Yoo Ra)


“Silahkan.”


(Biksuni)


“Tugu ini dibuat untuk seorang wanita. Posisinya sangat tinggi, dan dia bukan wanita biasa. Dia ditakdirkan menjadi penguasa, namun pada waktu itu wanita adalah manusia yang terintimidasi. Dia membuat gebrakan baru, sehingga rakyatnya mampu ia pimpin dan menjadi sejahtera. Ini kisah yang tersembunyi, dan pada tahun 90-an banyak yang mencari tahu sejarah dari wanita ini. Sudah ketemu titik terangnya, semua diceritakan dalam bentuk buku. Kisah wanita ini sangat menarik, bahkan barang-barang peninggalannya pun masih tersimpan di kuil ini.”


(Yoo Ra)


“Bukankah tugu ini sangat misterius, bahkan belum terdengar di kalangan orang-orang. Bagaimana bisa kisahnya sudah dibukukan?”


(Biksuni)


“Berita ini menyebar dengan pesat karena edaran buku itu pada tahun 90-an. Banyak yang mencari tempat ini, karena desakan dari pemerintah, pihak kuil membangun taman ini untuk melindungi tugu bersejarah ini. Banyak juga yang ingin menyalahgunakan tugu ini sebagai bahan untuk kegiatan yang negatif. Kami berniat untuk menyembunyikan keberadaan tempat ini sampai tepat pada waktunya untuk dipublikasikan.”


(Yoo Ra)


"Berarti, tempat ini akan segera dikenalkan dan dipertontonkan di hadapan publik?"

__ADS_1


(Biksuni)


"Iya, mungkin sekitar 1 tahun lagi."


(Yoo Ra)


“Jadi, karena itu tempat ini menjadi tempat yang fiksi. Namun tempat ini benar-benar nyata dan ada di dunia ini.”


(Biksuni)


“Agassi, aku merasakan sesuatu di tubuhmu. Dan ada yang istimewa dalam dirimu.”


(Yoo Ra)


“Benarkah? Apa itu?”


(Biksuni)


“Kau sangat mirip dengannya.”


Lagi-lagi Biksuni itu mengatakan hal yang sama. Siapa yang mirip dengan Yoo Ra, dan ini membuat Yoo Ra keheranan dan mulai penasaran.


Biksuni mengajak Yoo Ra masuk ke ruangan kecil dan membuka beberapa kotak antik dan kuno lalu mengeluarkan beberapa barang. Biksuni menunjukkan batu giok warna biru dan sangat bersih, seperti dirawat dengan sangat baik. Yoo Ra terkejut karena giok ini sangat sama persis dengan giok yang ia punya dan telah menjadi kunci gerbang Pureun Seong.


(Biksuni)


“Ini salah satu giok miliknya, disini masih tersimpan dengan baik disini.”


(Yoo Ra)


“Aku... tunggu, ini peninggalan miliknya?”


(Biksuni)


“Benar... konon, giok ini memiliki aura positif. Giok ini berasal dari dewa, dan wanita itu menyimpannya dengan baik sampai akhir hayatnya.”


Yoo Ra mulai merinding, dan susah untuk mencerna semua ini. Melihat giok itu saja Yoo Ra sudah mulai bingung, karena sama persis dengan yang ia punya.


(Biksuni)


“Disana ada lukisan, kalau agassi melihatnya, pasti juga heran.”


(Yoo Ra)


“Apakah lukisan itu adalah lukisan wanita pemilik giok ini?”


(Biksuni)


“Benar, dan lukisan seseorang itu sama dengan ukiran wajah di tugu marmer. Jadi lukisan ini lebih detail, lukisan itu dilukis oleh sang Raja yang menjadi suaminya.”


(Yoo Ra)


“Bolehkah saya melihatnya?”


(Biksuni)


“Dengan senang hati.”


Biksuni mengajak Yoo Ra melihat lukisan itu. Kanvasnya berukuran besar, dan tertutup kain sutra berwarna merah. Biksuni menarik kain itu, dan terlihat lukisan seseorang yang masih terjaga dengan baik, lukisan itu sangat jelas.


(Yoo Ra)


“Dia...”


Yoo Ra terdiam, dan sangat terkejut melihat lukisan wanita itu yang di daulat sebagai Ratu termahsyur dan agung dikalangan generasi bangsawan.


(Biksuni)


“Bukankah sangat cantik? Tidakkah agassi merasakan sesuatu.”


Yoo Ra berjalan perlahan menghampiri lukisan itu, dan menyentuh wajah seorang wanita yang sudah terlukis di dalam kanvas besar. Tubuhnya tiba-tiba kaku, seakan tak percaya dengan figur itu.


“Dia... dia sangat mirip denganku? Ini aku? Bukan... dia orang lain. Wajah ibuku juga mirip denganku, tapi ini...”


***

__ADS_1


__ADS_2