Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 76


__ADS_3

Ada sebuah sofa panjang yang menghadap langsung ke arah TV. Duduk di sofa dan film juga belum diputar.


Mengambil hair dryer dan menekan tombol on, tapi malah tertuju kepada barang berbentuk persegi panjang itu. Yoo Ra mengecek ponselnya dan mengurungkan diri untuk mengerinkan rambut, terdapat banyak sekali pesan dari staff Nam Group, dan juga memeriksa jadwal untuk besok, ia meraih sebuah memo kecil dan pulpen. Apa yang ia baca di ponsel, harus ia salin.


Yeon Jin bangkit dari sofa dan mendekati Yoo Ra yang masih saja mementingkan pekerjaan, dia meraih hari dryer dan menyalakannya. Berdiri di belakang Yoo Ra yang tengah duduk, menyadari hal ini, Yoo Ra melihat kebelakang dan berkata kalau Yeon Jin tidak perlu melakukannya.


Yeon Jin terdiam dan memberikan tatapan hangat yang bermakna tidak apa-apa, aku akan mengeringkan rambutmu. Pria itu perlahan menyusuri helai demi helai rambut lurus yang sedang dia keringkan, dan menambah keinginan untuk tak bisa jauh dan tak ingin terpisah.


Suara ketukan bolpoin yang digeletakkan di meja, desahan lelah keluar dari mulut Yoo Ra. Masih terdengar mesin yang memberikan angin hangat di sekitar kepala Yoo Ra. Yeon Jin mematikan alat itu, memberikan sentuhan yang sangat menenangkan.


“Semangat... pacarku.” Bisik pria di dekat telinga Yoo Ra. “Aku semangat, lihat...” senyuman paksa yang tersungging di bibir itu memberikan luka untuk Yeon Jin. Tidak ada yang bisa dia perbuat, Yoo Ra sendiri juga menginginkan kesibukan ini demi kakaknya.


---


“Film ini baru tayang minggu lalu, kisahnya menarik. Kata Joan sih ceritanya tentang pertemuan calon sepasang kekasih. “ Spoiler yang pendek.


Menempatkan diri di sofa empuk dengan 2 minuman kaleng rasa buah persik desertai 3% alkohol. Lampu dimatikan hanya menyisakan lampu tidur, layar TV yang terlihat, seketika ruangan tidur itu berubah menjadi teater bioskop. Disanalah kencan romantis mereka dimulai. Kisah yang terekam dalam sebuah film, sedikit menghibur kelelahan yang sudah merasuki jiwa.


2 orang yang tak sengaja bertemu di sebuah negeri, fotografer yang perlu belajar banyak dan model ternama. Dulu saat masih duduk di bangku SMA, sang fotografer adalah fans fanatik dari model ternama itu, kemudian menarik diri menjadi penggemar dan lebih fokus kepada masa depan. Sang model, pria berparas tampan, karirnya masih stabil, dan berlibur ke sebuah negara. Itulah awal pertemuan mereka, apakah sang fotografer mengingat kembali sang idola?


“Prolognya... “ lirih Yoo Ra, “Em...?” tanggap Yeon Jin. “Agak gak enak jadi fans, orang terkenal pula.”, “Asal jangan berlebihan juga gak apa-apa.”


Yoo Ra sedikit mengingat Kim Jae, profesinya yang sebagai model harus mundur demi perusahaan warisan kakeknya. Menggugah Yoo Ra untuk terus membantunya. Aku harus maju, aku cuman butuh istirahat, bagaimanapun aku adalah kolega Nam Group, bukan nona besar yang bermanja-manja dan pada akhirnya kembali ke dunia asal. Kata hati Yoo Ra yang bergeming.


Film masih berjalan separuh, tapi orang yang berada di samping Yeon Jin tidak bisa menahan kantuknya. Tertidur dan sedikit mendengkur karena lelah. Yeon Jin sangat paham, dia terlalu memaksa kekasihnya yang kelelahan untuk menonton film.


Mengambil remote dan mematikan TV, Yoo Ra sudah berada dalam dua tangan yang mengadah untuk meindahkannya ke tempat tidur.


Perlahan Yeon Jin meletakkan tubuh ringan itu ke tempat tidur, memandanginya sekilas dan memberikan sebuah kecupan good night di kening Yoo Ra. Perlahan mata yang sedang tertutup itu terbuka, dengan suara... Em???


“Udah malam, besok harus ke kampus jam 8.” Jawab Yeon Jin menjelaskan bahwa Yoo Ra harus istirahat.

__ADS_1


Yeon Jin menjatuhkan tubuh di kasur yang sama, berada di samping si gadis. Yoo Ra menatapnya, Yeon Jin meraih Yoo Ra dalam pelukannya. “Apa? Aku tampan ya? Sini... Ayo tidur...”.


Menarik selimut untuk menutupi kedua badan yang mulai merasa dingin. Yoo Ra membalas Yeon Jin dengan mendekat ke arahnya, mengulurkan lengan, “Selamat malam...” suara lembut dari seorang Kim Yoo Ra.


Mereka berdua terjebak dalam keheningan malam, sepasang kekasih yang ingin mejaga satu sama lain berada di balik selimut yang sama.


***


“Soo Ah... Aku mohon hentikan sandiwaramu yang sudah berlebihan, jadilah dirimu sendiri dan jangan mempermalukanmu lebih jauh lagi.” Yeom Mi mencoba memberikan pengarahan kepada Soo Ah, dengan tatapan acuh mencoba mengeluarkan kata-kata yang bijak.


Soo Ah terdiam, mengambil BB cream yang berada di meja riasnya, bergantian menggambar alis yang berwarna soft brown. Yeom Mi sudah jarang berkunjung kesini, dan ini merupakan pertama kalinya Yeom Mi berkunjung setelah beberapa bulan.


Membuka lemari, mengambil beberapa potong pakaian, terdapat koper besar yang siap menampungnya. “Apa yang kau lakukan?” Tanya Soo Ah dengan memegang maskara.


“Tentu saja, mengambil barang-barangku.” Soo Ah terbelalak, merasa semakin jauh dengan sahabatnya, lebih tepatnya adalah satu-satunya sahabatnya. Hentikan!!! Teriaknya memegang tangan Yeom Mi.


Yeom Mi sudah muak dengan Soo Ah, hanya berteman dengan Soo Ah, dia sudah menjadi orang jahat. “Ada banyak yang ingin menjadi temanku, jadi... singkirkan tanganmu.” Yeom Mi melempar keras sentuhan dari Soo Ah.


“Mm... Aku segera datang, kau yang traktir ya. Sampai jumpa.” Segera menutup flap ponselnya, melanjutkan aktivitas berkemas. Soo Ah kaku, tidak bergerak sedikitpun, menahan air mata disana.


“Sudah beres, barang yang kau pinjam... aku ambil lagi, aku membutuhkannya. Selamat tinggal.” Berbalik dan hendak keluar. “Yeom Mi!!! Kenapa kau berubah? Kita sahabat bukan?”


“Aaahhh... sahabat? Seorang sahabat tidak akan menipu sahabatnya. Berapa banyak kau memanfaatkan uang dari ayahku, berpura-pura menjadi sebatang kara yang menyedihkan. Aku sendiri heran mengapa ayahku menganggapmu seperti anak sendiri. Pikirkan nenekmu yang berkunjung kesini dengan membawa tongkatnya, bahkan kau juga sering menolak bertemu dengannya. Chae Soo Ah, wajahmu berubah cantik berkat bantuan dari ayahku kan. Tapi... percantiklah hatimu, jangan memberi sebuah penyakit padanya, juga jangan menciptakan penyakit hati pada sahabatmu sendiri.”


Yeom Mi beranjak pergi dari apartemen studio yang berukuran kecil tersebut, dengan membawa koper. Yeom Mi harus membuka mata dengan lebar, menjadi pribadi yang ceria seperti dulu, mengikuti Soo Ah hanya menjadi tersesat.


Dipengaruhi dengan mulut manis Soo Ah, Yeom Mi berhasil mendepak orang-orang yang tidak bersalah. Siapapun yang dibenci Soo Ah, maka Soo Ah harus memastikan bahwa Yeom Mi juga ikut membenci. “Apa aku terlalu bodoh? Menjadi budakmu selama ini, aku sudah menjadi monster yang kejam.”


-


-

__ADS_1


-


“Halo... Kalian dimana?” Ponsel yang melekat di telinga Yoo Ra, segera mengambil jaket yang ada di gantungan baju. “Cepatlah, kita sudah ada di cafe***.”, “Iya... aku segera kesana.” Jawab Yoo Ra.


“Mau pergi?” Yeon Jin yang muncul mengejutkan Yoo Ra, Yeon Jin sedang berada di ruang belajar Yoo Ra, melihat kekasihnya yang akan pergi, tentu membuatnya sedikit protektif.


“Aku pergi dulu, aku rindu teman-temanku, tidak setiap waktu aku melihat atau mendengar suara mereka. Dibanding kau, tanpa diundang langsung masuk dengan menekan tombol password sekali coba. Aku jadi yakin, kalau di kehidupan asli kau adalah pria mesum yang sembarang masuk ke kamar selirnya.” Ucap Yoo Ra menahan tawanya.


“Wah... Kau tega sekali...Bagaimana aku harus memberi pelajaran padamu? Kau sudah membuatku jatuh cinta berkali-kali dengan bibir manismu ini.” Yeon Jin bangkit dan memeluk Yoo Ra. Tatapannya menjadi sedikit nakal. Lengannya sudah berada di pinggang Yoo Ra, mereka berhadapan dengan tatapan bercahaya.


“Sembarangan bicara, kalau kau mencintaiku... lepaskan aku sekarang.”


“Aku ingin sekali memberimu pelajaran yang sangat penting. Mulutmu sudah sangat kasar nona... gimana nih?”


“Ayolah... Aku harus pergi, mereka menungguku.“


“Kalau begitu... Harus kulepas begitu saja? Seperti ini?”


“Em?” Tanya Yoo Ra dengan menatap Yeon Jin


Cup...


Bibir Yeon Jin mendarat dengan sempurna pada targetnya.


Walau hanya kecupan singkat, Yoo Ra membeku dibuatnya. “Hei...” Lirih Yoo Ra dengan memegang bibir lembutnya.


“Kenapa? Mau yang lama?”, “Ah... tidak tidak tidak...” Yoo Ra menggeleng dan menyadarkan diri, pipinya memerah, mengkedip-kedipkan mata.


“Baiklah, kamu boleh pergi... jangan main mata, kalau tidak... cepat atau lambat akan kunikahi kau di kehidupan sekarang.”, “Perkataanmu makin tidak benar. Aku pergi.” Yoo Ra melepaskan diri dengan merasa malu, menepuk-nepuk pipinya yang memerah dengan kedua tangannya.


Yeon Jin tertawa kecil, bahagia yang meledak-ledak. “Sampai jumpa, sayangku...” Intip Yeon Jin dari pintu. “Oke... Aku sudah dapat... Aaaaaa... Bukankah dia manis sekali? Kenapa bibirnya begitu lembut? Kenapa sikapnya sangat menggemaskan? Malu-malu lagi...” Yeon Jin berbicara sendiri, dan melompat-lompat karena kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2