Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 26


__ADS_3

“Agassi...” Suara Min biseo yang menggema di lobi rumah sakit, memanggil Yoo Ra lalu menghampirinya.


(Yoo Ra)


“Min biseo... Ruangannya dimana?”


(Min biseo)


“Ayo ikut aku.”


Yoo Ra segera mengikuti Min biseo, dan menuju ruangan tempat Kim Jae di rawat. Sesampainya disana, ternyata Kim Yoo sudah menemani Kim Jae.


(Yoo Ra)


“Samchon... Bagaimana keadaannya?”


(Kim Yoo)


“Tidak terlalu parah, dia cuman kelelahan.”


(Yoo Ra)


“Syukurlah, dia masih tidur?”


(Kim Yoo)


“Kali ini harus banyak istirahat. Kau yang menyuruh Andy menjaganya kan.”


(Yoo Ra)


“Apa boleh buat, aku juga harus ke kampus.”


(Kim Yoo)


“Hm... Pulanglah, aku yang akan menjaganya disini.”


(Yoo Ra)


“Kira-kira berapa hari akan dirawat disini?”


(Kim Yoo)


“Sekitar 3 sampai 4 hari mungkin. Tentunya sampai kondisinya pulih.”


(Yoo Ra)


“Aku tidak tahu kalau sampai drop begini. Aku ingin disini.”


(Kim Yoo)


“Pulanglah, memangnya siapa yang tahan dengan bau asam dari tubuhmu.”


(Yoo Ra)


“Benarkah? (mencium ketiak). Tidak juga.”


(Kim Yoo)


“Astaga... pulanglah, mandi, makan, belajar lalu istirahat.”


(Yoo Ra)


“Ini masih jam 6 sore, langit juga masih cerah.”


(Kim Yoo)


“Pulang!”


(Yoo Ra)


“Iya iya... aku pulang.”


Yoo Ra terpaksa pulang ke rumah karena Kim Yoo yang memintanya, dalam hati Yoo Ra ingin menemani Kim Jae. Bagaimanapun, ia harus menurut. Keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah. Menyalakan lilin aroma terapi dan mandi untuk menyegarkan badan, hari yang cukup memusingkan. Ingin relaks namun ia teringat sesuatu, bunga mawar itu.


Yoo Ra segera turun ke bawah dan ingin melihat bunga itu, dan... Bunganya tidak layu dan tidak mekar. Sungguh di luar dugaan, bunga yang sudah 2 hari di rendam tidak menunjukkan tanda-tanda layu di bagian mahkota bunganya. Yoo Ra merasa kalau bunga ini bukanlah bunga biasa, apa yang harus ia lakukan?


Ia mencari cara agar bunga itu bisa awet dan tidak rontok. Browsing di internet mengenai cara megawetkan tumbuhan, seperti herbarium. Dirasa cara seperti ini kurang maksimal, ia mencari cara yang lebih efektif lagi. Ia menemukan cara mengawetkan tumbuhan sehingga persis seperti aslinya dan tidak bisa berubah bentuk dan tidak bisa layu, menggunakan resin.


Memikirkan cara itu, ia langsung mencari resin di toko kimia dengan membawa bunga itu. Malam-malam berada di toko kimia dan mencari resin, untungnya sang pegawai toko membantu Yoo Ra.


(Yoo Ra)


“Annyeonghaseyo... “


(Pegawai toko)


“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu?”


(Yoo Ra)


“Saya mencari resin.”


(Pegawai toko)


“Buat gantungan kunci ya?”


(Yoo Ra)


“Sejenis itu.”

__ADS_1


(Pegawai toko)


“Tunggu ya...”


Pegawai itu segera mengambilkan barang yang Yoo Ra cari, dan pegawai itu juga nampak mengenali Yoo Ra.


(Pegawai toko)


“Ini dia, yang kau butuhkan adalah resin dan katalis. Sepertinya aku mengenalmu.”


(Yoo Ra)


“Benarkah? Mungkin kita pernah berpapasan sebelumnya.”


(Pegawai toko)


“Itu... (mengeluarkan ponsel). Bukankan ini kamu?”


Pegawai itu membuka SNS yang ada foto Yoo Ra dan Jae Won. Skandal itu sudah sebulan yang lalu, dan sudah lama tidak di bahas lagi.


(Yoo Ra)


“SNS itu sudah lama, aku kira sudah banyak yang melupakannya (senyum).”


(Pegawai toko)


“Ahaha... ternyata benar. Perkenalkan namaku Jang Im Tae, aku berada di kelas yang sama dengan Do Jae Won.”


(Yoo Ra)


“Oh... Begitu ya. Saya Yoo Ra.”


(Pegawai toko)


“Seterusnya jangan canggung kalau bertemu denganku. Aku juga seniormu, panggil aku seonbae atau eonni saja ya.”


(Yoo Ra)


“Baiklah...”


Sudah cukup berkenalan, kini Jang Im Tae membantu masalah Yoo Ra. Yoo Ra ingin kalau kuncup mawar miliknya bisa awet, dan juga bisa menjadi liontin yang cantik. Jang Im Tae membuatkan Yoo Ra liontin dari mawar yang diberi resin, dicetak dicetakan berbentuk bulat seperti bola, lalu dituangkan cairan dan diberi pengait, setelah itu dikeringkan menggunakan laser sinar UV agar cepat kering.


Selesai sudah, kini Yoo Ra memiliki liontin kuncup mawar putih yang magis ini.


(Yoo Ra)


“Khamsahabnida...seonbaenim.”


(Im Tae)


“Sama-sama.”


(Yoo Ra)


(Im Tae)


“Kerja paruh waktu, sekaligus belajar ilmu kimia. Karena dijurusan kita tidak ada ilmu seperti ini bukan?”


(Yoo Ra)


“Seonbae ada-ada saja. Kalau begitu aku permisi dulu ya.”


(Im Tae)


“Iya... sampai jumpa.”


Setelah membayar dan berpamitan, Yoo Ra segera pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, ia terus menatap liontin barunya dan tersenyum karena terpaku melihat keindahan bunga itu.


Sekarang adalah malam purnama. Berhubung Yoo Ra sendiri di rumah, ia mengambil kesempatan untuk berkunjung ke Pureun Seong. Ia harus membawa buah tangan, mampir ke kedai pizza dan membeli 2 box ukuran sedang untuk ia bawa.


Masih jam setengah delapan malam, ia segera menuju ke Pureun Seong. Sudah hampir sampai, dan terlihat gerbang tua itu dari seberang jalan. Dan disana juga terlihat toko bunga, ternyata toko bunga itu milik Dal Rae. Yoo Ra mengeluarkan kertas alamat yang diberikan oleh Dal Rae dari dompetnya, ternyata ini adalah alamatnya. Sungguh dunia ini sempit sekali. Tokonya tutup, dan Yoo Ra hanya melewatinya.


Di depan gerbang, Yoo Ra menyentuh gerbang itu, dan tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Ia bahagia dan tersenyum ceria, karena kini tidak perlu repot untuk mencari cara agar bisa masuk.


Saat masuk, ia mendapati lonceng angin yang ada di langit-langit kastil bergerak dan membunyikan melodi. Seo Hun josunim turun ke bawah dan menyambut kedatangan Yoo Ra dengan senyum yang merekah.


(Seo Hun)


“Selamat datang agassi... sudah lama tidak kemari.”


(Yoo Ra)


“Iya... Apa kabar?”


(Seo Hun)


“Aku baik-baik saja, memang sudah tua tapi aku masih bugar kan.”


(Yoo Ra)


“Ya... josunim terlihat sangat bugar. Ini untuk kalian (memberikan pizza).”


(Seo Hun)


“Tidak perlu repot seperti ini. Terima kasih ya (senyum lebar). Yi Jo... Yan Jo... Ada yang berkunjung kemari.”


(Yi Jo)


“Siapa? Tunggu sebentar.”

__ADS_1


(Yoo Ra)


“Sepertinya mereka sibuk.”


(Seo Hun)


“Biasakan dirimu dengan kami disini, ayo kita ke ruangan yang disana.”


(Yoo Ra)


“Baik.”


Seluruh asisten Emma berkumpul bersama Yoo Ra dan makan pizza bersama. Sungguh kehangatan bagaikan keluarga sendiri, dan dipenuhi tawa canda. Saat pesta pizza dimulai, Andy dan Billy datang dengan wajah lesu.


(Yan Jo)


“Hyeong... kalian baru datang?”


(Billy)


“Iya... Auh... aku lelah.”


(Yi Jo)


“Kalian darimana?”


(Andy)


“Menjalankan tugas, dan salah sasaran?”


“Apa?” Mereka semua yang mendengar ini sontak terkejut.


(Seo Hun)


“Bagaimana bisa? Jadi kalian mengirim nyawa orang yang bukan semestinya?”


(Billy)


“Emma sajangnim dan Dal Rae mengurus itu. Sekarang ada di ruang portal.”


(Yi Jo)


“Betapa bodohnya kalian ini... Oppa... apakah ini kesalahan pertama kalian?”


(Andy)


“Tidak, dulu kita juga pernah begini. Tapi arwahnya tidak mau kembali dan malah jadi roh jahat.”


(Yoo Ra)


“Kalau sudah pernah begitu, kok gak hati-hati?”


(Billy)


“Anggap saja ini kecelakaan. Auh... Aku pusing (melahap pizza).”


(Andy)


“Nah, kau kesini ngapain? Kim Jae gimana?”


(Yoo Ra)


“Masih dirawat, perlu 3-4 hari di rumah sakit.”


(Andy)


“Kalau ada waktu, kita jenguk dia.”


(Yi Jo)


“Kim Jae sakit?”


(Yan Jo)


“Baru pertama kali aku mendengar kalau dia sakit. Sakit apa?”


(Yoo Ra)


“Kelelahan.”


(Seo Hun)


“Haih anak muda sekarang. Dan kau Yoo Ra, jaga dirimu jangan sampai terluka atau sakit. Usahakan kesehatanmu terjaga dengan baik.”


(Yi Jo)


“Tumben perhatian. Harabeoji pilih kasih.”


(Seo Hun)


“Aku mengkhawatirkan Yoo Ra karena dia sangat spesial.”


(Yan Jo)


“Sudah sudah... lanjut makan...”


Mereka bersenang-senang, tapi tidak dengan Yoo Ra. Saat ini ia merindukan Emma, dan ingin menunjukkan liontin mawar miliknya.


Sudah malam, Yoo Ra berpamitan untuk pulang ke rumah. Saat menuju rumah, cahaya purnama menyinari jalanan dan membuat Yoo Ra teringat kehidupan asalnya. Bagaimana kondisi ayah, ibu, dan kakak? Apakah Bi Yeon kesepian? Sungguh sangat dilema, memikirkan itu semua tak terasa air matanya menetes begitu saja. Mengusap air mata dengan merindukan kehidupan sebagai anggota kerajaan.

__ADS_1


***


__ADS_2