
Hari penyerangan tiba, pertahanan disekitar area kerajaan Jangmi mulai diperketat.
Berbeda dengan suasana di paviliun tuan putri Lee Yoo Ra, para kasim dan pelayan paviliun kebingungan mencari tuan putri mereka.
Saat ini Yoo Ra dilarang keluar paviliun apalagi keluar dari area istana karena situasi sedang mencekam, namun dia bisa lolos dari penjagaan ketat karena memang sudah tak dihiraukan lagi, menerobos penjagaan bagaikan angin, cepat dan kasat mata.
Kabur ke kedai teh. Tepatnya di gubuk tersebut, rupanya gubuk yang menjadi akses masuknya ke kedai teh adalah toko obat herbal, sekaligus menjadi markas Yoo Ra yang berisi senjata seperti pedang, panah, bahkan racun tumbuhan.
“Bi Yeon, bawakan hanbok¹ hitam milikku sekarang!" perintah Yoo Ra kepada pelayannya.
“Agassi, kau akan terlihat mencolok dengan pakaian itu, dan orang-orang bisa mengenali dirimu sebagai ksatria malam jika kau memakai pakaian itu. Begini saja, bagaimana kalau berpenampilan biasa dan memakai hanbok lusuh dengan membawa cadar untuk menutupi wajahmu."
“Baiklah, terserah kau. Asal aku tidak mudah dikenali, aku akan mudah mendekati pasukan mafia itu. Mereka bukan sekedar mafia, mereka adalah bagian dari kerajaan Geum. Aku yakin dalang dibalik penyerangan ini ada kaitannya dengan raja Geum, Ahn Jung Hyun.”
"Sebentar, akan aku siapkan bajunya."
Setelah Bi Yeon mengambil pakaian, dia melihat Yoo Ra sambil memegang sesuatu.
Benda biru berkilau, sesaat Bi Yoen bertanya benda apakah itu. Namun, Yoo Ra menjawab bahwa benda itu bukanlah apa-apa dan segera menyembunyikannya.
Yoo Ra sudah bersiap dengan rencananya, pergi ke tempat itu lagi demi menemukan pelaku aslinya.
-
Yoo Ra hanya membawa panah, sudah terlihat bahwa musuh akan menebas dan berkuda. Tiba di kedai teh itu lagi untuk persembunyian sementara sebelum ikut menyerang, kedai ini hanya berjarak 50 meter dari tempat penyerangan.
Satu hari sebelum hari penyerangan, Jo Hyuk dan putra mahkota Yoo Tae sedang berada di distrik kota untuk melihat aktivitas para pedagang di malam hari, namun ia mendapatkan surat dari mata-matanya yang mengawasi para perampok.
Suratnya berisi bahwa penyerangan dari organisasi gelap yang bertujuan untuk membatalkan akusisi 2 negara dan 2 kerajaan dengan mengacaukan pernikahan, tempat waktu dan semuanya sudah disertakan dalam surat tersebut sehingga memudahkan pihak Jangmi dalam menyusun strategi.
Yoo Tae melapor pada Yang Mulia Raja, kemudian raja menyiapkan pasukannya untuk penyerang yang berlokasi di depan gerbang istana.
__ADS_1
Yoo Ra dengan sengaja menguping pembicaraan mereka di istana Raja dan sudah menebak siapa dalang dibalik organisasi dan penyerangan ini. Raja telah membuat keputusan dengan meminta bantuan Ha Baek sebagai calon menantunya. Ha Baek pun setuju dan akan melibatkan dirinya dan saudaranya beserta 20 pengawal profesionalnya.
Waktu penyerangan tiba...
Penyergapan dari pihak musuh dimulai, separuh rombongan pembunuh itu mengulur waktu dengan pasukan Molan, mereka tahu kalau pasukan Jangmi hanya umpan untuk mereka, karena Jangmi sudah memiliki tameng kuat yakni pasukan Molan.
Benar saja, 15 orang dari pasukan Molan yang dipimpin pangeran Go Kyung Bo masih berada dibalik bukit dan telah diserang yang menyebabkan 13 pengawal terbunuh. Yang tersisa hanyalah 2 pengawal dibelakang beserta Kyung Bo dan 5 pengawal unggulan yang mengawal Ha Baek saja.
Ha Baek dan 5 pengawalnya berangkat 30 menit lebih awal daripada rombongan Kyung Bo, saat ini dia hampir tiba di pusat kota dan segera menuju ke lokasi karena sudah menduga bahwa kali ini dia dijebak.
Pasukan Jangmi hampir dipukul mundur oleh musuh, Yoo Ra bergegas dengan mengarahkan panahnya melalui lantai 2 kedai teh itu dengan membidik sasarannya yang memakai pakaian berbeda.
“Biasanya yang berpakaian berbeda adalah pemimpin pasukannya, target sudah tepat," gumam Yoo Ra dengan percaya diri.
Di tempatnya, tepat satu kamar yang khusus ia pakai untuk mencari target, Yoo Terus berhati-hati dan sesekali melihat ke arah lorong dan kamar di sebelahnya.
Busur panahnya habis, namun pasukan musuh belum habis, bahkan walau sudah membidik pemimpinnya kemudian terbunuh, pasukan musuh tetap melanjutkan penyerangan.
Yoo Ra terus meyakinkan dirinya bahwa pemimpin itu adalah kepala pasukan musuh, namun perlahan dia menyadari bahwa ini adalah trik dari mereka. Ternyata ...
Klak... Pintu terbuka dari luar.
Nampak ada orang dengan posisi siap mengayunkan belati untuk menyergap Yoo Ra. Yoo Ra langsung sigap dengan mencabut belati dari sarungnya yang diikatkan di pergelangan kakinya. Ia sadar kalau itu hanya trik menipu. Kemudian, duel belati terjadi di ruangan kecil itu.
“Siapa kau? Kau pemimpin mereka ya?” ucap Yoo Ra di seberang meja.
“Tebakanmu benar gongju-mama² yang agung. Kau harus menjadi sanderaku malam ini, kekuasaan ayahmu sudah mulai lengser. Ayahmu harus menyerahkan kekuasaannya kepadaku tapi kau harus hidup sebagai permaisuriku, ATAU... kau mau negaramu makmur dengan syarat kematianmu hari ini juga.”
Negosiasi yang rumit, namun pemimpin serikat mafia itu juga mengincar nyawa Yoo Ra.
“Kau pandai dalam mengenaliku, lepaslah topeng yang kau pakai, agar aku tahu siapa yang haus akan kekuasaan dari ayahku!”
__ADS_1
“Heiii... Kau pandai menawar juga ya (dengan senyum ringan namun mematikan), kau sendiri memakai cadar, perlihatkan dulu paras cantikmu tuan putri. Hahaha....”
Perkataan pria itu sungguh menjijikkan, dan membuat Yoo Ra geram sekaligus muak.
"Ada apa denganmu? kau sendiri memakai topeng, tunjukkan dulu wajah burukmu itu kepadaku."
Ucapan Yoo Ra sedikit tak bisa diterima oleh pria bertopeng itu, sedikit dendam dengan kekasaran yang Yoo Ra berikan kepadanya.
Situasi semakin rumit, para musuh mencoba menyerang warga. Terlihat putra mahkota berusaha mengendalikan kondisi sampai pasukan Molan tiba, terlihat Ha Baek dari kejauhan dengan 5 orang pengawalnya. Putra mahkota langsung tak yakin kalau mereka akan menang kali ini.
Syut... wus... Sebatan pedang Ha Baek menusuk para pasukan musuh, kondisi mulai terkendali dengan menyusutnya jumlah musuh kali ini.
“Lihatlah pasukanmu sekarang. Kau akan meyerah? Dia sudah datang, cukup pantas menjadi suamiku daripada kau yang lebih dari sampah ini!” ucap Yoo Ra tanpa berpikir panjang.
“Hari ini aku mungkin akan kalah, namun siapa sangka kau harus berakhir di sini saja. Kematianmu hari ini akan dikenang, semoga dikehidupan selanjutnya kau masih menjadi gadis misterius dari Jangmi. Ya ampun... betapa konyolnya hidupmu... hahaha...”
Acaman bagi Yoo Ra, ia merasa kalau ini adalah ajalnya. Yoo Ra berpikir lebih baik mati memperjuangkan negaranya daripada menikah demi politisi.
Mengingat hanya ada dua pilihan saat ini, antara mati untuk menghindari pernikahan, dan hidup penuh kesengsaraan.
“Hei... jangan bingung, dengan kematianmu saat ini maka dendamku akan tuntas loh..." ucap pria itu.
Yoo Ra sudah menebak kalau ini ulah pria brengsek di depannya.
Sedikit penasaran mengapa dia memiliki dendam pada kerajaan Jangmi?
“Lalu... dendam apa yang kau punya sehingga menghabisiku adalah solusinya?" tanya Yoo Ra.
“Tentu ada, dan kau tidak boleh tau... Lalu, kau memiliki sebuah benda yang... bisa dibilang aku membutuhkannya."
***
__ADS_1
¹ Pakaian Tradisional
² Tuan Putri