Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 35


__ADS_3

Jae Won bertanya kepada Moo Ra dimana Yoo Ra berada, dan Moo Ra menjawab kalau Yoo Ra mungkin sudah kembali ke penginapan dan Moo Ra akan kembali larut malam. Jae Won pergi ke kamar Yoo Ra, mengetuk pintu tapi tak ada respon sama sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggunya di depan pintu kamar Yoo Ra.


Yoo Ra tidak terburu-buru untuk pergi ke kamarnya, ia menghabiskan waktu sejenak di taman depan penginapan. Melepaskan rasa lelah dan merefresh pikiran. Sejak ia meninggalkan pantai, ponselnya terus bergetar. Dan kini ia mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan dan panggilan telepon yang muncul di notifikasinya.


Yeon Jin?... Haruskah membalas pesan darinya? Atau menelponnya?.


Yeon Jin masih duduk dan menatap layar ponselnya selama beberapa jam. Menunggu telepon yang sangat diharapkan. Ayolah... Semoga Tuhan memihak diriku, aku sangat merindukannya. Harapan kecil yang terucap dari mulut Yeon Jin.


Ponselnya bergetar, betapa bahagianya Yeon Jin mendapat telepon dari seseorang yang sudah lama dinantikan.


(Yoo Ra)


“Halo?”


(Yeon Jin)


“Oh... Yoo Ra-ya (senyum lebar).”


(Yoo Ra)


“Seonbaenim? Ada apa?”


(Yeon Jin)


“Tidak ada. Hanya merindukanmu.”


Sejenak pipi Yoo Ra memerah, entah apakah kini ia bahagia namun bercampur perasaan malu.


(Yoo Ra)


“A...Apa?”


(Yeon Jin)


“Bukankah aku mengatakannya dengan sangat jelas tadi?”


(Yoo Ra)


“Em... Itu...”


(Yeon Jin)


“Kamu gugup? (hening). Sejujurnya...Aku juga gugup saat ingin mengatakan itu.”


(Yoo Ra)


“Pft... (senyum).”


(Yeon Jin)


“Belum pengen tidur?”


(Yoo Ra)


“Belum. Tapi aku sudah ngantuk, aku masih di luar.”


(Yeon Jin)


“Cepatlah masuk ke kamarmu. Sekarang sudah jam 11 malam, jangan jadi gadis nakal.”


(Yoo Ra)


“Em... sekali-kali jadi gadis nakal. Di pulau orang, lingkungannya juga asing.”


(Yeon Jin)


“Jangan melakukan hal yang tidak-tidak! Aku tidak mengizinkan itu semua.”


(Yoo Ra)


“Yooo... Seonbaenim. Atas dasar apa kamu melarangku (menggoda).”


(Yeon Jin)


“Berhenti bercanda, sekarang masuklah ke dalam. Kunci pintunya dan segeralah tidur.”


(Yoo Ra)


“Aku masih menunggu Moo Ra.”


(Yeon Jin)


“Tunggulah dia di kamar, astaga kenapa aku jadi pengawalmu ya (menepuk dahi).”


(Yoo Ra)


“Baiklah, aku akan ke kamarku. Aku tutup teleponnya.”


(Yeon Jin)

__ADS_1


“JANGAN! Naiklah ke atas dan jangan matikan teleponya. Aku masih ingin mendengar suaramu.”


(Yoo Ra)


“Iya iya, sejak kapan seonbae jadi bawel?”


(Yeon Jin)


“Sejak kau jarang menghubungiku. Ceritakan bagaimana hari-harimu?”


Yoo Ra tersenyum karena candaan Yeon Jin sudah menghiburnya saat ini, sejenak ia melupakan kejadian yang sudah membingungkannya. Naik ke atas menuju kamarnya, suara langah kaki menggema di koridor ruangan, ponselnya masih digenggam dan berbicara. Jae Won yang bersandar di dinding, kini ia bangkit dan berdiri menyambut langkah kaki. Ingin dia menyapa gadis itu, sepertinya niatannya harus diurungkan. Melihat Yoo Ra berbicara di telepon dan berjalan mendekati pintu kamar, Jae Won langsung bersembunyi di sebuah lorong. Mendengar pembicaraan itu, rupanya Yeon Jin yang menelpon Yoo Ra.


Sakit tapi tak berdarah, Jae Won ingin menghabiskan malam di taman penginapan hanya dengan Yoo Ra seorang. Sudahlah, aku tak ingin menganggunya. Masih ada esok hari, bagaimanapun caranya aku harus membuat kenangan berkesan dan bisa merebut hatinya. Jae Won akan melakukan sesuatu yang lebih ekstrem, dan kini ia tidak boleh lagi sembunyi seperti kelinci yang sedang diburu.


Sudah sangat larut, Yoo Ra merebahkan diri di kasur dengan masih memegang ponsel. Suara Yeon Jin masih terdengar. Yoo Ra meminta saran dari Yeon Jin, dan Yeon Jin menjelaskannya dengan panjang lebar. Walaupun merasa letih karena kegiatan hari ini, tapi mendengar suara Yeon Jin, seolah Yoo Ra merasa tenang. Keletihan berubah menjadi kenyamanan, setiap kali berada disebelah Yeon Jin, ia merasa tenang. Mendengar suaranya ini, seakan melodi yang berbunyi adalah melodi kehangatan pelepas penat.


Sudah lama mengomel, Yoo Ra hanya mendengarkan suara pria itu. Yeon Jin sedari tadi tidak mendengar suara Yoo Ra, kini dia merindukan suara itu.


(Yeon Jin)


“Yoo Ra... (suara pelan). Masih mendengarku?”


(Yoo Ra)


“Tentu... Aku belum pernah mendengar seonabenim berbicara panjang lebar seperti ini.”


(Yeon Jin)


“Begitu ya? Biasanya kau yang cerewet, kali ini malah aku yang cerewet.”


(Yoo Ra)


“Aku juga berpikir begitu. Hari ini aku sangat lelah, aku ingin tidur tapi tidak bisa.”


(Yeon Jin)


“Kenapa? Kau sendirian disana?”


(Yoo Ra)


“Iya, Moo Ra juga belum kembali kesini.”


Ting... Yoo Ra menerima pesan dari Moo Ra. Sungguh panjang umur, baru dibicarakan langsung hadir. Di dalam pesan singkat itu, Moo Ra menulis, “Yoo Ra, aku pulangnya agak larut. Jangan khawatir, Jun Moo bersamaku. Aku juga bawa kunci kamar."


(Yoo Ra)


“Aigo... beneran aksi kencan. Ckckck...”


(Yeon Jin)


(Yoo Ra)


“Barusan aku dapat pesan dari Moo Ra, dia pulangnya agak larut.”


(Yeon Jin)


“Jadi kamu beneran sendirian nih?.”


(Yoo Ra)


“Aku ingin tidur, tapi gak bisa. Sendirian disini juga harus waspada, sepertinya malam ini bakal insomnia.”


(Yeon Jin)


“Beneran mau nginsom?”


(Yoo Ra)


“Enggak juga.”


Yeon Jin secara mendadak mematikan panggilan, “Eh..?.” Yoo Ra hanya bisa kaget dan merasa kalau Yeon Jin mematikan telepon karena ada pekerjaan. Hanya beberapa detik kemudian, Yeon Jin menelpon Yoo Ra kembali. Kali ini Yeon Jin sengaja menelpon dengan via video call. Yoo Ra terkejut dan buru-buru bangkit dari rebahannya.


“Ngapain video call? Astaga orang ini.” Gumamnya dengan agak kesal. Yoo Ra tidak ingin menjawab panggilan itu, dan ia juga tidak tahu kenapa Yeon Jin mendadak bersikap seperti ini.


Harus dijawab, kalau tidak aku akan mengecewakannya. Biarlah dia menjadi obat tidurku kali ini


(Yoo Ra)


“Seonbae, tiba-tiba begini aku jadi kaget.”


"Akhirnya, wajah yang kurindukan selama beberapa hari ini, aku melihatnya kembali." Gumam Yeon Jin dalam hati dengan perasaan yang berbunga-bunga.


(Yeon Jin)


“Aku ingin menemanimu, katanya sedang sendiri.”


(Yoo Ra)


“Benar juga (mengusap dagu). Jadi, soenbae punya solusi supaya aku bisa cepat tidur?”

__ADS_1


(Yeon Jin)


“Hidupkan AC-nya, hidupkan lampu tidur, berbaringlah, dan pakai selimutmu.”


Mendengar aba-aba dari Yeon Jin, Yoo Ra langsung mengikutinya. Spontan dan tidak ada penolakan ketika mendengar saran dari Yeon Jin.


(Yoo Ra)


“Sudah, terus?”


(Yeon Jin)


“Miringkan tubuhmu, dan letakkan ponselmu disebelah. Usahakan aku masih bisa melihat wajahmu.”


(Yoo Ra)


“Buat apa? Memangnya seonbae tidak mau tidur.”


(Yeon Jin)


“Tunggu dulu...”


Yeon Jin segera mematikan lampu di meja belajarnya dan bergegas menuju tempat tidur. Dia juga berbaring dan seolah siap untuk tidur. Kali ini adalah trik yang sedang dia pikirkan, mungkin akan berhasil dan bisa melihat wajah gadis yang ia sukai menjelang tidur.


(Yoo Ra)


“Ikutan tidur?”


(Yeon Jin)


“Iya (senyum lebar). Mau aku nyanyikan lagu?”


(Yoo Ra)


“Memangnya bisa nyanyi?”


(Yeon Jin)


“Kau meragukan kemampuanku, aku adalah mantan trainee loh.”


(Yoo Ra)


“Yang benar? Mulailah.”


Yeon Jin mulai bernyanyi, suaranya tak diragukan lagi, lembut seperti penyanyi ballad. Lagu mellow yang membuat telinga terpesona, dan kini Yoo Ra bisa tertidur. Dengan menatap layar ponsel, Yeon Jin berusaha mendalami wajah gadis yang sedang menatap dirinya dengan wajah yang tertidur.


“Sebenarnya kamu juga sama seperti gadis yang lain, kenapa kamu terlihat begitu spesial dimataku? Aku ingin mengejarmu, memelukmu, dan saat tidur seperti ini aku juga ingin mengecup keningmu. Yoo Ra, saat waktunya tiba, aku akan mengungkapkan semua isi hatiku yang selama ini mengganjal. Aku tidak mau menjadi pecundang yang hanya menyimpan perasaannya sendiri, aku harap kamu bisa menemaniku dan bersedia menjadi kekasihku.” Seperti puisi, tapi inilah kenyataannya. Perasaan Yeon Jin tidak dapat disembunyikan lagi.


Terus menatap si gadis, dia juga ikut terlelap hingga pagi hari. Saat terbangun, ponsel mereka berdua sama-sama mati karena kehabisan daya. Yeon Jin terbangun dengan perasaan bahagia, walau tidak tidur di tempat yang sama, setidaknya dia sudah merasa kalau Yoo Ra tidur bersama dengannya. Yoo Ra masih bingung dengan perlakuan Yeon Jin, tapi ini sungguh manis. Jarang sekali ada pria yang berperilaku seperti ini, bahkan pasangan kekasih pun terkadang enggan untuk melakukannya.


“Park Yeon Jin-ssi... Kenapa aku selalu tenang saat menatapmu?” Perasaan ini bingung, bercampur dengan detak jantung yang berdegup kencang. Memandang gambar baterai di layar ponsel yang sedang dicharge, naik turunnya gambar itu sama seperti keondisinya sekarang. Semakin naik semakin terisi.


---


Benar-benar lupa waktu, dari semalam Moo Ra tidak kembali ke penginapan. Yoo Ra bingung, kenapa Moo Ra tidak kembali ke kamar, “Apa mungkin mereka berdua menginap di tempat lain ya?”. Segera turun untuk ikut sarapan, di tangga bawah Jae Won sudah menunggu Yoo Ra. Jae Won menyambutnya dengan ucapan selamat pagi.


(Jae Won)


“Selamat pagi (senyum).”


(Yoo Ra)


“Selamat pagi...”


(Jae Won)


“Kenapa dengan wajahmu? Kok gelisah?”


(Yoo Ra)


“Semalam Moo Ra tidak kembali ke kamar. Entah kemana saja anak itu.”


(Jae Won)


“Kemarin dia ikut minum-minum sama yang lain. Karena mabuk, tiba-tiba dia gak enak badan. Sekarang lagi di klinik penginapan, Jun Moo yang menjaganya semalaman.”


(Yoo Ra)


“Wah... Dasar bocah idiot. Seonbae, tolong antarkan aku ke Moo Ra ya.”


(Jae Won)


“Nanti saja aku antar, sekarang sudah waktunya sarapan.”


(Yoo Ra)


“Baiklah...”


Gumam Yoo Ra, “Dasar Moo Ra...”.

__ADS_1


***


__ADS_2