Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 12


__ADS_3

Suasana toko yang sangat menenangkan, seketika melupakan kehidupan dunia. Yoo Ra duduk lalu mengamati setiap sudut toko, benar-benar cantik dan tertata rapi, ya... namanya saja toko bunga.


Dibelakang meja kasir ada pintu menuju satu ruangan, dari ruangan itu tercium aroma teh yang sangat kuat. Wanita Tua itu keluar melalui pintu tersebut dengan membawa nampan berisi teko teh, dua cawan teh yang kecil, dan satu mangkuk kelopak mawar kering.


Tak lama kemudian, wanita tua itu menyuguhkan teh buatanya dengan ditaburi beberapa kelopak mawar. Dengan masih penasaran Yoo Ra menatap kembali sudut ruangan, tepat di sudut ruangan ada satu lukisan kuno. Dalam lukisan itu ada sosok wanita yang terlihat mirip dengan wanita tua itu dan tertera nama “Dal Rae”. Yoo Ra merasakan ada sesuatu yang mengganjal, seperti dia pernah mengenal wanita tua ini.


“Kau bisa memanggilku dengan nama yang tertera di lukisan itu.” Ucap wanita tua yang memperkenalkan dirinya kepada gadis muda itu. “Baiklah, saya mengerti. Dal Rae halmeoni, kenapa toko bunga anda masih buka sampai malam begini?”


Wanita tua itu berkata dengan jujurnya, “Karena ada tamu yang datang.”


Dalam hati Yoo Ra “mungkin arwah tadi adalah tamunya.”


Tiba-tiba Dal Rae berkata, “bukan hanya dia, tapi dirimu juga.”


Sontak Yoo Ra terkejut karena wanita tua itu bisa membaca isi hatinya. Yoo Ra mulai nampak ketakutan dan ingin segera beranjak pergi dari tempat itu, namun wanita itu menahannya sebentar. “Jangan pergi terburu-buru nak, silahkan minum tehnya dulu. Kau tidak tahu bagaimana aku bersusah payah menghidangkan ini. Minumlah walau seteguk saja.”


“Baiklah, akan saya minum. Ah... tehnya sangat enak, aku belum pernah meminum teh dengan rasa seperti ini.” kata Yoo Ra, hanya satu teguk yang ia minum.


Dal Rae tersenyum lembut, dan berkata bahwa inilah keistimewaan dari tehnya. Sebelum suasana menjadi lebih canggung lagi, Yoo Ra segera bertanya kepada Dal Rae.


Yoo Ra melihat seseorang yang keluar dari tempat ini dengan membawa setangkai bunga peony yang berwarna merah menyala. "Siapa dia, dan untuk apa dia membawa satu tangkai bunga peony merah?” tanya Yoo Ra


Dal Rae meletakkan cangkirnya, dan sedikit terkejut bahwa Yoo Ra bisa melihat arwah tadi.


Yoo Ra menggelengkan kepala, dan mengatakan bahwa ia bisa melihat arwah seperti itu, tapi entahlah apakah manusia yang lain juga bisa melihat. “Em... ternyata kau bisa melihat arwah ya? Apakah kau mengingat sesuatu? Misalnya yang berhubungan dengan arwah seperti itu?” kata Dal Rae.


“Mengingat sesuatu? Apa maksudnya?”


Yoo Ra tiba-tiba teringat sesuatu, suara wanita itu mirip sekali dengan suara seseorang yang pernah ia kenal. Namun ia lupa akan wajahnya. Tiba-tiba datanglah seseorang dengan lumuran darah di kepala, nampak seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan.


Yoo Ra ketakutan dan ingin meninggalkan toko bunga itu.

__ADS_1


Dal Rae melambai dan mempersilahkan orang itu untuk masuk, menawarkan peony merah untuknya.


Seketika sosok arwah wanita itu mengangguk dan membuat Yoo Ra tercengang. “Bunga peony? untuk apa bunganya?” Yoo Ra bertanya dengan sedikit gugup.


“Itu untuk arwah yang mati cara tidak wajar, bunga itu adalah penuntun menuju kedamaian. Sehingga arwahnya bisa direinkarnasi di kemudian hari tanpa rasa dendam.”


Yoo Ra segera berdiri dan mencondongkan tubuh untuk memberi salam dan pamit untuk pergi dari tempat ini.


Yoo Ra berpapasan dengan arwah itu, dan merasakan hawa dingin yang menyengat. Yoo Ra ketakutan, selama ia melihat hantu di tempat lain ia tidak pernah merasakan hawa yang begitu pekat. Ternyata hawa itu ditimbulkan oleh toko bunga, dimana tersimpan banyak bunga peony walau bukan musimnya bunga itu.


Yoo Ra naik bus dan segera pulang ke rumah. Kim Jae sudah cemas karena Yoo Ra tak kunjung pulang malam ini, ia pun menunggu di pintu dengan menggenggam ponsel Yoo Ra yang tidak dibawa oleh Yoo Ra. Yoo Ra turun dari bus dengan tatapan kosong dan berjalan dari halte menuju arah rumahnya, ia masih tidak percaya dengan kejadian yang ia alami saat ini.


Sampailah di depan gerbang rumah. Terlihat Kim Jae berlari menghampiri Yoo Ra dengan meneriakkan nama Yoo Ra.


Kim Jae berlari dengan penuh kekhawatiran pada adiknya itu. Kemudian memeluk erat tubuh Yoo Ra, ia bersyukur karena Yoo Ra nampak baik-baik saja dan bisa pulang ke rumah.


Kim Jae segera memeluk dan mengusap kepala Yoo Ra, dia bersyukur bahwa adiknya tidak apa-apa. Sangat khawatir sebab Yoo Ra sendiri tidak kunjung pulang, saat ini Yoo Ra sudah pulang dan perasaannya pun lega.


“Ya... aku baik-baik saja. Oppa.. Tadi aku...” ucap Yoo Ra dengan tatapan kosong, kemudian Kim Jae mulai melepaskan pelukannya.


Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah, Kim Jae segera membawa Yoo Ra ke dalam kamar agar bisa beristirahat dengan baik. Yoo Ra mulai berbaring di ranjang dan merasakan bahwa ada yang salah dengan tubuhnya setelah meminum teh dari wanita tua itu. Ia mulai demam, dan ia menggigil kedinginan.


Kim Jae agak panik, dan dia bingung harus bertindak apa. Karena saat ini sudah hampir tengah malam dan tidak memungkinkan untuk membawa Yoo Ra ke rumah sakit atau memanggil dokter, jadi ia memutuskan untuk merawat Yoo Ra sendiri malam ini.


“Saat ini kau merasakan sakit di bagian mana?”


“Kepalaku agak pusing, aku sangat kedinginan. Entahlah, badanku sangat lemas.”


“Tunggu disini dulu, cobalah untuk tidur. Kalau tidak bisa, paksakan untuk tidur ya. Aku akan mengambil kompresan dan obat.”


Yoo Ra hanya bisa mengangguk, karena badannya sangat terasa lemas. Dia mulai memikirkan kejadian tadi, apakah ada hubungannya dengan tempat itu. Sepertinya tempat itu bukanlah tempat biasa saja, buktinya tadi Yoo Ra sudah melihat arwah yang menginginkan setangkain bunga peony merah untuk kedamaian mereka.

__ADS_1


Semakin dipikirkan, Yoo Ra semakin pusing. Kim Jae berusaha semampunya untuk merawat Yoo Ra yang sedang sakit. Ia mulai mengkompres dahi Yoo Ra dengan air es, memberikan selimut yang tidak terlalu tebal, dan menyalakan AC. Semua itu ia lakukan demi demam Yoo Ra bisa segera turun, namun itu berbanding terbalik dengan kondisi Yoo Ra yang mulai merasa kedinginan.


“Tahanlah suhu dinginnya, nanti demammu bisa segera turun. Ini minumlah obatnya..." Kim Jae memberikan satu tablet obat dan segelas air mineral. Yoo Ra segera meminumnya dan berharap segera membaik, dia akan menahan rasa dingin yang menyerang tubuhnya.


“Oppa... aku tadi pergi ke toko bunga di dekat pusat kaki lima yang aku kunjungi tadi. Lalu aku bertemu wanita tua dan memberikanku teh dengan kelopak mawar. Setelahnya ada kejadian aneh dan aku merasakan kegelisahan, apa artinya itu?”


“Toko bunga? Teh kelopak mawar? Wanita tua.”


Kim Jae mulai merasa ada kejanggalan, karena ia sepertinya pernah mengalami hal seperti itu juga. Pada akhirnya Kim Jae pun mulai menyadari bahwa wanita tua itu adalah Dal Rae, salah satu dewa penuntun arwah menuju alam baka sekaligus dewi bulan yang pernah ia temui beberapa waktu yang lalu.


“Nanti kalau kau sudah agak baikkan, aku akan memberitahu semuanya. Cepat tidurlah.”


“Janji ya.”


“Iya, aku janji. Tidurlah, aku akan tidur di sampingmu sambil mengecek demammu.”


“Baiklah.”


Kim Jae menemani Yoo Ra, ia tidur di samping Yoo Ra dan mulai menebak-nebak kejadian yang menimpa adiknya itu. Yoo Ra mulai tertidur lelap, saat itu dia bermimpi sesuatu. Ia melihat potongan kejadian yang ia alami ini alam pengadilan Dalwi Yeosin. Saat di alam itu, wajah sang Dalwi Yeosin begitu samar. Namun di mimpi ini, dia melihat wajah sang Dalwi Yeosin itu. Sangat dan sangat jelas sekali, sosok wanita tua.


Saat ini masih pagi buta sekitar pukul 4 lagi, dan Yoo Ra mulai terbangun karena terkejut dengan wajah sang Dalwi Yeosin yang ia lihat di mimpinya itu. Yoo Ra terbangun dan langsung duduk lalu menyeka keringatnya dan memasang ekspresi terkejut, kemudian Kim Jae juga ikut bangun dari tidurnya.


“Kau baik-baik saja?”


“Dal...Dalwi Yeosin itu. Dia...”


Yoo Ra mulai menggerutu, menyebutkan nama itu.


“Kenapa?”


“Wajahnya..." Yoo Ra mengalihkan pandangannya ke arah Kim Jae. Kim Jae pun bertanya, kenapa? dan ada apa dengan wajah si Dalwi Yeosin itu?

__ADS_1


***


Halmeoni (할머니) : Sebutan untuk Nenek


__ADS_2