
Yoo Ra menceritakan semua ia alami tadi malam kepada Kim Jae. Ia bercerita kalau wajah sang Dalwi Yeosin sangat mirip dengan wanita tua yang ia temui semalam, namanya juga berawalan “Dal” yang berarti bulan. Saat ia bertemu dengan Dalwi Yeosin di alam pengadilan, wajah Dalwi Yeosin sungguh samar ketika dilihat. Namun, saat ini ia sudah mengenali bahwa Dalwi Yeosin sama persis dengan wanita tua yang bernama Dal Rae itu.
Apakah ini hanyalah kebetulan belaka? Atau hanya sekedar mempermainkan hidup Yoo Ra.
Kim Jae menghela napas sebentar, sebab Yoo Ra tak perlu mengkhawatirkan wanita tua itu. Mungkin saja Yoo Ra ditakdirkan untuk selalu bertemu dengan Dalwi Yeosin agar dia teringat dengan misinya.
(Kim Jae)
“Jangan khawatir, dia juga bukan dewa yang jahat kan (menepuk pelan punggung Yoo Ra). Tenanglah.”
(Yoo Ra)
“Jadi, mereka berdua adalah orang yang sama?”
(Kim Jae)
“Mungkin begitu. (menyentuh dahi Yoo Ra) Kau sudah tidak demam lagi. Kepalamu masih terasa pusing apa tidak?”
(Yoo Ra)
“Sudah tidak pusing, apa karena efek teh itu ya? Dan teh itu hanya mengawalku menuju ingatan tentang Dalwi Yeosin.”
(Kim Jae)
“Ya, sepertinya begitu. Mandilah dulu, aku akan tidur di kamarku. Samchon juga akan pulang sebentar lagi.”
(Yoo Ra)
“Oppa... Aku tadi malam tidak membawa ponsel, dimana ponselku?”
(Kim Jae)
“Itu ada di atas meja, mulai kau keluar rumah ponselmu terus berdering. Saat kau pulang dan tidur, aku aktifkan mode silent.”
(Yoo Ra)
“Berdering?”
Nampaknya ada sesorang yang sedang menghubungi Yoo Ra karena hal yang penting, Yoo Ra hanya mengira kalau Kim Yoo yang terus-terusan menelponnyaa.
Yoo Ra keluar dari kamar mandi, dan berganti pakaian. Saatnya memeriksa ponselnya. Betapa terkejutnya dia karena ada 6 panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak ia kenal, dan juga ada 1 pesan yang belum terbaca. Dalam pesan itu berisi...
“Aku menelponmu berkali-kali, tapi tidak kau angkat juga. Jadi aku mengirimkan pesan ini agar kau tidak lupa denganku. Aku Do Jae Won, masih ingat tidak? Jangan lupa untuk menyimpan nomorku da ya. Oh iya, bagaimana kabarmu?”
Yoo Ra agak bingung dengan pesan ini, kemudian ia membalas pesan tersebut.
“Iya seonbae, aku baik-baik saja.”
Pesannya sudah terkirim, Yoo Ra ingin mengirim pesan lagi kepada seniornya itu dan ingin menjelaskan kenapa ia tidak menjawab teleponnya.
Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Jae Won, dan Yoo Ra langsung mengangkatnya.
(Jae Won)
“Halo...”
(Yoo Ra)
“Halo... Jae Won seonbaenim?”
(Jae Won)
“Maaf menelponmu pagi-pagi, kamu beneran baik-baik saja kan? Aku khawatir karena kamu tidak menjawab teleponku tadi malam.”
(Yoo Ra)
“Iya, baik-baik saja. Tadi malam aku pergi keluar dan tidak membawa ponsel, aku baru saja mengecek ponselku.”
(Jae Won)
“Syukurlah, bagaimana dengan studymu? Sudah kau baca semua materi-materi semester satu?”
(Yoo Ra)
__ADS_1
“Sudah, tapi belum semuanya. Tinggal 2 buku lagi yang belum aku baca, sebentar lagi akan aku selesaikan sebelum hari pertama masuk kampus.”
(Jae Won)
“Em... begitu ya, berarti kamu sibuk dong?”
(Yoo Ra)
“Enggak juga sih, cuman baca buku aja.”
(Jae Won)
“Hari ini ada waktu nggak?”
(Yoo Ra)
“Ada, kenapa?”
(Jae Won)
“Cuacanya sedang bagus. Kamu juga gak terlalu sibuk, awal masuk kuliah juga masih lama. Kita pergi keluar, mau tidak?”
(Yoo Ra)
“Entahlah... aku lagi ingin di rumah saja.”
(Jae Won)
“Ayolah... aku ajak ke tempat yang istimewa deh.”
(Yoo Ra)
“(tersenyum). Baiklah.”
(Jae Won)
“Nanti jam 4 sore, kita ke cafe dekat kampus dulu terus ke tempat itu. Aku jemput ya.”
(Yoo Ra)
(Jae Won)
“Em... Kalau begitu, kau naik bus aku akan naik bus juga deh.”
(Yoo Ra)
“Seonbae ada-ada saja (tertawa kecil). Seonbaenim, aku tutup dulu teleponnya. ”
(Jae Won)
“Baiklah.”
Setelah perbincangan di telepon, Yoo Ra agak merasa aneh. Kenapa tiba-tiba seniornya itu mengajaknya pergi keluar. Disisi lain ada Jae Won, ia sangat bahagia teleponnya akhirnya dijawab oleh Yoo Ra. Nampaknya, si Jae Won ini mulai tertarik dengan gadis itu.
Perasaan Jae Won sungguh bahagia bagaikan pop corn yang meletup-letup. Walau hanya sebatas senior-junior, tapi ia merasa kalau ini akan menjadi kencan dengan gadis yang membuatnya tertarik.
***
Ini sudah pukul 15.45 sore, Yoo Ra bergegas berangkat agar tidak terlambat. Dia mulai naik bus dan menuju ke cafe dekat kampusnya.
Yoo Ra turun dari halte bus depan kampus, ia harus berjalan lagi sejauh 200 meter menuju cafe. Saat ini ia berada pas di depan pintu gerbang utama kampus Deiji, ia melihat ada keributan di sana. Sepertinya ada pihak kampus yang sedang berdebat dengan sesesorang pria yang memakai setelan jas, ya... nampak seperti orang kantoran begitu.
Yoo Ra tak ingin menghampiri mereka, tapi dia melihat salah satu staff yang ia kenal. Staff itu terlibat keributan, dan staff itu membawa beberapa berkas kemudian dilempar oleh pria berjas. Tentu saja isi berkas itu berhamburan, Yoo Ra pun ikut membereskan berkas yang bercecer di tanah.
“Ahjussi... sikap anda keterlaluan ya. Jangan begini pada wanita.’’ Ucap Yoo Ra tanpa pikir panjang.
“Agassi, tolong minggir sebentar jangan ganggu kami. Ini menyangkut study dari atasanku.” Ucapan pria ini sangat egois.
“Eonni, ini berkasnya (menyerahkan berkas yang YooRa pungut.) Eonni baik-baik saja, eeonni terlihat pucat?”
“Terima kasih ya, aku baik-baik saja.” Ucap staff wanita itu.
“Ada masalah apa sebenarnya?” Tanya Yoo Ra yang kebingungan dengan situasi saat ini.
__ADS_1
Sang pria berjas itu menceritakan kejadiannya, ternyata ini menyangkut jadwal kuliah atasannya. Dan atasannya itu juga termasuk pimpinan perusahaan, perusahaan juga akan membayar uang kuliah bos muda itu dengan syarat bos itu bisa lulus sesuai ketentuan yakni 4 tahun (normal lulus sarjana). Tapi bosnya tidak bisa mengikuti setiap mata kuliah dengan full.
Yoo Ra juga bingung, kalau tidak bisa masuk kuliah dengan full ngapain juga minta lulus tepat waktu?.
Ia ingin menyela tapi juga tak bisa berkutik, hanya ada satu penyelesaiannya. Yakni sang bos itu yang harus membenarkan jadwal kuliahnya sendiri tanpa bantuan sekertarisnya. Lagi pula bos itu akan lulus jika mampu menyelesaikan 3 semester lagi di tahun ini. Bukankah itu hal yang mudah dengan libur bekerja dulu selama satu setengah tahun demi sarjananya?.
“Begini saja tuan, dimana bos anda sekarang?” tanya staff itu kepada pria berjas.
“Dia di dalam mobil (menunjuk mobil hitam mewah yang parkir di dekat halte). Aku akan menyelesaikan ini sendiri, karena aku adalah sekertarisnya.” Pria itu mengucapkan kata-kata layaknya sekertaris yang berkompeten.
Staff itu masih berdebat dengan pria itu. Tanpa pikir panjang, langsung saja Yoo Ra menghampiri mobil itu dan mengetuk kaca mobil agar bos itu keluar dan menyelesaikan masalah ini.
“Permisi, bisakah anda keluar sebentar. Sepertinya sekertaris anda agak kesulitan mengurus masalah anda.” Yoo Ra berusaha membuat bos itu keluar mobil.
Akhirnya pintu mobil terbuka dan sosok pria berpakaian rapi keluar dari mobil dan setuju untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Sungguh dandanan layaknya bos, dia juga terlihat seperti seorang mahasiswa.
“Kau staff di kampus juga ya? Ayo biarkan aku meluruskan ini.” Ucap pria itu.
“Aku? Tidak, anda bisa meluruskan ini dengan wanita yang ada disana (menunjuk ke arah staff kampus)” Yoo Ra mengajak pria itu staff kampus.
Karena agak khawatir dengan perlakuan kasar dari sekertaris itu, Yoo Ra juga ikut menemani staff wanita itu dan belum menuju ke cafe. Dan juga memberikan saran kepada bos itu, lalu bos itu menyetujui saran Yoo Ra.
Selesai sudah urusan antara kampus dan mahasiswa yang menjelma menjadi bos itu, dan kini mereka sudah membubarkan diri. Staff wanita itu juga langsung masuk ke dalam kantor kampus, dan bos itu juga hendak pergi.
Yoo Ra hendak pergi tanpa berpamitan kepada bos itu, tapi saat beberapa langkah menjauh langkahnya tertahan sementara.
Pria itu menahan Yoo Ra dengan berdiri langsung di depan Yoo Ra. Tubuhnya sangat tinggi, hingga kepala Yoo Ra sejajar dengan bahu pria itu. Tambah lagi dengan wajahnya yang tampan melebihi Kim Jae.
“Kau staff disini bukan?” Tanya pria itu kepada Yoo Ra.
“Bukan, anda salah paham. Kebetulan cuman lewat kok. Dan saya juga mengenal staff itu. Saya hanya membantunya.” Yoo Ra berkata demikian untuk memperjelas kehadirannya.
“Huh (senyum kecil), karena kau berkata begitu maka jaga rahasia ini. Kau sudah mendengar semuanya dan sebaiknya jangan berkata apapun di depan teman-temanmu. Mengerti?” Ucap pria itu.
Yoo Ra pun menjawab ucapan pria itu yang terdengar sangat arogan, “Begini ya, anggap saja ini berlalu dan saya tidak akan membeberkan ini semua. Anda sudah puas? Dan kalau sudah, saya akan pergi.”
Yoo Ra segera menyingkir namun ditahan lagi oleh pria itu.
“Ya sudahlah, aku sangat berterima kasih padamu (senyum tulus dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan).” Akhirnya mereka berdua berjabat tangan dan saling memaafkan.
Pria itu juga berkata, “Sebagai permintaan maaf dan rasa terima kasihku, bagaimana kalau hari ini aku traktir makan? (sambil memandang sekitar mencari tempat makan terdekat)”
“Maaf, hari ini saya juga ada janji dengan seseorang.” Ucap Yoo Ra.
Terdengar dikejauhan ada suara Jae Won yang memanggil nama Yoo Ra, dan Yoo Ra terkejut karena Jae Won sedang mencarinya karena belum datang ke cafe.
(Yoo Ra)
“Oh... Seonbaenim...”
(Jae Won)
“Aku sudah menunggu agak lama, jadi aku putuskan untuk menjemputmu di halte.”
(Yoo Ra)
“Maaf membuatmu menunggu, ayo kita pergi. Maaf, saya permisi dulu.”
Mereka berdua akan menuju cafe, namun suara pria itu menahan mereka sebentar.
Pria itu membalikkan badan menghadap ke arah Jae Won
.
“Jae Won?” suara pria itu mengejutkan Jae Won dan Yoo Ra.
“Sudah lama tidak bertemu ya...”.
“Park Yeon Jin?” Jae Won terkejut dengan kehadiran teman seangkatannya itu.
Ternyata, pria yang memiliki perawakan 99% sempurna dengan tinggi badan 185 cm, wajah tampan, tubuh proporsional, sangat berkompeten dan populer dikalangan banyak wanita. Dan nama pria itu adalah Park Yeon Jin, CEO muda dari Park Group.
“Kalian saling kenal?” Tanya Yoo Ra yang penasaran.
__ADS_1
***