Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 89


__ADS_3

Sejak kejadian malam tadi, Yoo Ra sedikit cemas dengan Kim Jae. Yoo Ra sendiri masih tidak mengetahui penyebab Kim Jae yang hilang kendali sampai seperti itu.


Pagi hari dengan cahaya masuk ke dalam kamar gadis itu, dengan seorang pria duduk di sebelahnya. Yoo Ra tidak mampu mengingat kembali apa yang terjadi setelah dirinya dibuat melayang sampai ke langit-langit kamar.


Terlihat beberapa memar di kedua siku Yoo Ra, Kim Jae Cuma bisa meratapi perbuatannya yang hampir mencelakai adiknya.


“Aku... minta maaf. Semalam...”


“Sudahlah, anggap aja itu sama sekali nggak pernah terjadi. Tapi, kamu kok bisa begitu?” Tanya Yoo Ra dengan menyandarkan kepalanya di dinding.


Kim Jae terdiam dan menggaruk kepalanya, seperti tidak ingin menjawab. Yoo Ra paham, mungkin ada sesuatu yang privasi bagi Kim Jae dan tidak ingin diceritakan. Untuk itu, Yoo Ra segera mengalihkan topik pembicaraan.


“Sebentar lagi aku harus ikut rapat. Bisa mengantarku?”


“Tentu, aku siapkan mobilnya dulu. Dan jangan lupa setelah pulang nanti aku yang jemput.”


Lebih baik seperti ini, daripada terus-menerus diam dan memikirkan kejadian itu. Yoo Ra segera bersiap-siap, kemudian keluar dari kamarnya. Menuruni anak tangga satu persatu, dan masih setengah jalan kepalanya mulai terasa sakit.


Yoo Ra terhuyung, badannya mulai lemas, darah segar mengalir dari hidungnya. Beruntungnya Kim Jae langsung datang dan membopongnya untuk turun ke bawah.


Memang akhir-akhir ini dia sering sakit kepala, dan firasatnya mulai buruk. Lebih buruk dari kemarin, apa sakit kepalanya ini sangat parah? Sampai-sampai mimisan seperti ini. Kim Jae panik, dan segera membantu Yoo Ra membersihkan darah yang keluar dari hidungnya itu.


“Kamu nggak apa-apa? Kalo sakit gak usah pergi kerja.” Ucap Kim Jae dengan memperhatikan Yoo Ra yang sudah mulai pucat. Namun Yoo Ra menggeleng, dan berkata bahwa dia harus segera pergi karena hari ini adalah rapat yang sangat penting.


Kim Jae tetap saja ingin menghentikan Yoo Ra, namun dia sudah kalah beradu mulut dengan adiknya itu. 10 menit lagi adalah jam kerja, mereka harus bergegas pergi. “Kalau kurang sehat, telepon aku, aku yang akan merawatmu.” Kata Kim Jae. Yoo Ra mengangguk dan memberikan senyum manisnya.


Sesampainya di kantor, Yeon Jin sudah lama menunggu Yoo Ra di dekat pintu utama. Saat Yoo Ra baru saja turun, Yeon Jin bergegas menghampiri Yoo Ra.


“Sudah datang?”


“CEO Park?”


“Ayo segera masuk, banyak sekali pertanyaan untukmu.”


Yoo Ra bingung, apa ini karena masalah semalam yang kakek Park memanggilnya Yang Mulia?


Mereka berdua duduk berhadapan, dan Yeon Jin memperhatikan wajah pucat pacarnya itu. “Wajahmu pucat, sakit?” Tanya Yeon Jin. Yoo Ra menggeleng dan meminta Yeon Jin untuk segera memberitahukan pertanyaannya.


Yeon Jin menundukkan pandangannya, dan mengeluarkan suara kecil, “Kakekku... Dia itu gurumu kan? Di masa lalu, dia adalah gurumu. Aku tidak menyangka hubungan kita sedekat itu.” Ucap Yeon Jin dengan senyuman terlukis di bibirnya.


Guru? Sejak kapan Yoo Ra memiliki guru seperti dia. Bahkan sulit untuk diingat, karena banyak sekali guru saat dia kecil. Yang mana?

__ADS_1


“Entahlah, aku tidak terlalu ingat dengannya. Mungkin bisa jadi dia salah satu guruku, apa kakek bercerita sesuatu yang lain tentangku?”


“Em... (mengangguk) kamu adalah gadis hebat, bahkan sejarah pun akan mengingatmu.”


“Jangan berlebihan. Jadi, kakekmu juga seperti paman? Maksudku, mereka goblin?”


“Begitulah. Tadi malam, Kim Jae kenapa?”


“Tidak apa-apa.”


Disaat obrolan mereka berlangsung, ada seseorang yang meminta mereka segera pergi ke ruang rapat. Inilah waktu yang Yoo Ra tunggu-tunggu, berhadapan dengan CEO arogan. Entah Yeon Jin tahu atau tidak, tapi ini adalah langkah pertama yang Yoo Ra ambil.


Berada di depan pintu ruang rapat, Yoo Ra menahan lengan Yeon Jin. Yeon Jin melihat ke arahnya dan berbalik menggenggam tangan Yoo Ra.


“Mungkin aku sangat lancang, aku belum memberitahukan ini padamu. Tapi, bisakah kamu mendukungku?” Ucap Yoo Ra. Yeon Jin bertanya-tanya, apa maksud Yoo Ra. Tapi demi dia, Yeon Jin bersedia dan mengangguk “IYA”.


Rapat berlangsung, ada 10 orang di sana dan tiga yang lainnya yakni 2 rodeo meperebutkan 1 pria. Tidak, bukan memperebutkan 1 pria, tapi kekuasaan.


Mungkin di mata orang lain mereka sedang berusaha memperebutkan 1 pria, tapi taruhannya sangat besar, bukan hanya keuntungan, tapi juga konsekuensinya.


Selly membuka suara, dan menyerukan bahwa tender kali ini melibatkan 2 perusahaan sekaligus. Yeon Jin yang mendengarnya merasa tidak percaya, Yeon Jin bergumam sendiri, apakah ini yang Yoo Ra maksud.


Setelah rapat panjang, pada akhirnya mereka setuju kalau tender ini akan menjadi kompetisi bagi 2 perusahaan. Rapat berakhir, Selly mengajak Yoo Ra untuk berbicara berdua saja.


“Nona Kim, sepertinya kita sudah membahas itu ya? Aku perjelas lagi, aku menginginkan Yeon Jin saja. Mungkin kau tidak terlalu mengetahui urusan kami, tapi aku tertarik untuk merebutnya.”


“Hanya dia? Demi dia kau menyerahlan banyak saham dengan cuma-cuma, kau pikir aku akan percaya?”


“Nona Kim sangat pandai. Baiklah, aku tidak bisa membohongimu lagi. Aku mau Yeon Jin menjadi suamiku, aku mau itu.”


Memang benar, rasa cinta yang mendalam bisa membuat siapapun menjadi buta. Dibanding Yoo Ra, Selly jauh memiliki kemampuan. Tapi tak menyerah begitu saja, tadi pagi juga Yeon Jin sudah memberitahunya bahwa demi membatalkan kontrak pertunangan itu kakeknya sudah membuat negosiasi. Yoo Ra percaya bahwa dia dipilih untuk bisa melakukannya.


“Baiklah. Sudah begitu saja? Aku pikir CEO Selly akan sibuk.”


“Em... Tentu tidak ini saja, coba cek ini.”


Selly menyodorkan satu dokumen untuk taruhan mereka. Yoo Ra yang berambisi untuk menjadikan Kim Jae Presdir dan juga melepaskan beban Yeon Jin dari kontrak ini, sementara Selly berambisi untuk memiliki Yeon Jin dengan mempertahankan kontrak itu.


“Jika pihak dari Nona Kim kalah, sebagai konsekuensi dia akan menadapat sidang dewan dan tidak diperkenankan menjabat di Nam Group dan Park Group. Di tambah lagi harga saham kedua pihak akan diturunkan. Tender harus selesai dalam waktu 3 hari saja, dimulai dari besok pagi.”


Apa-apaan ini, Yoo Ra sangat sadar bahwa ada tipuan dibalik ini. Tidak dia sangka bahwa serangannya sangat mematikan. Yoo Ra hanya menghela napas, bahwa dia akan mengalami kerugian yang besar karena ulahnya.

__ADS_1


Yoo Ra menyesal, kalau tidak tergiur pastinya dia tidak akan melakukan hal nekat seperti ini. Bagaimanapun juga dia tetap bersih kukuh dan yakin bahwa dia yang menang.


“Aku terima, kita bertemu 3 hari lagi saat finalnya nanti.”


---


Yoo Ra kembali ke apartemen setelah pulang dari kantor, terlebih lagi kepalanya sangat pusing sekali. Akhir-akhir ini sakit kepalanya seperti bertambah parah, diperiksa ke dokter sepertinya juga tidak akan terjadi perubahan.


“Pasti liontinku ada yang merusaknya, Tuhan aku mohon, jangan membuatku tersiksa lagi.” Gerutu Yoo Ra sendirian.


Suara bel apartemennya berbunyi, kini kepalanya sedang sakit, sebenarnya tidak ingin membuka pintu dan menyambut tamu. Sebelum sampai membuka pintu, pintunya sudah terbuka, Yoo Ra mengintip dan ternyata itu adalah Yeon Jin.


Yeon Jin sepertinya marah, raut wajahnya menunjukkan demikian. Yoo Ra yang masih berdiri kemudian mempersilahkan Yeon Jin untuk masuk. Tanpa basa-basi Yeon Jin menatap Yoo Ra dengan tajamnya bertanya apa yang sudah terjadi diantara Selly dan juga Yoo Ra.


Yoo Ra menarik tangan Yeon Jin dan memintanya untuk duduk sebentar dengan membiarakan ini secara perlahan. “Begini, aku akan menceritakan semua, asal kau tenang dulu.” Ucap Yoo Ra. Bila berbicara dengan emosi, maka sakit kepalanya akan bertambah sakit lagi. Apa boleh buat, beruntungnya Yeon Jin bisa tenang.


Setelah menceritakan semuanya, Yeon Jin sudah paham.


“Aku butuh satu orang lagi untuk berada di tim kita. Yang mengetahui tentang desain perhiasan.” Ucap Yoo Ra.


“Kalau begitu, akan aku carikan.”


“Tendernya akan dimulai besok pagi, mencarinya sekarang juga tidak efektif. Tapi aku sudah menemukannya.”


“Siapa?”


“Senior Jae Won.”


Mendengar nama ini Yeon Jin mulai tidak senang, kenapa pula harus berhubungan dengan orang ini lagi. Sebelum ada masalah ini, Yoo Ra sempat memeriksa data-data pemagang di kantor Kim Yoo. Ternyata Jae Won termasuk karyawan lepas, dan juga karyawan yang menangani bidang perhiasaan.


Yoo Ra pergi ke ruang belajarnya, dan mengambil satu set katalog perhiasan dari perusahaan Kim Yoo. Yeon Jin melihatnya, setelah dipikir-pikir desainnya sangat unik dan bisa menyaingi produk dari Sherin.


“Ini produk yang akan diluncurkan bulan depan, masih desainnya saja, jika kita pinjam juga akan diperbolehkan. Jalan keluar kita cuman ini.” Kata Yoo Ra. Yeon Jin mengangguk, tanpa pikir panjang dia menyetujui pendapat Yoo Ra.


“Asal jangan dekat-dekat, ingat kalau kamu cuman punyaku, jangan nakal, kalo bisa tempel fotoku di id card mu itu.” Kata Yeon Jin yang memperingatkan Yoo Ra.


Yoo Ra tertawa, kini sakit kepalanya sudah sedikit menghilang. Berharap waktu akan terjeda dan bisa kembali seperti sedia kala. Walau senyumnya berbanding terbalik dengan kenyataan yang harus dia hadapi.


Secepatnya dia harus pergi dulu meninggalkan pria ini sendirian di sini. Air mata Yoo Ra menetes, dia merasakan kalau kematiannya hampir dekat. “Kenapa?” Tanya Yeon Jin, “Enggak, cuman ngantuk.” Jawab Yoo Ra.


“Malam ini, aku yang temenin.”

__ADS_1


***


__ADS_2