Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 24


__ADS_3

Yoo Ra masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Iya merasa ada yang aneh dengan mawar putih ini, ia membawanya masih dalam keadaan kuncup. Seharusnya mawar ini sudah mekar karena semalaman direndam dalam air. Mengapa bisa terjadi?


(Yoo Ra)


“Min biseo, bunga ini tidak kau letakkan di dalam freezer kan.”


(Min biseo)


“Ahaha... Agassi, yang benar saja aku meletakkannya di freezer. Aku cuman menaruhnya ke dalam vas ini lalu aku kasih air.”


(Yoo Ra)


“Oh... Jadi, sama sekali tidak kau letakkan di dalam kulkas?”


(Min biseo)


“Kalaupun aku letakkan di dalam kulkas. Pasti akan terasa dingin. Sudah ya, aku mau mengambil beberapa pakaian milik presdir.”


(Yoo Ra)


“Samchon nanti pulang ke rumah tidak?”


(Min biseo)


“Sepertinya dia akan pulang, saat ini jadwalnya kosong. Presdir juga akan mengunjungi suatu tempat.”


(Yoo Ra)


“Baiklah, aku juga mau ke kampus.”


(Min biseo)


“Kim Jae?”


(Yoo Ra)


“Masih di kamarnya.”


Yoo Ra bersiap-siap dan membuat sarapan. Kim Jae tak kunjung turun ke bawah, sepertinya ada yang tidak beres. Yoo Ra naik dan mengetuk pintu kamar Kim Jae.


Ttok... Ttok... Ttok... Ternyata pintunya tidak dikunci, Yoo Ra langsung masuk dan mencari Kim Jae.


(Yoo Ra)


“Oppa... Kau belum turun, sedang apa?”


(Kim Jae)


“Oh... Yo Ra-ya... Uhuk uhuk...”


Kim Jae masih berada di tempat tidur dan selimut tebal masih membungkus badannya.


(Yoo Ra)


“Oppa... Kau sakit?”


(Kim Jae)


“Kau belum pergi? Cepat berangkat sana, nanti terlambat.”


(Yoo Ra)


"Ckck... kau demam. Tunggu disini, jangan banyak gerak."


Rupanya Kim Jae sedang demam, dan saat ini Yoo Ra juga harus masuk kelas. Ia tidak tega untuk meninggalkan Kim Jae yang sakit dan sendirian di rumah. Masih ada waktu 1 jam sebelum masuk kelas. Yoo Ra segera mempersiapkan obat dan merawat Kim Jae sebisanya.


(Yoo Ra)


“Pasti gara-gara kecapekan nih.”


(Kim Jae)


“Cepat berangkatlah, aku tidak apa-apa.”


(Yoo Ra)


“Tunggu dulu, aku akan meminta bantuan Min Biseo.”


Yoo Ra turun ke bawah dan memastikan kalau Min biseo belum pergi, ternyata dia sudah pergi ke kantor. Yoo Ra bingung, kalaupun menghubungi Kim Yoo rasanya akan menganggu kegiatannya hari ini. Tapi apa boleh buat, kali ini ia harus menelpon pamannya. Saat akan menelpon, bel di gerbang rumah berbunyi. Yoo Ra segera keluar dan melihat siapa yang membunyikan bel, dan ia berharap kalau itu Min biseo.


Yoo Ra melihat ke arah gerbang dan segera memencet tombol otomatis agar gerbangnya terbuka.


“Annyeong, ini kami. Hehehe...” Ternyata yang datang malah Andy dan Billy.


(Yoo Ra)


“Kalian? Ada apa kemari?”


(Andy)


“Mau sarapan? (memperlihatkan kantong plastik yang penuh dengan makanan)”


(Yoo Ra)


“Itu... (berpikir). Masuklah, tolong jaga kakakku ya. Aku mau ke kampus, aku mohon.”


(Andy)


“Tapi... Kita kesini cuman pinjam tempat buat sarapan.”


(Yoo Ra)


“Ya ya... Kalian boleh makan di dalam. Ayo masuk (menarik tangan Andy dan Billy).”


Andy dan Billy masih bingung, mereka bertanya-tanya kenapa Yoo Ra langsung mengizinkan mereka masuk.


(Yoo Ra)


“Oh... setengah jam lagi. Begini, kakakku sedang sakit. Bisakah kalian menjaga dia selagi aku ke kampus?”


(Billy)


“Wah... setan itu bisa sakit juga ternyata, ckckck.”


(Andy)


“Dimana dia sekarang? Apa yang harus kita lakukan?”


(Yoo Ra)


“Ada di kamarnya. Kalian naik dulu, akan aku persiapkan semua hal untuk merawatnya. Oke...”


(Andy)


“Hei... (Yoo Ra pergi ke dapur). Sudahlah, ayo kita naik.”


(Billy)


“Hyeong... Aku lapar (merengek).”


(Andy)


“Sebentar lagi, kita urus Kim Jae dulu.”


(Billy)


“Baiklah.”


Andy dan Billy naik ke atas dan menjenguk Kim Jae, sementara Yoo Ra masih di bawah dan mencari sesuatu untuk mereka merawat Kim Jae selama Yoo Ra pergi ke kampus. Yoo Ra bergegas ke kamar Kim Jae dan melihat pemandangan yang sangat menggelikan.


(Yoo Ra)


“Apa yang kalian lakukan?”

__ADS_1


(Andy)


“Bagaimana ini? Kim Jae sudah tidur. Aku tak tahu harus bagaimana.”


Pemandangan ini sungguh menarik. Andy dan Billy yang tidak tahu cara merawat orang sakit malah merawat dengan semampunya. Kompresan yang seharusnya berada di dahi sebaliknya diletakkan di telapak kaki, obat berbentuk kapsul yang seharusnya diminum bersama dengan air malah di buka dan dicampurkan dengan air, seharusnya menghidupkan AC tapi mereka menghidupkan kipas penghangat. Sungguh para malaikat maut yang hanya tahu mencabut nyawa saja. Yoo Ra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.


(Yoo Ra)


“Kenapa harus kalian yang datang dan yang aku mintain bantuan sih.”


(Andy)


“Bagaimana? Beritahu kami (berdiri).”


(Yoo Ra)


“Kalian mau jaga kakakku sampai aku pulang?”


(Andy)


“Tentu saja (yakin). Jadi harus dimulai darimana?”


Tiba-tiba ponsel Yoo Ra berbunyi, ternyata itu adalah telepon dari Moo Ra.


(Moo Ra)


“Hei... cepatlah berangkat, kali ini ada absen pagi.”


(Yoo Ra)


“Astaga... Aku berangkat.”


Yoo Ra menutup teleponnya dan bergegas ke kamar untuk mengambil tas.


(Yoo Ra)


“Aku harus berangkat, aku pandu kalian lewat telepon ya. Billy-ssi, ini nomor ponselku (menyerahkan memo). Sekarang aku akan berangkat, dan telepon aku sekarang juga.”


(Billy)


“Baik... “


(Yoo Ra)


“Aku berangkat ya.”


(Andy)


“Sampai jumpa, hati-hati di jalan.”


(Billy)


“Okke... aku telepon.”


Yoo Ra masuk ke dalam mobil, ia memasang earbuds dan mulai berbicara dengan Billy. Ia menuntun mereka untuk merawat Kim Jae.


(Yoo Ra)


“Sekarang kompres dahinya dengan kantung es yang sudah aku sediakan tadi.”


(Billy)


“Sudah, di dahinya kan?”


(Yoo Ra)


“Iya, matikan kipas penghangatnya lalu hidupkan AC dan humidifier.”


(Billy)


“Humidifier?”


(Yoo Ra)


“Mesin pelembab udara, ada di sebelah kipas. Bentuknya mirip rice cooker.”


(Andy)


(Yoo Ra)


“Buka jendelanya ya. Satu jam lagi bangunkan dia, beri dia antibiotik.”


(Billy)


“Apa itu? Sejenis makanan?”


(Andy)


“Minuman yang mana?”


(Yoo Ra)


“Astaga... antibiotik itu sejenis obat.”


(Billy)


“Oh... kau letakkan dimana?”


(Yoo Ra)


“Aku letakkan di dekat teko air. Tablet antibiotik, bungkusnya warna hijau.”


(Andy)


“Sudah ketemu.”


(Yoo Ra)


“Itu saja yang bisa kalian lakukan, sekarang kalian bisa sarapan. Aku akan menelpon Min biseo dan memintanya untuk membawa kakak ke rumah sakit. Dan untuk kalian, jangan sampai menimbulkan masalah di rumah ya.”


(Billy)


“Yoo Ra, kalau sudah di bawa ke rumah sakit kita harus menjaganya?”


(Yoo Ra)


“Tentu, bukankah kalian sudah setuju tadi?”


Saat hampir sampai di kampus, di tepi jalan terlihat Joan yang membuka kap mobil. Sepertinya mobil Joan sedang mogok.


(Billy)


“Hei bocah... Ayolah, kita juga harus kem...”


(Yoo Ra)


“Sudah dulu ya, aku sudah di kampus. Nanti aku telepon lagi. Sampak jumpa malaikatku... (mematikan telepon).”


(Billy)


“Haish... untung dia cantik (mematikan telepon). Hyeong, dia bilang kita adalah... MALAIKATKU... Oh... manisnya (muka memerah).”


(Andy)


"Sadarlah... ketika dia mau mati juga kita yang mencabut nyawanya."


(Billy)


"Huh... kau benar. Ayo makan, aku laparrr..."


(Andy)


“Sebentar dulu, kita tunggu satu jam lagi. Kita harus memantaunya."

__ADS_1


(Billy)


"Apa? Ya ampun... Kita makan disini?"


(Andy)


"Jangan, baunya akan menyebar. Kita tahan sebentar, bagaimanapun Kim Jae juga teman kita. Melihatnya seperti ini aku tidak tega walau dia sering mengerjai kita. Huhu... betapa polosnya saat kau sakit Kim Jaeee... (mengelus).”


Yoo Ra meminggirkan mobilnya, lalu turun dan menghampiri Joan.


(Yoo Ra)


“Joan seonbaenim...”


(Joan)


“Oh iya... Ada apa? (menoleh). Yoo Ra-ssi (terkejut).”


(Yoo Ra)


“Ehehe... Ada apa seonbae?”


(Joan)


“Mobilku mogok, kenapa juga disaat-saat ini. Sebentar lagi sudah jam masuk.”


(Yoo Ra)


“Aku bawa mobil, ayo berangkat bersamaku.”


(Joan)


“Maaf sudah merepotkan, aku tunggu petugas saja. Aku juga bisa absen kok.”


(Yoo Ra)


“Kalau absen juga gak baik, ini sudah dekat kampus, mobil derek juga agak lama datangnya.”


(Joan)


“Em... (berpikir). Baiklah, aku akan ikut bersamamu.”


(Yoo Ra)


“Baik, ayo...”


Joan segera masuk ke mobil Yoo Ra dan berangkat menuju kampus. Jaraknya tinggal 2 km lagi, dan Yoo Ra mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Sadar dengan keheningan, Joan mengambil kesempatan ini untuk berbincang-bincang bersama Yoo Ra.


(Joan)


“Wah... kau jago mengemudi ya.”


(Yoo Ra)


“Aku menggunakan kecepatan ini karena terpaksa, seonbaenim...“


(Joan)


“Ngomong-ngomong, kau sudah sangat dekat dengan Yeon Jin. Secepat itu sudah sangat akrab.”


(Yoo Ra)


“Bagaimanapun mendapatkan seorang teman itu sangat susah. Aku juga tidak menyia-nyiakan kesempatan seperti ini, seperti Joan seonbaenim. Semua orang yang baik kepadaku walau hanya kenalan juga sudah aku anggap seperti teman.”


(Joan)


“Wah... segitu santainya (tertawa). Menurutmu, bagaimana sikap Yeon Jin kepadamu?”


(Yoo Ra)


“Ya... dia hangat, baik, dan juga sangat perhatian. Suka traktir aku makanan. Biasanya kalau ada orang yang tampan, memiliki jabatan, dan populer itu sangat jarang memiliki sifat yang seperti itu. Tak kusangka ternyata dia bisa dijadikan teman yang ramah.”


(Joan)


“Dia memperlakukanmu seperti itu? Daebak... Aku minta dibelikan soju dia masih perhitungan. Oh iya...Kalian sering bertemu?”


(Yoo Ra)


“Tidak juga, kemarin hanya tidak sengaja bertemu di tempat yang sama.”


(Joan)


“Kau tahu, kalau dulu Yeon Jin adalah orang yang dingin dan paling dingin terhadap wanita. Di restoran pun dia tidak pernah mengajak seorang perempuan. Paling-paling juga teman sekelas, kalau rame-rame ya ada perempuannya.”


(Yoo Ra)


“Beneran?”


(Joan)


“Untuk apa aku berbohong... Oh Yeon Jin kuuu, ternyata dia sudah dewasa. Hahaha...”


(Yoo Ra)


“Wah (tertawa). Aku masih belum paham apa yang dikatakan seonbae.”


(Joan)


“Pokoknya, saat ini juga berusahalah untuk menjaga hubungan kalian. Jangan sampai kau mengecewakan Yeon Jin. Dia punya suasana hati yang agak sensitif. (dalam hati) ternyata ini dia wanita yang kau incar ya, astaga Yeon Jin ku memiliki selera yang tinggi dan unik. Semoga berhasil sahabatku, aku mendukungmu. (senyum).”


(Yoo Ra)


“Seonbae, jangan tersenyum sendiri dong. Kau membuatku takut.”


(Joan)


“Jangan hiraukan aku... lanjut saja menyetir. Toh aku juga tidak punya riwayat gangguan jiwa.”


(Yoo Ra)


“Ahahaha... Baiklah (menyeringai).”


Sudah sampai di kampus, ternyata Yoo Ra tidak terlambat. Ia bersyukur masih bisa sampai di kampus tepat waktu, walau perutnya masih keroncongan. Ia berharap kelas pagi hari ini bisa ia lalui dengan sempurna, dan lagi ia harus mengirim pesan ke Min biseo untuk membawa Kim Jae ke rumah sakit.


“Min biseo... Kakakku sedang sakit, tolong bawa dia ke rumah sakit ya.”


“Aku akan kesana 2 jam lagi.”


“Baiklah... ada Andy dan Billy yang menjaganya.”


“Aku harap sakitnya tidak parah.”


“Aku juga. Terima kasih.”


“Ya... jangan lupa makan dan pulang tepat waktu.”


"Arasseo ..."


Disisi lain, Joan telah mendapat informasi dari Yoo Ra. Dan saat ini, Joan berharap kalau Yeon Jin harus memliki tiang untuk bertahan. Joan sudah tahu bagaimana beratnya menjadi Yeon Jin, dan sifat yang Yeon Jin miliki adalah tekanan dari ayahnya yang terus memaksa belajar bisnis dan mengelola perusahaan.


***


Kelas pagi dimulai. Seperti biasa, Jae Won yang menjadi pengajar. Jae Won cemas karena Yoo Ra tak biasanya berangkat siang, Jae Won merasa kalau ada sesuatu dengan Yoo Ra.


---


Kelas sudah pertama sudah selesai, sungguh menahan lapar dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang sangatlah tidak mudah. Saat kelas selesai, Yoo Ra bergegas mencari makan siang. Ia pergi ke gerai sandwich (S*bw*y Sandwich) yang ada di depan kampus. Ia sengaja tidak pergi ke kantin karena porsi disana ia rasa akan kurang untuk mengisi perutnya yang sudah mengadakan konser.


Yoo Ra meninggalkan Moo Ra yang masih di kelas.


Gumam Moo Ra, “Dasar Yoo Ra, dia meninggalkan aku sendiri.”.


Yoo Ra meredakan lapar dan hausnya di gerai itu, tak tanggung-tanggung ia memesan 2 sandwich sekaligus. Makan dengan tenang, dan mahasiswa yang disini juga jarang. Ponsel Yoo Ra berbunyi, dan ia harus mengangkatnya. Namun, mulutnya kini penuh dengan makanan. Mungkin saat berbicara juga tidak akan jelas.

__ADS_1


“Nomor tidak dikenal? Siapa ya? Oh, bukannya nomor ini yang dihubungi oleh Yeon Jin seonbae? Jangan-jangan ini sekretarisnya? Aku harus bagaimana?”


***


__ADS_2