Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 62


__ADS_3

Dalam satu gigitan, sandwich itu memenuhi mulut Joan. Belum sampai turun ke kerongkongan, Joan berhenti dan menatap Yeon Jin dengan pertanyaan tidak masuk akal itu. Pipi Joan mengembang dan penuh dengan isian, berhenti mengunyah karena hal itu.


Suasana menjadi hening, terdengar bunyi jangkrik yang menyahut. Krik...Krik... “Uhuk...” Joan batuk dan mencari segelas air. Yeon Jin yang duduk kaku menunggu jawaban dari Joan, namun Joan masih merasa kalau Yeon Jin menjadi pribadi yang berbeda daripada biasanya.


“Hei kunyuk... Apa ini dirimu? Dimana aura bosmu hah? Wah...Kekuatan cinta memang luar biasa.” Joan menanggapi itu dengan bertepuk tangan, seolah Yoo Ra bisa mengubah Yeon Jin menjadi pribadi yang lebih hangat. Tak biasanya Yeon Jin berani curhat kepada Joan.


Yeon Jin kembali terdampar di sofa dan melihat langit-langit, dia tak bisa menunggu dengan waktu lama. Apalagi gadis yang disukainya dekat dengan seseorang yang berbahaya. Perasaan yang campur aduk, dada sesak, wajah mengenaskan. Sudah Park Yeon Jin bukanlah CEO dingin dan penuh wibawa.


“Joan, aku harus gimana ya?” Tanya Yeon Jin kepad Joan, meminta saran apa yang harus dilakukan setelahnya. “Mau gimana lagi, bahkan dia juga belum ngasih jawaban kan. Terus, kalo kau begini terus dan gak ada perkembangan, mau jalan di tempat? Lagipula caramu itu terlalu membosankan.”


Yeon Jin kembali berpikir, kalau tindakannya memang sangat membosankan dan terkesan kuno. Yeon Jin sudah memutuskan kalau dia akan menunggu, melihat reaksi Yoo Ra dia jugaa sudah mengerti kalau Yoo Ra mampu menerimanya dengan sepenuh hati.


***


Kim Jae sudah membaik, Emma sudah menjaganya dengan baik, kekhawatirannya terhadap adik perempuannya juga sudah mereda. Berkat bantuan dari Emma, saat itu Emma mengatakan “Kita tidak bisa mengelak dari takdir, semua yang ada di dunia dan alam semesta merupakan misteri.” Kim Jae mulai menyadari keberadaan dirinya, dan juga cepat atau lambat dia akan terpisah dari Yoo Ra.


Rupanya Yoo Ra pergi ke Pureun Seong, Emma memintanya untuk menjemput Kim Jae. Sesampainya disana, Yoo Ra mendapati Kim Jae yang duduk di taman belakang dan menyambut Yoo Ra dengan bahagia.


“Kau baik-baik saja, syukurlah.” Ucap Kim Jae dengan menarik Yoo Ra kedalam pelukannya. Kim Jae lega, ternyata Yoo Ra sangat sehat dan terlihat cerah.


Yoo Ra dan Kim Jae berbincang-bincang disana, dan Emma berjalan menghampiri mereka. Emma yang melihat kakak beradik yang saling memberikan perhatian. Emma melihat Kim Jae seperti memiliki aura positif yang lebih pekat dibandingkan sebelumnya, mungkin itu karena kehadiran Yoo Ra?


Emma hanya memastikan, kalau Kim Jae hanya menganggap Yoo Ra sebagai adik perempuannya di dunia drama ini. Seterusnya, Kim Jae harus menjadi mahluk abadi dan mengarahkan para manusia.


“Bagaimana perasaanmu? Waktu tersadar kau sudah mencarinya, adem gak?” Emma bertanya demikian kepada Kim Jae. Kim Jae memberikan usapan hangat ke kepala Yoo Ra, mengisyaratkan kalau dia bahagia.


(Kim Jae)


“Aku kira, adik kecilku ini akan menjadi orang yang berbeda kalau tinggal sendirian dan tidak aku awasi. Ternyata aku salah.”


(Emma)


“Itu karena kau terlalu posesif, adikmu ini juga punya kehidupan pribadi.”

__ADS_1


(Kim Jae)


“Siapa yang menjagamu?”


(Yoo Ra)


“Ada Yeon Jin seonbae, dia yang menjagaku selama oppa disini.”


(Kim Jae)


“Syukurlah, akhirnya dia ikut bertanggung jawab. Kalian gimana? Kencannya lancar? Apa udah jadian?”


Kim Jae sangat penasaran dengan kisah Yoo Ra dengan Yeon Jin, Kim Jae berharap kalau Yeon Jin bisa menjadi pacar Yoo Ra. Dengan begitu, tugas menjaga Yoo Ra akan lebih ringan. Ditambah lagi kalau Kim Jae sudah tahu kalau mereka berdua memiliki takdir terikat.


Mereka bertiga mengakhiri pembicaraan dan akan masuk ke dalam, tapi... Angin yang berhembus menggoyangkan pohon ceri yang ada di taman. Emma, Yoo Ra, dan Kim Jae bersamaan menoleh kebelakang dan melihat keanehan.


Pohon-pohon ceri itu bergoyang, dan menjatuhkan buahnya yang menjadi kristal merah. “Uwah... Pureun Seong akhirnya panen raya.” Ucap Kim Jae yang melihat kristal-kristal itu berjatuhan ke bawah.


“Saat ketiga orang ini berkumpul dan menyaksikan lukisannya, saat itu juga panen kristal cerinya akan berkali lipat daripada yang sekarang.” Sambung Yoo Ra.


Emma menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Emma senang kalau pada akhirnya dia akan panen besar, namun... masih belum siap kehilangan sahabat baru.


***


Kim Jae yang sudah di apartemennya, Yoo Ra juga berada disana untuk menemani Kim Jae. Kim Jae merasakan sakit diseluruh tubuh, terlihat beberapa memar yang tertinggal. Namun, sepertinya rasa sakit itu berbanding terbalik dengan dirinya yang sudah berubah dan bukan lagi manusia.


Kim Jae bercerita tentang pengalamannya waktu menjalani proses itu, tidak terkecuali saat dia melihat potongan kejadian di masa depan. Memiliki firasat buruk dan akan ada sebuah kecelakaan besar.


Kim Jae juga meminta Yoo Ra untuk menjaga diri, karena potongan-potongan kejadian yang memperlihatkan Yoo Ra mati dengan mengenaskan sangatlah nyata. Bahkan Kim Jae juga merasa kalau hal itu akan terjadi tidak lama lagi.


“Aku mau kau meninggalkan kehidupan disini dengan damai, kami akan mengantarmu dan masuk kedalam portal dengan keadaan masih mengingat ingatan di kehidupan ini. Jika kau kembali dengan mati seperti itu, sebagian ingatanmu akan menjadi debu.” Ucap Kim Jae yang sangat peduli dengan nasib Yoo Ra.


Alih-alih Yoo Ra tidak boleh melupakan sosok dirinya yang telah menjadi kakaknya. Yoo Ra mengerti dan berusaha menenangkan Kim Jae, lalu Kim Jae berkata, “Mobil, hindari menyebrang jalan sembarangan.” Perkataan itu membuat Yoo Ra keheranan bukan main.

__ADS_1


Pasalnya, ucapan Kim Jae tentang mobil membuatnya teringat akan ramalan dari biarawati yang dulu pernah diberikan kepadanya.


“Ini aneh... apa ini kebetulan atau memang akan terjadi? Bagaimana bisa dua orang mengatakan hal yang sama.” Gumam Yoo Ra dalam hati. Yoo Ra tersenyum dan hanya mengiyakan peringatan dari Kim Jae.


“Tenanglah, selama kamu menjadi kakakku, hal buruk seperti itu tidak akan terjadi.” Yoo Ra menenangkan Kim Jae.


---


Bel pintu apartemen Kim Jae berbunyi, dan terlihat dari monitor kalau Joan dan Yeon Jin sedang berkunjung. Kim Jae langsung membukakan pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam, sementara Yoo Ra sendiri sedang membaca buku dengan merebahkan tubuh di lantai dan menempatkan kakinya ke sofa.


Yoo Ra tak menyadari kehadiran mereka, karena sibuk membaca buku dan mendengarkan musik menggunakan earphone. Yeon Jin melihat Yoo Ra, dan spontan berbalik dan ingin pulang ke apartemennya. Joan menahan tawa melihat Yeon Jin yang sedang malu-malu.


Joan segera menarik Yeon Jin untuk menyapa Yoo Ra, Kim Jae juga kalau ada yang tidak beres. “Sekarang kau malu? Rasa malumu itu sudah terlambat bodoh.” Ejek Joan kepada Yeon Jin. Benar juga apa yang dikatakan Joan, kalau dia merasa malu seharusnya dari awal, bukan saat ini.


“Tapi... hari itu sungguh aku sangat malu.” Gumam Yeon Jin dengan memberanikan diri.


Yoo Ra menoleh ke arah mereka, dan langsung berdiri dan menyapa mereka. Di mata Yoo Ra, ia tidak ada kecanggungan sama sekali dengan Yeon Jin. Tapi, saat Yoo Ra menyapa, Yeon Jin mendadak gugup dan berkeringat.


Kenapa di musim dingin yang seperti ini Yeon Jin justru merasa berkeringat?


“Ayo duduk. Terima kasih sudah berkunjung, Yoo Ra... buatkan teh ya.” Ucap Kim Jae.


Tak berselang lama, Yoo Ra sudah menyajikan teh, dan hendak berbalik ke dapur. Dan saat berjalan, bel rumah kembali berbunyi. Yoo Ra menawarkan diri untuk membuka pintu tanpa melihat monitor.


“Apa kabar? Yoo Ra-ssi...” Ucap seorang pria yang menjadi tamu Kim Jae.


“Jae Won seonbae...” Sapa Yoo Ra yang tidak menyangka kalau dia akan datang mengunjungi Kim Jae.


Kim Jae menghampiri Jae Won, dan menyambut Jae Won dengan ramah, tak lupa dia mengucapkan terima kasih.


Sebelumnya, Kim Jae sudah mendapat pesan dari Kim Yoo kalau Jae Won akan mengunjunginya, tapi Yoo Ra tidak tahu tentang itu.


Kini, ada dua orang yang sedang bertarung berkumpul pada satu arena.

__ADS_1


__ADS_2