
Yoo Ra mengunjungi Moo Ra yang sedang istirahat, terlihat Jun Moo disampingnya. Yoo Ra hanya bisa mengelus dada melihat kondisi temannya ini, seakan sudah tak heran dengan kenakalan yang diperbuat.
(Yoo Ra)
“Dasar perempuan idiot, kenapa harus minum-minum kalau tidak kuat?!”
(Moo Ra)
“Ehehehe... Maafkan aku, kemarin juga main ToD.”
(Yoo Ra)
“Jadi kalau tidak jujur, tantangannya adalah minum segelas soju yang dicampur bir?”
(Moo Ra)
“Iya (menyeringai). Untungnya Jae Won seonbaenim ikut, jadi aku juga gak sampai mabuk berat deh. Hehehe...”
(Yoo Ra)
“Seonbaenim, bocah seperti dia seharusnya dibiarkan saja. Kalau mati akan lebih baik (mengejek).”
(Moo Ra)
“Ayolah, sayangku (memeluk Yoo Ra). Aku juga baik-baik saja sampai sekarang. Ngomong-ngomong seobaenim (berbicara ke Jae Won), kejujuranmu kemarin sangat hebat, sayangnya Yoo Ra tidak hadir. Kalau hadir mungkin kalian berdua sudah...”
(Jun Moo)
“(menyekap mulut Moo Ra). Pacarku banyak bicara ya? Hehehe... Maaf, kebiasaannya masih belum bisa dihilangkan. Saatnya Moo Ra untuk istirahat, bisakah kalian pergi dulu? Mungkin kita juga menginap di ruangan ini sampai besok.”
(Moo Ra)
“Kenapa? Aku mau berbicara jujur kok.”
(Yoo Ra)
“Aigo... Hilangkan dulu pengarmu, kau masih saja berbicara ngelantur. Aku akan menemaninya juga disini.”
(Jun Moo)
“Tidak usah, hari ini kan hari bebas, sebaiknya manfaatkan waktumu untuk berjalan-jalan.”
(Jae Won)
“Ya sudah, kalau begitu kita pergi ya. Ayo Yoo Ra... (buru-buru kabur)."
(Yoo Ra)
“Em (mengangguk). Jun Moo, jangan berbuat yang tidak-tidak padanya, kalau tidak akan kubunuh kau.”
(Jun Moo)
“Aku mengerti, sudah pergilah.”
Yoo Ra dan Jae Won segera meninggalkan ruangan itu dan menuju ke taman. Jae Won masih gugup dengan perkataan Moo Ra, karena ia memang mengatakan sesuatu yang sangat jujur tadi malam. Yoo Ra masih memasang wajah penasaran, karena perkataan dari Moo Ra tadi. Yoo Ra memandang Jae Won dengan tatapan sinis, seakan banyak pertanyaan yang muncul untuk ditanyakan.
Mereka berdua duduk di bangku, kemudian sang pemandu wisata menghampiri mereka dengan mengatakan, “Hari ini semua jadwal free, kalian juga boleh jalan-jalan kemanapun. Besok pagi aku tunggu di parkiran, sekitar jam 8 pagi kita pulang ke Seoul.”. Satu hari ini sangat bebas, terserah mau kemanapun juga diperbolehkan, dan besoknya sudah pulang kembali ke Seoul.
(Jae Won)
“Kamu mendengarnya kan, ayo ke pantai.”
(Yoo Ra)
“Tunggu dulu (menahan tangan Jae Won).”
(Jae Won)
“Ada apa?”
(Yoo Ra)
“Yang dikatakan Moo Ra tadi, apa maksudnya? Seonbae jujur tentang apa? Kok Moo Ra kelihatannya aneh karena aku gak ikut gabung?”
(Jae Won)
“Itu...”
Jae Won masih bingung, ia bingung harus mengatakan apa. Karena aksi jujurnya tadi malam saat main ToD, cukup menggemparkan mahasiswa yang lain. Jae Won masih tidak ingin membicarakan ini lagi.
(Jae Won)
__ADS_1
“Oh tadi malam, bukan apa-apa kok.”
(Yoo Ra)
“Pft... Ahaha... Wajahmu tegang banget.”
Yoo Ra tertawa terbahak-bahak karena melihat wajah Jae Won seperti pencuri yang tertangkap basah.
(Yoo Ra)
“Sudahlah, aku juga gak terlalu penasaran. Ayo ke pantai.”
Jae Won hanya bisa tersenyum melihat Yoo Ra, hanya dengan tertawanya mampu menggetarkan hati Jae Won. Siapapun yang berada di posisi Jae Won saat ini, pasti juga merasakan kebahagiaan yang sangat-sangat besar. Kini adalah waktunya, “Apapun yang terjadi, akan aku usahakan kau tertarik padaku, dan kau akan merasakan perasaan yang ingin saling memiliki. Sama seperti yang aku rasakan.”
Mereka berdua pergi menuju pantai, para mahasiswa lain juga ada yang bermain disana. Ada gerombolan mahasiswa yang sedang menikmati mojito, mereka melihat Jae Won dan Yoo Ra yang sedang bersama. Karena aksi Jae Won tadi malam, masih saja berlanjut gosip tentang mereka berdua.
“Wah... Tadi malam sayang Yoo Ra tidak bergabung dengan kita.”
“Benar, kalau bergabung mungkin kita akan mendapat kabar baik hari ini.”
“Lihatlah mereka berdua, seperti serasi. Aku ingin tahu reaksi Soo Ah kalau semisalnya mereka berdua jadian.”
“Doakan saja Yoo Ra dan Do Jae Won bisa jadian, biar si pengacau itu kebakaran jenggot. Aku sudah muak dengan 2 muka yang dimiliki Soo Ah.”
“Aku pun merasa begitu, apa dia tak punya malu harus menggilir senior-senior di kampus?”
“Bukan hanya itu, dia terkenal memiliki sifat seperti itu sejak SMA. Sampai sekarang sifat yang pura-pura polos masih tertanam dengan baik.”
“Aku harap, korban kali ini bukanlah Yoo Ra atau Jae Won seonbaenim.”
“Semoga saja.”
Pembicaraan mereka sangat terdengar jelas, mereka juga tak sadar kalau Soo Ah dan Yeom Mi berada di belakang mereka dan mendengarkan gosip itu. Tidak ada rasa kesal di mata Soo Ah, hanya bisa tersenyum licik dan ingin mempersiapkan sesuatu kejutan untuk lawannya.
“Kalian hanya menilaiku, kalian belum tahu sifat Yoo Ra yang sebenarnya. Kali ini akan terbalik, kalian akan lihat kalau Jae Won seonbaenim secepatnya akan menjadi pacarku.” Ambisi Soo Ah yang membara dan hanya menyisakan kemarahan. Disisi lain ada Yeom Mi, dia menjadi perisai bagi Soo Ah. Dengan mengandalkan jabatan ayah Yeom Mi sebagai salah satu dosen di universitasnya, setidaknya Soo Ah mampu memanfaatkan itu.
---
Cuaca yang terik, desiran ombak dan angin yang menjadi ciri khas dari tempat yang bernama “Pantai”. Menikmatinya itu dengan duduk di pasir putih yang halus, dengan minum air kelapa muda. Sungguh hari yang menyenangkan.
(Jae Won)
“Apa kamu gak penasaran dengan tadi malam?”
(Yoo Ra)
(Jae Won)
“Benar, penasaran gak?”
(Yoo Ra)
“Untuk sekarang sudah tidak lagi, itu juga termasuk privasi juga kan.”
(Jae Won)
“Iya sih, ngomong-ngomong kemarin kok gak baca SMS dari Jeon Ki?”
(Yoo Ra)
“Jeon Ki?”
(Jae Won)
“Iya, dia pengen ngajak kamu buat ikutan minum. Moo Ra juga ingin mengirimkan pesan lagi tapi dia mengira kalau kamu udah tidur. Karena kamu gak balas SMS dari Jeon Ki, jadi kita mulai permainan tanpa kamu.”
(Yoo Ra)
“Tadi malam... aku... (mengingat).Oh iya,aku di telepon seseorang sampai ketiduran. Aku juga sangat lelah kemarin.”
(Jae Won)
“Siapa yang menelponmu? Kim Jae ya?”
(Yoo Ra)
“Bukan, Park Yeon Jin yang menelponku.”
(Jae Won)
“Oh...”
__ADS_1
Sejenak Jae Won merasa sedih, seperti kecewa yang amat sangat. “Inikah yang dinamakan cemburu? Aku juga bukanlah kekasihnya, tapi mendengar dia berkata seperti itu kenapa hatiku sakit?”. Jae Won menahan perasaan ini, sepertinya tak mudah untuk mendapatkan gadis ini, Yoo Ra adalah satu-satunya wanita yang selama ini mampu mengisi kekosongan di hatinya. Jae Won memang belum pernah tertarik dengan gadis manapun, tapi kali ini berbeda dengan Yoo Ra.
(Yoo Ra)
“Seonbae... Jangan bengong... Seonbae...”
(Jae Won)
“Oh itu... jadi Yeon Jin yang menelponmu ya.”
(Yoo Ra)
“Ahaha iya...”
Yoo Ra merasa kalau saat ini Jae Won sedang tak ingin membicarakan Yeon Jin. Ia juga tahu kalau hubungan Jae Won dan Yeon Jin juga tidak terlalu baik. Ia harus merubah topik pembicaraan supaya aman.
(Yoo Ra)
“Oh seonbae... Tentang kuil itu aku masih belum cerita padamu.”
(Jae Won)
“Yang batu itu ya. Sudah dapat banyak informasi?”
(Yoo Ra)
“Sudah, tapi biksuni disana tidak meminta agar itu diprivasikan dulu. Karena tugu itu akan segera dipublikasikan, jadi biar mengejutkan nantinya.”
(Jae Won)
“Jadi... disana ada tugu, terus apalagi?”
(Yoo Ra)
“Disana ada ruangan, terdapat benda-benda peninggalan dari dinasti itu.”
Yoo Ra menceritakan semua yang ia ketahui dari kuil dan tugu tersebut. Jae Won mendengarkan dengan seksama. Jae Wo bisa yakin kalau tugu itu bukan hanya legenda semata, jadi dia bisa mengetahui misteri yang selama ini dicari-carinya.
(Jae Won)
“Sepertinya mereka Raja dan Permaisuri yang tipikal romantis. Suatu hari aku juga ingin seperti itu kepada kekasihku.”
(Yoo Ra)
“Yang seonbae maksud adalah sang Raja membuat tugu itu kan, di dalam cerita aslinya juga agak menyeramkan. Terjadi kesalahpahaman antara 2 pihak hingga perselingkuhan yang disandriwarakan.”
(Jae Won)
“Kau benar. Jadi bagaimana suasana di kuil itu? Haruskah kita mengunjunginya lagi?”
(Yoo Ra)
“Kalau itu sepertinya tidak usah. Aku sudah cukup bingung disana.”
(Jae Won)
“Aku tahu, di tempat bersejarah terkadang tidak bisa dicerna mentah-mentah. Informasi yang seperti itu juga haruslah di matangkan dulu sampai ketemu titik terang dan fakta-fakta dibalik itu.”
(Yoo Ra)
“Kalaupun ada fakta yang tersembunyi, saat ini aku juga tidak ingin mendengarnya. Sudah cukup melihat lukisan permaisuri itu.”
(Jae Won)
“Ada apa dengan lukisannya?”
(Yoo Ra)
“Permaisuri itu sangat mirip denganku. Wajahnya juga sangat mirip.”
(Jae Won)
“Tu... Tunggu... Apa yang kau maksud?”
Yoo Ra tiba-tiba tersadar dan tak ingin memberitahu Jae Won tentang lukisan yang mirip dengannya.
(Yoo Ra)
“Sudahlah jangan dibahas, aku merasa pusing kalau membahas itu. Ayo pergi ke dermaga, anginnya lebih sepoi-sepoi.”
Yoo Ra langsung menarik tangan Jae Won, dan Jae Won terkejut dan bercampur bahagia. Seakan Yoo Ra membuka jalan untuk Jae Won. Merasakan hal ini, Jae Won berbalik mengenggam tangan Yoo Ra, dan Yoo Ra hanya bisa terkejut dan berjalan berdampingan menuju dermaga tanpa berkata sedikit pun.
__ADS_1
Duduk bersama menghadap laut, dengan kaki yang bermain air. Menghabiskan siang yang terik di salah satu pantai di pulau Jeju. Akankah ini disebut kencan?
***