
Saat ini Yoo Ra tak tahu harus berbuat apa selain menyambut kedatangan mereka. Mungkin mereka bertugas untuk mencabut nyawa seseorang, “apakah mereka salah tempat?” kata-kata itu tersirat di benak Yoo Ra.
(Yoo Ra)
“Aku baru tahu kalau sebagai malaikat mau sangat bermodis dengan memakai cape.”
“Beginilah kami (mengibaskan cape), bagaimana?” Ujar salah satu pria itu.
(Yoo Ra)
“Lumayan (melirik dari atas ke bawah). Jadi kalian kesini ada perlu apa ya?”
“Ini (menyodorkan surat), Emma sajangnim yang memberikannya.”
(Yoo Ra)
“Baiklah, terima kasih. Mau mampir ke dalam?”
“Sudah terlalu larut, sebaiknya kami pulang.”
(Yoo Ra)
“Nama kalian siapa?”
“Namaku Andy, dan ini Billy.”
(Billy)
“Hai nona, namaku Billy. Bisa dibilang juniornya Andy.”
(Andy)
“Seharusnya nona segera masuk, ini sudah waktunya tidur.”
Kim Yoo membuka pintu.
(Kim Yoo)
“Oh? Kalian berdua?”
(Andy & Billy)
“Kim Yoo hyeong (berlari menghampiri Kim Yoo). Aku merindukanmu hyeong... ㅠㅠ.”
Mereka berdua memeluk Kim Yoo, sementara Kim Yoo tak dapat berkutik dan hanya bisa pasrah.
(Kim Yoo)
“Kalian ngapain kesini, cepat lepaskan. Pelukan kalian membuatku sesak.”
Mereka berdua melepaskan pelukannya, Yoo Ra hanya terdiam keheranan.
(Andy)
“Mengantarkan surat untuk nona Yoo Ra. Sekaligus merindukanmu hyeong.”
(Kim Yoo)
“Suart? Yoo Ra mana suratnya (ingin merebut surat itu).”
(Yoo Ra)
“Hei hei... samchon tidak boleh membacanya (menepis tangan Kim Yoo).”
(Kim Yoo)
“Apa isi suratnya hah? Kau sudah membukanya? (menoleh ke arah Andy) bukan surat kematian kan?”
(Billy)
“Tentu bukan, itu surat dari Emma sajangnim.”
(Kim Yoo)
“Fiuh... aku kira kalian mau mengambil nyawanya.”
(Billy)
“memang kerjaan kita cuman gituan?”
(Kim Yoo)
“Terus?”
(Andy)
“Anggap saja ini pekerjaan sampingan (senyum).”
(Billy)
“Kim hyeong, dia ini siapamu? (menunjuk ke arah Yoo Ra).”
(Kim Yoo)
“Dia adalah keponakanku.”
(Andy)
“Oh... (mengangguk)”
(Yoo Ra)
“Aku masuk dulu ke dalam, sampai jumpa joeseung-sajanim.”
(Billy)
“Iya nona (melambai dan terpesona).”
(Andy)
“Turunkan tanganmu (menyenggol lengan Billy).”
(Kim Yoo)
“Kalian berdua pulang saja, gak enak dilihat tetangga. Nanti aku disangka gila karena berbicara sendiri.”
(Andy)
“Oke oke, mana Kim Jae?”
(Kim Yoo)
“Dia sudah tidur.”
(Andy)
“Sampaikan salamku padanya.’
(Kim Yoo)
“Iya, pulanglah. Cepat cepat...”
Andy dan Billy pergi meninggalkan rumah Kim Yoo. Andy dan Billy adalah malaikat pencabut nyawa (joeseung-saja), mereka berdua selalu bersama kemanapun mereka pergi. Andy memiliki sifat yang lebih dewasa daripada Billy, dan Billy juga menganggap Andy sebagai hyeongnya. Terlebih lagi Kim Yoo lebih tua dari mereka, sehingga Andy dan Billy memanggil Kim Yoo dengan sebutan “Hyeong”.
---
Yoo Ra membuka surat itu, dan terdapat satu lembar kertas dan ada tulisan tangan.
__ADS_1
“Yoo Ra, eonni lupa memberitahumu. Besok kau datanglah ke toko bunga milik Dal Rae, dan kau mintalah satu kelopak bunga peony merah darinya. Saat itu juga kau harus memakannya ya, dan ketika kau selesai memakannya, tubuhmu akan bereaksi karena bunga itu. Sihir yang ada di bunga itu akan membuat tanganmu memiliki sihir dan bisa membuka gerbang tanpa perantara. Eonni menantikanmu – Moon Ae Ri (Emma).”
Yoo Ra tersenyum melihat isi surat itu, seakan Emma memberikan hak kepada Yoo Ra untuk menjadi akrab dengannya.
“Namanya lucu, Moon Ae Ri. Kenapa juga dipanggil Emma? Sudahlah, aku terlalu banyak berpikir.”
Gumam Yoo Ra dalam hati.
---
Keesokan harinya, setelah pulang dari kampus Yoo Ra langsung pergi ke toko bunga Dal Rae. Sayangnya toko itu sedang tutup, dan ia bingung kapan toko ini akan buka.
Emma sedang berjalan menuju ke toko bunga Dal Rae dan melihat Yoo Ra sedang berdiri di depan toko itu.
(Emma)
“Yoo Ra...(melambai)”
(Yoo Ra)
“Sajangnim...”
Emma langsung menghampiri Yoo Ra dan memeluknya dengan erat.
(Emma)
“Aku merindukanmu (melepaskan pelukan). Kau sudah mendapatkan kelopaknya?”
(Yoo Ra)
“Aku baru saja sampai, tapi tokonya tutup. Sajangnim mau kemana?”
(Emma)
“Panggil aku eonni saja, Oh benar tokonya tutup. Aku ikut dengan mereka (menunjuk ke arah Andy dan Billy).”
(Yoo Ra)
“Kalian ada tugas?”
(Emma)
“Iya begitulah (meyilangkan tangan). Sebaiknya kamu cepat pulang saja, 5 menit lagi akan ada kecelakaan.”
(Yoo Ra)
"Beneran?"
(Emma)
"Saksikan aja deh. Auh... gimana ini kok tokonya tutup."
(Yoo Ra)
"Eonni butuh peonynya ya?"
(Emma)
"Iya, untuk kau dan juga seseorang yang akan mengalami kecelakaan sebentar lagi."
(Yoo Ra)
"Terus arwahnya gimana?"
(Emma)
"Mereka berdua yang antar ke Pureun Seong, aku akan cari cara untuk menemukan Dal Rae. Kenapa juga harus tutup. Eonni kesana dulu ya, cepatlah cari bus."
(Yoo Ra)
"Iya... sampai jumpa eonni."
Brak... ada mobil yang bertabrakan dengan truk. Mata Yoo Ra terbelalak menyaksikan kecelakaan itu, dan nampak dari kejauhan sopir mobil itu terluka parah di bagian kepala. Rohnya keluar tiba-tiba keluar, dan menyaksikan tubuh yang di tinggalkan.
Sungguh, dunia ini penuh misteri. Jadi beginilah tugas mereka, mengurus arwah yang mati secara tak wajar atau kematian mendadak akan menjadi tugas mereka
---
Yoo Ra sudah sampai di rumah, ia mendapat pesan singkat dari Emma.
“Yoo Ra, kau tidak perlu ke tokonya Dal Rae. Nanti aku akan mengantarkan sendiri kelopak peonynya ke rumahmu.”
Yoo Ra tersenyum melihat pesan singkat yang ia terima, ia sangat beruntung memiliki teman yang sangat baik kepadanya.
***
Seperti biasa, Yoo Ra dan Kim Jae berangkat menuju kampus bersama. Kali ini ada yang berbeda dengan Kin Jae, terlihat dari raut wajahnya ia terlihat sangat kesal.
(Yoo Ra)
“Kenapa?”
(Kim Jae)
“Gak apa-apa.”
(Yoo Ra)
“Beneran?”
(Kim Jae)
“Iya...”
(Yoo Ra)
“Gak bohong?”
(Kim Jae)
“Kau mau kembali ke asalmu?”
(Yoo Ra)
“Kenapa emang?”
(Kim Jae)
“Aku nanya...”
(Yoo Ra)
“Entahlah... sebenernya aku juga gak mau cepet-cepet kembali.”
Mendengar perkataan Yoo Ra, Kim Jae agak tenang. Apakah karena Yoo Ra yang akan kembali sehingga mengganggu pikiran Kim Jae.
Di kampus juga seperti biasa, suasana yang menghangatkan. Yoo Ra dan Moo Ra juga semakin dekat, sepertinya mereka akan menjadi sahabat baik. Soo Ah masih saja usil dengan hubungan antara Yoo Ra dengan Jae Won, Yeom Mi selaku sahabat Soo Ah juga berusaha menyelidikinya.
---
Yeon Jin dan Joan sedang duduk di dekat tangga, mereka berdua sedang membicarakan sesuatu.
(Joan)
“Yeon Jin, ada apa denganmu akhir-akhir ini. Aku melihat kau banyak perubahan.”
(Yeon Jin)
__ADS_1
“Perubahan? Benarkah?”
(Joan)
“Em (mengangguk). Apa hubunganmu dengan Yoo Ra? Sejak aku mengenalmu, kau tidak pernah berurusan dengan wanita.”
(Yeon Jin)
“Hem... begitukah? Mengapa ya?”
(Joan)
“Kau suka padanya?”
(Yeon Jin)
“Joan (menatap Joan). Aku merasa kalau dia itu tak asing bagiku, aku pertama kali melihatnya saat di kantor Nam Group untuk menemui Presdir Kim. Aku tak sengaja berpapasan dengannya, saat itu aku mencari tahu siapa dia. Kita juga tak sengaja bertemu di depan kampus saat itu terjadi perdebatan. Tapi aku merasakan hal berbeda dengannya.”
(Joan)
“Oh... sungguh drama sekali hidupmu ya. Kalau kau pertama kali melihatnya disana, maka sampai kau bertemu beberapa kali bakalan gak asing.”
(Yeon Jin)
“Kau tak tahu apapun. Joan-ah, apa yang harus kulakukan?”
(Joan)
“Kalian sudah bertukar nomor telepon?”
(Yeo Jin)
“Belum (mata terbelalak).”
(Joan)
“Auh... pikirkan sendiri (meninggalkan Yeon jin).”
(Yeon Jin)
“Dasar brengsek (duduk sendiri). (bergumam) Entahlah siapa si Yoo Ra itu, mengapa ia bisa membuatku begini? (senyum).?”
Joan masih memikirkan Yeon Jin yang langsung merubah diri menjadi sosok yang hangat, apakah karena gadis itu? Sungguh tak biasanya Yeon Jin seperti ini.
***
Hari demi hari, bulan pun ikut berganti. Belum ada kabar dari Emma yang berjanji membawakan Yoo Ra kelopak peony itu, Yoo Ra juga sudah beberapa kali mengunjungi gerbang itu untuk masuk namun ia tidak bisa masuk. Gelisah dan berpikir bagaimana ia bisa masuk lagi ke tempat itu. Keinginannya untuk pergi ke Toko Bunga harus diurungkan, karena kalau ia datang kesana akan membuatnya takut.
Di dalam kamar dengan menatap jendela berhiaskan cahaya sore hari.
Tto Ttok Ttok...
(Kim Jae)
“Bukakan pintunya.”
(Yoo Ra)
“Bentar (menguncir rambut dan berjalan membukakan pintu).”
(Kim Jae)
“Ini (memberikan sesuatu). Ayo minum kopi.”
(Yoo Ra)
“Gomawo... masuklah.”
Mereka berdua duduk di sofa sambil minum secangkir kopi.
(Kim Jae)
“Kenapa? Mukamu murung banget.”
(Yoo Ra)
“Hah... (memegang pipi). Enggak tuh.”
(Kim Jae)
“Siapa yang kau pikirkan?”
(Yoo Ra)
“Emma eonni... dan kelopak itu.”
(Kim Jae)
“Bukannya si Jae Won brengsek itu?”
(Yoo Ra)
“Oho... apaan, gak usah bercanda deh.”
(Kim Jae)
“Jangan terlalu dekat dengannya.”
(Yoo Ra)
“Kenapa? Dia baik kok, kita juga berteman.”
(Kim Jae)
“Berteman juga harus tahu batas. Dia punya sisi gelap tersendiri, tempramennya juga sungguh meyebalkan.”
(Yoo Ra)
“Semua orang punya tempramen masing-masing, sifat kayak gitu udah melekat banget. Gak usah negatif melulu deh.”
(Kim Jae)
“Aku tahu aku tahu... bukan itu yang aku maksud. Dia aja gak pernah pacaran sama sekali, mana paham sifat wanita, nanti kalau kamu jadi korban?”
(Yoo Ra)
“Memangnya aku mau pacaran sama dia? Dan kau, pernah pacaran gak?”
(Kim Jae)
“Walau gak pernah pacaran sekalipun aku juga selalu berada di antara para wanita.”
(Yoo Ra)
“Begitu ... (mengangguk dengan mengejek). Kenapa kau jadi kakakku sih?”
(Kim Jae)
“Hiruplah aroma ini. Em...ini adalah aroma takdir (menghirup udara).”
(Yoo Ra)
“Penghayal (melempar bantal ke wajah Kim Jae).”
(Kim Jae)
"Hei, Kim Yoo Ra... (kesal)"
__ADS_1
***
Hyeong (형) : Sebutan dari adik laki-laki ke kakak laki-laki