Full Moon Portal

Full Moon Portal
Episode 27


__ADS_3

Melihat bulan purnama yang sudah terbit di dekat jendela memang sangat indah, langit tampak bersih tanpa awan dan hanya menyisakan bintang-bintang dan bulan seakan menerangi gelapnya malam. Yoo Ra mengeluarkan bunga mawar putih yang sudah dijadikan liontin yang indah, seukuran dengan bola pingpong. Dalam genggamannya, liontin itu nampak bersinar karena terkena cahaya bulan.


Sudah larut, dan besok pagi ia harus pergi ke kampus. Yoo Ra sudah mengantuk dan ingin tidur, saat ia meletakkan liontin itu di dekat jendela, liontin itu memancarkan cahaya terang dan menyilaukan. Yoo Ra terkejut dan langsung memeriksanya, liontin itu masih menyala dengan sendirinya.


“Wah... ini bukan bunga biasa, kira-kira kenapa bisa bercahaya seperti ini?” Gumam Yoo Ra dengan rasa penasaran.


Yoo Ra sudah mengantuk, ia akan mencari tahu penyebab liontinnya memancarkan cahaya. Yoo Ra meletakkan liontin itu di pot bunga succulent dekat jendela, antisipasi agar si liontinnya tidak menggelinding kemana-mana dan bisa tersinari oleh cahaya bulan. Dan Yoo Ra menganggap kalau sinar bulan lah yang mengakibatkan benda itu bisa bercahaya.


---


*


“Terang sekali... Aku dimana?” Ujar Yoo Ra yang menutupi mata dengan tangan karena silau dengan cahaya putih yang terang.


“Kau sudah bangun nak? Ini ibu bawakan kesemek kering.” Suara ibu Yoo Ra.


“Ibu? Kenapa membawakan kesemek yang begitu banyak?” Jawab Yoo Ra.


“Ibumu sudah susah payah membawakan ini dari kunjunganya ke pasar. Cobalah, rasanya sangat manis.” Sosok laki-laki yang menjawab pertanyaan Yoo Ra.


“Ayah selalu begitu. Entah mengapa aku sangat merindukan kalian.” Ujar Yoo Ra.


“Kau tidak kemana-mana, tetap disini dan bersama kami. Jangan mengurusi urusan negara lagi ya,


bersenang-senanglah sebagai anak ibu disini.”


“Kalau aku bagaimana?” Tanya seorang laki-laki muda.


“Lee Yoo Tae, ayah sudah berumur. Waktunya kau naik tahta, kau sudah dewasa sekarang. Dan jangan ganggu putri kecil ayah lagi.”


“Aku kan anak ayah dan ibu juga... Adikku manjaku ini juga sudah besar.”


“Sudah sudah... Sekarang kita harus berkumpul dan berjumlah lengkap. Hanya ada 4 orang di keluarga kita, dan kita cari waktu luang agar bisa berkumpul seperti ini ya.”


“Baik ibu...”


“Ayah bahagia melihat putri kecil ayah yang selalu mendampingi dan menemani ayah saat bertugas. Teruslah tersenyum ya, jadilah anak yang baik dan tidak boleh mengecewakan ayah dan ibumu ini.”


“Apa imbalannya?”


"*Apa ini semua belum cukup? Kita berkumpul dengan lengkap begini?


"Bukan itu maksudku ayah... Untukku, untuk diriku saja*."


“Kasih sayang? Bagaimana? Tapi puteri ayah harus janji akan selalu setuju dengan apa yang ayah minta.”


"*Aku akan mempertimbangkannya."


"Hahaha ... Sungguh buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kau sungguh mirip dengan ayah."



Yoo Ra terbangun dan tersadar kalau itu hanyalah mimpi belaka. Ia duduk di ranjangnya dan menangis, mengingat mimpi yang ia dapat. “Aku ingin kembali, aku rindu kalian, Ayah...” Terisak dengan tubuh meringkuk seolah menyesal karena sudah ada di era ini, tersesat dan ingin segera kembali.


“Sudah cukup, aku harus menyelesaikannya. Dan aku harus bangun dari koma. Walaupun Cuma tiga bulan mengalami koma di kehidupan asliku, aku harus segera kembali. Hidup disini adalah cerminan setelah reinkarnasiku, dan aku akan menjalaninya lagi.” Gumam Yoo Ra dan melanjutkan tidur.


---


Sudah pagi, Yoo Ra bangun dan langsung mengecek liontinnya. Tidak ada apa-apa, dan tidak berpindah. Ia memeriksa lagi dengan teliti pot tersebut, mungkin liontinnya sudah menarik benda asing atau sejenisnya. Saat pot itu diputar, di daun succulent ada sesuatu yang menggantung an mengkilap. Yoo Ra segera mengambilnya dan betapa terkejutnya ia mendapati benda itu adalah... “DAL BANJI??? Aku bermimpi lagi ya?” Ujar Yoo Ra dengan wajah kaku.


"Ini bukan mimpi... Astaga..."


Yoo Ra bingung, ia boleh memiliki cincin itu saat saat purnama bulan biru. Dan fenomena itu akan terjadi beberapa bulan lagi. Apa ini cincin yang lain? Apakah cincin yang ada di Kim Yoo? Jadi mawar ini menariknya kemari?... Membingungkan sekali. Ia memutuskan untuk menyelidiki kasus ini nanti setelah pulang.


---


Rencana hari ini adalah untuk mengunjungi Kim Jae dan menyelidiki liontinnya. Namun, di kampus banyak sekali tugas yang harus diselesaikan. Yoo Ra harus menunda keinginannya itu demi tugas-tugas kuliahnya bisa selesai tepat waktu, sehingga esok hari ia bisa memiliki waktu luang dengan rencananya.


Tugas ini harus diselesaikan secara berkelompok, saat ini 1 kelompok ada 4 orang yakni Kim Yoo Ra, Kim Moo Ra, Ra Jeon Ki, dan Song Jun Moo. Awalnya mereka bingung harus mencari tempat untuk mengerjakan tugas ini.


(Jeon Ki)


“Pastinya tugas ini bakalan kelar sampai malam. Kalaupun di kampus juga gak ada tempat buat nginap.”


(Jun Moo)


“Em... Kita berdua cowo, kalau ngerjakan di rumah cewe kayak kalian juga gak sopan.”


(Yoo Ra)


“Kebetulan di rumahku kosong, tapi sesuai dengan kata-katamu... aku setuju.”


(Jeon Ki)


“Aku bingung.”


(Moo Ra)


“Ayo ke rumahku aja, kebetulan aku tinggalnya di atap. Cuaca juga bagus, menginap pun juga gak masalah. Toh gak ketahuan banyak orang, tetanggaku pun juga gak curiga.”


(Yoo Ra)


“Ya sudah... Ayo kerjaka disana. Gimana?”


(Jun Moo)


“Aku setuju...”


(Jeon Ki)


“Kau langsung setuju, sekalian kencan sama Moo Ra kan.”


(Jun Moo)


“Ahaha... ini aku dapat kartu as kan (meledek).”


(Yoo Ra)


“Kalau kau iri, pergi sana berkelompok dengan Soo Ah.”


(Jeon Ki)

__ADS_1


“Jahat banget, dia lagi ngambek. Juga masih meremehkan aku. Yoo Ra, bantu aku belajar dan kelihatan lebih smart (memegang tangan Yoo Ra).”


(Yoo Ra)


“Lepas lepas... Aigo (menggelengkan kepala). Tujuanmu sudah nyeleneh... Gimana masa depanmu nanti? (menyentil dahi Jeon Ki)”


(Moo Ra)


“Ayo pergi, sudah sore. Tugas ini juga buat presentasi besok, kita dapat undian yang kedua. Kalau sudah selesai presentasi, kita bisa pulang lebih awal.”


(Jeon Ki)


“Yesss.”


(Yoo Ra)


“Jun Moo... Traktir soda sama snack, ya?”


(Jun Moo)


“Berapa?”


(Yoo Ra)


“Sodanya 8 kaleng, americano 4 cup, potato chips 4 bungkus, sandwich 4. Itu saja.”


(Jun Moo)


“Kau bilang cuman soda sama snack... Kita mau pesta apa gimana?


(Yoo Ra)


“Makanan ringan itu banyak macamnya. Acara kita adalah begadang. Siap-siap keluarin duit ya.”


(Jeon Ki)


“Jun Moo... Aku ikut bersamamu beli itu semua. Aku temani ya...”


(Moo Ra)


“Kalian beli itu dulu, kita mau ke rumahku. Nanti aku share location.”


(Jun Moo)


“Oke...”


(Jeon Ki)


"Yoo Ra-ssi... Ingat untuk ajari aku ya..."


(Yoo Ra)


"Iya iya... cepat pergilah. Kalau bisa snacknya kasih lebih. Kebetulan aku juga lapar."


(Jeon Ki)


"Oke oke..."


"Dasar idiot" Gumam Yoo Ra kepada Jeon Ki yang rela melakukan apapun demi menaklukkan hati Soo Ah.


Presentasi kelompok Yoo Ra sungguh berhasil dan selesai dengan cepat, kini mereka bisa pulang lebih awal. Yoo Ra mampir sebentar ke rumah Moo Ra untuk tidur. Kini tepat jam 1 siang, Yoo Ra bergegas untuk pergi dari rumah Moo Ra.


(Yoo Ra)


“Aku pulang ya. Terima kasih sudah meminjamkan kasurmu.”


(Moo Ra)


“Tidak usah begitu... sahabatku (tertawa).”


(Yoo Ra)


“Dada... Di kulkas ada kimbap sama kimchi. Nanti dimakan ya (menuruni tangga).”


(Moo Ra)


"Kau yang beli?"


(Yoo Ra)


"Iya... Untukmu, habiskan ya."


(Moo Ra)


“Gomapda, josimhae... (melambai). (bergumam) kau adalah sahabatku, terima kasih dan seringlah datang kesini, aku butuh teman sepertimu Yoo Ra.”


---


Yoo Ra harus pergi menjenguk Kim Jae di rumah sakit. Dengan membawa buah apel yang ia beli di supermarket, berharap Kim Jae mau memakan buah agar cepat pulih.


(Yoo Ra)


“Annyeong...”


(Kim Yoo)


“Oh... Putriku sudah datang. Apa yang kau bawa?”


(Yoo Ra)


“Aku bawa apel, samchon mau?”


(Kim Yoo)


“Mau dong...”


(Yoo Ra)


“Oppa?”


(Kim Jae)

__ADS_1


“Itu milikku kan, kau membawanya untukku. Jadi, tentunya aku mau.”


(Yoo Ra)


“Haish... walaupun sakit tapi sifatmu tidak berubah, lebih kalem dikit dong.”


(Kim Yoo)


“Aku malah lebih suka saat dia pingsan (tertawa). Dia diam dan tidak banyak ulah.”


(Yoo Ra)


“Aku setuju denganmu. Ini, sudah aku cuci.”


(Kim Jae)


“Kupaskan, dan suapi aku.”


(Yoo Ra)


“Baiklah... Pangeran...”


(Kim Yoo)


“Tidak takut sendirian di rumah?”


(Yoo Ra)


“Tidak, walau ada masalah dikit tapi aku gak takut.”


(Kim Yoo)


“Syukurlah... Kim Jae, sebentar lagi aku ikut pulang dengan Yoo Ra. Sementara kau disini sendiri, nanti Min biseo yang akan tidur disini untuk menjagamu.”


(Kim Jae)


“Oke... Aaa... (membuka mulut).”


(Yoo Ra)


“Aigo... calon selebriti. Samchon beneran pulang? Biasanya aku ditipu terus.”


(Kim Yoo)


“Aku juga mau naik mobilmu, mobilku dipakai Min biseo. Jadi barengan ya...”


(Yoo Ra)


“Emmm (mengangguk).”


Telepon Kim Yoo berbunyi, dan ia keluar sebentar untuk mengangkat panggilan teleponnya. Kini hanya Kim Jae dan Yoo Ra yang ada di ruangan,


(Kim Jae)


“Aku merindukanmu.”


(Yoo Ra)


“Apa?”


(Kim Jae)


“Kemarilah...”


Yoo Ra mendekat ke arah Kim Jae. Kim Jae pun langsung memeluk Yoo R dengan erat.


(Kim Jae)


“Kemarin, seharian kamu gak jenguk. Rasanya aneh banget.”


(Yoo Ra)


“Maaf, aku kemarin sibuk. Sekarang kamu sudah membaik kan, aku juga gak akan jauh-jauh darimu.”


(Kim Jae)


“Maaf... Kakakmu ini sudah membuat adiknya kerepotan.”


(Yoo Ra)


“Bisakah kau lepas pelukanmu? Aku sesak...”


Phew... suasana yang mengharukan berubah jadi kekonyolan. Kim Jae melepas pelukannya.


(Kim Jae)


“Dasar perusak suasana.”


(Yoo Ra)


“Aku mengatakan yang sejujurnya, aku sudah sesak tadi.”


(Kim Jae)


“Maaf (senyum). Aku terlalu merindukanmu (berbinar).”


(Yoo Ra)


"Segitunya, padahal cuma satu hari gak ketemu. Jaga sikapmu."


(Kim Jae)


"Ehe (meringis). Lihat, kau jadi pemarah."


(Yoo Ra)


"Hanya perasaanmu saja."


Kim Jae masih tidak ingin berpaling melihat wajah Yoo Ra. Ia merasa tenang setelah melihat Yoo Ra.


Kata-kata Kim Jae sungguh membuat Yoo Ra terharu. Kim Jae yang baru satu hari tidak bertemu sudah merindukannya sampai seperti itu. Bagaimana perasaan keluarga Yoo Ra yang menantikan ia kembali dan tersadar dari koma. Ada dua kehidupan yang tak rela ia lepaskan. Antara hidup yang saat ini, dan hidup yang asli.

__ADS_1


***


Josimhae (조심해) : Hati-hati di jalan


__ADS_2