
High Club Business Management di Universitas Deiji akan mengadakan pemilihan pengurus baru, menggantikan pengurus yang sudah lulus atau berhenti. Seperti yang telah di ceritakan Yeon Jin, mereka butuh kualifikasi yang memadai, dan Yoo Ra sudah memberikan saran yang tepat.
Saat ini dibutuhkan 2 pengurus inti, dan sudah ditentukan kalau Kim Yoo Ra dan Song Jun Moo yang menjadi pengurus inti dan bertanggung jawab atas kelangsungan club. Sementara yang lain (dari kelas Yoo Ra) akan dipilih beberapa sebagai kolega bawah yang bertugas memantau kelasnya sendiri. Siapa lagi kalau bukan Soo Ah, Jeon Ki, dan Moo Ra yang dipilih.
Keputusan ini sangat mendadak, sudah dirapatkan dengan para senior kalau 2 orang itu (Yoo Ra dan Jun Moo) akan menjadi anggota baru di pengurus inti. Mereka memiliki kemampuan memimpin yang sangat handal, dan sudah terbukti kalau mereka berdua dalam 1 semester saja sudah memberikan kontribusi prestasi bagi kampus.
Ditambah lagi dalam proyek wisata di pulau Jeju, mereka membuat tulisan bisnis antara budaya lokal dan pariwisata. Sampai-sampai diklaim sebagai proyek tulis terbaik di kampus. Mereka mulai dikenal sebagai aktivis kampus, dan wajah mereka sudah menjadi ikon mahasiswa populer tahun ini.
(Yeon Jin)
“Selamat ya... sudah jadi pengurus inti. Kayaknya kita bakalan sering ketemu.”
(Yoo Ra)
“Ahaha... Terima kasih seonbaenim. Seonbae juga sangat membantuku untuk mencapai posisi ini. Bergabung di club bergengsi di kampus memang agak menegangkan, mengingat persaingan ini lumayan ketat.”
(Yeon Jin)
“2 minggu lagi akan ada pertemuan antara donatur kampus. Aku juga akan datang mewakili ayahku, pasti presdir Kim juga datang.”
(Yoo Ra)
“Pastinya, dia juga pemimpin para donatur disini.”
(Yeon Jin)
“Benar, acara ini adalah acara tahunan, dan setiap donatur akan membawa keluarganya. Jadi naik kepanggung dan membungkuk memberi salam, memberi contoh kepada khalayak umum untuk menjadi dermawan.”
(Yoo Ra)
“Aku sudah mendengarnya, samchon juga sudah memberitahuku untuk naik ke panggung bersama.”
(Yeon Jin)
“Pasti nanti akan ada kejutan besar.”
(Yoo Ra)
“Akhirnya mereka yang sudah salah paham akan...”
(Yeon Jin)
“Gadis nakal... “
Selama kuliah ini, banyak yang menganggap Yoo Ra dan Kim Jae adalah kekasih. Yoo Ra mendapati saat-saat terumit, mulai dari dicemooh dan menjadi bahan gosip. Tapi itu berbanding terbalik dengan prestasi yang diukir sendiri oleh Yoo Ra. Dikenal sebagai gadis yang cuek, Yoo Ra selalu masa bodoh dengan umpatan-umpatan yang diberikan kepadanya.
Sangat banyak mahasiswi yang memperebutkan Kim Jae, pria tampan dan supermodel tahun ini. Yoo Ra juga dikenal sebagai mahasiswi incaran para seniornya, bahkan di loker setiap harinya penuh dengan hadiah dan post it.
Di semester ini, ada 5 nama yang di daulat sebagai mahasiswa populer. Ajang kepopuleran sudah mewabah dikalangan remaja, mereka bisa terkenal dalam sekejap walau di kampus sendiri, dan memanfaatkan itu untuk bisa masuk kedalam dunia entertaiment ataupun ada perusahaan yang tertarik dengan prestasi mereka.
Universitas Deiji adalah kampus khusus manajemen, jadi Most Popular Colleger of Deiji (MPCD) di dominasi oleh mahasiswa manajemen bisnis. 5 nama beserta fotonya, salah satunya ada Yoo Ra. Selain Yoo Ra, Kim Jae, Jae Won, dan Jun Moo. Satu mahasiswa lain adalah mahasiswa manajemen administrasi.
Sebelumnya Soo Ah juga ambil alih di chart itu, tapi dia sudah tersingkir jauh beberapa bulan ini. Amarahnya makin tidak terkendali, seolah menyimpan dendam yang sangat mendalam pada Yoo Ra. Dia berpikir kalau orang yang disukai sudah direbut, kini posisi bergengsi seperti itu juga ikut direbut.
***
Sudah resmi menjadi pengurus club, datang pagi dan membersihkan ruangan club sesuai jadwal piket.
(Jae Won)
__ADS_1
“Pagi...”
Kelas pagi dimulai, hubungan Jae Won dan Yoo Ra masih stabil. Setelah beberapa minggu setelah wisata, Jae Won tidak menghubungi Yoo Ra sama sekali. Rupanya dia sedang menenangkan diri dengan masalahnya. Setelahnya, dia sering menghubungi Yoo Ra.
(Yoo Ra)
“Jae Won seonbae . Datangnya pagi sekali.”
(Jae Won)
“Kamu lupa kalau aku juga piket hari ini?”
(Yoo Ra)
“Hari ini? Bukannya seonbae piketnya di hari senin? Sekarang hari jumat loh, kapan dirubah?”
(Jae Won)
“Tadi aku rubah, aku akan piket 1 minggu dua kali .”
(Yoo Ra)
“Wah... Jadi anak rajin.”
Jae Won sengaja untuk ikut piket, karena tujuannya sudah jelas. Membersihkan ruangan hanya berdua. Yoo Ra mendapat bagian piket pagi, dan satu orang pengurus lainnya mendapat piket sore. Jadi 2 orang akan piket di waktu yang berbeda.
Biasanya kalau Yoo Ra piket, Yeon Jin selalu datang pagi dan ikut membantunya. Setengah jam kemudian, Yeon Jin datang dan menyaksikan pemandangan yang menyesakkan hati. Terlihat Yoo Ra bercanda dengan Jae Won di satu ruangan dan hanya ada mereka berdua. Melihat dari jendela, “Sial, aku bangun kesiangan. Setengah jam saja aku telat sudah kehilangan start.” Yeon Jin cemburu, dan kesal melihat ini semua.
Sudah lama Jae Won dan Yoo Ra jarang menghabiskan waktu bersama. Dan Yeon Jin hampir setiap hari menemui Yoo Ra dan sering mengajaknya keluar. Yeon Jin sangat ingin memisahkan mereka berdua, seperti membuat batasan interaksi untuk Yoo Ra.
Yeon Jin segera masuk dan mengejutkan mereka berdua.
(Yeon Jin)
(Yoo Ra)
“Sudah setengah jam. Bangun kesiangan?”
(Yeon Jin)
“Betul.”
Tanpa basa-basi lagi, Yeon Jin merebut lap yang dipegang Yoo Ra dan membawa Yoo Ra untuk duduk di sofa. Yeon Jin sudah hafal, kalau Yoo Ra berangkat pagi dia akan lupa sarapan. Jadi, kali ini Yeon Jin bangun kesiangan dan harus membeli sarapan untuk Yoo Ra.
Yeon Jin segera membuka tasnya dan mengeluarkan makanan yang dibelinya, 1 gulung gimbap dan air mineral.
(Yeon Jin)
“Maaf, aku cuman membawakan gimbap. Besok akan aku bawakan bulgogi dengan nasi.”
(Yoo Ra)
“Padahal aku gak pernah minta dibawain makanan loh .”
(Yeon Jin)
“Jangan banyak bicara, makanlah. Hah...”
Yeon Jin sudah kesal dan Yoo Ra malah menggodanya, dengan paksa Yeon Jin menyumpal mulut Yoo Ra dengan gimbap yang dibawanya, mencegah Yoo Ra berbicara dan membiarkannya makan.
__ADS_1
(Jae Won)
“Kau datang pagi juga?”
(Yeon Jin)
“Kenapa? ”
(Yoo Ra)
“Yeon Jin seonbae selalu datang pagi kalau aku piket.”
(Jae Won)
“Oh, jadi dia membantumu.”
(Yeon Jin)
“Enak saja. Aku bukan membantunya, memang aku pembantunya?”
Yoo Ra melihat Yeon Jin yang seperti ini, membatnya jengkel. Menginjak kaki Yeon Jin supaya tidak berkata kasar, Yoo Ra melakukan ini juga mencegah keributan antara mereka berdua.
(Yoo Ra)
“Sudahlah .”
(Yeon Jin)
“Aw... ada apa denganmu?”
(Yoo Ra)
“Kau lebih tua dariku, tapi sikapmu seperti lebih muda dariku.”
(Yeon Jin)
“Aku benar, aku bukan membantumu.”
(Yoo Ra)
“Terus? Kau kasihan padaku?”
(Yeon Jin)
“Ini adalah kewajibanku. Melihatmu piket sendiri aku jadi takut kalau ada apa-apa. Jadi aku berkewajiban untuk melindungi, membantu, dan melakukan apapun yang kau suruh. Demi keamanan dan keselamatan!!!”
(Yoo Ra)
“Oh... (Yeon Jin)“Bukankah julukannya kurang romantis?”(Yoo Ra)“Dasar banyak maunya.”Jae Won mendengar pembicaraan ini, Yeon Jin dan Yoo Ra saling menggoda satu sama lain dan mengacuhkan kehadiran Jae Won.“Sekarang mereka sudah semakin dekat, dan sudah akrab. Aku meragukan kalau mereka sudah pacaran. Bagamanapun, aku tetap tidak ingin menyerah. Jangan salahkan aku kalau aku berperilaku kasar." - Do Jae Won.
(Yeon Jin)
“Bukankah julukannya kurang romantis?”
(Yoo Ra)
“Dasar banyak maunya.”
Jae Won mendengar pembicaraan ini, Yeon Jin dan Yoo Ra saling menggoda satu sama lain dan mengacuhkan kehadiran Jae Won.
__ADS_1
“Sekarang mereka sudah semakin dekat, dan sudah akrab. Aku meragukan kalau mereka sudah pacaran. Bagamanapun, aku tetap tidak ingin menyerah. Jangan salahkan aku kalau aku berperilaku kasar." - Do Jae Won.