
Sesuai dengan perkataan Jae Won, ia menjelaskan beberapa tempat yang dilewati. Mereka berdua tampak akrab dan saling berbagi pengetahuan,Yoo Ra langsung mencatat point-point yang ia rasa penting untuknya. Sesekali bergurau, tak segan Yoo Ra menampakkan senyum indahnya di depan Jae Won. “Saat ini aku sangat mengagumimu, kau cantik dan apa adanya. Aku harap suatu saat nanti bisa memberitahu perasaanku yang sebenarnya padamu.” Dalam hati Jae Won berkata demikian, Jae Won juga ingin memiliki kekasih seperti Yoo Ra.
Langit sudah gelap, dan ada instruksi bahwa 8 jam lagi akan sampai di pulau Jeju. Sangat lama, bus ini berkeliling mengitari tempat-tempat yang sudah ditentukan.
Yoo Ra mengantuk, dan sangat tidak tertahankan. Jae Won sudah menawarkan bahunya, namun ditolak. Yoo Ra menempatkan bantal mininya di dekat jendela yang sesuai dengan posisinya, tertidur menyamping bersandar di dekat jendela dan melihat pemandangan kota pada malam hari. Sebelum tertidur, Yoo Ra tidak akan menyianyiakan pemandangan kota yang penuh cahaya lampu. Dengan merilekskan pikiran, dan juga merindukan Kim Jae dan Kim Yoo di rumah.
Jae Won bersandar di kursinya dan melihat Yoo Ra dari sisi samping. Dia ingin mengenggam tangannya, ingin memberikan sandaran nyaman, dan ingin mengusap rambutnya agar tertidur pulas di dekapannya. Namun saat ini ia hanya perlu bersabar, butuh waktu untuk bisa melakukan ini semua.
Ponsel Yoo Ra bergetar, Jae Won bisa merasakannya. Yoo Ra terkejut dari lamunannya dan langsung mengambil ponsel. Kim Jae menelponnya, dan Yoo Ra bergegas mengangkat panggilan dari orang yang ia rindukan.
(Yoo Ra)
“Oppa ...”
(Kim Jae)
“Em... Bagaimana perasaanmu? Tidak mau pulang? Tidak sakit kan? Sudah makan? Kok belum tidur?”
Pertanyaan Kim Jae yang dilontarkan secara bertubi-tubi dan suara yang bernada tinggi membuat telinga Yoo Ra gatal dan ingin menyumpal mulut cerewet Kim Jae dari sana.
(Yoo Ra)
“Aku baik-baik saja. Aku mau tidur, tapi kau menelpon.”
(Kim Jae)
“Aku khawatir kau kenapa-napa. Aku pakai kamarmu dulu, selama kau pergi aku akan jaga kamarmu dulu.”
(Yoo Ra)
“Baiklah, jangan kacaukan isi lemariku.”
(Kim Jae)
“Iya... Eh, di meja belajarmu ada liontin dan cincin itu. Tidak kau bawa?”
(Yoo Ra)
“Kalau dibawa akan merepotkan nantinya. Oppa, aku minta bantuanmu.”
(Kim Jae)
“Katakan saja.”
(Yoo Ra)
“Aku kirim lewat pesan singkat saja.”
Yoo Ra segera menutup panggilan dari Kim Jae dan mengetik pesan singkat yang ditujukan kepada Kim Jae. Kali ini Yoo Ra meminta bantuan Kim Jae untuk mencari tahu liontin mawar miliknya, dan Yoo Ra juga menyuruh Kim Jae pergi ke toko bunga Dal Rae dengan membawa liontin itu. Saat ini kunci informasinya hanya ada di Dal Rae, satu-satunya orang yang memiliki mawar itu.
__ADS_1
---
(Jae Won)
“Kim Jae yang telepon?”
(Yoo Ra)
“Iya... (mengangguk dan mematikan ponsel).”
(Jae Won)
“Pasti merindukanmu?”
(Yoo Ra)
“Ahaha... mungkin begitu, tapi memang rindu. Keluarga yang aku punya hanyalah dia dan samchon. Dan aku hanya punya satu kakak, dialah orangnya.”
(Jae Won)
“Aku disini hidup sendiri. Saat ini identitasku palsu, dan sebenarnya aku punya keluarga besar, tapi aku masih belum bisa kembali kesana. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan dulu disini sebelum kembali. Mungkin mereka merindukanku, tapi aku masih belum ingin kembali.”
(Yoo Ra)
“Sepertinya itu juga terjadi padaku. Bagaimana keadaan keluarga besarku? Aku selalu memendam ini sendiri, rindu yang terlalu berat. Seonbae juga merasa begitu kan?”
(Jae Won)
(Yoo Ra)
“Hidup itu hanya untuk bernapas (mengehela napas).”
(Jae Won)
“Apa? (tertawa). Sungguh mengalami keputusasaan ya? (mengacak-acak rambut Yoo Ra)”
(Yoo Ra)
“Semua orang hidup seperti itu. Sudah malam sekali... aku mengantuk.”
Yoo Ra ingin segera tidur, namun ada seseorang yang mengusiknya. Jeon Ki tiba-tiba menghampiri Jae Won dan Yoo Ra dengan membawa bantal leher.
(Jeon Ki)
“Hyeong, Yoo Ra-ya. Boleh aku duduk dan bergabung disini?”
(Yoo Ra)
“Apa-apaan kau... Kembali ke tempatmu.”
__ADS_1
(Jeon Ki)
“Aku tidak bisa tidur disana, lihatlah posisi tidur mereka.”
Jeon Ki menunjuk kursi belakang tempatnya duduk, kini satu kursi panjang itu tampak full dengan 3 orang yang tidur dengan sembarangan. Posisi tidur yang sangat acak-acakan.
Jeon Ki memohon pada Yoo Ra dan Jae Won untuk mengizinkannya duduk bersama mereka.
(Jeon Ki)
“Aku sudah memohon ke teman-teman yang lain, tapi ditolak. Ayolah, aku juga harus tidur, saat ini aku harus tidur dimana? Dan besok sudah sampai di pulau Jeju, mengerjakan tugas, mencatat, dan kalau aku ngantuk, tertidur, lalu tidak mengerjakan itu semua aku akan dapat peringatan, lalu di drop out. Kalau begitu, kalian yang bertanggung jawab.”
Jeon Ki berbicara dengan sangat cepat tanpa megambil jeda untuk bernapas sekali pun. Suasana menjadi humor dan lawakan Jeon Ki membuat Jae Won dan Yoo Ra menahan tawa dengan perilakunya ini.
(Yoo Ra)
“Seonbae... daripada dia cerewet lagi, biarkan dia duduk disini.”
(Jae Won)
“Karena Yoo Ra setuju, aku juga setuju.”
(Jeon Ki)
“Wah.. Khamsahabnida (membungkuk). Jadi, aku akan duduk di dekat Yoo Ra (melangkahi Jae Won).”
(Jae Won)
“Duduk di sampingku sini, jangan duduk didekatnya (menarik kerah baju Jeon Ki).”
(Jeon Ki)
“Seonbae...”
(Yoo Ra)
“Duduk disini.”
(Jeon Ki)
“Arasheo... (duduk)”
Jeon Ki tampak kesal, ia ingin duduk di dekat Yoo Ra karena sudah sangat akrab dengan Yoo Ra. Tapi keinginannya gagal karena terhalang oleh Jae Won. Duduk bertiga dengan berimpitan, Jeon Ki sudah tertidur dan bersandar di bahu Jae Won, sesekali Jae Won menyingkirkan kepala Jeon Ki yang menempel di bahunya. Yoo Ra sudah sangat pulas, tertidur dengan menyandarkan kepala di bantal kecil dekat jendela.
Bus mulai memasuki jalanan yang bekelok-kelok dan melaju dengan kecepatan tinggi. Para penumpang juga agak susah mempertahankan posisi, sehingga para posisi penumpang bergeser dan bergerak ke kanan dan ke kiri. Begitupun dengan Yoo Ra, kepalanya sesekali membentur jendela bus. Dengan sigap, Jae Won segera menangkap lengan Yoo Ra dan menempatkan kepala Yoo Ra di bahunya.
Bersandar dan tertidur, suasana romantis mana lagi yang ia harapkan. Sungguh pemandangan indah dan menyentuh romansa. Jae Won mencoba tertidur dan mengubah posisinya untuk menghadap ke arah Yoo ra dan membiarkan Jeon Ki bersandar di punggungnya. Memang merepotkan, tapi ia berusaha menempatkan posisi yang paling nyaman.
“Aku harap, kau selalu bersandar di bahuku. Hanya di bahuku, bukan di bahu orang lain.” Gumam Jeon Ki dan meletakkan tangan kecil Yoo Ra di atas tangannya.
__ADS_1
Memandangi betapa kecilnya tangan Yoo Ra, Jae Won seperti ingin melindungi gadis ini. Keinginan untuk selalu bersama, Jae Won sudah berencana mengejar Yoo Ra, dan berusaha membuat luluh hatinya.
***