
Setelah bertemu dengan Selly, Yoo Ra sedikit cemas dengan tawaran tadi.
Pasalnya, tender ini akan melibatkan 3 pihak sekaligus. Yoo Ra akan mewakili Park Group untuk menyelesaikan tender ini, dan jika menang maka secara instan Kim Jae langsung naik jabatan dan Yeon Jin juga tidak akan ada ikatan satu benang pun dengan Selly.
Belum lama Yoo Ra tiba di rumahnya, ia memikirkan kutukan itu kembali dan memaksanya untuk bertemu dengan Dal Rae. Toko bunga yang masih beroperasi pada malam hari dan menerima tamu, para hantu. Walau sudah terbiasa dengan hal ini, namun Yoo Ra sedikit merasa terganggu.
Membuka pintu dan masuk ke dalam toko, lonceng pintu berbunyi dan Dal Rae keluar dari pintu dapur. Mendapati Yoo Ra yang masuk ke dalam tokonya, Dal Rae bergegas menghampiri Yoo Ra dan menanyakan kabarnya kemudian berbincang.
“Sudah menemukannya?”
“Aku sendiri tidak tahu, tapi kepalaku masih terasa pusing.”
“Aku sendiri tidak bisa mengendalikan hal seperti ini, sepertinya benang takdir sudah mulai kacau. Yoo Ra, cincinmu mana?”
Kebetulan sekali, Yoo Ra membawa cincin dan juga giok bulan biru itu. Memang sengaja Yoo Ra membawa itu untuk dititipkan kepada Dal Rae.
“Dal Rae, aku menitipkan barang ini padamu. Aku merasa bahwa sesegera mungkin aku akan kembali. Dengan kedua benda ini ada padamu aku bisa mencapai tujuanku disini.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Menjadikan Kim Jae sebagai Presdir baru di Nam Group.”
“Besok adalah malam purnama, kesempatanmu untuk pergi secepatnya sudah berada di depan mata. Aku sarankan besok kau harus kembali ke asalmu, sebelum semuanya menjadi fatal.”
Yoo Ra terdiam, Yoo Ra memang ingin segera kembali dengan kondisi baik-baik saja. Tapi, keadaan saat ini tidak memungkinkannya untuk kembali. Tender itu akan rampung seminggu lagi, Yoo Ra yakin bahwa dia pasti bisa memenangkannya, bisa menjadikan Kim Jae sebagai Presdir adalah tujuan utamanya, namun merebut kembali kekasihnya juga adalah hal yang penting.
“Dal Rae, jangan khawatir walau semua kejadian ini sudah kacau. Aku akan baik-baik saja. Aku putuskan akan kembali saat purnama berikutnya.”
Dal Rae hanya menggeleng dan seolah tidak percaya, betapa dewasanya Yoo Ra sekarang. “Karena liontinmu yang hilang, semuanya jadi tidak terkendali.”
Mereka masih melanjutkan pembicaraan, dan sudah larut malam sekali. Yoo Ra beranjak dan ingin pamit untuk pergi, saat berdiri, ada seorang yang membuka pintu dan masuk ke dalam toko bunga itu.
“Ada yang bisa saya ban... Kim Jae?” Ucap Dal Rae. Kim Jae datang kesana untuk mencari Yoo Ra, rambut acak-acakan dengan kemeja dan dasi yang berantakan. Bau menyengat dari alkohol tercium kuat dari tubuhnya.
“Kakak... Habis darimana kau hah? Kau tahu kalau tidak kuat alkohol malah maksa minum.” Kata Yoo Ra dan langsung membopong Kim Jae untuk keluar.
Baru saja Yoo Ra meraih tangan Kim Jae, pria itu berbalik dan memeluk Yoo Ra sekuat mungkin. Beberapa tetes air mata membasahi bahu Yoo Ra. Gadis muda itu hanya tercengang seolah tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan Kim Jae saat ini, mengapa sikapnya mendadak berubah?
Dal Rae menatap mereka berdua, Dal Rae merasakan bahwa Kim Jae sedang amat bersedih. “Yoo Ra, bawa dia pulang. Dan untuk barangmu ini, aku akan menjaganya.” Ucap Dal Rae, Yoo Ra mengangguk dan membawa Kim Jae masuk ke dalam mobilnya, sebab sepertinya Kim Jae kesini dengan jalan kaki.
“Kita pulang ke rumah atau ke apartemenku saja?” Tanya Yoo Ra. Namun tidak ada jawaban dari Kim Jae. Kim Jae duduk di samping Yoo Ra dengan menatap ke arah luar jendela. Memang tidak heran jika ada seseorang yang mabuk kemudian bersikap aneh.
Yoo Ra menghela napas dan menjalankan mobil untuk pulang ke rumah, mengingat kembali bahwa Kim Yoo dan juga Eun Jin sedang tidak ada di rumah untuk malam ini.
__ADS_1
Setibanya di gerbang rumah, Yoo Ra melihat ada satu mobil yang terparkir di depan, sepertinya ada orang yang sedang bertamu. Sekretaris Min sedang berdiri di depan gerbang untuk menunggunya datang. Yoo Ra membunyikan klakson mobilnya dan meminta gerbang rumah untuk dibuka.
“Sekretaris Min, ada yang menemui paman?” Ucap Yoo Ra. Sekretaris Min menggeleng, dan mengatakan bahwa ada orang yang ingin menemui Yoo Ra secara pribadi.
“Nona, katanya mereka ingin membahas sesuatu yang penting denganmu. Mereka bertiga sedang berada di taman depan, nona langsung kesana saja.”
“Bertiga? Siapa juga yang mau membahas sesuatu di tengah malam begini. Siapa mereka?”
“Untuk itu... Nona lihat saja.”
“Baiklah, bawa kakakku ke dalam dan buatkan sup supaya pengarnya hilang.”
Sekretaris Min membawa Kim Jae masuk, sementara Yoo Ra pergi menemui ketiga tamunya ini. Yoo Ra menggerutu, mengapa di tengah malam seperti ini ada orang yang mau bertamu? Padahal Yoo Ra sendiri sudah merindukan kasur empuk miliknya.
“Selamat malam... Mencari sa...” Yoo Ra menghentikan kata-katanya, hanya bisa membelalakkan mata. Ketiga orang itu adalah Emma, Yeon Jin, dan juga kakek Park. Dengan spontan Yoo Ra membungkukkan badan untuk memberi salam.
Terkejut? Tentu saja, bagaimana bisa kakek Park ingin menemui Yoo Ra.
“Yoo Ra, paman Park sangat ingin menemuimu. Jadi, daripada membuang waktu, aku ajak mereka berdua kesini.” Ucap Emma. Yoo Ra mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk duduk dan bertanya ada perihal apa mereka kemari.
“Jadi... Dia gadis yang kamu cintai?” Tanya kakek Park kepada Yeon Jin, Yeon Jin menjawab dengan mengangguk dan pipinya mulai memerah. Melihat reaksi Yeon Jin, kakek tua itu tertawa dan menyambut Yoo Ra dengan kepuasan.
“Pantas saja, dia sangat cantik.” Sahut kakek Park. Emma juga tersenyum dan meminta kakek Park melihat Yoo Ra lebih dalam lagi. “Paman, coba lihat dia. Bukan hanya cantik, bahkan kau mengenal dia.”
Kemudian kakek tua itu bersujud di hadapan Yoo Ra dengan berteriak “Yang Mulia...”
Yoo Ra menatap Emma penuh kebingungan, Emma sendiri menundukkan kepala seolah tidak peduli dengan reaksi dari kakek Park. Sementara itu, suara kakek itu terdengar kembali. “Anda... Anda sudah besar rupanya.”
Yoo Ra mengerutkan keningnya, dan memapah kakek Park untuk berdiri. Saat Yoo Ra meminta penjelasan kepada kakek Park, tiba-tiba sekretaris Min menghampirinya dan meminta Yoo Ra untuk segera masuk ke dalam, karena Kim Jae sedang mencarinya.
“Kakak kenapa?”
“Entahlah, sedari tadi emosinya tidak bisa di kontrol.”
“Aku mohon maaf, tapi sebaiknya kalian pulang, dan juga sudah larut malam. Aku permisi.”
Saat beberapa langkah Yoo Ra pergi dari tempat itu, Yeon Jin berlari dan meraih tangannya. Berbisik untuk memastikan bahwa Yoo Ra tidak marah dengan kejadian pertunangan itu. Yoo Ra memberikan senyum tipis, dan berkata bukan waktunya untuk membahas ini. Yoo Ra perlahan melepas tangan Yeon Jin yang masih mengikatnya, “Kita bahas ini lain kali, kakakku sedang membutuhkanku saat ini.”
Yoo Ra pergi begitu saja tanpa memperdulikan pacarnya ini. Yeon Jin merasakan ada sesuatu yang tersayat di dalam tubuhnya, sakit sekali. Yeon Jin berbalik dan mengajak kakeknya untuk pulang. “Kakek, aku hanya ingin dengan dia saja. Bahkan di dunia ini aku ingin dikenal sebagai kekasihnya saja. Aku mohon...” Ucap Yeon Jin kepada kakeknya.
Sementara itu, Yoo Ra yang bergegas menghampiri Kim Jae dan saat berada di depan pintu kamar Kim Jae, Yoo Ra mendengar beberapa barang yang dilempar kesana kemari. Panik, Yoo Ra melihat ke arah jendela untuk memastikan ketiga orang itu tidak mengetahui masalah ini. Rupanya mereka baru saja keluar, syukurlah.
Perlahan Yoo Ra mengetuk pintu kamar Kim Jae dan memanggil Kim Jae terus-menerus untuk membuka pintu. Namun tak ada jawaban sama sekali
__ADS_1
dari Kim Jae.
Yoo Ra terus mengetuk pintu dengan kencang, sekretaris Min berlari menghampiri Yoo Ra, namun Yoo Ra meminta sekretaris Min untuk pulang saja.
"Sekretaris Min, kamu pulang saja, tidak baik bagimu untuk ikut campur dalam urusan ini."
"Tapi nona....Kim Jae..."
"Aku bisa mengurusnya sendiri. Sekarang pergilah, aku mohon."
Yoo Ra meminta sekretaris Min untuk pulang karena takut Kim Jae akan mencelakainya, Yoo Ra sudah merasakan aura pekat yang siap menyerang siapapun dari dalam ruangan ini.
"Cepatlah!"
"Ba... Baik... Kalau terjadi sesuatu, telepon aku."
Sekretaris Min pergi secepat mungkin meninggalkan kediaman Kim. Dan Yoo Ra masih berusaha membuka pintu, sangat sulit dibuka dari luar, tapi pintunya tidak dikunci dari dalam.
Beberapa menit kemudian, aura pekat itu mereda dengan sendirinya. Pintu juga terbuka sendiri dengan perlahan, Yoo Ra yang masih di depan pintu melihat sosok punggung yang membelakanginya. Punggung muda yang meringkuk di atas tempat tidur.
Ruangan itu kacau, barang-barang berserakan dimana-mana, pecahan kaca berada di lantai. "Kakak..." Ucap Yoo Ra perlahan, namun suara lantang keluar dari mulut Kim Jae.
"Kalau mau kembali sekarang juga kembalilah! Jangan pedulikan aku, cepatlah pulang ke kehidupanmu! Pergilah." Teriak Kim Jae.
Yoo Ra mendekatinya dengan sedikit ketakutan, "Hei, aku di sini. Tenanglah."
Yoo Ra berada di belakang Kim Jae, menyentuh bahu pria itu dengan kelembutan yang menenangkan. "Berbalik lah, jangan membuatku semakin takut."
Kim Jae sama sekali tidak merespon, namun kilatan menyambar di jendela, seketika Kim Jae berbalik dan menghadap ke arah Yoo Ra dengan memancarkan cahaya biru berkilau dari kedua mata Kim Jae.
Yoo Ra terkejut, sepertinya Kim Jae bukanlah Kim Jae yang ramah. Kemarahan dari Kim Jae sangat jelas, Yoo Ra berjalan mundur dengan perlahan-lahan karena takut. Berbalik untuk siap lari dan mencari Emma.
Namun gerakannya terhenti, seperti ada yang mengendalikannya. Tubuh Yoo Ra yang menghadap pintu, tiba-tiba bergerak sendiri dan mendekat ke Kim Jae.
Kim Jae dengan mata birunya menatap Yoo Ra dengan tajam. "Kamu mau pergi? Tentu tidak bisa. Kau tidak bisa meninggalkan aku disini. Lee Yoo Ra."
"Apa?!" Yoo Ra terkejut, kemudian seperti ada sesuatu yang mencekik lehernya, namun tidak terlihat.
"Tu...Tunggu...Ah...Kakak..." Perlahan tubuhnya terangkat ke atas, menyentuh langit-langit kamar.
"Lee Yoo Ra, kamu tidak bisa kembali tanpa persetujuan dariku. Perasaanku mulai kacau karena mu." Ucap Kim Jae yang telah hilang kesadarannya.
Ada sebuah kilatan cahaya, membuat Yoo Ra merasa tertusuk di bagian kepalanya. "Tunggu, turunkan aku!!! Kepalaku sakit... Kim Jae Rim!!!"
__ADS_1