
Pintu rumah terbuka lebar, empat orang yang berada di ruang utama bersamaan melihat seseorang yang masuk tanpa memberi salam sekalipun. Melewati mereka dan menaiki anak tangga satu persatu dengan penampakan lusuh.
“Kamu belum makan?” tanya Eun Ji pada Yoo Ra.
Masuk ke kamar mengabaikan Eun Ji, suara pintu yang di tutup menimbulkan tanda tanya bagi keempat orang ini.
Kim Yoo bertanya pada Kim Jae ada apa dengan adik perempuannya itu. Kim Jae bangkit dari kursinya dan pergi ke kamar Yoo Ra.
Yoo Ra-ya... Kim Jae mengetuk pintu kamar, tidak ada jawaban dan pintu juga terkunci. “Gak biasanya dia begini.” Ucap Kim Jae, dan dia bepikir mungkin Yoo Ra sudah kelelahan dan ingin segera beristirahat.
Sekretaris Min yang berada di bawah juga memberikan ekspresi cemas dengan menggenggam ponselnya, Kim Jae turun dengan menatap sekretaris Min dengan menusuk.
Kim Jae berjalan mendekat ke arah sekretaris Min dan mendesak pria itu untuk tidak menyembunyikan sesuatu. “Adikku, dia kenapa? Sekretaris Min, jangan sembunyikan apapun dariku.” Gertak Kim Jae, sekretaris Min memang sudah tak ingin menutupinya lagi.
“Tunangan CEO Park, dia... “
“Bukannya itu sudah lama sekali, bahkan hampir 3 tahun yang lalu.” Seru Kim Jae yang sudah paham dengan cerita Yeon Jin. Sederhananya, walaupun Yeon Jin bukan berasal dari kehidupan ini dan saat kembali akan digantikan jiwa yang lain, tetap saja ini menimbulkan kekhawatiran yang khusus.
Duduk di dekat jendela dan melihat ke arah langit penuh dengan bintang musim panas, pikiran kacau berkabut dan memenuhi kepalanya. Disisi lain kehidupannya berada di ujung tombak jika tidak bisa menemukan liontin mawar putihnya yang hilang. Dan sekarang, harus kehilangan seseorang yang begitu dicintainya.
“Seburuk itukah takdirku?” gumam Yoo Ra dengan melipat tangan dikedua lutut yang ditekuk. Tangisan dalam diam, bahkan Yoo Ra bingung harus berekspresi seperti apa.
Joan yang menelponnya tadi mengatakan bahwa kedua belah pihak akan segera melakukan upacara pertunangan kembali setelah 3 tahun berlalu. Joan memberikan alamat itu, dan Yoo Ra bergegas pergi ke alamat dimana pesta pertunangan yang mendadak itu dilangsungkan.
Sebuah hotel yang sudah di booking dan private pula, saat di lobi hotel, Yoo Ra dihadang dan tidak diizinkan masuk meskipun membawa identitas sebagai asisten pribadi Yeon Jin. Yoo Ra berteriak dan ingin masuk, tapi teriakannya berubah menjadi bungkam setelah melihat satu karangan bunga mewah yang dibawa petugas ke dalam aula pesta.
Tertulis selamat atas pertunangan nona Go Ha Jin alias Selly dengan Park Yeon Jin. Beruntung, sebelum tubuhnya melemah ada Joan yang segera menyusul dan mengantarnya pulang.
Berita itu benar, pesta antar 2 keluarga tentang pertunangan yang sempat batal 3 tahun lalu kembali digelar dengan persetujuan.
“Cepat sekali, bahkan Yeon Jin dengan Selly belum sampai satu hari bertatap muka. Secepat ini?” ucap Yoo Ra dengan beberapa air mata yang turun.
Mematikan ponsel dan tanpa mencuci muka atau mandi, Yoo Ra larut dalam tidurnya dan ingin hari berganti. “Harus tidur, yang sekarang ya sekarang, besok adalah besok, buat dirimu seperti sekretaris sugguhan, bukan melayani pacarnya, tapi melayani bosnya. Mungkin dia akan memberikan penjelasan yang lebih.” Dengan mengusap air mata, gadis itu terlelap dalam tidurnya dan berharap hari segera berganti.
---
“Ponselnya mati?” Yeon Jin memegang benda metal itu dengan menekan tombol panggil berkali-kali, tidak ada jawaban. Kecemasannya sudah meningkat, Yeon Jin menduga bahwa Yoo Ra sudah mengetahui semuanya.
Yeon Jin berniat membatalkan hubungan kedua keluarga ini dengan masuk dalam permainan Selly. Dia tidak menduga bahwa kakeknya hadir dan menginginkan dia bertunangan dengan Selly, Yeon Jin sendiri juga didesak supaya setuju dan sesegera mungkin melakukan pernikahan, apa-apaan ini? Yeon Jin tidak langsung mengatakan “Iya”, dia juga berkata bahwa dia sudah memiliki kekasih dan tidak ingin melakukan pertunangan ini.
“Kakek hanya bergantung kepadamu, tender dari perusahaan Sherin itu sangat besar dan perusahaan kita akan setara dengan milik Kim Yoo. Pikirkan masa depanmu dan kakek, kakek tidak lagi muda, wanita itu berkompeten, ingat bahwa kakek memiliki hutang budi kepada tuan Go.” Kata kakek Yeon Jin yang membuatnya bingung setengah mati.
Yeon Jin juga bingung, saat dia tiba di sini juga pertunangan ini sudah direncanakan untuk Yeon Jin yang asli. Tapi dia bukanlah Park Yeon Jin.
Yeon Jin ingin menjelaskan kepada kakek asuhnya ini, bahwa arwah Yeon Jin yang asli sudah tidak lagi di dunia ini. Raga milik Yeon Jin ini kosong, lalu diberikan arwah orang lain, yakni dirinya.
__ADS_1
"Kakek... kita perlu bicara." Kata Yeon Jin kepada kakeknya.
Kakeknya melepaskan kacamata dan mengikuti Yeon Jin di belakang. Kakek itu mulai curiga, sepertinya Yeon Jin menolak keras pertunangan ini.
"Kakek... Aku..."
"Katakan, ada apa?"
"Aku bukan Park Yeon Jin yang asli! Park Yeon Jin yang asli sudah mati. Hanya tubuh abadi yang kosong saja, aku cuman arwah yang menumpang!"
"Yeon Jin!?"
***
"Hei bodoh! Keluarlah dari kamar, jangan bunuh diri!"
Teriak Kim Jae di depan pintu kamar Yoo Ra. Eun Ji yang disampingnya mulai cemberut karena perkataan Kim Jae. Kim Jae memang berniat untuk bercanda, tapi ini kelewatan bukan?
Pintu terbuka, ada sosok peri yang keluar dari dalam kamar itu. Entah mengapa aura Yoo Ra sangat kuat dengan keanggunannya.
Kim Jae terperangah melihat adik perempuannya, tapi jantungnya berdegup kencang. Sejenak Kim Jae memandang Yoo Ra sebagai wanita, bukan adiknya.
"Kenapa? Aku tidak bunuh diri..." Ucap Yoo Ra yang berjalan menjauhi mereka berdua. Turun menapaki anak tangga dan menyapa pamannya.
Kim Yoo bertanya, apakah Yoo Ra akan pergi ke kantor setelah kejadian tadi malam. Yoo Ra mengangguk dengan senyum cerah. Eun Ji juga sedikit bingung, mengapa Yoo Ra sangat mudah bergantinti suasana hati?
Bel pintu berbunyi, rupanya itu Joan. "Pagi paman. Aku menjemput Yoo Ra, aku mengkhawatirkannya. Aku tadi ke apartemennya, tapi tidak ada jawaban, jadi aku kesini." Joan tahu, bahwa saatnya ada untuk meluangkan waktu demi temannya.
"Sebentar lagi dia keluar. Ngomong-ngomong, Yeon Jin bagaimana kabarnya?" Tanya Kim Yoo.
Joan menggeleng, dia sama sekali tidak tahu keadaan Yeon Jin hari ini.
Yoo Ra keluar dengan Kim Jae disampingnya. "Joan?" Kim Jae terkejut, mengapa ada Joan di sini?
Joan mengajak Kim Jae berbicara, hanya berdua saja, menjelaskan apa yang sudah terjadi. Kim Jae sangat mengerti, dan sudah tahu semuanya.
"Yoo Ra... Ayo berangkat." Ucap Joan.
Masuk ke dalam mobil, dan melaju menuju kantor untuk mengantar Yoo Ra.
"Hati-hati dengan Selly. Jaga diri darinya, mungkin dia akan ke kantor untuk menemui Yeon Jin. Semalam aku menelponnya, tapi justru tidak diangkat. Entah dia mabuk atau bagaimana aku sama sekali tidak tahu." Yoo Ra mengangguk dengan memberikan tatapan kosong.
Joan melihat kearahnya, dan berkata bahwa Yoo Ra adalah gadis unik dan memikat yang pertama kali dia temui. Joan juga bilang bahwa Yoo Ra adalah sebuah berlian cantik, bahkan pria disekitar akan meliriknya.
"Kak Joan, terima kasih pujiannya."
__ADS_1
"Tahu tidak, aku dulu pernah punya rencana untuk menyukaimu. Tapi itu tidak aku laksanakan. Karena Yeon Jin yang pertama kali. Heh... Aku tidak mau bersaing dengannya."
"Sudahlah....Aku juga tidak akan lama lagi di sini. Terima kasih lagi, sudah jadi teman." Yoo Ra tersenyum masam, Joan pun demikian.
Setibanya di depan kantor, Joan pergi dan Yoo Ra masuk kedalam. Tapi dia mendapat sebuah pesan dari resepsionis bahwa Yeon Jin tidak datang pada hari ini karena ada urusan yang mendesak.
Libur? Itu yang berada di dalam pikirannya. Ada apa dengan Yeon Jin? Bahkan setelah ponselnya dinyalakan tidak ada satu pesan pun dari Yeon Jin.
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Tunggu dulu, ada yang mencari anda. Dia sudah menunggumu sekitar 15 menit yang lalu."
"Siapa?"
"Nona Go Ha Jin."
Mau menemui ku? Yoo Ra segera menghampiri Selly. Wanita berperawakan tinggi dan langsing berdiri di depannya. Melepas kacamata hitam dan segera bersiap untuk memaki Yoo Ra.
"Jadi, nona besar dari keluarga Kim ya." Ucap Selly, Yoo Ra mengerutkan keningnya dan bingung apa yang dimaksud Selly.
Berpindah tempat, mereka melakukan pembicaraan pribadi di ruangan Yoo Ra.
"Jadi, CEO Selly ada apa mencari saya? Untuk membahas tender itu kembali?"
"Mmm... Bukan."
Selly menggelengkan kepala dengan lagak centilnya. Sangat terlihat jelas, Selly memang seperti hewan penghisap.
"Nona Kim, karena mu pertunangan kami dibatalkan. Selamat, usahamu berhasil, tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Pria yang aku inginkan harus aku dapatkan. Paham?"
"Anda... Mengancam saya? Sayangnya saya sama sekali tidak takut. Siapa yang berhak, hanya Yeon Jin yang bisa memilih."
"Wah... Aku sangat salut, tidak heran nama besar yang kau punya ini terdengar di seluruh perusahaan."
"Sudah selesai? Saya harus pergi. Permisi."
"Tunggu dulu nona Kim. Ini, datang tepat waktu ya."
Satu kartu undangan kecil yang diserahkan Selly kepada Yoo Ra. Tertulis pertemuan pribadi di Restoran Magnolia Hotel pukul tepat 9 malam.
"Kau pikir aku akan datang?" Kata Yoo Ra sambil membalikkan badan untuk pergi. Namun suara Selly menghentikan langkahnya.
"Terserah, tapi patah hatimu bisa disembuhkan dengan satu jalan ini saja. Tentu negosiasi ini akan menguntungkan kepentingan pribadimu dan juga Park Group."
Yoo Ra memutar mata seolah tidak peduli. Lalu pergi meninggalkan Selly yang sendirian di ruangan Yoo Ra, mengangkat ponsel dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Target kita sama, temui aku malam ini."