
Yoo Ra puas melihat dan menikmati pertunjukan ini, sudah mengikuti sandiwara mereka dan pada akhirnya menang dan menjadi yang terdepan. Soo Ah terkejut bukan main, dia menggertakkan gigi dan *** tasnya. Melihat Yoo Ra yang tersenyum di panggung karena kemenangan, Soo Ah semakin jatuh dan tidak menyangka kalau Yoo Ra adalah orang kalangan kelas atas. Jauh bagaikan bumi dengan langit, Soo Ah yang bermodal wajah hasil operasi plastik fashion feminim pasti kalah dengan Yoo Ra yang bermodal wajah cantik alami fashion senyamannya.
Fashion milik Yoo Ra sangat mewah dan berkelas, Soo Ah yang melihat Yoo Ra sudah kalah telak dengan fashionnya. Tentang harta kekayaan, Soo Ah merasa dirinya terlalu meremehkan saingan cintanya ini. Soo Ah menatap Yoo Ra dengan perasaan iri, selama ini dia terlalu bodoh sudah berpura-pura menjadi orang kaya dan menganggap Yoo Ra adalah orang miskin dan hanya tahu menggoda pria saja.
Kim Yoo berdiri di samping putri kesayangannya dan ikut berbicara di mikrofon, dia menyatakan sebentar lagi akan ada beasiswa yang diberikan dari Nam Group terhadap mahasiswa yang berprestasi.
Keluarga Kim dipersilahkan kembali ke kursi VIP mereka dan mengikuti acara. Istirahat sejenak untuk menyaksikan pementasan teater, setelah itu akan ada acara serah terima beasiswa kepada mahasiswa yang sudah dipilih.
(Eun Ji)
“Yoo Ra, kamu hebat!!!”
(Kim Yoo)
“Aaa... putriku sangat hebat bukan? Eun Jin, dia sekarang adalah anakmu.”
(Eun Ji)
“Tentu, aku sangat senang kalau aku bisa jadi ibumu.”
(Yoo Ra)
“Tak mengapa jika ingin menganggap aku putri kalian, tapi aku ingin panggilan yang dulu.”
(Kim Jae)
“Terserah kamu, yang terpenting kita satu keluarga tidak akan berpisah satu sama lain.”
Ini dia, satu keluarga yang harmonis sudah terbentuk karena skandal dari ulah satu keluarga ini. Mereka sangat dekat, siapapun yang melihatnya akan kagum dan juga iri terhadap hubungan ini.
Yeon Jin yang masih duduk di samping Yoo Ra, melihat wajah cantik yang memberikan senyuman bahagia dan ekspresi lega. Menggenggam dan mengusap tangannya, Yoo Ra merasakan kehangatan inilah yang membuatnya berani, jika bukan karena Yeon Jin, Yoo Ra akan gugup dan tidak mampu berkutik saat di atas panggung.
“Terima kasih, sudah membuatku jadi berani.” Ucap Yoo Ra dengan samar menatap Yeon Jin yang berjasa. Yeon Jin menggenggam erat tangan lembut itu, “Sama-sama, aku bahagia kalau kau bahagia.” Yeon Jin tak mau berpisah dari genggaman itu, banyak sekali kebahagiaan yang datang jika bersentuhan seperti ini. Bom bunga sudah meledakkan perasaan Yeon Jin, senang akan rasa cinta yang sudah didapat, akan dinaikkan dan tidak akan turun menjadi kebencian.
__ADS_1
Yeon Jin pergi keluar untuk menelpon sekretarisnya, “Halo, tolong persiapkan bunga mawar warna merah dibungkus dengan kertas warna hitam. Satu buket yang berkesan romantis, harus sampai dalam 10 menit lagi.” Yeon Jin mempersiapkan ini untuk Yoo Ra seorang, setelah acara selesai akan diberikan langsung kepada Yoo Ra dengan satu pelukan.
Membayangkan hal ini, pipi Yeon Jin sudah memerah, “Rencana ini harus berhasil, aku akan memberikan buket itu, dia berterima kasih, lalu akan kupeluk dia. Ehem....”
---
Para penerima beasiswa dipersilahkan untuk naik ke atas panggung dan akan berpidato satu persatu. Mekanismenya sederhana, si penerima akan maju kemudian berpidato, setelah selesai pidato maka akan diberikan simbolis beasiswa dari salah satu perusahaan. Chae Soo Ah sudah ditentukan akan mendapat beasiswa dari Nam Group.
“Saya berterima kasih, dan akan memberikan prestasi yang lebih untuk kedepannya. Kepada presdir Kim Yoo, sudah kedua kalinya saya menerima beasiswa yang anda serahkan secara langsung kepada saya. Ini adalah kehormatan besar bagi saya.” Ucap Soo Ah di panggung dengan percaya diri.
Kim Yoo bangkit dari kursinya dan berjalan menuju panggung untuk memberikan simbolis kepada Soo Ah, namun ia malah mendekati mikrofon dan berbicara, “Untuk beasiswa kepada Chae Soo Ah memang diberikan dari Nam Group, tapi yang akan menyerahkan bukan saya.” Kim Yoo kembali membuat membuat semua orang bingung dan membuat kejutan lagi, tak terkecuali Soo Ah. “Presdir, apa maksud anda? Siapa lagi kalau bukan anda yang akan menyerahkan ini?” Ucap Yoo Ra dengan pelan kepada Kim Yoo.
“Pemberian beasiswa kepada nona Chae adalah pemberian dari Kim Yoo Ra. Sebelumnya saya ingin memberikannya kepada mahasiswa lain, namun Kim Yoo Ra menolak dan berkata kalau nona Chae yang lebih pantas.” Kata Kim Yoo yang semakin membuat Soo Ah terpojok dan malu.
Yoo Ra yang tanpa diperintah sudah berjalan ke atas panggung dan memberikan simbolis itu kepada Soo Ah, dan Soo Ah memasang senyum pahit karena ini. Jurnalis menyoroti tindakan ini, mungkin akan menjadi berita besar dalam beberapa menit lagi.
“Saya berterima kasih kepada Kim Yoo Ra, dia teman sekelas saya dan saya tidak menyangka akan diberikan kehormatan yang besar ini. Terima Kasih... .” Soo Ah menampakkan wajah kesal sekaligus terpojok, wajah pucatnya tidak bisa dihindari lagi.
“Ini sudah seharusnya, saya belajar banyak untuk berbuat baik terhadap sesama. Pesan saya hari ini, banyaklah bertindak daripada membual, banyaklah intropeksi diri daripada menggosip. Semangat belajar teman-teman, saya masih orang biasa yang kalian kenal. Jangan sungkan untuk berkomunikasi dengan saya.”
“Yoo Ra... Ternyata aku sudah dikalahkan olehmu, aku sudah kalah, dan kau pemenangnya, aku menyesal tidak mencari informasi tentangmu.” Gumam Soo Ah menahan amarahnya.
---
Tidak terasa acara sudah selesai, Yoo Ra banjir wawancara, namun Kim Jae membatasinya karena melihat kondisi Yoo Ra yang kelelahan. Yoo Ra ijin keluar dulu dari gedung menuju ke taman dekat lapangan basket untuk menghirup udara segar. Saat berjalan di koridor ada seseorang yang menghampirinya dengan senyum lebar.
Yeon Jin berjalan mendekati Yoo Ra dengan membawa bunga di tangannya, hampir dekat dan sudah hampir berhadapan. “Seonbaenim...” Sapa Yoo Ra dengan lantang, menyapa seniornya. Yoo Ra dipeluk dan merasa terkejut, Jae Won yang berlari kearahnya tanpa aba-aba sudah memeluk Yoo Ra dengan bahagia.
Yeon Jin yang hampir dekat dengan Yoo Ra harus melihat adegan ini, tangan Yeon Jin lemas dan sudah tidak kuat memegang buket ditangannya. Jae Won melepas pelukan itu dan berbicara sesuatu kepada Yoo Ra, Yoo Ra membalas itu dengan raut wajah bahagia.
Yeon Jin berbalik, membawa kembali buket yang sudah dia pesan. Menuju taman belakang untuk menenangkan diri, bunga yang sudah dipersiapkan kini dibuang begitu saja di tempat sampah. Sudah jadi sampah, dan Yeon Jin menganggap dirinya sebagai sampah. Tidak peduli lagi, tapi gadis yang dicintainya dan ingin dipeluknya sudah dipeluk orang lain.
Duduk bersandar di bawah pohon dengan menatap ke langit yang biru. Berusaha menahan air mata, merasakan sakit yang menusuk ini.
__ADS_1
Yoo Ra melihat ke sisi lain koridor, dan tadi merasakan kalau Yeon Jin ada di dekat sini. “Serius, aku tadi melihat Yeon Jin seonbaenim, dan aku memanggilnya namun Jae Won seobaenim buru-buru memelukku, dimana dia?” Ucap Yoo Ra dalam hati dengan melihat ke berbagai arah.
(Jae Won)
“Apa yang kau cari? Aku disini, tidak senang ya?”
(Yoo Ra)
“Bu... Bukan begitu, sepertinya aku harus mencari seseorang.”
(Jae Won)
“Lupakan itu, ayo aku traktir kue di cafe depan. Sebagai perayaan ini.”
(Yoo Ra)
“Sepertinya tidak bisa, aku harus segera pulang dan ke kantor.”
(Jae Won)
“Oh... Kau agak sibuk ya .”
(Yoo Ra)
“Mungkin di lain waktu ya... Aku agak buru-buru nih.”
(Jae Won)
“Iya sudah, aku juga ada pekerjaan di kantor administrasi. Cepatlah pergi, nanti aku menelponmu.”
Yoo Ra segera pergi dan mencari keberadaan Yeon Jin, Jae Won juga melangkah pergi menuju kantor administrasi. Tidak ada jalan lain, Yoo Ra harus menelpon Yeon Jin dan mencarinya untuk berterima kasih. Karena Yeon Jin, Yoo Ra bisa melewati ini, tanpa dia mungkin reputasinya akan jatuh ke dasar jurang yang paling dalam.
Yoo Ra menelpon ponsel Yeon Jin, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Disisi lain ada Yeon Jin yang bersandar di bawah pohon yang terletak di taman kampus, di dekatnya ada bangku panjang yang pernah mengukir sebuah cerita. Pernah duduk dan bercanda dengan Yoo Ra di bangku ini, sekarang dia hanya sendirian dan ada gambaran yang baru saja dia saksikan, gambaran Jae Won yang memeluk Yoo Ra.
__ADS_1
Dia meratapi keadaan, seperti bingung dan sudah putus asa tidak tahu harus kemana lagi? Kehidupannya yang sedang mencintai wanita seperti gelas yang dibuang dan pecah berceceran dan siap melukai siapapun yang berani menyentuhnya.